Rasa Sejati | REVISI

Rasa Sejati | REVISI
1. Pertama Masuk


__ADS_3

Like+follow dulu.. maaf ya aku ganti akun soalnya ada suatu permasalahan. Oke capsuss....





Gadis berparas cantik nan imut yang sangat disayangi oleh sang oma. Gadis yang memiliki rambut lurus hitam panjang, disertai hidung mancung, dengan sikapnya yang manja dan polos. Itulah dia, Zevancca Monica atau yang biasa disapa dengan panggilan Acha.


Acha segera menuruni anak tangga satu persatu dengan suara lengkingan yang terdengar sampai lantai bawah sehingga membuat beberapa anggota rumah menutup telinganya masing-masing.


"PAGI OMA!!" Sambutnya yang dilanjut dengan memeluk sang oma.


Oma yang sedang membaca koran itu pun terkejut saat mendengar teriakan dari cucu kesayangannya. "Hey, pagi juga cucu Oma." Sahut sang oma dengan membalas pelukan itu sambil tersenyum manis.


Acha melepas pelukannya lalu duduk disebelah sang oma. "Oma lagi baca apa?" Tanya sang cucu dengan rasa penasaran di hatinya.


"Ini berita terbaru, ada ruko tiga tingkat kebakaran gara-gara anak buahnya yang ceroboh." Jelas oma.


Acha bergidik ngeri. "Seram banget ya oma."


"Makanya kamu kalau ngelakuin sesuatu itu jangan ceroboh, santai tapi selamat." Ujar oma sambil melihat ekspresi cucunya yang mungkin sedang membayangkan kejadian kebakaran itu. Acha mengangguk paham.


"Oh iya, kamu hari ini masuk sekolah jam berapa?" Tanya oma memastikan.


"Jam tujuh." Singkatnya.


"Astaga ini sudah hampir jam setengah tujuh kenapa belum berangkat!"


"Bang Varrez tuh oma yang lama." Rengek Acha.


"Apaan Varrez Varrez!" Ketus sang anak sulung sambil menuruni anak tangga yang langsung sekali dua itu. Varion Alvarrez, tepatnya kakak dari adiknya yang manja itu, Acha lebih suka memanggil Varrez dengan panggilan abang daripada kakak, tapi Varrez tidak pernah mengomentari panggilan itu. Menurutnya, panggilan itu cukup keren bagi dirinya. Varrez memiliki paras tampan, dengan rambutnya yang agak berantakan dan postur tubuh tinggi, ia juga salah satu murid pintar di kelasnya. Ia dan adiknya hanya berselisih 2 tahun.


"Lo yang mandinya lama banget!" Lanjut Varrez.


"Ya biarin, lagian kenapa juga Abang nungguin didepan kamar Acha tadi." Tanya Acha menginterogasi.


Varrez berdecak kesal. "Kan gue udah bilang kalau kamar mandi gue itu rusak! Makanya gue mau numpang mandi dikamar mandi lo!"


Acha berlari ke dalam pelukan sang oma. "Oma tolongin Acha!"


"Ngadu tuh bocah." Kata Varrez yang jengah terhadap sikap manja adiknya itu.


"Mau sampai kapan kalian berantem terus kayak kucing sama tikus." Kata sang mama yang sedang melihat kegaduhan dari kedua anaknya itu.


Acha mengintip sedikit dari balik sofa yang ia dan oma nya duduki. "Ehh ada mama." Ucapnya lalu berdiri untuk menghampiri sang ibunda nya itu.


"Pagi mah!" Ucap Varrez dan Acha bersamaan.


"Apaan sih lo bang ngikutin gue aja!" Ketus Acha sambil menatap Varrez kesal.


Varrez mencibirkan mulutnya. "Elu yang rese!"


"Udah, kalian sarapan dulu sana." Titah nyonya Naura. Sang ibunda.


Mereka pun duduk dan menyantap makanan yang telah disiapkan.


"Papa kemana, mah?" Tanya Varrez karena menyadari bahwa salah satu orang tuanya tidak ada di kursi makan. Acha mengangguk menyetujui sambil mengunyah makanannya.


"Papa kalian tadi berangkat duluan, soalnya ada meeting penting yang mulai lebih awal."


Varrez dan Acha pun ber-Oh ria tanpa mengeluarkan suara.


Varrez melihat Acha dengan malas. "Heh, udah belum makannya, buruan kali, hari pertama lo sekolah ni, jangan sampe lo malu-maluin gue cuma karena telat di hari pertama." Ketus Varrez.


"Sabar." Sahut Acha dengan mulut yang masih dipenuhi oleh makanan. Acha mengunyah makanannya dan segera menenteng tas punggungnya. "Udah bang!"


