
"Maaf kan atas kurang nya kekuatan saya tuan muda." Ucap Erica.
"Bagus kau menyadari kelemahan mu, hukuman mu nanti saja setelah kita berhasil sampai di desa." Ucap Olav duduk dengan santai saat dua perajurit nya panik.
"Ghahaha kalian kira bisa lari? Tembak!" Teriak bandit yang terlihat sebagai ketua.
Shut! Shut shut!
Puluhan anak panah meluncur, Olav dan perajurit nya di lindungi oleh kereta dan zirah namun kuda langsung tumbang dan panik karena terkena anak panah membuat kereta tidak dapat berjalan dan mereka berhenti di sana.
"Serang!" Teriak para bandit menyerang ke arah kereta.
Brak!
"Keluar." Ucap Olav menendang pintu kereta.
"Apa?" Erica dan Hestia masih sempat bertanya.
"Sudah kubilang keluar, kita lari sekarang." Ucap Olav sudah lari lebih dulu.
"Eh tuan muda! Tunggu kami!" Teriak Erica mulai mengejar Olav karena dia di pastikan mati jika berada di dalam kereta tanpa perlindungan Olav.
"Apa yang kau lakukan bodoh!? Kau sudha berjanji menikahi ku kenapa kau lari!?" Hestia juga mulai mengejar Olav meninggalkan dua perajurit bodoh itu.
"Kalian berdua! Suatu kehormatan bisa mati karena melindungi ku!" Teriak Olav pada dua perajurit nya.
"Aku tidak ingin mati melindungi pangeran sampah." Ucap perajurit namun masih tetap memegang pedang nya.
"Kalau kita lari dari sini cepat atau lambat juga kita akan mati karena di buru perajurit duke Fergar." Ucap perajurit satu nya tidak memiliki pilihan lain selain melawan perajurit.
Shing!
Namun bagaikan gajah melindas semut begitu lah perumpamaan yang Olav lihat saat para bandit hanya melewati kedua perajurit itu namun meninggalkan beberapa bagian tubuh saat melewati nya.
"Menunduk!" Teriak Olav menghentikan langkah nya dan mengeluarkan dua senjata di tangan nya.
"Tu-" Erica belum sempat bereaksi.
Darrrr! Darrr!
Darrrr! Darrr!
Semua bandit langsung habis.
"Tiga puluh peluru tidak terbuang sia sia, pas." Ucap Olav meniup ujung senapan tipe MP lima kesayangan nya yang masih berasap.
"Saya juga hampir mati tuan muda." Ucap Erica sudah tiarap.
"Oi kalau mau nembak pastikan aku tidak berada di depan mu!" Teriak Hestia yang juga sedang tiarap.
__ADS_1
"Oh maaf." Ucap Olav tidak bersungguh sungguh.
"Jadi untuk apa sebenar nya kita berlari?" Bertanya Hestia sambil membersihkan gaun nya.
"Untuk mengantar dua roh perajurit itu menuju alam baka." Jawab Olav.
"Ha untuk apa?" Hestia mengulangi pertanyaan nya.
"Dua perajurit itu hanya akan menjadi beban terlebih jika aku mengurus mereka dengan senjata ini maka mereka pasti akan menebar luaskan nya." Ucap Olav.
"Tapi itu terlalu berlebihan Olav." Ucap Hestia.
"Benarkah? Aku melihat perajurit tadi langsung mati dalam satu tebasan jadi kurasa tidak terlalu sakit." Ucap Olav meskipun ia sudah merasakan sendiri rasa sakit saat menghadapi kematian.
"Kau memang kejam Olav." Ucap Hestia.
"Apa sekarang kau membenci ku?" Bertanya Olav serius.
"Aku tidak bisa menikahi orang lain selain kau Olav, itu yang menjadi masalah ku saat ini." Ucap Hestia.
"Hmm senang mendengar nya." Ucap Olav tersenyum polos.
"Apa yang akan kita lakukan sekarang tuan muda? Kita tidak memiliki kuda atau kereta loh." Ucap Erica.
"Jalan kaki." Ucap Olav menyimpan senjata nya.
"Semoga dapat di terima dengan baik oleh penjaga neraka." Ucap Olav mendoakan.
"Doa mu buruk sekali." Ucap Hestia.
"Tuan muda! Bandit ini memiliki banyak uang loh!" Teriak Erica menghentikan Olav.
