
Park Jin Hyun terlihat menyedihkan di mata para polisi.
"Dia pasti sangat tergoncang. Aku tebak dia akan menjadi gila."
Seorang polisi paruh baya yang mengamankan tkp bergumam mengatakan itu.
Namun tidak ada yang membantahnya. Park Jin Hyun masih terbilang muda dengan 23 tahun umur korea.
Park Jin Hyun tidak seharusnya mengalami kejadian seperti ini.
"Juga aku tebak bahwa Park Kin Ho akan lepas. Akun milik Park Jin Hyun akan di blokir tidak lama lagi dan akan menyuap makamah. Apalah yang terjadi dengan negara kita sekarang ini."
polisi paruh baya yang lain juga mengatakan itu.
Mereka hanya bisa mengeluh. Tidak ada yang bisa mereka lakukan dengan pangkat mereka.
Park Jin Hyun di bawa ke rumah Kim Se Jung.
Sama seperti yang para polisi itu bualkan, akun Park Jin Hyun di blokir dan Park Kin Ho di bebaskan tuduhan dengan ahli pengacara yang dia sewa.
Juga apa yang polisi bualkan itu menjadi kenyataan adalah Park Jin Hyun menjadi gila.
Park Jin Hyun menolak untuk makan dan setiap kali ia bangun, dia akan mencuba membunuh dirinya. Dia tidak pernah mengucapkan sepatah katapon setelah dia bangun dari tidurnya.
Mentalnya benar benar tergoncang. Dia terkadang menangis, ketawa tidak jelas dan menatap sebuah ruangan untuk waktu yang lama jika dia tidak mencoba membunuh dirinya.
Dia tidak bisa di tinggal sendirian. Dia akan mencoba membunuh dirinya sebanyak peluang yang dia punya.
Menahan nafasnya, menggigit nadinya, menusuk lehernya dengan garpu, mencekik diri sendiri, menggigit lidahnya dan sebagainya.
Namun semuanya di hentikan teman temannya.
Selain itu dia hanya meronta ronta seperti kesurupan.
Lee Kang Dae yang tidak tahan melihat itu dengan marah keluar.
Bang!
Tidak ada yang menyalahkan dia untuk marah. Mereka sama marahnya. Namun membunuh presiden sama dengan meminta menjadi boronan seumur hidup.
Sudah lebih dari seminggu Park Jin Hyun seperti itu. Mereka hanya bisa merasa iba dengan kondisi Park Jin Hyun dan marah kerana Park Kin Ho lolos dari hukumannya.
.
.
.
.
.
Akhirnya tiba waktu untuk Kim Se Jung bertemu dengan Qin Xiau Feng setelah di tunda banyak hari. Dia tidak bisa meninggalkan Park Jin Hyun, jadi dia mengajaknya berdiskusi di kamar Park Jin Hyun.
Yang lain saat ini ada di dalam penyerangan duengon. Dan itu mungkin mengambil masa seminggu setidaknya kerana duengon rank A.
Tuk, Tuk.
Pintu di ketuk dan Kim Se Jung membukanya.
Park Jin Hyun membulat mata melihat pria yang sama persis dengan yang pernah dia lihat dalam mimpinya.
Bayangan pria itu menjilat pedang yang di penuhi darah Kim Se Jung melintas di benaknya.
"Pergi."
Kim Se Jung tersentak mendengar Park Jin Hyun mengatakan sesuatu. Dia melihatnya. Mata Park Jin Hyun seperti ingin merobek Qin Xiau Feng hingga berkeping keping.
"Pergi!"
Park Jin Hyun meninggikan suaranya pada Qin Xiau Feng.
"Pergi, kau berkerja dengan banjingan babi itu!"
Keringat mengalir di pipi Qin Xiau Feng.
__ADS_1
'Bagaimana si gila ini tahu!?'
Misinya kali ini adalah membunuh Kim Se Jung dan Park Jin Hyun kerana akan berdiskusi di kamarnya.
Namun dia langsung tahu.
"Tuan, apa kamu tidak salah berbicara? Saya tidak pernah bertemu dengan tuan sebelumnya."
'Dia hanya orang gila. Dia pasti bisa di bujuk dengan mudah.'
Kim Se Jung mula melihat Qin Xiau Feng dingin. Dia mengingat Park Jin Hyun menyuruhnya berhati hati dengan pria tua itu.
Tangan ramping Park Jin Hyun mencapai laptop Kim Se Jung yang ada di meja berdekatan tempat tidurnya. Itu supaya dia bisa bertindak secepatnya saat Park Jin Hyun mencoba hal bodoh.
Kim Se Jung yang melihat Park Jin Hyun menggerakkan jari jemarinya dengan terampil, dia pon melihat apa yang di lakukan nya.
Kim Se Jung kaget saat melihat Park Jin Hyun merentas sistem cctv di rumah Park Kin Ho dengan mudah.
Park Jin Hyun menunjukkan rekaman cctv di mana Park Kin Ho memberikan uang pada Qin Xiau Feng.
Wajah Kim Se Jung menjadi penuh dengan amarah saat dia membaca gerakan bibir bila rekaman di besarkan.