Varrez dan Acha pun berpamitan kepada sang ibunda dan oma, lalu mereka bergegas pergi menuju ke sekolahan.


❖❖❖

__ADS_1


Varrez memarkirkan mobil nya dilapangan parkir sekolahannya dan segera keluar dari mobil itu.


Brukk brukk


Acha menaikkan kedua tangannya keatas hingga menunjukkan huruf V. "Sampai juga!" Sambutnya dengan diiringi aroma khas sekolahan itu.


Varrez memutar bola matanya jengah. "Ayo masuk." Ajak Varrez yang sudah mendahului sang adik.


"Bang tungguin gue!" Kata Acha sambil berlari kecil untuk menyusul kakaknya itu.


Saat Varrez sedang mengantarkan adiknya ke lapangan sekolah, mereka berdua langsung mendapat cibiran dari anak-anak yang tampak iri saat melihat kakak adik yang dikira pasangan romantis itu.


"Cewek yang sama Varrez itu siapa sih?"


"Iya siapa sih dia? Kok mesra banget gitu."


"Biarin lah, lagian juga Varrez deket sama cewek manapun."


"Iya tapi ini Varrez sampe elus-elus kepala cewek itu."


Kira-kira seperti itulah cibiran yang mereka berikan.


Acha merasa risih dengan tatapan yang mencurigakan itu. "Bang, mereka ngapain sih lihatin kita gitu."


Varrez melihat ke arah tatapan itu dan mencoba untuk menahan tawa nya. "Biarin aja lah, paling mereka cemburu."


"Cemburu sama kakak adek kaya' kita ini?" Kata Acha yang kaget dengan ucapan kakaknya itu.


Varrez tak bisa lagi menahan tawa nya. "Fans gue kan banyak dek." Ucap Varrez yang diiringi dengan tawa nya. Acha mendengus kesal.


Saat mereka sedang asyik bercanda gurau, ada beberapa teman Varrez yang menghampiri nya.


"Buset bro, mulus banget nih cewek!" Ucap Rey yang terpesona dengan adik sang sahabatnya itu.


"Sekali lagi lo lihat-lihat gue kaya' gitu, gue ga akan segan-segan buat ngabisin lo!" Kata Acha yang memang tidak suka dilihat oleh orang sembarangan.


"Astaghfirullah neng, gue ga se-mesum itu juga." Sahut Rey yang berlagak sok polos itu. Rey Alfian, biasa dipanggil Rey. Memiliki postur tubuh tinggi serta berkulit putih dengan jakun khas yang ia miliki. Rey sekelas dengan Varrez. XII Mipa 3.


Acha hanya bergidik saat mendengar ucapan teman dari kakaknya itu. "Dih apaan aa' aa' segala, jijaw tralala."


"Gak apa neng biar keren dikit. By the way, nama neng siapa?"


"Zevancca Monica, panggil aja Acha."


"Cantik neng namanya, kaya' orangnya." Gombal Arga yang membuat Acha menjadi tidak senang.


Varrez merasa kegelian karena kalimat gombalan yang keluar dari teman-teman sebaya nya itu.


Saat Varrez melihat teman dan adiknya, ia merasa ada sesuatu yang mengganjal. "Bentar-bentar, Fadli kemana?" Tanya Varrez kepada dua temannya.


"Fadli? tuh disono!" Jawab Rey sambil menunjuk arah kantin dengan memajukan dagunya. Pandangan mereka pun tersorot pada Fadli yang sedang berjalan sambil menenteng satu kresek jajanan.


Acha terpelongo saat melihat Fadli. "Buset,pagi-pagi udah disediain makanan se-kresek." Ucapnya.


"Hai guys!" Sapa Fadli yang sudah berada diantara kumpulan teman-temannya. Fadli Akbar. Berpostur tubuh ga terlalu tinggi dengan kulit putih. Dia keturunan Jepang tapi kenapa dia sering telmi, drama king dan lembek kyk uke, tapi kalau masalah taekwondo dia jagoannya. Dia satu tahun lebih muda dari Varrez, tepatnya ia sekarang kelas XI Ipa 5.


"Weh buat gue semua ini bro?" Tanya Arga tak percaya. Lalu ia berusaha untuk mengambil kantung itu, dengan cepat Fadli langsung menepis tangan Arga.


"Enak banget lo asal comot gitu aja!"


"Diem lo uke, sini makanannya." Kata Arga yang mencoba untuk merebut jajanan itu.


Fadli melindungi kantung itu. "Kagak bisa!"


