Raja Pembunuh Melawan Takdir!

Raja Pembunuh Melawan Takdir!
Chp 30, Tiba di desa Cornell


__ADS_3

Olav tiba di atas pohon dengan memastikan ia tidak akan di lihat oleh perajurit lain nya, Olav mengeluarkan senapan tipe sniper nya dan mulai membidik ke arah desa yang ia lihat dari kejauhan.


"Ini lebih parah dari yang aku pikirkan." Gumam Olav melihat dua perajurit yang ia kirim malah tertangkap oleh bandit yang menguasai desa.


Olav memastikan setiap sudut desa dan semua arah tembakan yang dapat di jangkau penglihatan nya.


"Ku harap keluarga Hestia baik baik saja." Ucap Olav saat melihat ada kuburan yang baru saja di gali di dekat kebun apel milik desa.


"Erica! Beritahu perajurit untuk maju! Untuk Hestia sebaik nya kamu bawa dia kesini." Ucap Olav.


"Baik tuan muda!" Teriak Erica dari bawa yang telah membersihkan monster di sekitar.


Olav memberikan perintah untuk maju setelah memastikan ia dapat menjangkau seluruh bandit jika mereka menjadikan warga sebagai sandera.


Perajurit mulai berjalan maju tanpa mengetahui apa apa namun saat sampai di depan desa seperti yang Olav perkirakan para bandit langsung menjadikan warga sebagai sandera.


"Tuan muda saya sudah membawa Hestia!" Teriak Erica.


"Kerja bagus Erica." Ucap Olav tidak melepaskan pandangan nya.


"Apa sebenar nya yang ingin kau lakukan Olav?" Bertanya Hestia karena bingung apa yang terjadi sebenar nya.


"Jangan mengganggu ku Hestia." Ucap Olav benar benar ingin fokus sampai mengeluarkan beberapa slot peluru dari invertory nya agar dapat mengganti nya dengan cepat.


Perhatian para bandit mulai pecah karena melihat para perajurit menyerah entah demi menyelamatkan sandera atau kah karena jumlah bandit yang terlalu banyak Olav tidak tau.


Olav tanpa menyia nyiakan waktu langsung melepaskan tembakan ke arah beberapa bandit yang berada paling dekat dengan pensusuk desa.


Dor! Klack! Dor! Klack! Dor! Klack!


Dor! Klack! Dor! Klack! Dor! Klack!


Belum sempat peluru nya mengenai kepala bandit Olav sudah membidik kepala yang lain dan menembak nya.


Cara membedakan sandera dan bandit cukup mudah bagi Olav, tidak ada sandera yang akan memiliki senjata sedangkan semua bandit menggunakan senjata selain itu hanya penjahat yang dapat mencium bau penjahat.


Saat beberapa bandit tiba tiba mati, bandit lain nya mulai panik dan menyerang perajurit karena menganggap mereka lah yang menyebabkan nya.


Para kesatria tidak tinggal diam dan mulai membalas hingga akhir nya pertempuran pun pecah, beberapa bandit yang pintar mulai mendekati warga untuk menjadikan nya sander namun peluru Olav lebih cepat dari pada kecepatan lari nya.


Dalam waktu singkat bansit di habisi namun korban dari pihak perjaurit tidak sedikit, meskipun mereka adalah bandit namun awal nya mereka jiga adalah perajurit yang mungkin kebanyakan kesatria tingkat pertama.

__ADS_1


Olav masih mengawasi untuk melihat apakah ada bandit yang tersisa karena dia tidak bisa melihat yang berada di dalam rumah sedangkan para kesatria mulai membersihkan mayat bandit namun tetap memprioritaskan mayat kawan mereka.


Saat Olav terus memantau, satu pria dewasa lari terbirit birit melalui sisi lain desa dan berlari ke arah kebun apel, setelah memastikan tidak ada lagi yang melarikan diri Olav langsung menembak kai target tersebut.


"Gravity Wave."


Dor!


[Mendapatkan skill - Lock Onto.]


"Lapangan clear, sisa nya biarkan para kesatria saja." Ucap Olav kemudian lompat dari dahan ke dahan untuk turun dari pohon.


"Sebenar nya apa yang terjadi!?" Hesti dari tadi bertanya namun Olav selalu mengabaikan nya.


"Bandit menyerang desa Cornell." Ucap Olav tidak menyembunyikan nya lagi.


