
Mereka tiba di depan apartemen mewah Park Jin Hyun. Park Jin Hyun melihat apartemen itu dan tidak mahu turun.
Namun mengingat ibunya, dia harus turun bagaimana pon itu. Dia turun dari mobil dan memasukkan Flufny ke dalam tas nya.
Dia menundukkan kepalanya tanda terima kasih dan berjalan pergi.
Di depan rumahnya, Park Kin Ho sudah berada di sana.
Dia menghela nafas dan berjalan mendekatinya.
"Mengapa kamu terlihat begitu mengerikan? Kamu itu anak presiden, di mana adap mu berpakaian compang camping seperti pengemis ini!?"
'Apa dia buta tidak melihat darah di tubuh ku?'
Park Jin Hyun menatap pria itu dengan malas.
"Ayah...."
"Darah yang ada di tubuh mu itu, siapa yang kamu bunuh, ha? Tidak puas membuli dan sekarang membunuh?"
Park Jin Hyun hanya menatap kosong Park Kin Ho. Park Kin Ho hanya ingin dia melemparkan satu pukulan dan menghalaunya dari rumah. Juga memfitnah dirinya membunuh untuk memasukkannya ke dalam penjara.
[Skill: Ancaman si pengecut (Di aktifkan)]
Park Kin Ho tiba tiba merasa takut pada anaknya yang lemah itu.
"Ayah, aku lelah, tidak bisakah kamu datang lain kali saja? Juga, apa kamu tahu hari ini hari lahir ku? Semua ini adalah vine yang tertumpah pada ku. Tidak bisakah ayah sedikit diam dan menghormati orang di sekeliling mu?"
Park Jin Hyun sangat kesal hingga dia ingin membanting pria di depannya hingga kepalanya hancur. Namun dia mengurungkan niat itu.
Untuk pertama kali dalam hidupnya, dia mengabaikan ayahnya dan berjalan di sampingnya.
Setelah beberapa langkah, dia berhenti.
"Ouh iya, apa ayah datang ke sini untuk memberikan ku hadiah ulang tahun? Ini akan menjadi yang pertama kalinya untuk ku, iya kan. Aku bahkan tidak pernah menerima hadiah natal dari mu."
Setelah memberi sedikit sindiran, Park Jin Hyun pergi meninggalkan Park Kin Ho dengan wajah merah kerana marah dan Malu.
Park Jin Hyun menutup pintu kamarnya dan menguncinya. Mulai sekarang, dia tidak bisa mempercayai semua pembantunya. Tidak ada yang bisa masuk ke ruangannya.
Dia membersihkan diri dan langsung berbaring memeluk Flufny di kasur. Dan hanya perlu beberapa saat sebelum ia tertidur lelap.
Itu hari yang sangat melelahkan untuknya.
.
.
.
.
.
Park Jin Hyun mengerang dalam tidurnya. Dia berkeringat dan Flufny mencuba untuk membangunkannya. Namun bulu bulu lembutnya tidak mungkin untuk membangunkannya.
-Paa aah... Pah...-
Walau begitu dia masih mencuba membangunkannya.
Park Jin Hyun melihat Park Kin Ho yang berbicara dengan seorang pak tua yang tidak ia kenal. Lalu dia menyuapnya seperti biasa dan melihat Kim Se Jung tergeletak di tanah dengan tubuh berlumuran darah.
"Se Jung!"
Park Jin Hyun bernafas berat saat bangun dan Flufny menatapnya dengan khawatir.
Dia malah mengambil hp kerjanya untuk menghubungi Kim Se Jung kerana panik. Dia tahu itu mimpi namun dia ingin mendengar suaranya setidaknya.
Tut.... Tut.....
Panggilan itu mula tersambung.
-Hello, siapa yang call malam malam buta ini?-
__ADS_1
Suara Kim Se Jung kesal. Namun Park Jin Hyun merasa lega.
"Ini aku. Maaf mengganggu mu. Aku mengambil hp kerja kerana mimpi buruk."
Mendengar suara Park Jin Hyun, Kim Se Jung merasa bersalah kerana bersikap dingin.
