Raja Pembunuh Melawan Takdir!

Raja Pembunuh Melawan Takdir!
Chp 31, Calon mertua?


__ADS_3

Desa Cornell


Dengan arahan Erica, para perajurit dan warga mulai mengubur korban baik itu warga, kesatria maupun bandit.


Selama seharian kesatria sibuk untuk mengurus beberapa rumah atau pagar yang rusak karena pertempuran sebelum nya, beberapa yang terluka dan tidak kebagian potion harus di rawat manual, ada juga orang yang kehilangan keluarga harus di urus.


Sementara itu di rumah Hestia saat ini Olav Hestia dan ibu Hestia yaitu Hevatia sedang duduk menghadap satu meja bundar.


Hestia sudah tampak baikan dari pada sebelum nya karena merasa dia tidak bisa terus menangis di saat seperti ini, yang harus ia lakukan adalah memikirkan rencana kedepan nya termasuk untuk diri nya dan ibu nya.


"Jadi ada hubungan apa antara tuan muda dan putri saya?" Bertanya ibu Hestia.


"Olav pernah menyelamatkan Hestia saat di tangkap goblin jadi Hestia memutuskan untuk menikahi Olav." Jawab Hestia.


"Sebentar." Ibu Hestia sedang berpikir. "Bolah saya memanggil tuan muda dengan nama Olav?" Bertanya ibu Hestia memastikan.


"Silahkan ibu." Olav hanya mengikuti cara laki laki di bumi saat menghadapi calon mertua selalu memanggil nya ibu.


"Baik lah nak Olav, apa kau benar benar menyukai Hestia?" Bertanya ibu Hestia yang sifat nya langsung berbanding seratus delapan puluh derajat dengan sifat sopan nya sebelum nya menghilang seutuh nya.


"Tidak juga, aku hanya memnuhi janji ku untuk menikahi nya." Ucap Olav jujur begitu saja.


Brak! Brak!


"Hestia untuk apa kau menikahi pria seperti ini!?" Bertanya ibu Hestia pada Hesti sambil memukul mukul meja.


"..." Hestia tidak menjawab karena terlalu malu.


"Meskipun dia anak bangsawan tapi masa depan nya sudah jelas, dia akan menjadi bangsawan arogan yang suka menindas menggunakan kekuasaan nya." Sambung ibu Hestia.


"Dia sudah sering melakukan nya." Ucap Hestia dengan suara kecil hingga ibu nya tidak mendengar nya.


"Jika hanya di selamatkan dari sarang goblin kurasa kau memang harus berterima kasih Hestia, tapi kau tidak perlu berjanji untuk menikahi nya, jadi apa alsan sebenar nya kau ingin menikahi nya?" Bertanya ibu Hestia serius.


'Seandai nya aku yang dulu menemukan wanita seperti nya di bumi, aku pasti akan menikahi nya.' Batin Olav kagum dengan sifat ibu Stella yang tidak pandang kasta saat situasi seperti ini.


"Itu.. segel Hestia di buka oleh Olav." Jawab Hestia dengan suara yang sangat kecil.

__ADS_1


"Apa?" Bertanya Ibu Hestia untuk memastikan pendengaran nya.


"Segel Hestia di buka oleh Olav." Ucap Hestia menyembunyikan wajah nya.


Seketika ibu Stella melihat ke arah Olav sebelum kembali melihat putri nya lalu menutup wajah nya menggunakan kedua tangan nya.


"He? Memang nya ada yang salah dengan itu?" Bertanya Olav bingung.


"Sekarang tidak ada jalan lain kalian memang benar benar harus menikah, entah apa yang akan di katakan ayah mu saat melihat mu seperti ini Hestia." Ucap Hevatia memegang kepala nya seperti orang sakit kepala.


"Entah kenapa aku merasa seperti orang yang sangat tidak berguna." Ucap Olav merasa di rendahkan.


"Baik lah ibu akan mengurus upacara pernikahan kalian-" ucapan Hevatia di sela Hestia.


"Ibu kalau itu tunggu." Ucap Hestia menyela.