'Bunuh Kim Se Jung sialan itu. Kerana itu kamar anak ku berada, bunuh saja dia. Dia tidak di perlukan lagi.'
Kim Se Jung benar benar marah. Pilihan tepat untuk membawa Park Jin Hyun ke rumahnya dan memanggil dokter kepercayaannya. Jika di rumah sakit, Park Jin Hyun pasti akan celaka.
"Lupakan saja kerjasama ini. Aku tidak ingin bertemu orang yang berkerja untuk Park Kin Ho."
Kim Se Jung dengan dingin menghalau Qin Xiau Feng.
"Apa maksud mu? Apa kamu mempercayai orang gila dari aku?"
Qin Xiau Feng sedikit gugup setelah ketahuan. Namun dia menenangkan dirinya seperti tidak ada yang berlaku.
Park Jin Hyun kesal dan akhirnya melempar laptop Kim Se Jung ke arahnya.
"Pergi! Aku tidak ingin melihat banjingan anjing yang berkerja untuk Raja babi!"
Park Jin Hyun akhirnya berteriak histeris seperti kesurupan.
"Pergilah selagi aku berbaik hati."
Kim Se Jung mengutuk dari dalam dan menenangkan Park Jin Hyun.
Qin Xiau Feng yang di abaikan mula mengeluarkan pedang dari inventori.
"Kalau begitu mati saja!"
[Skill: Tebasan angin di aktifkan.]
Kim Se Jung melihat itu dan menghela nafas kesal.
"Apa kamu tidak melihat pasien di sini?"
[Skill: Ruang hampa. 1 orang di masukkan.]
Kim Se Jung dan Qin Xiau Feng menghilang dari kamar itu. Meraka memasuki ruang di antara duengon dan dunia mereka.
Park Jin Hyun yang akhirnya di tinggalkan sendirian, menghela nafas. Dia tidak bisa menyusahkan mereka selamanya.
Dia membuka baju yang ia kenakan dan memakai pakaian kasual dengan hudy menutupi kepalanya.
Dia memakai masker dan meninggalkan surat untuk Kim Se Jung jika dia kembali nanti. Dia mengambil beberapa uang dan pakaian ganti lalu pergi meninggalkan bangunan mewah itu.
Dia sudah puas menggila. Sekarang dia akan memikirkan cara untuk membalas banjingan itu.
Yap, perjalanannya yang baru akan di mulai.
"Terima kasih, dan selamat tinggal."
Park Jin Hyun tersenyum mengatakan itu sambil melihat bangunan yang berdiri megah.
'Ouh Shit. Mengapa sekarang adalah musim panas!?'
.
__ADS_1
.
.
.
.
Kim Se Jung yang selesai belasah Qin Xiau Feng kembali.
Namun dia hanya bisa melihat kasur yang kosong.
Dia panik dan mula mencari ke mana mana ruangan itu.
Setelah tidak menemukannya di seluruh ruangan, dia melihat sepucuk surat.
[To: You]
Kim Se Jung mula membuka surat itu.
[Maaf telah menyusahkan mu selama ini. Maaf aku menggila. Maaf menjadi merepotkan. Aku pergi dengan mental yang stabil dan baik. Tidak perlu mencari ku. Aku akan hidup untuk kehidupan yang lebih baik. Jika kita di izinkan, mari bertemu lagi. Dari aku, Prak Jin Hyun.]
Tangan yang memegang surat itu bergetar dan dia mula berlari keluar. Dia berlari untuk mencari Park jin Hyun.
'Yang benar saja! Park Jin Hyun, aku tidak menerima ini!'
Kim Se Jung berlari mencari Park Jin Hyun di kawasan itu. Park Jin Hyun bukan tipe yang menaiki kendaraan.
Namun, itu sia sia. Tidak ada gunanya menelfon dirinya. Hp miliknya ada di kamarnya tadi.
Kim Se Jung menarik rambutnya berpikir keras.
Kemana Park Jin Hyun akan pergi.
Dia memikirkan sesuatu dan menelfon nombor hyung Lee.
-Hello, apa ada yang bisa saya bantu, tuan Kim?-
"Apa Park Jin Hyun pergi ke tempat mu?"
Hyung Lee bingung.
-Tidak. Apa dia tidak bersama mu?-
"Park Jin Hyun sudah pulih dan pergi dari tempat ku. Dia meninggalakan surat."
Hyung Lee mula paham situasinya.
-Tidak ada yang bisa kita lakukan. Park Jin Hyun perlu sendirian saat ini.-
Kim Se Jung tidak membalas dan menutup panggilannya dan menghela nafas.
'Mari bertemu lagi.'
Ayat di surat itu membuat Kim Se Jung menatap langit.
Selagi mereka di bawah langit dan di atas tanah yang sama, mereka akan bertemu lagi.
"Itu tidak akan lama jika itu adalah dia."
Kim Se Jung tersenyum pasrah saja. Dia akan datang segera jika dia memanggilnya. Namun, untuk saat ini, dia perlu ruang sendiri.
Mereka akan berjalan di jalur takdir mereka yang berliku.
.
.
.
.
.
.
__ADS_1
.
Bersambung.......................