
Angse City
"Di sana juga ada dungeon tuan muda." Ucap Erica.
"Apa gunanya jika hanya ada Dungeon tapi tidak ada Hunter yang berani memasuki nya?" Ucap Olav.
"Tidak tuan muda, banyak Hunter kuat yang terus berburu di sana bahkan kabar nya di dalam dungeon sudah terdapat pemukiman untuk Hunter beristirahat." Ucap Erica.
"Serius?" Olav tiba tiba bersemangat.
"Ya." Jawab Erica merasa akan terjadi sesuatu saat melihat api semangat Olav membara.
"Hestia sihir apa yang kau bisa?" Bertanya Olav.
"Bola api dan cahaya api." Jawab Hestia.
"Tidak lebih dari sekedar obor kah." Gumam Olav menyetarakan sihir Hestia dengan obor.
"Tidak sopan, aku tau aku lemah tapi jaga kata kata mu kau sendiri tidak bisa sihir padahal bangsawan kan." Balas Hestia saat merasa diri nya di ejek.
"Nn kurasa tidak masalah, ku dengar sihir dapat berkembang saat kita menggunakan nya jadi ayo." Ucap Olav.
Mereka kemudian mempercepat langkah menuju gerbang utara sebelum mengelilingi gerbang menuju wilayah utara kota tepat belakang istana.
...
Wilayah utara Angse City
"Entah kenapa aku merasa kita berada di tempat yang jauh dari ibu kota." Ucap Olav saat melihat tanah tandus serta sebuah menara tinggi tidak jauh dari mereka.
"Tanah ini juga ada sejarah nya, kalau tidak salah dulu ini adalah tempat naga api namun tiba tiba mereka menghilang." Ucap Hestia.
"Ah saya pernah membaca itu." Ucap Erica.
"Sudah lah ayo cari buruan nya lalu kembali." Ucap Olav berjalan maju dengan pistol di tangan kanan nya serta pisau di tangan kiri nya.
"Salamander sering muncul dari lubang tuan bahkan pada lubang yang sangat kecil pun jadi hati hati." Ucap Erica mencabut pedang nya sambil memperhatikan langkah nya.
"Kurasa itu tidak perlu karena aku melihat kadal merah sebesar anjing rumahan yang mendekat." Ucap Olav.
"Itu Fire Salamander." Ucap Hestia.
"Coba kau gunakan sihir mu Hestia." Ucap Olav.
"Oh baik lah, Fire Ball!" Hestia melemparkan sihir bola api ke salah satu Fire Salamander yang mendekat.
Bom!
Satu Fire Salamander menerima serangan Hestia dan mengalami luka gores pada sisik nya.
"Ledakan nya cukup kuat setara dengan sepuluh persen ledakan granat, jadi jika Hestia melakukan nya sepuluh kali maka akan membuat ledakan setara dengan granat, Hestia coba lakukan sepuluh kali lagi." Ucap Olav.
"Aku tidak membawa mana potion, aku bisa kehabisan Mp kalau menggunakan banyak sekaligus." Ucap Hestia sedikit panik karena Fire Salamander semakin mendekat.
__ADS_1
"Siapa peduli dengan itu! Tuan muda lakukan sesuatu atau kita akan terbakar!" Ucap Erica ikut panik.
"Benar juga." Olav mengarahkan pistol nya pada Salamander.
Dor!
"Eh! Tidak mempan?" Olav sudah menduga nya namun tidak menyangka peluruh nya bahkan tidak menggores sisik Fire Salamander.
Bursst!!
Satu semburan api dari salah satu Fire Salamander bagaikan air yang di semburkan dari mobil pemadam kebakaran, Olav Erica dan Hestia langsung melompat untuk menghindari nya namun Fire Salamander lain nya juga ikut menembak dengan jumlah tembakan sampai enam.
"Oi ini panas loh, tidak ada harapan untuk melawan api nya." Ucap Olav yakin kulit nya akan langsung hangus jika menyentuh api tersebut.
"Sudah saya jatakan tuan muda! Kalau ingin bersenang senang sebaik nya jangan di sini!" Teriak Erica masih berusaha menghindari serangan Fire Salamnder.
"Fire Ball! Fire Ball! Fire Ball!" Sementara Hestia terus menghindari ia juga melakukan serangan balik namun Fire Salamander kebal terhadap api kecuali ledakan dari skill Hestia.
