Raja Pembunuh Melawan Takdir!

Raja Pembunuh Melawan Takdir!
Chp 25, Gravity Wave


__ADS_3

Mansion Lord kota


"Antar aku kesana." Ucap Olav.


"Baik tuan muda." Ucap Erica dan mereka mulai berjalan ke arah menara yang di maksud.


"Kau beristirahat saja Hestia." Ucap Olav membiarkan Hestia di dalam kamar sebelum menutup nya.


"Baik lah." Hestia sebenar nya penasaran dengan apa yang akan di lakukan oleh Olav namun mumpung sedang ada kasur empuk maka nikmati saja sebelum mereka harus kembali tidur di dalam kereta.


Singkat cerita Olav tiba di atas menara yang sekarang sniper nya sudah lengkap dengan pengedap suara super yang bahkan suara sniper pun bisa ia redakan hingga mirip suara peredam pistol.


"Kau juga ingin memantau kah Erica?" Bertanya Olav sementara memantau hutan saat ia merasakan Erica terus melihat nya.


"Saya hanya ingin mencoba item ciptaan tuan muda saja." Ucap Erica.


Olav mengelurkan sebuah teropong satu mata pada Erica. "Itu adalah yang terbaik, di lengkapi dengan skill penglihatan malam yang sudah aku enchant." Ucap Olav.


Meskipun tidak se ahli Gilbert namun Olav sedikit demi sedikit sudah dapat menambahkan skill pada item nya meskipun saat ini hanya sebatas skill yang ia punya.


"Bagaimana cara tuan muda melihat dari lubang ini? Semua warna nya berpadu loh tuan muda." Erica tidak dapat mengatur jarak teropong hingga membuat penglihatan hanya blur.


"Kamu putar putar saja yang itu sampai penglihatan mu jernih, nanti juga akan terbiasa." Olav terlalu malas untuk mengajari Erica cara pemakaian nya.


Erica mulai mengatur teropong hingga akhir nya penglihatan nya jernih tapi. "Tuan muda, kenapa kaca teropong nya berubah jadi hijau?" Bertanya Erica.


"Oh itu arti nya skill penglihatan malam nya aktif, biar kucing pun tidak akan bisa melihat malam sejernih saat siang hari." Ucap Olav.


"Ternyata begini rasa nya punya skill penglihatan malam." Ucap Erica memantau kota sementara Olav memperhatikan hutan.


Setiap pergerakan di hutan bahkan jika itu hanya angin pun tetap Olav awasi, setelah sepuluh menit Erica mulai bosan dan bergerak sana sini saat Olav bahkan hampir tidak bergerak sama sekali.


"Jadi tuan muda apa tujuan kita sebenar nya?" Erica baru mempertanyakan hal tersebut.


"Kau baru mempertanya kan nya setelah melakukan hal sia sia selama sepuluh menit." Ucap Olav.


"Maaf tuan muda." Ucap Erica benar benar tidak paham.


"Saat kita meninggalkan Angse City aku melihat burung yang membawa pesan terbang dari hutan." Ucap Olav.


"Lalu apa hubungan nya dengan ini tuan muda?" Bertanya Erica.

__ADS_1


"Entah apa yang aku pikirkan saat memungut pelayan bodoh waktu itu." Ucap Olav bertanya pada diri nya sendiri.


"Maaf tuan muda." Ucap Erica lagi meskipun sebenar nya ia ingin mengatakan bahwa waktu itu Olav lah yang memaksa.


"Jika burung pembawa pesan terbang dari hutan begitu sekelompok perajurit keluar daei gerbang maka kemungkinan nya hanya ada dua, orang bodoh atau mata mata." Ucap Olav.


"Jadi maksud tuan mata mata itu adalah bandit yang kemudian memberi tahu rekan nya yang ada di wilayah lain, begitu kan?" Ucap Erica merasa sangat senang saat berhasil paham maksud Olav setelah memaksa otak nya berpikir.


"Dan sesuai dugaan di sepanjang perjalanan kita selalu di awasi." Ucap Olav.


"Benar kah tuan muda? Bagaimana cara tuan muda mengetahui nya?" Bertanya Erica.


