
Maaf jika ada unsur bl. maklum, aku juga cewek. 😅
.
.
.
.
Di penyiaran televisi.
"Anda satu satunya rank S yang ramah dengan penggemar anda, Tuan Han So Jung."
Pria berbadan besar, berambut cokelat dan bermata hijau itu hanya tersenyum.
Han So Jung, Hunter rank S ke dua di korea. Seorang yang ramah dengan penggemar nya.
"Aku tidak bisa mengecewakan penggemar ku, iya kan."
Han So Jung tersenyum pada kamera.
.
.
.
.
.
"Hah......."
Han So Jung menghela nafas dengan lelah.
[Skill: Wajah emosi di matikan.]
"Seorang hunter rank S yang ramah? Yang benar saja. Aku lelah."
Han So Jung membuka tali leher nya dan duduk di kursi meja kerja nya.
-Criip!-
Han So Jung melihat merpati yang di latih nya selama 1 bulan.
Merpati itu tidak pernah mendapatkan balasan.
Han So Jung bisa melihat ikatan surat di kakinya berbeda dengan cara dia ikat.
"Apa kamu akhirnya menemukan seseorang untuk bertukar surat?"
-Criip!-
Han So Jung mengambil surat itu dan memberikan kuaci pada merpati itu.
[€¥&%¥√¢!!!]
Keringat mengalir di pipinya.
"Apa apaan yang di tulis orang ini?"
Dia tidak bisa membaca surat yang penuh dengan coretan.
Sepertinya merpatinya membuat orang itu kesal.
[Kamu banjingan tidak bersekolah! Sama saja dengan otak merpati sialan itu!]
Dia bisa membaca isi surat itu sedikit.
[Kamu tidak berperasaan seperti setan!]
Kata itu sedikit menusuk hatinya. Bukan salahnya untuk tidak beremosi.
Tuk.
Sebuah jarum sepanjang 5 cm menusuk nya.
Itu tidak sakit atau apa pon. Namun itu menusuk setelah dia sedikit terasa pada perkataan itu, membuatnya agak kaget.
"Ini pasti rank F."
Saat dia ingin menyentuh jarum itu, jarum itu langsung menghilang.
"Jarum mana?"
Dia melihat surat itu lagi. Dia tertanya, apa masih ada yang bisa di bacanya.
[Jangan menghantar surat pada ku lagi banjingan! Tidak baik untuk orang jenius yang bisa melatih merpati, berteman dengan banjingan sampah seperti ku. Kamu akan terpengaruh.]
Setelah berjuang untuk membaca isi surat itu, Han So Jung akhirnya mendapatkan isi surat yang sempurna. Namun yang lebihnya hanya caci makian tidak bermakna sama sekali.
"Kamu memberikan ku teman bertukar surat yang menarik."
Han So Jung membelai merpati itu dengan lembut.
Hujung bibirnya sedikit naik dan saat itu dia melihat bayangannya di kaca.
"Apa baru saja tadi, aku tersenyum?"
Han So Jung menyentuh bibirnya dengan kaget.
Jendela pemberitahuan muncul di depannya.
[Han So Jung: Pemulihan emosi 0.01%]
Pemberitahuan itu membuatnya tahu apa yang sedang terjadi pada dirinya.
"Aku menantikan balasan seterusnya. Hantar dengan baik, merpati ku."
.
.
.
"Mengapa mana ku berkurang 1?"
Park Jin Hyun menatap jendela statusnya dengan tidak percaya. Dia tidak menusuk siapa pon juga tidak keluar dari kamarnya seharian itu.
Tok, tok.
Jendela nya di ketuk dan dia melihat merpati yang sama lagi.
Dia hanya menghela nafas dan mengambil surat itu.
[Aku mendapatkan tusukan yang bagus dari mu. Juga, kamu baru saja memaki rank S. Aku harap kita tetap bisa bertukar surat.]
Alis Park Jin Hyun berkerut.
[Apa ini merpati yang kamu latih itu?]
Televisi nya yang menyala menampilkan juru bicara dan seorang tetamu rank S.
[Iya, jadi, jika sesiapa yang menemukan ini, aku meminta kalian membalasnya.]
Tut-
Park Jin Hyun mematikan televisi itu.
"Mari berpura pura tidak tahu sampai dia sendiri berbicara. Saat itu, kita tidak akan bertukar surat lagi."
Park Jin Hyun duduk di kursi mejanya dan membalas surat itu.
.
.
.
"Pergi lah, merpati sialan."
Park Jin Hyun melambai kan tangannya menghalau merpati itu.
Tuk, tuk.
Sekarang ketukan datang dari pintu kamar nya.
"Berbicaralah."
"Tuan dan nyonya ingin bertemu."
