Raja Pembunuh Melawan Takdir!

Raja Pembunuh Melawan Takdir!
Chp 21, Menuju pesta


__ADS_3

Toko Gilbert


"Tuan muda masih kecil jadi tidak boleh ada bir di sini." Ucap Erica duduk di depan Olav tepat di dekat Gilbert.


"Ini masih hangat seperti nya baru di bakar." Ucap Hestia yang duduk di dekat Olav.


"Tuan muda selalu memarahi ku jika makanan nya tidak hangat." Ucap Erica.


"Pasti sulit." Ucap Hestia.


Dengan cepat makan siang mereka selesai dan Olav kembali melanjutkan pekerjaan nya, ia menambahkan mengukir armor hingga tiga jam lama nya dan akhir nya selesai.


"Akhir nya selesai." Kali ini Olav tidak berteriak.


"Kenapa kau tidka berteriak bocah?" Bertanya Gilbert yang tentu bingung.


"Melukis menggunakan material bukan keahlian ku pak tua tapi aku jiga tidak ingin memiliki karya cacat jadi aku harus memaksakan fokus ku hingga ke titik batas terakhir ku." Ucap Olav.


"Aku paham itu." Ucap Gilbert karena sering mengalami situasi yang sama dengan Olav sebagai pandai besi.


"Jadi apa ini sudah selesai?" Bertanya Hestia.


"Coba kau pakai Erica." Ucap Olav.


"Baik." Erica segera menggunakan nya karena kali ini aura nya benar benar berbeda dari sebelum nya.


"Bagaimana?" Bertanya Olav saat melihat Erica menggunakan nya.


Erica bergerak beberapa kali bahkan mengayungkan pedang hingga beberapa kali sebelum memasukkan kembali pedang nya.


"Ini sangat bagus tuan muda, suara nya tidak terlalu berisik meskipun sedikit kuat tapi saya bisa merasakan kekuatan pertahanan ziarah ini." Ucap Erica.


"Itu bisa membuat mu kebal terhadap api salamander tapi kalau yang lebih panas dari nya aku tidak tau." Ucap Olav juga menggunakan armor yang sama.


"Saya rasa tidak akan ada armor yang lebih keren dari ini tuan muda." Ucap Erica setelah memasang jumbai jubah yang menutup punggung nya hingga membuat nya benar benar terlihat seperti kesatri terhormat meskipun sebenar nya dia memang kesatria.


"Aku juga berpikir begitu." Ucap Olav menggunakan jubah lengan panjang nya yang menutupi seluruh armor nya kecuali bagian dada namun itu lah yang membuat jya terlihat seperti Hunter tingjat tinggi jika seandai nya tubuh nya lebih tinggi.


"Aku tidak tau kalau kau sangat percaya diri setinggi itu Olav." Ucap Hestia.


"Maaf Hestia hanya ini yang bisa kuberikan pada mu." Ucap Olav membeikan tongkat sihir yang ia beli dari Gilbert.


Jika ingin memprioritaskan hadiah untuk siapa maka Olav akan memprioritaskan Erica yang sudah menemani nya selama hampir satu tahun.

__ADS_1


"Yakin untukku?" Bertanya Hestia.


"Buat siapa lagi, aku tidak bisa menggunakan sihir Hestia." Ucap Olav.


"Terima kasih Olav." Hestia menerima nya tanpa sungkan.


"Aku tidak menyangka kau seterus terang itu menerima hadiah." Ucap Olav membalas perkataan Hestia sebelum nya.


"Pembalasan dari yang tadi kah." Ucap Hestia merasa di ejek.


"Kalau begitu pak tua, ini sudah sore kami pulang dulu." Ucap Olav pamit.


"Oke." Balas Gilbert.


...


Malam hari.


Entah itu hal buruk atau baik namun ayah Olav malam ini tiba tiba pulang dan ini pertama kali nya ia pulang dua hari berturut turut.


"Ada apa Ayahanda?" Bertanya Olav saat Fergar terlihat terburu buru.


"Oh Olav kebetulan sekali, ayah lupa malam ini adalah perayaan ulang tahun Bonar, segera ganti baju dan trmani ayah ke pesta." Ucap Fergar.