"Kenapa kau baru memberitahu ku Olav!?" Hestia langsung berlari keluar hutan untuk menuju desa Cornell.


"Hestia! Akan lebih cepat jika menggunakan kereta!" Ucap Olav mengambil kereta kuda bersama Erica.


"Cepat lah." Ucap Hestia juga melompat naik.


Mereka dengan cepat melaju ke arah desa, saat tiba di desa tentu Hestia langsung mencari keluarga nya.


"Baik tuan muda." Jawab Erica menerima cincin penyimpanan Olav.


Berjalan Olav melewati semua nya dan menuju area kebun apel warga untuk melihat buruan nya.


Seorang laki laki setengah sekarat dengan darah yang terus mengalir dari kaki nya meskipun ia telah menutupi nya menggunakan kain.


"Dasar amatir." Ucap Olav.


"To-tolong." Ucap pria tersebut nya.


"Apa masih ada maekas bandit lain di sekitar sini?" Bertanya Olav.


"Tolong.., kaki ku.. kaki ku." Ucap nya lagi sudah setengah sadar.


"Seperti nya tidak ada guna nya lagi." Ucap Olav tidak bisa mendapatkan informasi apa apa pada orang sekarat.


Dor! Klack!

__ADS_1


"Sekarang adalah bagaimana keadaan Hestia." Ucap Olav berjalan kembali ke desa.


Olav langsung mencari Hestia saat kembali memasuki desa, desa Cornell memiliki luas yang lebih luas dari pada desa sebelum nya sehingga Olav cukup lama sebelum mendengar suara Hestia dari dalah satu rumah yang ada di sana.


Krieet!


Olav langsung membuka nya tanpa permisi dan melihat Hestia bersama seorang wanita dewasa berusia tigah puluhan sedang menangis berpelukan di depan pintu.


"Hestia." Ucap Olav.


"O-Olav." Ucap Hestia mengusap air mata nya berusaha untuk tetap kuat.


"Siapa di-" wanita di samping Hestia ingin bertanya namun Olav lebih dulu menyela nya.


"Apa terjadi sesuatu?" Bertanya Olav.


"Ayah.. mm." Hestia kembali menangis.


"Hmm.. begitu kah." Olav pun mengerti setelah melihat keadaan. "Saya Olav Von Villea putra dari duke Fergar Von Villea, anda siapa?." Ucap Olav memperkenalkan diri pada wanita berambut merah di dekat Hestia meskipun sudah menebak nya tapi Olav tetap bertanya.


"Maaf atas kelancangan saya tuan muda, terima kasih karena telah membawa para kesatria untuk menyelamatkan desa kami, sungguh saya sangat berterima kasih." Ucap wanita tersebut hampir bersujud.


"Aku bertanya siapa nama mu?" Olav mengulangi pertanyaan nya.


"Nama saya Hevatia dan ini putri saya Hestia tuan muda." Jawab nya.


"Anda ibu nya Hestia kah, senang melihat anda baik baik saja." Ucap Olav yang sifat nya sedikit berubah.


"Tuan muda mengenal putri saya?" Bertanya Hevatia ibu Hestia.


"Untuk sekarang tidak perlu membahas itu." Olav berjalan ke arah Hestia sebelum meletakkan tangan di pundak nya. "Tidak usah menahan nya menangis lah." Ucap Olav.


"Olav." Air mata Hestia kemudian mengalir deras dan ia menangis keras di pelukan Olav.


Olav tidak begitu mengerti hubungan antara ayah dan anak apa lagi hubungan antara Hestia dan ayah nya namun Olav sudah sering melihat seseornag yang menangis saat seseorang yang dekat dengan mereka sedang menangis.


Hanya satu yang Olav tau dan paham dari itu semua, saat engkau menangis berati saat itu engkau sedang kesulitan dan ingin melepaskan kesulitan itu dengan cara menangis.


Meskipun Olav adalah seorang pembunuh berdarah dingin namun darah nya tidak sedingan itu hingga sulit untuk mendidih, hanya saja Olav belum paham kenapa orang orang menangis saat sedang bahagia.


Setelah cukup tenang Hestia mulai meminum air mineral yang Olav sediakan.

__ADS_1


"Sudah baikan?" Bertanya Olav.


"Nn." Mengangguk Hestia.


__ADS_2