Park Jin Hyun mendesah dan berjalan keluar.
'Ini pasti tentang party sialan itu. Apa tidak bisa aku tidak pergi?'
.
.
.
Di ruang tetamu.
__ADS_1
"Ibu, ayah, apa tidak bisa aku tidak pergi?"
Ayah nya menatap anaknya dengan dingin.
"Ini adalah cara kita hidup. Kamu harus pergi bagaimanapon kamu tidak menyukainya."
Ayahnya mengatakan itu dan Park Jin Hyun hanya menganggukkan kepalanya.
"Sayang ku, kamu tidak menyebelahi para hunter kan."
Park Jin Hyun menggelengkan kepalaku.
"Tidak ibu. Aku hanya tidak menyukai anak pemimpin lainnya. Mereka selalu mencari gara gara dengan ku."
Ibu Park Jin Hyun mengelus kepalanya dengan lembut.
Ayahnya, Park Kin Ho. Ayahnya sangat memandang tinggi kekuasaan dan ketenaran. President dengan penyokong terbanyak.
Ibunya, Lee Sun Ha. Seorang yang lembut dan berhati baik. Dia selalu mendengarkan apa yang tidak di sukai Park Jin Hyun.
'Ibu hanya mengatakan itu supaya aku tidak berbicara tentang hunter di depan ayah.'
Ibunya yang lembut dan baik sangat menentang tentang hunter yang di tekan untuk pergi bertarung. Namun dia tidak memiliki kekuatan untuk menentangnya secara terbuka.
Park Jin Hyun mengetahui yang ibunya membuat situs di mana dia mengumpulkan orang yang ingin menentang pemerintah. Namun lebih dari 100 situsnya terus di blokir.
Pernikahan antara Park Kin Ho dan Lee Sun Ha adalah pernikahan politik tampa unsur cinta. Park Jin Hyun sendiri setelah tahu itu kaget. Dia tidak menyangka dia akan di cintai ibunya yang di perlakukan kasar oleh ayahnya jika dia menentang pendapatnya.
Kerana itu, Park Jin Hyun tidak ingin terlibat dengan mana mana sisi. Sisi politik mahupon sisi hunter yang di perjuangkan ibunya.
Dia hanya menjadi sosok netral di antara perang keluarganya itu.
"Kamu harus tetap pergi. Apa gunanya aku memiliki anak yang lemah seperti mu."
'Aku lemah sama seperti mu juga banjingan. Jika aku lemah kamu juga sama. Kamu ayah ku.'
Mood Park Jin Hyun benar benar di kuliti.
"Itu akan bermula seminggu lagi. Pastikan kamu siap ke acara."
Ayah dan ibunya bangun dan meninggalkan dirinya sendirian.
'Mari mabuk hingga tidak ingat dunia.'
Park Jin Hyun hanya memikirkan kehidupannya sebagai pemabuk sampah jalanan.
.
.
.
.
.
-Criiip!-
Han So Jung yang melihat merpatinya kembali langsung membuka jendela. Dia mengambil surat dari kaki merpati itu.
[Aku tidak tahu kamu siapa sialan! Siapa peduli kamu rank S atau dewa!? Kamu juga tidak tahu siapa aku!]
Hujung bibir Han So Jung sedikit terangkat.
'Dia benar, aku tidak tahu dia siapa. Apa aku memasang alat pelacak pada merpati ini?'
[Baik, aku akan bertukar surat dengan mu sampai kamu bosan, banjingan! Tapi hanya 1 surat pada 1 hari! Jika tidak, aku tidak akan membalasnya!]
Han So Jung melipat surat itu dengan kemas dan memasukkannya pada laci meja.
"Agak mengecewakan bahwa aku hanya bisa bertukar 1 surat untuk 1 hari. Aku pikir jika kita bertemu, dia akan mengacukan jari tengah nya."
Dengan tatapan lembut, Han So Jung membelai merpati itu dengan hari telunjuknya.
.
.
.
.
.
Di bar.
"Fuwah! Minum saat bad mood adalah yang terbaik!"
"Ini sudah cawan ke 20 mu."
Park Jin Hyun mengabaikan penjaga bar itu.
Kling.
Lonceng pintu bar itu berbunyi menandakan pelanggan masuk.
"Selamat datang."
Penjaga bar itu terkaku saat melihat siapa pelanggan nya.
"Tu, tuan Kim. A, apa yang bisa saya bantu!?"
"Soju."
Penjaga bar itu dengan cepat mengambil soju dan menghidangkannya pada Kim Se Jung.
"Maaf jika sedikit terganggu. Pelanggan di sebelah tuan sudah mabuk."
"Tidak masaalah."