Sebagai kepala keluarga Villea, Fergar tentu harus hadir di acara tersebut untuk merayakan ulang tahun Bonar yang juga merupakan bagian dari keluarga Villea.


"Kenapa aku harus datang ayah?" Bertanya Olav tidak terlalu menyukai acara seperti ini.


"Setidak nya wajah mu juga harus ada agar orang lain tidak selalu meremehkan mu Olav, pokok nya cepat lah bersiap." Ucap Fergar berlari ke arah kamar nya.


"Malam ini adalah hari sial ku." Ucap Olav menuju kamar nya lalu menggunakan pakaian yang selayak nya di gunakan oleh putra bangsawan saat ke pesta.


Tiga menit kemudian...


"Kau sudah siap." Ucap Fergar saat melihat Olav sudah siap di depan pintu mansion.


"Apa Olav harus pergi?" Bertanya Olav.


'Ayah dan anak ini bersiap terlalu cepat.' Batin Erica.


"Mungkin ini akan sedikit memberatkan mu tapi ayah harap kau bisa menahan nya Olav." Ucap Fergar.


"Baiklah ayahanda." Ucap Olav menurut saja siapa tau mendapat keberuntungan dari kesialan.

__ADS_1


"Kalau begitu ayo berangkat." Ucap Fergar saat kereta kuda yang sangat mewah terparkir di hadapan mereka.


"Nn." Olav mengangguk dan memasuki kereta.


"Selamat jalan tuan muda." Ucap Erica.


Kereta kuda pun jalan dan keluar dari gerbang mansion.


"Mereka sudah pergi." Ucap Hestia baru keluar.


"Kecewa karena tuan muda tidak membawa mu?" Bertanya Erica.


"Tidak, aku hanya ingin mel8hat bagaimana Olav menghadapi orang orang yang selalu mengejek nya." Ucap Hestia memang menikmati momen seperti itu.


"Aku bingung apa kau ini sadistc atau masokis." Ucap Erica dengan suara kecil.


...


Sebuah kereta mewah terparkir di depan mansion yang mewah nya setara dengan mansion utama keluarga Villea namun mansion ini tampak lebih terang saat malam dan ada banyak orang yang menggunakan pakaian rapi layak nya sedang berpesta.


Dari kereta tersebut keluar seorang pria berusia tiga puluh tahunan dengan aura ketampanan nya masih terpancar yang dapat membuat seluruh tante tante di pesta melihat nya dengan penuh rasa cinta.


Sementara berikut nya adalah tuan muda berusia sebelas tahun dengan ketampanan yang tidak kalah tampan dengan sang ayah serta sorot mata nya yang indah dan tajam seakan dapat melihat isi hati setiap gadi gadis kecil yang terlena pada nya.


Seorang pelayan berkumis segera datang menyambut mereka melui karpet merah bagaika bagaikan selebriti tingkat dunia.


"Selamat datang tuan Fergar Von Villea, kami merasa sangat terhormat atas kedatangan tuan kepala keluarga." Ucap nya memberikan hormat dengan menaruh tangan kanan di jantung serta tangan kiri nya yang seakan mempersilahkan untuk maju.


"Hm." Fergar hanya mengangguk sebentar sebelum berjalan maju di ikuti oleh Olav


'Harus nya kau menyambut ku juga pak tua kumis sialan!' Olav seakan ingin berteriak saat keberadaan nya di abaikan.


Pesta di laksanakan di halaman mansion entah alasan apa namun mereka berdua tetap berjalan maju memasuki area pesta.


"Tuan Duke Fergar suatu kehormatan dapat bertemu dengan anda."


"Tuan Duke Fergar saya adalah orang yang pernah anda lihat jatuh di selokan."


"Tuan Duke Fergar puteri saya sangat cantik, kebetulan anda membutuhkan pendamping silah kan nikahi saka puteri saya."


"Tidak tuan Duke Fergar, puteri dia terlalu muda untuk anda biarkan istri saya saja yang menjadi pendamping anda."


"Kakak saya saja."

__ADS_1


Beberapa orang mulai berdatangan untuk sekedar menyapa atau bersalaman dengan duke Fergar Von Villea, anggap saja beberapa kepala desa dan pak camat ingin membuat koneksi dengan menteri negara.


__ADS_2