Rasa Sejati | REVISI

Rasa Sejati | REVISI
16. Mulai Berjuang


__ADS_3

Sebelum baca, kalian pencet tombol like nya dulu, dan komen juga ya guys...


Lanjutt...



Nabila melihat ke arah Acha yang tengah asyik memainkan ponselnya. "Ada apa, Cha?" tanyanya sambil menyuapkan satu sendok bakso ke mulutnya.


Acha hanya menggeleng lalu kembali menaruh handphonenya. Ia pun melanjutkan makannya yang sempat tertunda tadi.


Acha melirik Arkhan sekilas, terlihat laki-laki itu yang masih memegang handphonenya sambil tersenyum tipis. Senyuman yang manis.


❖❖❖


"Lo duluan aja, Bil, gue mau ke toilet dulu," ujar Acha sambil tersenyum ke Nabila.


Nabila manggut-manggut. "Oke, gue ke kelas duluan ya, bye." Nabila melambaikan tangan ke arah Acha dan langsung pergi ke kelas.


Sedangkan Acha, ia sedikit berlari ke arah toilet lalu segera masuk ke dalam toilet yang kosong.


--


"Huft lega," monolog Acha sambil memegang perutnya. Ia membuka pintu toilet dan berjalan keluar dari sana. Saat sampai di depan, betapa terkejutnya ia melihat Arkhan yang menghalanginya.


"Lo mau ngapain disini?" tanya Acha kebingungan. Pasalnya, berani sekali laki-laki itu berdiri di depan toilet perempuan.


"Udah diam aja," ketus Arkhan. Ia meraih pergelangan tangan Acha lalu menarik pelan tangan itu. Acha membulatkan matanya, kenapa laki-laki itu memegang tangannya dan kemana ia akan dibawa pergi.


"Lo mau bawa gue kemana?" tanya Acha sambil mengikuti langkah lebar laki-laki itu.


Arkhan hanya diam dan terus saja berjalan. Acha yang tak mendapatkan jawaban pun hanya mengerucutkan bibirnya.


Hingga tak terasa, mereka pun telah sampai di taman belakang.


"Mana jaket gue?" tanya Arkhan langsung pada poin.


Acha merengut. "Masih di kelas lah," ketusnya.


"Kan gue udah bilang, habis dari kantin langsung ke taman belakang bawa jaket gue," ucap Arkhan.


"Iya tapi tadi gue kebelet, makanya ke toilet dulu," jawab Acha sambil menunduk.


Arkhan tersenyum tipis saat melihat tingkah gadis didepannya ini. "Terus gimana?" tanya nya.


"Eum, biar gue ambil dulu." Saat Acha hendak beranjak dari tempat itu, tiba-tiba tangannya langsung ditahan.


"Kelamaan, nanti aja biar gue ambil di rumah lo," ujar Arkhan.


Acha hanya mengangguk lalu membulatkan matanya. "Ngapain?" tanya nya bingung.


Arkhan mendengus sebal. "Ngambil jaket lah, dasar lemot!" ketusnya.


Acha cemberut saat mendengar kata lemot dari mulut laki-laki itu.


"Udah kan? gue balik ke kelas ya," ucap Acha.


"Nanti, duduk sini dulu gue mau ngomong sama lo," ucap Arkhan yang langsung duduk di bangku taman itu.


Acha pun ikut duduk di samping Arkhan sambil menunduk.


"Jangan nunduk gitu, santai aja," kata Arkhan.


Acha sedikit menaikkan kepalanya, sebenarnya ia gugup duduk di samping Arkhan.


"Jadi, lo udah punya pacar?" tanya Arkhan.


Acha yang sedang memilin jarinya itu pun langsung gelagapan. "Emang kenapa?"


"Jawab aja."


"B-belum."


Arkhan tersenyum kecil saat mendengar jawaban itu, ia merasa sangat senang, ternyata gadisnya ini sama seperti dirinya. Jomblo.


Yes, kesempatan bagus -Arkhan.


"Cha," panggil Arkhan.


Acha menolehkan pandangannya pada Arkhan. Kenapa jantungnya berdegup kencang saat Arkhan menatapnya dalam.


"I-iya?"


Arkhan masih menatap Acha dengan tenang. "Cantik," ucap Arkhan tanpa sadar.


Astaga, gue ngefly -Acha.