Kim Se Jung melihat pelanggan di sebelahnya.
"Apa yang kau pandang setan?"
Kim Se Jung mengenal wajah itu. Itu wajah orang yang membuatnya menangis semalam.
"Siapa dia?"
Kim Se Jung bertanya pada penjaga bar itu.
"Apa tuan tidak mengenalnya? Dia Anak presiden Park Kin Ho, Park Jin Hyun. Dia sering ke sini untuk minum."
Saat nama Park Kin Ho di sebut, niat membunuh Kim Se Jung meluap.
'Ark, aku lupa yang tuan Kim membenci Park Kin Ho!'
Penjaga bar itu menelan ludahnya dan mengintip ke arah Park Jin Hyun yang mabuk dengan cemas.
Niat membunuh Kim Se Jung sangat kuat.
Â
Chapter 3
Kim Se Jung melihat ke arah Park Jin Hyun.
"Apa yang kamu pikir tentang hunter?"
Kim Se Jung secara terang menanyakan itu.
'Ku mohon, Park Jin Hyun, jangan berbicara yang aneh aneh!'
Penjaga bar itu sudah sangat panik.
"Mereka sampah tidak berguna."
'Tidak!!!!'
Penjaga bar itu berteriak histeris dari dalam. Niat membunuh Kim Se Jung semakin kuat.
"Mengapa mereka adalah sampah?"
Suara Kim Se Jung sangat dingin.
'Ku mohon, kali ini, jawablah dengan baik!'
Penjaga bar tahu bahwa Park Jin Hyun adalah sampah, namun dia tidak ingin melihat pembunuhan di depan mata nya.
"Aku netral. Aku tidak berada di pihak mana pon. Ahli politik adalah sampah. sama juga dengan hunter. Jika di tanya tentang antara ke dua itu, aku akan menjawab itu adalah sampah. Banjingan, kamu baru saja memburukkan mood ku."
Niat membunuh Kim Se Jung sedikit mereda.
'Sepertinya tidak akan ada kepala yang melayang.'
Penjaga bar itu sedikit menghela nafas lega.
"Apa pendapat mu tentang Kim Se Jung?"
'Ya ampun! Hentikan ini!'
Penjaga bar itu ingin membentur kepala nya ke meja.
Park Jin Hyun menatap Kim Se Jung.
__ADS_1
"Dia seorang yang hebat. Aku iri dengan tubuhnya yang kekar. Setidaknya dia tabah tidak seperti diri ku yang larikan diri ke bar untuk mabuk mabukan."
Park Jin Hyun mengatakan itu dan meneguk 1 cawan lagi bir.
"Dia orang yang kuat namun dia sepertinya di paksa untuk menjadi seperti itu."
"Mengapa?"
Kim Se Jung menatap Park Jin Hyun dengan penasaran.
"Rank S adalah rank terkuat. Apa tidak ada bayaran untuk itu? Saat kematian ke 2 saudaranya, aku menghadiri pemakaman itu kerana di paksa ayah ku untuk terlihat seperti presiden yang prihatin."
Park Jin Hyun berhenti seketika dan bermain dengan cawannya.
"Matanya merah. Namun seperti ada yang menghalangi dirinya dari mengalirkan air mata. Aku pikir, rank S memiliki emosi yang di kuliti."
"Itu benar. Jadi, buatlah aku menangis lagi."
Park Jin Hyun maupun penjaga bar itu bingung.
"Bukan ke itu memalukan, tuan Kim?"
Penjaga itu bertanya.
"Tidak. Sesaat, aku merasa aku menjadi manusia. Seorang monster tampa perasaan, itulah hakikat rank S yang sebenarnya."
Penjaga bar itu langsung mengunci mulutnya.
"Mengapa menangis? Kamu kan bisa tersenyum. Kamu bodoh atau apa?"
Park Jin Hyun mengatakan itu dan Kim Se Jung sedikit terasa kerana orang yang mengatakan itu sedang mabuk.
Tuk.
Satu tusukan mengenai dirinya.
"Ahh.... Mana ku berkurang 1 lagi. Siapa lagi yang terasa dengan ucapan dari sampah ini."
Park Jin Hyun menatap jendela statusnya dengan mata mabuknya.
"Apa yang kamu katakan Park Jin Hyun? Kamu kan tidak terbangun."
"Ah, benar juga."
'Sepertinya, hanya orang yang terasa bisa melihat jarum ini.'
Saat Kim Se Jung ingin mengambil jarum itu, jarum itu menghilang.
"Hei, kamu sudah terlalu mabuk berat. Bagaimana kalau keluar ambil udara segar.
"Hnm? Baik?"
Kim Se Jung dengan mudah mengangkat Park Jin Hyun yang kecil itu keluar.
