Raja Pembunuh Melawan Takdir!

Raja Pembunuh Melawan Takdir!
Chp 19, Masalah di Guild


__ADS_3

Guild Hunter


"Wuaaah...! Ternyata nona sangat hebat bisa mengumpulkan sepuluh Fire Salamander dalam waktu satu hari." Ucap resepsionis terkejut saat di ruangan pembedahan terdapat sepuluh mayat Fire Salamander.


Tentu Olav mengikuti dan saat Hestia menggerakkan tangan nya kedepan seakan mengeluarkan item dari cincin penyimpanan yang ia pinjam dari Erica, saat itu lah Olav mengeluarkan nya dari Invertory nya.


"Upah nya?" Bertanya Hestia.


"Tentu, silahkan." Ucap resepsionis tersebut memberikan sepuluh koin emas di atas sebuah nampan.


"Terima kasih." Hestia mengambil nya dan segera pergi bersama Olav.


"Oi nona, jadi kau yang mengambil misi ini." Ucap pria ber kapak sebelum nya seakan mengancam Hestia.


"Minggir, kau mau ku bakar kah?" Ucap Hestia dingin dengan sorot mata tajam seperti biasa.


"Apa kau mempermainkan ku nona kecil?" Ucap peria tersebut memegang kapak nya.


"Siapa cepat dia dapat." Ucap Hestia.


Sementara itu Olav terus berjalan maju saat orang orang fokus pada Hestia dan pria kekar tersebut, Olav mengeluarkan pisau kecil dan merobek celana pria kekar tersebut tanpa ia sadari hingga memperlihatkan kain yang membungkus belalai nya.


"Aku lebih dulu melihat nya nona." Ucap pria tersebut belum sadar.


"Dari pada mengurus ku lebih baik kau memperhatikan ************ mu." Ucap Hestia.


"Ha- sial." Ia langsung menutupi nya menggunakan tangan.


"Dah." Ucap Hestia pergi sebelum Erica yang dari tadi duduk di bangku karena tidak ingin terlibat langsung mengikuti Hestia dan Olav keluar dari guild.


"Aku akan ke toko pak tua Gilbert, kalian terserah ingin kemana selama tidak membuat masalah untukku." Ucap Olav berjalan lebih dulu menuju arah pasar.


Olav tidak membutuhkan Erica atau Hestia jika hanya ingin ke toko pak tua Gilbert karena guna Erica adalah jika ingin membeli sesuatu di toko orang lain yang anak sebelas tahun tidak bisa membli nya sedangkan Hestia adalah Hunter dan sangat berguna di guild sebagai perantara.


"Saya akan mengikuti tuan muda." Ucap Erica.


"Aku ingin melihat seperti apa orang yang di hormati Olav." Ucap Hestia.


"Terserah saja." Ucap Olav.


...


Toko Gilbert


Kring! Kring!


"Pak tua! Aku datang lagi!" Teriak Olav.

__ADS_1


"Aku tidak tuli bocah!" Teriak Gilbert yang sedang duduk menunggu pelanggan.


"Apa yang kau lakukan pak tua?" Bertanya Olav karena dari pada menjaga toko Gilbert lebih mirip sedang mals malasan.


"Ya.. kau tahu bocah? Entah kenapa aku tiba tiba hilang semangat berada di ruang tempa." Ucap Gilbert.


'Pasti karena bosan saat tidak ada tuan muda, mereka sudah bekerja bersama selama satu tahun jadi wajar saja begitu.' Batin Erica.


"Aku membutuhkan ruangan mu dan beberapa item mu." Ucap Olav langsung berjalan masuk ke ruang kerja.


"Oh kau ingin membuat senjata baru? Kebetulan aku punya beberapa item baru.." Gilbert kembali bersemangat dan mengikuti Olav sambil terus mengoceh.


"Jadi dia kah orang yang di hormati Olav?" Bertanya Hestia.


"Ya aku pernah melihat Olav memanggil nya guru sekali." Ucap Erica tidak terlalu yakin.


"Entah kenapa kedua dua nya tidak terllau meyakinkan." Ucap Hestia memikirkan ayah Olav dan Gilbert kedua nya aneh.


Sementara itu Olav tiba tiba mengeluarkan lima mayat Fire Salamander beserta beberapa sisik nya.


"Lihat pak tua, ini buruan ku hari ini." Ucap Olav.


"Oh.. kualitas bagus." Ucap Gilbert melihat satu persatu sisik Fire Salamander.