"Makasih," jawab Acha.


Arkhan tersadar dengan ucapannya. "Maksudnya, jam tangan lo cantik," ucapnya mencoba mengelak.


Astaga gila, gue kok ngomong gitu sih -Arkhan.


Ish ngeselin, kan gue keburu baper -Acha


Kringg kringg.

__ADS_1


"Bel udah bunyi, ayo ke kelas," ajak Arkhan. Ia berdiri lalu meraih tangan Acha.


"E-eh tunggu."


Arkhan berbalik. "Kenapa?"


"Tangan gue?" ucap Acha sambil melirik tangannya yang dipegang oleh Arkhan.


Arkhan menaikkan kedua alisnya. "Ada yang salah?"


"Kenapa dipegang?"


"Gak boleh?"


Acha terdiam, ia bingung harus jawab apa. Sedangkan Arkhan langsung saja membawa Acha pergi ke kelas.


--


Saat di pertengahan jalan, mereka langsung disuguhkan dengan pandangan dari murid-murid yang masih berada di luar.


"Kelas 10, udah gandengan aja."


"Waduh, siapa tuh yang gandengan."


"Gila, mulus banget tuh cewek."


"Woy itu Arkhan ketua geng Jaguar?!"


Kira-kira seperti itulah cibiran dari orang-orang yang melihat mereka.


"Arkhan, lepasin," bisik Acha sambil mencoba melepas pegangan tangan Arkhan.


"Kenapa?"


"Gue mau ke kelas," ucap Acha yang masih berbisik.


Arkhan melepas pegangan tangan itu. "Hati-hati."


Acha pun langsung pergi dari tempat itu dan segera masuk ke kelasnya.


"Untung aja belum ada guru," ujar Acha. Ia pun menghampiri Nabila dan langsung duduk dikursinya.


"Lo kemana aja, Cha? lama banget di toilet," tanya Nabila.


"Hehe, sorry, tadi gue panggilan alam," jawab Acha.


Nabila menggelengkan kepalanya. "Dasar."


Nabila melihat Acha dengan tatapan menginteropeksi, sebenarnya tadi ia melihat Acha dan Arkhan bergandengan tangan, tapi ia mencoba untuk terlihat santai supaya Acha tidak curiga padanya.


Acha terlonjak kaget saat mendengar pertanyaan yang dilontarkan oleh Nabila, astaga ia bingung harus menjawabnya dengan bagaimana.


"Jawab, Cha," ucap Nabila yang masih menatap Acha dengan tatapan mengintimidasinya itu.


"Eum... I-iya," jawab Acha gugup.


Nabila langsung merubah ekspresinya dengan tersenyum lebar. "Astaga Acha, kok gue senang ya lihat lo tadi gandengan sama Arkhan, apa jangan-jangan kalian udah jadian?" tanya Nabila heboh.


"Dih, enggak," jawab Acha apa adanya.


"Amasa..." goda Nabila.


"Iya serius," sahut Acha sambil menaikkan kedua jarinya ke atas.


Nabila memberikan tatapan dan senyum jahilnya ke Acha. "Kalau udah jadian, kabarin ya," ucapnya sambil memainkan alisnya.


Acha memutar bola matanya malas. "Hishh,"


❖❖❖


"Rez, lo mau jemput Acha dulu?" tanya Rey.


"Woiya dong pasti," sahut Varrez.


"Rez, gue nebeng sama lo ya," ucap Arga dengan ekspresi memelas.


"Yeuh, lo sama Fadli aja," tolak Varrez.


"Fadli berdua naik motor sama Rey," jawab Arga.


"Ya boncengan bertiga lah," ketus Varrez.


Rey menoyor kepala Varrez. "Lo kira kami terong-terongan apa hah?" ketusnya.


"Mana muat lah bertiga, kan Arga gembrot," sahut Fadli tanpa merasa berdosa.


"Heh uke, enak aja lo kalau ngomong!" oceh Arga sambil berkacak pinggang.


"Bisa diam gak kalian?" jengah Varrez. "Ga, lo bareng gue, kalian berdua juga ikut kerumah gue, kita ngumpul lagi," lanjutnya.


"Siap!" jawab mereka serempak.


Mereka pun segera menghampiri Acha di kelasnya.


"Dek, ayo pulang!" ajak Varrez.

