
Angse City
"Hestia kau Hunter kan? Pasti pernah ke guild, seperti apa guild itu?" Bertanya Olav sambil berjalan.
"Tempat berkumpul nya orang orang yang tidak memiliki pekerjaan." Padangan Hestia tentang guild lebih parah dari pada yang Olav duga.
"Pokok nya hari ini kita ke guild dulu." Ucap Olav tidak lagi ingin bertanya pada Hestia.
"Sebelum itu aku ingin singgah di penginapan." Ucap Hestia.
"Tempat mu menginap sebelum nya?" Bertanya Olav.
"Nn ada barang yang ingin aku ambil." Ucap Hestia.
Singkat cerita mereka pun tiba di penginapan namun Olav dan Erica memilih menunggu di depan penginapan saja saat Hestia masuk mengambil barang nya.
"Kenapa tuan muda ingin sekali melihat guild?" Bertanya Erica baru menyadari nya.
"Kata nya kita bisa mendapatkan uang di sana jadi aku ingin kesana." Jawab Olav.
"Kalau begitu bukan kah tuan muda bisa mendapatkan nya dari tuan duke?" Ucap Erica.
"Justru karena aku tidak bisa terus bergantung pada ayahanda maka nya aku butuh jalan baru untuk mendapatkan uang." Ucap Olav.
"Ternyata begitu." Mengangguk Erica seakan paham.
"Maaf menunggu." Ucap Hestia membawa ransel yang tidak terlalu besar.
"Hanya itu?" Bertanya Olav.
"Hanya ini, ada apa?" Hestia bertanya balik.
"Ya.. karena ini barang perempuan aku pikir ada banyak begitu." Ucap Olav.
"Aku tidak punya begitu banyak uang untuk memenuhi kebutuhan barang ku Olav, ayo jalan." Ucap Hestia.
'Mungkin aku harus membelikan Hestia cincin penyimpanan, tapi yang termurah seperti milik ku saja harga nya sudah seratus koin emas dan uang ku sekarang tersisa seratus koin emas, pikirkan nanti saja.' Batin Olav.
"Kita sampai tuan muda." Ucap Erica saat Olav sedang melamun.
"Woahh guild-" Olav langsung kembali fokus dan melihat bangunan yang di tunjuk olah Erica namun seakan membuat nya kecewa. "Lah ini apa?" Bertanya Olav.
"Guild tuan muda." Jawab Erica.
__ADS_1
"Sudah ku katakan kan guild adalah tempat orang orang yang tidak memiliki pekerjaan." Ucap Hestia berjalan masuk.
Olav dan Erica juga mengikuti Hestia, Olav berpikir guild adalah semacam bangunan yang mirip dengan bangunan organisasi di bumi yang menyediakan misi pembunuhan atau pencurian dengan banyak orang orang kerena dan kuat di dalam nya.
Sekarang ia hanya melihat om om mabuk, pria yang memohon pada resepsionis memberikan upah lebih, ada pula pria pria muda yang terlihat tidak terlalu kuat padahal Olav ingin melihat seroang Hunter yang memiliki zirah lengkap dengan pedang super keren, bisa di jadikan pajangan di pintu mansion nya.
"Jadi apa yang ingin kau lihat Olav?" Bertanya Hestia duduk di sebuah kursi kosong.
"Tunggu, ini tidak seperti imajinasi ku." Duduk Olav meminta waktu untuk berpikir.
"Tidak biasa nya tuan muda seperti ini." Ucap Erica.
"Apa aku bisa menjadi Hunter?" Bertanya Olav pada Erica namun Erica hanya menggeleng.
"Umur Hunter harus lima belas tahun Olav." Ucap Hestia.
"Kalau begitu di mana aku bisa melihat misi nya?" Bertanya Olav.
"Di sana." Ucap Erica menunjuk papan dinding yang tertera banyak kertas.
"Yosh." Olav langsung kesana dan melihat beberapa misi.
"Hmm.. seperti biasa misi yang bagus langsung di ambil oleh Hunter lain dan yang tersisa hanya mengumpulkan taring dan lidah goblin." Ucap Hestia saat melihat papan misi.
"Ada loh ini." Ucap Olav menunjuk satu misi.