"Yah meskipun yang itu kebanyakan retak." Ucap Olav memilih untuk memisahkan sisik dari tubuh salamander yang masih utuh karena sisik itu lebih kuat.


"Aku mendapatkan skill baru jadi aku ingin mencoba nya." Ucap Olav.


"Tidak begitu cara memisahkan sisik kadal." Ucap Gilbert mengambil pisau lalu memisahkan sisik Fire Salamander dengan sangat mudah dan cepat.


"Oh ternyata ada teknik yang aku tidak tau." Ucap Olav mengikuti cara Gilbert.


"Sebagai penempa kau harus mengetahu cara terbaik untuk mendapatkan item terbaik." Ucap Gilbert.


Dalam waktu singkat mereka berhasil membedah sisi Fire Salamander dan hanya menyisahkan tubuh nya.


"Apa kau tidak membutuhkan tubuh nya?" Bertanya Gilbert.


"Nn aku hanya menginginkan sisik nya saja." Ucap Olav.


"Padahal tulang nya juga bisa di gunakan, tapi yah sudah lah aku akan membedah dan mengambil tulang nya nanti." Ucap Gilbert mulai memindahkan tubuh Fire Salamander dengan cara menarik ekor nya.


[Skill - Synthesis, menggabungkan material menjadi satu.]


"Kurasa sudah saat nya menggunakan skill ini." Ucap Olav mengumpulkan semua sisik yang rusak lalu melelehkan nya di atas meja besi.


Setelah ia lelehkan ia kemudian menyatukan nya kembali menggunakan skill Synthesis hingga membentuk beberapa lempengan bagaikan ingot besi.

__ADS_1


"Kau sudah melampaui ku." Ucap Gilbert terkejut namun hanya mematung saat melihat kedua skill Olav.


"Jangan meremehkan ku pak tua." Ucap Olav.


"Aku tidak meremehkan mu bocah justru aku mengkhawatirkan mu, jika kau tidaj ingin terlibat masalah merepotkan sebaik nya kau tidak memamerkan skill mu itu pada orang banyak." Saran Gilbert.


"Niat nya juga begitu." Ucap Olav mengambil beberapa ingot baja. "Aku boleh menggunakan tungku kan pak tua?" Bertanya Olav meminta izin.


"Kau sudah memiliki skill itu untuk apa lagi kau menggunakan tungku?" Bertanya Gilbert.


"Hasil terbaik dari ciptaan pandai besi adalah setelah di pukul, meskipun aku bisa melelehkan nya tapi aku tidak bisa membuang kotoran nya jika tidak di panaskan dan di pukul." Ucap Olav menyalakan batu bara di dalam tungku kecil.


"Itu arti nya kau ingin memaksimalkan item mu." Ucap Gilbert.


"Begitu lah." Ucap Olav mulai mengipas api di batu bara agar cepat menyebar.


"Aku menunggu item terbaik mu lagi bocah." Ucap Gilbert.


"Hestia apa kau tidak bisa membantu ku membakar ini?" Bertanya Olav.


"Aku hanya bisa meledakkan nya menggunakan fire ball." Ucap Hestia.


"Sudah lah kesini saja dulu." Panggil Olav.


"Oke." Hestia mendekat.


"Coba kau gunakan skill cahaya api mu." Ucap Olav.


"Nn baiklah. Fire Light." Ucap Hestia sebelum sebuah kobaran api muncul di depan telapak tangan nya.


"Oh nona itu ternyata penyihir." Ucap Gilbert.


"Kau arahkan ke dalam pembakaran." Ucap Olav.


"Oh oke." Hestia menuruti kata Olav.


"Unsur api nya tidak mirip yah." Gumam Olav saat melihat api milik Hestia lebih panas dominan. "Coba kamu bayangkan api mu menyatu dengan api di pembakaran ini." Ucap Olav.


"Bagaimana cara nya?" Bertanya Hestia.


"Pokok nya imajinasikan saja di pikrian ku, fokus." Ucap Olav.


"Hmm..." Hestia menutup mata nya dan kemudian fokus sesuai perkataan Olav.


"Unsur api terbagi menjadi banyak hal namun kau hanya perlu fokus untuk membakar setiap udara yang ada di sekitar api mu." Ucap Olav dengan suara kecil perlahan agar tidak mengganggu konsentrasi Hestia.


"Nn." Hestia hanya mengangguk.

__ADS_1


Burst!!!


__ADS_2