"Hanya penguntit yang tau cara terbaik untuk menguntit begitu pula dengan pembunuh, hanya pembunuh yang tau cara terbaik untuk membunuh." Ucap Olav.


"Hm?" Erica tidak paham dengam maksud Olaf namun tidak lagi bertanya sebelum tuan muda nya itu menganggap nya benar benar bodoh.


"Apa yang sebenar nya bandit ini lakukan? Dari tadi hanya diam di sana." Ucap Olav tiba tiba.


"Bandit? Tuan muda menemukan bandit?" Bertanya Erica.


"Di atas pohon paling tinggi tepat di arah tembakan ku, dari tadi bandit itu terus mengintai kota." Ucap Olav.


"Mungkin dia hanya bertugas untuk mengintai perajurit kita tuan muda." Ucap Erica masih berusaha mencari lokasi bandit memggunakan teleskop nya.


"Ketemu." Secara bersamaan pula Erica menemukan nya.


"Gravity Wave." Olav mengaktifkan skill class Ranger nya sebelum menarik pelatuk.


Piu!


"Apa yang terjadi?" Bertanya Erica saat melihat kaki bandit yang berada di atas pohon tersebut tiba tiba menghilang.


"Gravity Wave, akan mendorong gravitasi menjauh dari peluruh saat mengenai target bisa juga sebaliknya." Ucap Olav.


"Gravitasi?" Erica bingung di sana.


"Bukan apa apa, hanya nama kakek kakek yang kebetulan kepala nya tertimpa apel dan secara kebetulan menjadi terkenal." Ucap Olav semakin membuat Erica bingung.


"Tuan musa mau kemana?" Bertanya Erica.


"Saat memburu maka kau harus memastikan bisa mendapatkan buruan mu sebelum membunuh nya." Ucap Olav.

__ADS_1


"Apa saya harus ikut?" Bertanya Erica karena Olav seakan ingin sendiri.


"Kusaran kan tidak." Ucap Olav tersenyum aneh.


"Baik tuan muda." Erica segera menurut karena paling tidak ingin melihat sisi lain dari bocah polos baik ini yaitu menjadi bocah iblis.


Setelah berhasil menyusup keluar dari mansion, Olav langsung menggunakan teknik pernapasan tingkat ketiga dan melepaskan sejumlah energi pada kaki nya hingga membuat nya dapat melaju dengan sangat cepat.


Dalam waktu singkat Olav tiba di luar gerbang tepat di pohon yang terdapat bandit tadi, seorang laki laki dewasa duduk bersandar di pohon setelah mengikat kaki nya menggunakan tali dan menutup kaki nya yang hilang menggunakan tanah yang di lapisi kain.


"Kau bukan amatir rupa nya." Ucap Olav melihat laki laki tersebut pucat kehabisan darah.


"Anak kecil kah, apa yang di lakukan anak kecil malam malam begini di hutan?" Bertanya laki laki tersebut memegang pedang nya karena merasakan ancaman dari Olav.


"Aku hanya ingin bertanya, di mana rekan mu yang lain?" Bertanya Olav mengeluarkan pisau unik nya.


Shing! Ting!


"Apa!?" Terkejut bandit tersebut saat serangan kejutan nya di hentikan oleh Olav menggunakan pisau sebelum pedang nya di injak oleh Olav.


"Kau sampai menyerang bocah polos seperti ku, ternyata kau memang bandit." Ucap Olav memasang wajah pisikopat nya.


"Argh!!!"


Dan yang tersisa hanya lah teriakan seseorang bersamaan dengan burung burung yang tertidur di atas pohon terbang seketika.


...


Mansion Lord kota


Kamar Olav


Tok! Tok! Tok!


Olav mengetuk pintu karena terkunci dari dalam.


"Tuan muda?" Bertanya Erica untuk memastikan.


"Ya." Jawab Olav.


Erica langsung membuka pintu dan membiarkan Olav masuk namun terkejut saat melihat di tangan Olav ada banyak darah.

__ADS_1


"Apa terjadi sesuatu tuan muda?" Bertanya Erica.


__ADS_2