"Sudah lah, Hesti cepat minta misi ini." Ucap Olav mencabut kertas dan memberikan nya pada Hestia.
"Aku ragu mereka akan membiarkan ku mengerjakan misi ini." Ucap Hestia berjalan ke arah resepsionis.
"Oi bocah minggir." Ucap seorang pria kekar membawa kapak di punggung nya.
"Oh Hunter yang terlihat sedikit lebih keren akhir nya muncul." Ucap Olav sampai melihat ke atas karena perbedaan tinggi badan.
"Maaf, silahkan." Ucap Erica menarik Olav minggir dan mempersilahkan Hunter tersebut lewat.
"Pilihan yang bijak." Ucap nya.
"Apa yang kau lakukan Erica?" Bertanya Olav saat mereka sudah duduk satu meja saling berhadapan.
"Sudah lah tuan muda sebaik nya kita tidak usah membuat keributan di sini." Ucap Erica seakan memohon.
"Kalau dia ngajak ribut tinggal ku kasi biji kacang di kepala nya." Ucap Olav mengeluarkan pistol nya.
__ADS_1
"Hestia kenapa lambat sekali." Ucap Erica ingin segera meninggalkan guild sebelum tuan muda gila nya itu menari perhatian banyak orang.
Perlu satu menit sebelum akhir nya Hestia kembali dengan wajah lesu.
"Ada apa Hestia?" Bertanya Olav.
"Aku mendapatkan misi nya setelah berdebat lama dengan resepsionis." Jawab Hestia.
"Baiklah ayo kita berburu Salamander." Ucap Olav bersemangat.
"Siapa yang mengambil misi Salamander di sini!?" Tiba tiba pria kekar membawa kapak tadi berteriak saat melihat papan misi.
"Ada apa dengan pria itu?" Olav berhenti dan berbalik.
"Ayo tuan muda." Erica langsung mengankat tubuh Olav membawa nya berlari keluar guild di ikuti Hestia.
"Dari tadi sebenarnya apa yang kau lakukan Hestia?" Bertanya Olav saat tubuh nya di angkat bagaikan barang bawaan.
"Tenang saja dia belum ngajak berantem jadi tidak perlu di ladeni." Ucap Erica menurunkan Olav.
"Habitat Fire Salamander adalah di tempat panas atau di tempat tandus." Ucap Hestia.
"Jadi apa perlu kita ke padan pasir?" Bertanya Olav.
"Tidak perlu tuan muda, di belakang istana juga ada banyak Fire Salamander." Ucap Erica.
"Aku tidak tau kalau di belakang istana ada padang pasir." Ucap Olav.
"Bukan padang pasir tuan muda, itu hanya area panas yang langsung terkena matahari begitu matahari terbit dari arah timur dan sekarang menjadi area yang sangat berbahaya." Jelas Erica.
"Entah siapa juga yang menginginkan mayat Fire Salamander monster yang cukup berbahaya ini dengan upah satu koin emas." Ucap Hestia.
"Satu koin emas dan quest nya meminta sepuluh ekor Fire Salamander, kenapa tidak ada Hunter yang mengambil misi ini, kalau mereka mengambil nya aku yakin mereka pasti tidak perlu ke guild selama satu bulan." Ucap Olav.
"Di belakang istana ada banyak Fire Salamander loh, bagi Hunter apa lagi yang lemah seperti ku itu adalah neraka Olav." Ucap Hestia.
"Lalu kenapa kau masih ingin pergi Hestia?" Bertanya Olav.
"Seperti nya kau cukup kuat untuk melawan Fire Salamander jadi kurasa tidak akan ada masalah." Ucap Hestia.
"Dua gerbang jalur masuk kekota dan dua tempat berbahaya di ke dua sisi lain nya yaitu hutan utara dan belakang istana wilayah timur, perancan kota ini tahu betul memanfaatkan tempat pembangunan istana." Ucap Olav.
"Di sana juga ada dungeon tuan muda." Ucap Erica.
__ADS_1
...----------------...
(TL note : lupa menuliskan karena terlalu seru dalam melanjutkan cerita, bahasa di dunia ini entah kenapa Olav secara langsung mengerti, ia memanfaatkan buku di mansion untuk memperlajari huruf dan kadang bertanya pada Gilbert.)