"Tuan muda lakukan lah sesuatu seperti Hestia atau kita akan mati terpanggang!" Teriak Erica.
"Kau kesatria ku harus nya kau yang mengurus nya!" Balas Olav berteriak.
"Saya maju sedikit zirah saya langsung meleleh." Ucap Erica memperlihatkan zirah nya yang meleleh.
"Kau ku suruh beli yang bagus malah ngambil yang murah." Ucap Olav mengeluarkan senapan tipe sniper dari Infertory nya.
Sementara Hestia terus mengalihkan perhatian, Olav langsung memasang kuda kuda untuk menerima Counter dari senapan nya.
Dor!
Klack!
Dor!
Klack!
"Dua."
Olav terus menembak hingga tembakan ke enam dan semua Salamander yang terlihat pun mati.
"Huh.. aku hampir kehabisan Mana." Ucap Hestia terduduk.
"Bagaiman cara kita membawa mayat Fire Salamnder, cincin penyimpanan tidak akan muat." Ucap Erica bingung.
"Ini Mana Potion." Ucap Olav memberikan mana potion pada Hestia.
"Kenapa kau memiliki nya?" Bertanya Hestia karena mana potion tidak ada guna nya bagi Olav yang tidak bisa menggunakan sihir.
"Karena kita membawa penyihir tentu kita membutuhkan mana potion kan?." Ucap Olav Seakan itu hal biasa.
"Terima kasih." Ucap Hestia menerima nya namun belum meminum nya.
"Kenapa tidak di minum?" Bertanya Olav.
__ADS_1
"Kapasitas mana ku tidak terlalu besar Olav jadi aku akan meminum nya saat benar benar sekarat, pasti akan langsung penuh kembali." Ucap Hestia.
"Hmm begitu kah." Olav tidak terlalu peduli dengan cara Hestia mengirit potion.
Berjalan Olav melihat mayat Fire Salamander.
"Tidak memiliki luka yang banyak dan mayat dalam keadaan segar, sesuai permintaan tapi kurang empat." Ucap Olav memasukkan semua nya ke dalam Invertory nya.
"Bukan kah cincin penyimpanan tuan muda terlalu besar?" Bertanya Erica.
"Begitu lah." Olav hanya dapat mengiyakan karena belum ingin memberitahukan pada siapapun mengenai Invertory nya.
"Tapu saya rasa empat Fire Salamander yang tuan muda inginkan datang sendiri bahkan melebihi jumlah." Ucap Erica memperhatikan Salamander yang berlari ke afah mereka.
"Yang kita butuh kan hanya empat lagi jadi." Olav kembali mengarahkan senapan nya.
Dor! Klack!
Dor! Klack!
Dor! Klack!
Dor! Klack!
"Oh iya aku juga membutuhkan beberapa mayat dari mereka." Ucap Olav teringat akan hal yang ingin ia ciptakan.
Tadi nya Olav ingin menggunakan granat untuk membersihkan sisa nya tapi itu akan menghancurkan sisik mereka jadi Olav kembali mengisi slot peluru nya menggunakan slot peluru yang baru karena hanya ada sepuluh slot per tempat peluru nya.
Olav menembaki lima Fire Salamander sebelum menyimpan senapan sniper nya.
"Kurasa sudah cukup." Ucap Olav melemparkan banyak granat. "Tirap." Ucap Olav ikut menunduk bersama yang lain nya.
Bom! Bom! Bom!
Dor!
[Mendapatkan skill - Gravity Wave.]
"Selesai." Ucap Olav setelah menembak satu Salamander yang berhasil selamat.
"Cara bertarung nya berbeda." Ucap Hestia.
"Ini di sebut seni tarung menggunakan senapan Hestia." Ucap Olv memungut semua mayat Fire Salamander.
"Tidak ada harapan untuk melawan senjata api tuan muda." Ucap Erica.
"Sudah lah cepat bantu aku memisahkan sisik yang masih bisa di gunakan!" Ucap Olav mengeluarkan pisau nya untuk membedah sisik Fire Salamander.
"Baik tuan muda." Ucap Erica.
"Oke." Ucap Hestia juga mencabut pisau dari pinggang nya yang di berikan oleh Olav.
...----------------...
__ADS_1
(TL note : lupa menuliskan karena terlalu seru dalam melanjutkan cerita, bahasa di dunia ini entah kenapa Olav secara langsung mengerti, ia memanfaatkan buku di mansion untuk memperlajari huruf dan kadang bertanya pada Gilbert.)