Acha sampai terheran dengan ulah mereka. "Mereka kelas 12 yang berantem gara-gara jajanan doang." Varrez dan Rey tertawa saat mendengarkan ucapan Acha.


"Kenapa kalian ketawa? ada yang lucu?"


"Udah woy udah, kalian ga malu apa diliatin sama adik kelas?" Kata Varrez sambil memegang perut standarnya. Fadli dan Arga pun berhenti.


"Euuu!" Solot Fadli sambil membentukkan kakinya seperti sedang melakukan kuda-kuda kearah Arga.

__ADS_1


Arga mengelus dadanya. "Sabar ngadepin uke."


"Diem lo!" Sewot Fadli lalu mengarahkan pandangannya kearah Acha. Fadli tertegun saat melihat Acha. "Yaallah ada bidadari jatuh dari surga di hadapkanku."


Varrez menoyor kepala Fadli. "Yeu, nyanyi lo?"


Fadli tersadar lalu segera merapihkan seragamnya. "Nama neng cantik siapa?" Tanyanya sambil mengulurkan tangan yang sudah gemetaran itu.


"Ngapa tuh tangan." Ucap Rey saat melihat tangan Fadli yang gemetaran.


Arga cekikikan dengan ekspresi Fadli. "Kesambet jin tomang paling."


"Zevancca Monica panggil aja Acha." Sahut Acha sambil membalas uluran tangan sang lawan jenis yang berada di hadapannya.


Fadli masih terpelongo melihat Acha. "Astaghfirullahalazim mulus banget neng."


"WOY!" Teriak Varrez sambil melepaskan kedua tangan yang masih bersalaman itu.


Fadli tersentak kaget. "Ganggu lo sumpah!"


"Suka-suka gue lah, kan gue abangnya."


"Astaga Fadli, lo ngarep amat dah, udah tau abangnya kaya' emak-emak pms gitu." Kata Rey yang diangguki oleh Arga.


Varrez berdecak kesal. "Padahal gue calm gini." Ucapnya dengan wajah-wajah songong.


"Yeuhh." Jawab mereka secara bersamaan.


Rey merubah pandangannya kearah Acha. "Neng kok betah ya punya abang kaya' dia?" Tanya Rey dengan rasa penasaran yang mungkin sudah menggebu-gebu.


"Nang neng nang neng, kalian kira gue neng jamu apa! Masa' princess cantik gini disamain kaya' gituan." Kata Acha sambil menyilangkan tangannya kedepan dada.


"Gak apa lah, kan neng jamu tuh montoq." Sahut Fadli.


Varrez menyentil jidat adik kelasnya itu. "Lo kira adik gue apaan hah!"


"Iya, orang lu masih kecil juga." Kata Arga sambil melanjutkan makannya.


Fadli terkekeh pelan. "Ya maaf."


Kringg kringgg


"Cek cek 12341. Oke, baik anak-anak, ibu harap kalian cepat berkumpul di lapangan karena kita akan segera membagi kelas untuk siswa-siswi baru. Dan untuk kelas XI maupun XII kalian bisa langsung masuk kedalam kelas yang sudah diberitahukan sebelumnya." Jelas wanita paruh baya itu. Ibu Herlina, sang kepala sekolah.


"Ibu kasih waktu 10 menit buat kalian berkumpul ya." Lanjutnya.


Mereka ber-lima mendengarkan ucapan Bu Herlina dengan baik.


Arga segera membungkus kembali makanan yang barusan ia buka. "Ayo kita ke kelas!" Ajaknya.


"Skuy!" Jawab Rey yang menyetujui ajakan dari temannya itu.


"Dek, lo disini ya, abang mau masuk kelas dulu." Ucap Varrez sambil mengusap pelan pucuk kepala sang adik.


Acha mengangguk menyetujui. "Siap bang!" Sahut Acha sambil menaiki tangan kanan nya membentuk sebuah hormatan.


"Bye neng, abang ganteng mau ke kelas dulu." Kata Fadli sambil melambaikan tangannya kearah Acha.


"Udah ayo buruan." Arga memiting leher Fadli dan langsung mengajaknya pergi. Acha terkekeh pelan saat melihat tingkah laku sahabat dari abangnya itu.


Bang varrez beruntung punya sahabat kaya' mereka - Acha


"Udah ah, langsung kumpul aja." Kata Acha yang langsung masuk ke barisan.





Hallo semuahh pake h, ini cerita baru aku maaf banget klo semisal jelek, ga ngeh atau apalah. Pertama kali aku nyoba nulis di mangatoon. So, jangan lupa follow+vote cerita aku. Makasihhh.

__ADS_1


__ADS_2