"Pungut semua nya." Tersenyum Olav menghentikan langkah nya.
"Baik tuan muda." Ucap Erica.
Erica mulai membedah satu persatu tas atau kantong bandit dan mendapatkan lumayan banyak.
"Dapat berapa?" Bertanya Olav.
"Hanya bandit yang memimpin yang memiliki uang ba-"
"Aku tanya dapat berapa?" Ucap Olav mengulangi pertanyaan nya.
"L-lima puluh dua koin emas dan dua ribu koin perak dan juga sekitar seratus perunggu." Ucap Erica memberikan kantong penyimpanan berisi uang rampasan yang fungsi nya mirip cincin penyimpanan namun lebih kecil.
"Kau masih belum bisa menghitung dengan akurat, perbaiki cara menghitung mu." Ucap Olav menyuruh Erica menghitung nya dengan baik karena Erica hanya memperkirakan saja setelah jumlah nya.
"Maaf tuan muda, saya hitung ulang." Ucap Erica.
__ADS_1
"Ayo jalan." Ucap Olav melanjutkan perjalanan.
Mereka berjalan kurang lebih satu kilometer dan tiba di sebuah desa yang tidak terlalu besar, desa tersebut memiliki pagar kayu setinggi satu meter mengelilingi nya dan satu orang pemuda yang terus memantau kearah luar pagar bahkan terus memperhatikan Olav Erica dan Hestia saat mendekat.
"Siapa kalian?" Pemuda tersebut bertanya.
"Saya Erica kesatria tingkat kedua kerajaan Bougai-" belum sempat Erica memperkenalkan diri satu tendangan sudah bersarang di bokong tebal nya yang di lindungi zirah tipis. "A-ada apa tuan muda?" Bertanya Erica merasa ada yang salah sampai mendapt tendangan.
"Seharus nya kau memperkenalkan ku dulu selain itu kau bukan kesatria tingkat kedua kerajaan Bougainvi, kau adalah kesatria ku kau paham itu kan." Ucap Olav.
"Ba-baik tuan muda saya paham." Ucap Erica.
"Bagus kalau kau paham." Mengangguk Olav.
'Sungguh bocah bangsawan kurang ajar.' Batin pemuda yang menjaga gerbang.
"Menunduk lah! Di depan mu adalah tuan muda Olav Von Villea anak dari tuan Duke Vergar-"
Buk!
Satu tendangan kembali bersarang.
"Ada apa lagi tuan muda?" Bertanya Erica.
"Tidak perlu terlalu meriah, maa sudah lah biar aku sendiri saja." Ucap Olav berjalan maju.
'Ada apa dengan bocah ini?' Bertanya pemuda tersebut.
"Aku Olav dari keluarga bangsawan Villea, kesatria bodoh itu adalah pelayan ku dan dia adalah... adalah.." Olav tiba toba bingung. 'Hubungan kami apa yah?' Batin Olav.
"Saya Hestia dari desa Cornell." Ucap Hestia memperkenalkan diri.
"Ya dia adalah Hestia seorang Hunter class mage, biar kan kami masuk." Ucap Olav.
"Kalau boleh saya bertanya, apa yang membuat tuan muda datang jauh jauh ke desa kami yang bobrok ini?" Bertanya pemuda tersebut merendah.
"Bagus kau mengakui desa mu bobrok, aku datang untuk membasmi bandit dan membasmi monster yang ada tapi aku terpisah dengan perajurit ku jadi aku akan beristirahat di sini." Ucap Olav.
Namun pemuda tersebut salah paham akan maksud Olav.
'Aku pernah mendengar putra duke Fergar adalah sampah tapi aku tidak menyangka tuan Fergar tega membuang anak nya seperti ini, sungguh anak yang kasihan.' Batin pemuda tersebut merasa sangat kasihan pada Olav sampai ingin menangis.
"Oi apa yang kau lamunkan? Buka gerbang nya dan biarkan aku masuk, di sini dingin." Ucap Olav.
"Ah baik tuan muda Olav, silahkan masuk." Ucap pemuda tersebut menyambut Olav dengan senyum yang sabgat ramah.
"Nn bagus." Mengangguk Olav.
"Oi tolong jaga gerbang, aku akan membawa rombongan tuan muda Olav ke rumah kepala desa." Ucap pemuda tersebut memanggil teman nya yang kebetulan lewat.
__ADS_1