Mimpi buruknya pasti teruk setelah apa yang dia alami.
"Kim Se Jung, a, apa kamu mengenal pak tua bernama Qin Xiau Feng?"
Mendengar suara Park Jin Hyun bergetar, Kim Se Jung berpikir untuk jujur.
-Hunter rank S dari China. Aku dan dia akan ada pertemuan esok untuk masuk ke duengon rank S bersama sama.-
Tidak ada jawaban untuk seketika.
"Ha, hati hati dengan dia. A, aku bermimpi dia bersama ayah ku. Dan kamu, kamu...."
Park Jin Hyun tidak dapat menghabiskan ayatnya. Dia tidak ingin menyebut perkataan itu.
"Pokoknya, kamu hati hati saja."
Park Jin Hyun langsung menutup panggilan itu menyeka keringat di dahinya.
Dia merasakan mimpi itu benar benar terjadi. Dia tidak mahu mengingat itu lagi. Dia ingin melupakan segalanya.
Namun apa dayanya, dia mengalami suatu kelainan dari manusia lain sejak melihat ibunya keguguran.
Itu adalah tidak bisa melupakan apa yang dia lihat dan lalui. Itulah penyebab utama dia bahkan tidak bisa mengingat apa yang terjadi bahkan saat dia mabuk. Masa masa mabuknya terekam dalam otaknya yang membuat dia tidak akan melupakannya dan bisa mengingatnya.
Mungkin bagi segelintir orang, kekuatan atau kemampuan ini adalah berkah. Namun bagi Park Jin Hyun yang membesar dalam keluarga neraka hanya seperti kutukan. Dia tidak bisa melupakannya bagaimana keras pon dia mencoba.
Itu membuatnya rapuh.
Park Jin Hyun berjalan keluar ke balkoni. Dia melihat tanah yang sangat jauh dari kakinya.
'Jika aku melompat.....'
Park Jin Hyun menggelengkan kepalanya untuk membuang pemikiran tidak berguna itu. Dia akhir akhir ini terlalu banyak berpikir untuk mati. Dia tidak ingin mati.
Crash....
Pintu kaca ke balkoni itu pecah dan pipinya tergores.
'Sniper!?'
Park Jin Hyun langsung memasuki kamar dan bersembunyi di balik meja yang di jatuhkan.
Park Jin Hyun dengan cepat menekan tombol di hpnya.
Panggilan itu tersambung.
"Ibu! Apa ibu baik baik saja!?"
Namun tidak ada balasan di sana.
"Apa kamu menghwatirkan ibumu saat kamu akan segera mengikuti nya?"
Suara orang asing memenuhi kuping Park Jin Hyun.
Panggilan itu di matikan dan dia menerima pesan dengan gambar.
Tangan yang memegang hp itu kehilangan kekuatan dan hpnya jatuh ke lantai. Terlihat ibunya yang berlumuran darah di tenggelam kan ke bak mandi.
Mata Park Jin Hyun menjadi kosong. Alasan dia tetap bertahan hingga saat ini, menghilang dalam sesaat.
Tembakan dari sniper itu terus terus menerus mengenai meja.
Namun suara tembakan yang memekakkan itu tidak memasuki kuping Park Jin Hyun.
Pandangannya gelap dan dia tenggelam dalam keputusaan.
Dia membuka media sosialnya dan menaip-
__ADS_1
[Aku akan mati hari ini, bay.]
Semua netizen yang kerjanya begadang melihat itu dan memenuhi kolom komentar dengan pelbagai pertanyaan.
Park Jin Hyun memposting gambar ibunya yang mati di bak mandi. Juga dirinya yang sedang di tembak terus menerus oleh sniper.
[Ibuku meninggalkan ku dengan banjingan babi itu. Aku tidak mau. Aku akan mengikutinya.]
Itu adalah pernyataan yang penuh dengan putus asa. Para netizen yang melihat 2 gambar itu rasa ingin muntah dan berasa tidak akan dapat tidur malam itu.
