
.
.
.
Nama ku Park Jin Hyun, seorang anak presiden sampah yang baru saja terbangun menjadi rank F.
Dan sekarang, aku mabuk.
"Kamu mabuk di waktu petang? Apa kamu yakin?"
Penjaga bar yang membersihkan cawan itu terlihat khawatir.
"Hyung Lee, aku tidak mabuk."
Note: Hyung\= kakak. Atau panggilan hormat orang lebih tua.
"Hnm... Apakah begitu."
"Aku hanya tidak ingin bertemu Kim Se Jung itu. Dia mengatakan akan datang ke sini juga malam ini."
Crash.
Cawan di tangan Lee terlepas dari pegangan dan pecah.
"Apa kamu yakin dia tidak ingin membunuh mu."
"Bukan itu masalah nya sekarang! Dia mengatakan dia tidak bisa berhenti memikirkan ku! Apa dia gila!?"
Lee yang mendengar itu bingung. Dia mengingat bahwa Kim Se Jung memang tertarik dengan Park Jin Hyun saat pertama kali bertemu.
"Kamu sudah terlalu mabuk. Lebih baik kamu pulang sekarang."
"Aku tidak mabuk! Hemp!"
Walau begitu, dia tetap bangun dan pergi.
"Hahh..... Anak itu, dia tidak pernah berubah."
Park Jin Hyun, dia memiliki kepribadian yang kasar namun memiliki hati yang lembut dan tidak akan menyusahkan orang lain walau ketika dia mabuk.
Memiliki hati yang lembut membuat dia memiliki mental yang lemah dan rapuh. Dia mabuk mabukan untuk melindungi mentalnya yang lemah.
"Aku harap dia baik baik saja di party itu nanti."
Hari party yang di arahkan ayahnya untuk pergi akan tiba tidak lama lagi.
.
.
.
Park Jin Hyun berjalan dan melanggar seseorang berbadan besar.
"Sialan, apa banjingan berbadan besar seperti mu tidak bisa melihat dengan benar? Apa kamu buta, banjingan."
-Criiip.-
Park Jin Hyun melihat merpati yang ada di bahu pria besar itu.
"Merpati sialan, apa kamu sekarang datang dengan tuan mu setelah menghancurkan kamar ku!? Aku akan membakar sayap sialan mu itu!"
"Kamu pasangan bertukar surat ku?"
".........."
Park Jin Hyun langsung diam dan ingin pergi.
Namun bahunya di tahan pria besar itu.
"Aku tidak tahu apa apa tentang surat sialan itu!"
"Jelas kamu tahu. Cara kamu berbicara sama dengan surat itu. Tidak aku sangka teman ku itu adalah Park Jin Hyun, anak Park Kin Ho."
Walau begitu, Han So Jung tidak memberikan niat membunuh pada Park Jin Hyun.
"Apa? Sekarang kamu mau mengatakan kamu menyesal bertukar surat bersama ku?"
"Tidak. Aku malah merasa bersyukur aku bisa mengenali mu. Mari terus bertukar surat."
"Ye, mari tidak bertukar- kejap, Apa!?"
__ADS_1
Han So Jung tersenyum sambil memeluk Park Jin Hyun dari belakang. Itu senyum aslinya dan bukan topeng emosi.
"Mengapa banjingan hunter ingin terus bersama ku? Juga lepaskan aku banjingan."
Park Jin Hyun yang mabuk mencuba melepaskan dirinya dari pelukan Han So Jung.
"Kamu tahu, aku membenci Park Kin Ho. Dia penyebab banyak anggota guild Seyoung ku, terbunuh. Apa kamu tahu itu?"
"Aku, tidak tahu."
Wajah Park Jin Hyun benar benar seperti bingung.
"Jadi, mengapa aku membenci seseorang yang bahkan tidak terlibat dengan itu? Mana dia tidak tahu apa apa lagi."
"Apa kau mengejek ku, banjingan?"
Wajah Park Jin Hyun menjadi kesal.
Dengan senyuman di wajah Han So Jung, dia mengangkat Park Jin Hyun bride style ke kursi jalanan.
Dia masih memeluknya dan Park Jin Hyun duduk di ************ Han So Jung namun menghadap ke depan.
"Apa yang kamu mau? Lepaskan aku banjingan. Aku mau pulang."
"Kamu yang melangkah masuk ke kandang singa."
Park Jin Hyun langsung diam.
"Awalnya aku membenci mu juga. Saat melihat mu di party pertama kali, yang aku pikirkan adalah membunuh mu."
Park Jin Hyun hanya mendengarkannya. Dia tiada pilihan kerana dia lemah dan tidak bisa lari.
Han So Jung masih mengingat bagaimana dia merasa niat membunuhnya keluar saat itu.
"Kamu mungkin tidak mengingat nya, tapi saat itu aku menyapa mu dengan niat membunuh."
"Tidak ingat. Banyak yang ingin membunuh ku."