.
.
.
Di taman.
"Di mana aku?"
"Taman."
Kim Se Jung memberikan air mineral botol pada Park Jin Hyun dan duduk di sebelahnya.
"Taman? Tempat ramai orang nongkrong bersama? Apa aku ke sini akhirnya?"
"Apa kamu tidak pernah ke taman sebelum ini?"
Park Jin Hyun minum air mineral itu dan diam seketika.
"Kedatangan seseorang dengan pangkat besar hanya membuat seseorang tidak selesa. Mereka tidak akan bisa bermain dengan bebas jika orang seperti ku datang. Lagi pula, saat keluar, aku hanya seorang sampah tidak bermartabat."
Kim Se Jung melihat mata Park Jin Hyun yang tidak terlihat sedih namun menerima siapa dirinya.
"Apa kamu tidak bisa tersenyum? Kamu akan menjadi tampan jika kamu tersenyum."
Park Jin Hyun yang mabuk menarik pipi Kim Se Jung hingga membentuk senyuman paksa.
"Tuh kan. Kamu terlihat lebih tampan."
Park Jin Hyun melepaskan tangannya dan senyuman terukir di bibirnya untuk pertama kali. Wajahnya yang memerah kerana mabuk membuatnya terlihat cukup tampan.
Namun yang lebihnya dia terlihat cantik.
Melihat itu, Bibir Kim Se Jung sedikit terangkat.
Dia merasakan itu dan menyentuh bibirnya.
"Tuh, kamu tampan dengan senyuman."
"Bisa aku tahu, apa tusukan tadi?"
Park Jin Hyun yang mabuk hanya bisa menjawabnya kerana dia tidak berada di akal sehat nya.
"Itu tusukan saat seseorang terasa dengan bahasa kasar ku. 1 mana di gunakan. Aku terbiasa dengan bahasa kasar."
[Skill: Bahasa kasar. (F)
Anda bisa menusuk lawan dengan bahasa kasar anda. Tidak berlaku pada seseorang yang berhati kuat.
Itu akan memperbaiki emosi lawan jika itu sedang rusak. Hingga pemulihan 100%, Orang yang terkena efek hanya bisa beremosi di dekat mu. (Mana 1)]
"Apa kamu bercanda? Hanya di dekat ku? Kamu, apa yang telah aku perbuat pada mu untuk mendapatkan skill seperti ini? Hei, banjingan gila!"
Kim Se Jung hanya menatap Park Jin Hyun yang tiba tiba saja marah.
"Hnm..... Sepertinya itu memperbaiki emosi yang rusak. Hingga itu 100% sembuh, kamu hanya bisa beremosi bersama ku. Benar benar banjingan!"
Saat mendengar itu, jendela pemberitahuan muncul di depan Kim Se Jung.
[Kim Se Jung: Pemulihan emosi 0.01%]
"Sepertinya itu akan menjadi perjalanan yang panjang. Apa aku bisa mendapatkan nombor hp peribadi mu?"
"Hnm? Apa benar kamu mau? Atau kamu hanya ingin spam?"
Kim Se Jung terdiam.
'Apa minta nombor hp peribadi itu adalah untuk ngespam?'
Park Jin Hyun mengambil hp nya dan memberikan itu pada Kim Jin Hyun.
"Nih, cari sendiri."
'Dia bahkan tidak meletakkan kunci screen.'
Kim Se Jung dengan mudah membuka hp Park Jin Hyun. Dia membuka contactnya.
"Kamu tidak memiliki nombor sesiapa pon. Apa ini hp yang sering kamu gunakan?"
"Tentu. Kamu meminta nombor hp peribadi ku bukan. Hp dengan nombor orang tua ku atau kenalan lain adalah hp buat kerja. Aku tidak memiliki teman atau keluarga yang akan berbicara untuk kesenangan semata. Setiap kali mereka call, itu pasti tentang party atau hanya mahu cari gara gara."
Park Jin Hyun merenggang kan tubuhnya dan melihat ke arah Kim Se Jung.
"Jadi, kamu adalah nombor pertama di hp peribadi ku ini. Aku harap kamu tidak ngespam aku."
Senyum tipis muncul di bibir Kim Se Jung.
"Aku merasa terhormat menjadi yang pertama menjadi contact pertama mu. Jadi, tolong jangan blokir contact ku saat kamu tidak mabuk."
"Aku tidak pernah melakukan itu. Menyebalkan melakukan itu."
.
.
.
.
.
Keesokan paginya.
"Aku memberikan contact ku pada Kim Se Jung!!!?"
Park Jin Hyun hanya bisa berteriak pada kejadian yang sudah berlalu.
.
.
.
.
.
.
__ADS_1
Bersambung..............