Juga melihat wajah putus asa Park Jin Hyun yang menunggu masa akan mati di tembak, memanggil polisi. Mereka tidak dapat bayang betapa putus asanya Park Jin Hyun saat melihat gambar ibunya mati dengan sadis. Satu satunya dorongan Park Jin Hyun bertahan dari ayah seperti Park Kin Ho.
Park Jin Hyun mula membagikan semua perbuatan jahat Park Kin Ho di media sosialnya. Dari memukul dirinya, membuat ibunya gugur 5 kali, kecelakaan mobil yang di sengajakan, dan percobaan membunuh hari ini.
Dia sudah tidak peduli dengan apa yang akan terjadi padanya saat memposting semua itu.
Dia tidak bisa meminta bantuan kerana media sosialnya adalah punca dia mungkin terbunuh. Ibunya tidak bisa menceraikan Park Kin Ho dan dia mencuri aset milik keluarga Lee Sun Ha.
Semuanya, dia membicarakan semuanya. terperinci, masa, tarikh, dan bahkan cuaca saat itu. Semua pembunuhan dan rancangan mereka untuk memberikan duengon parasit pada China dan membuang penduduk mereka.
Semua netizen yang membaca itu tidak bisa mempercayainya. Mereka yang selama ini berpikir Park Jin Hyun si bodoh yang suka membuli, menderita semua itu dan tidak bisa membercerita sedikit pon.
Mereka menghujat diri mereka sendiri kerana mengatakan Park Jin Hyun sampah saat dialah yang melangkah maju jika rakyat dalam bahaya walau tidak ada yang mengakuinya.
[Aku ingin membunuhnya hari ini saat dia ingin menuduh ku melakukan pembunuhan kerana pakaian ku yang berlumuran darah. Dia melempar ku ke duengon rank F ilegal dan mengatakan aku membunuh! Tapi aku tidak membunuhnya kerana aku masih sedikit waras untuk tidak melakukan itu! Dan ini yang dia balas!? Ibu ku! Ibu ku....]
Park Jin Hyun akhirnya berhenti dari memposting apa apa lagi. Dia selesai dengan semua yang perlu ia ucapkan. Semuanya selesai.
Nama Park Kin Ho menjadi tercoreng dan dia akan menerima hukuman di pengadilan. Itu cukup.
Dia berjalan di balkoni di mana ada sniper yang sudah siap menembaknya.
Satu tembakan di lepaskan dan sesaat sebelum itu mengenainya, Kim Se Jung memeluk Park Jin Hyun dan peluru itu mengenainya. Namun hanya cakar monster yang bisa melukai kulitnya.
Jika mahu menembaknya, tembaklah ke mata.
Sniper yang melihat Kim Se Jung di sana langsung pergi. Tidak ada gunanya menembak saat pria itu di sana.
"Park Jin Hyun, mengapa kamu tidak mengangkat hp mu! Kami semua sangat khawatir!"
"Tidak ada gunanya lagi aku hidup tanpa ibu ku! Aku hidup untuk ibu ku dan dia sudah pergi! Aku sudah tidak peduli!"
Park Jin Hyun berteriak pada Kim Se Jung. Dia tidak menangis. Dia hanya terlihat putus asa. Park Jin Hyun kali ini benar benar di hancurkan.
"Park Jin Hyun, apa itu yang ibu mu ingin kan dari mu? Apa sebab dia mengisolasi diri mu jauh darinya?"
Park Jin Hyun berhenti meronta saat mendengar suara lembut Kim Se Jung. Namun ada nada yang sepertinya berat baginya mengucapkannya.
Air matanya mengalir untuk yang ke 4 kalinya. Namun yang berbeda, air matanya bukan kerana takut, putus asa seperti sebelumnya. Itu tangisan kerana sedih akan kehilangan.
Saat polisi tiba, Park Jin Hyun sudah ketiduran di dalam pelukan Kim Se Jung.
.
.
.
.
.
.
.
Bersambung.........................
Nulho: Duh, sedih aja cerita ini pahal!?
Ini aku bagi ketawa dikit.
Tadi time aku nak taip 'Aku sudah tidak peduli!' Di keyboard aku jadi 'aku sudah tidak perawan.' 😅😂
__ADS_1
Ok dadah. 🖐