Han So Jung hanya tersenyum mendengar balasan itu. Dia pasti Park Jin Hyun sudah melupakannya.
"Saat itu, kamu seperti biasa membawa cawan vine kemana saja kamu pergi. Saat aku menyapa dengan sopan, hanya 1 kata keluar dari mulut mu."
Dia masih mengingat 1 kata yang sangat jelas. Wajah Park Jin Hyun sangat jelas bahwa dia kesulitan dengan sapaan itu.
Han So Jung juga mengingat apa yang dia pikirkan saat itu.
"Enyahlah. Itulah kata yang kamu berikan pada ku dengan wajah kesulitan."
"Apa masalah nya bilang seperti itu pada banjingan seperti mu?"
Park Jin Hyun masih mencuba untuk melepaskan diri.
"Aku sangat marah namun kamu sudah jauh dari ku. Tapi setelah itu, aku melihat kamu tidak berbicara dengan siapa pon. Apa itu teman politik mu atau atasan hunter."
Park Jin Hyun hanya diam.
"Dan setelah ada yang menyapa mu dari sisi politik, kamu menjatuhkan cawan vine yang kamu bawa hingga pecah. Kamu meninggalkan ruangan party saat itu. Aku tertanya, mengapa kamu mengatakan enyahlah pada ku dan bukan menjatuhkan cawan seperti dengan anak politik itu."
Han So Jung mengingat saat dia mengikuti Park Jin Hyun.
"Setelah agak jauh dari ruangan party, kamu menendang dinding. 'Sial, Apa dia tidak punya kerajaan selain mencari gara gara dengan ku!?' Aku mendengar itu."
"Mereka memang seperti itu."
Mood Park Jin Hyun menjadi buruk.
"Dan aku mendengar yang lain juga. 'Apa enyahlah cukup baik untuk penolakan? Mengapa juga dia menyapa sampah seperti ku? Mulut ku tidak memaki nya, iya kan.' Kamu kesulitan kerana memikirkan kata penolakan paling baik, kamu sangat lucu."
Buk.
Park Jin Hyun memukul tangan yang memegang nya kerana kesal.
"Kerana itu, aku selalu ingin lebih mengenal mu. Namun kamu sangat menjaga jarak dari hunter. Aku tidak bisa mendekati mu."
"Baik, kamu bisa mengenali ku. Sekarang, lepaskan aku."
Walau begitu, Han So Jung tidak melepaskan nya.
"Bagaimana jika kamu mencium pipi ku?"
"Tidak mau."
Tentu saja di tolak.
__ADS_1
"Anggap aku keluarga mu."
"Aku membenci ayah ku. Aku tidak pernah mencium pipi ibuku."
Tertolak untuk ke dua kalinya.
"Bagaimana sebagai hyung mu?"
"......."
Park Jin Hyun memikirkan hyung Lee nya.
"Hyung Lee."
Park Jin Hyun bergumam dan mula ingin mencium pipi Han So Jung. Namun tangan Han So Jung menahan bibir Park Jin Hyun.
"Siapa hyung Lee?"
"Hnm? Teman ku. Dia satu satunya pria yang aku panggil hyung."
Wajah Han So Jung terlihat kesal.
"Apa kamu mencium pipinya?"
"Tidak. Dia memiliki Mysophobia. Mana bisa di sentuh."
Note: Mysophobia adalah takut pada kotor, debu dan bahkan bakteri.
Wajah Han So Jung masih kesal.
"Apa kamu akan mencium nya saat dia menyuruh mu?"
"Mana mau lah."
Wajah Han So Jung menjadi bingung.
"Jadi, mengapa kamu ingin mencium ku jika kamu tidak ingin mencium hyung mu itu?"
"Kerana aku mau kamu lepas kan aku. Mengapa kamu bertanya hal yang jelas!.?"
"Pfff."
Han So Jung pon melepaskan Park Jin Hyun.
"Bisa ku minta nombor hp peribadi mu."
"Iya."
Baru saja Park Jin Hyun mengeluarkan hp nya, Han So Jung mengambilnya.
Kerana itu tidak terkunci, Han So Jung dengan mudah membukanya dan merangkul leher Park Jin Hyun.
Klik.
Han So Jung mengambil gambar mereka berdua. Han So Jung tersenyum ceria manakala Park Jin Hyun sedang berusaha mengambil hp nya kembali.
Dia mengsafe contact nya pada hp Park Jin Hyun dan menghantar gambar itu padanya juga salah satu contact yang ada di hp itu.
"Ini. Pulang dengan selamat. Ini sudah malam."
"Banjingan. Kamu yang membuat itu menjadi waktu malam. Aku mau pulang saat senja."
Dengan mengabaikan gumaman kesal Park Jin Hyun, Han So Jung meninggalkan tempat itu.
"Apa apaan."
"Jadi, kamu bermain dengan So Jung."
Itu suara yang di kenal Park Jin Hyun. Kim Se Jung berdiri di belakangnya.
.
.
.
.
.
.
.
__ADS_1
Bersambung.............