"Usia saya masih sebelas tahun, saya juga harus menaati aturan bangsawan untuk menjaga martabat saya." Ucap Olav karena usia untuk bisa menikah bagi bangsawan adalah lima belas tahun.


"Aku pikir memang hanya tubuh nya yang kecil ternyata otak nya memang masih bocah, kenapa bocah kecil begini bisa melihat tubuh indah putri ku?" Ucap Hevatia tambah pusing.


"Karena aku kuat untuk melindungi Hestia." Ucap Olav jujur namun dia jadi terlihat bodoh saat mengatakan nya.


"Baik lah, kau harus berjanji untuk menikahi putri ku saat nanti." Ucap Hevatia tiba tiba serius kembali.


"Tentu saja ibu, saya sudah berjanji." Ucap Olav juga serius akan janji nya.


"Nn aku boleh memotong telinga mu jika kau tidak menepati nya kan?" Bertanya Hevatia.


"Tentu saja." Olav serius akan hal tersebut karena mengingkari janji sama saja mencoreng nama besar raja pembunuh.


...


Saat malam para perajurit beristirahat dan tetap melakukan pergantian jaga, para perajurit tentu bingung saat melihat banyam mayat bandit yang mati sama seperti bandit sebelum nya yaitu memiliki lubang di kepala nya.


Mereka menganggap itu monster ghost namun Erica segera memberitahu agar diam dan merahasiakan nya dari warga agar warga tidak membuat warga khawatir namun tujuan utama nya adalah untuk tidak terlalu menyebar luaskan berita palsu tersebut.


Kepala desa juga meninggal jadi sementara waktu desa di arahkan oleh para kesatria.

__ADS_1


Saat Olav beristirahat di salah satu kamar di rumah Hestia, Erica datang mengetuk pintu.


Tok! Tok! Tok!


"Ini Erica tuan muda." Ucap Erica setelah mengetuk pintu tiga kali.


"Masuk." Ucap Olav membuka pintu dan melihat Erica membawa burung elang yang cukup besar di atas lengan nya.


"Surat dari tuan Duke Fergar tuan muda." Ucap Erica mengambil kertas yang berada dalam slot besi di kaki elang sebelum nya.


"Ini burung yang hampir ku tembak beberapa hari lalu karena lewat di atas mansion." Ucap Olav mengambil surat yang ber cap keluarga Villea.


"Tolong jangan tuan muda, ini adalah burung yang di jinakkan tuan Fergar untuk mengantar surat." Ucap Erica.


"Jelas itu tidak di jinakkan, itu segel budak." Ucap Olav saat ada segel budak di dada burung elang tersebut.


"Benar juga." Ucap Erica.


Olav mulai membaca surat dengan cepat sebelum membakar nya.


"Aku tau dia merencanakan sesuatu tapi aku tidak menyangka ini rencana nya sialan, aku tidak bisa mengurus desa." Ucap Olav setelah membakar surat.


"Ada apa tuan muda?" Bertanya Erica.


Di dalam surat Fergar menyuruh Olav untuk tinggal di desa dan belajar memimpin desa hingga usia lima belas tahun, Olav boleh meminta apa saja pada Fergar selama itu untuk mengembangkan desa.


"Aku di minta untuk mengurus desa Cornell." Jawab Olav.


"Apa tuan Fergar sudah tau kalau kepala desa meninggal?" Bertanya Erica.


"Kurasa tidak tapi Fergar cukup pintar untuk bisa menebak nya." Ucap Olav.


"Jadi apa yang akan ruan muda lakukan?" Bertanya Erica.


Olav mulai berpikir sangat lama bahkan memilih berbaring untuk memastikan rencana kedepan nya sebelum ia bangun dan mulai menulis surat.


"Kirim ini pada ayahanda." Ucap Olav memberikan surat pada Erica.

__ADS_1


"Baik tuan muda." Erica segera memasukkan nya ke slot surat di kaki elang.


"Aku akan mengambil alih desa ini, selain itu aku juga tidak bisa memaksa Hestia untuk kembali bersama ku ke kota bersama ibu nya jadi belanar memimpin desa memang tidak ada salah nya." Ucap Olav.


__ADS_2