__ADS_1


"Ayo!" seru Acha.


"Cha, gue duluan ya, yang tadi jangan lupa," ucap Nabila sambil tersenyum jahil.


"Sotoy lo!" ketus Acha.


"Hahaha, bercanda cantik," ucap Nabila sambil mencolek dagu Acha.


"Ya udah, gue duluan ya, bye!" Setelah berpamitan, Nabila pun langsung meninggalkan mereka.


"Ayo bang!" ajak Acha sambil bergelendotan manja dengan Varrez.


"Ayo!" seru Varrez.


"Eh Acha, cowok lo gak nganterin lo balik?" tanya Fadli sambil cekikikan.


Varrez melototkan matanya. "Siapa?!"


"Siapa lagi," sahut Fadli sambil menyeringai.


Varrez menatap Acha dingin. Yang ditatap pun hanya mengerucutkan bibirnya.


"Dih enggak, Acha gak punya pacar ya!" sewot Acha.


"Yang benar Cha gak punya?" tanya Arga memastikan.


Arga dan Fadli pun saling lirik dan melempar senyuman nakal.


"Iya benar, Acha gak bohong kok," sahut Acha.


Sedangkan Rey, ia tersenyum simpul saat melihat adik dari sahabatnya ini tersipu malu. Pasalnya, ia sudah tau tentang perasaan Acha ke ketua geng jaguar itu, siapa lagi kalau bukan Arkhan. Bahkan tadi pun ia sempat melihat Acha yang sedang digandeng oleh Arkhan.


"Udah lah, ayo kita pulang!" ajak Varrez yang dibalasi anggukan.


Mereka pun segera meninggalkan sekolahan. Tak lupa dengan Rey, Arga, dan Fadli yang berniat untuk kumpul di rumah Varrez. Ya, mereka memang seperti itu, langsung nongkrong selepas pulang sekolah.


❖❖❖


Acha kini tengah berada di kamarnya, sedangkan Varrez dan kawan-kawannya berada di lantai bawah.


Saat sedang santai berbaring di ranjang kesayangannya, tiba-tiba ada notif yang muncul di handphone Acha.


Arkhanaalmlk.


| Gue otw rumah lo.


Achacha.


| Yaa


read.


Acha langsung menuju ke arah lemari untuk mengambil jaket milik Arkhan.


"Udah rapi dan wangi," monolog Acha sambil tersenyum sumringah.


--


Kini motor Arkhan sudah berada di pekarangan rumah Acha. Ia pun langsung turun dari motornya, untung saja disana ada asisten yang sedang menyapu halaman luar sehingga mempermudahnya untuk menanyakan keberadaan Acha. Tanpa babibu lagi, Arkhan pun segera menghampiri wanita paruh baya itu.


"Permisi, Bi," panggil Arkhan.


Wanita paruh baya itu pun menoleh. "Iya, Den, Cari siapa ya?" tanya wanita itu yang ternyata adalah Bi Jum.


"Acha nya ada, Bi?" tanya Arkhan sopan.


"Ada, Den, sebentar ya biar Bibi panggilin dulu,Aden masuk dulu aja," Tawar Bi Jum. Arkhan menjawabnya dengan tersenyum tipis sambil mengangguk. Lalu, Bi Jum pun segera masuk ke dalam rumah untuk memanggil kan Acha.


Arkhan lebih memilih untuk duduk di bangku yang ada di luar rumah daripada masuk ke dalam. Karena ia tau kalau di dalam ada teman-teman Varrez, sebab ia tadi melihat ada motor lain disitu.


--


Saat Bi Jum sedang berjalan menuju kamar Acha, tiba-tiba ia dihentikan oleh panggilan dari Fadli.


"Bi, di luar ada siapa?" tanya Fadli.


"Itu, Den, ada temannya Non Acha," sahut Bi Jum sambil tersenyum ramah.


"Cowok apa cewek, Bi?" Kali ini bukan Fadli yang bertanya, melainkan Varrez.


"Cowok, Den, tinggi orangnya ganteng pula," jawab Bi Jum apa adanya.


"Cowok?" gumam Varrez.


"Eh, ya udah, Den, Bibi manggil Non Acha dulu ya," ujar Bi Jum, lalu ia pun melanjutkan langkahnya menuju kamar Acha.


Cowok? Arkhan nih pasti -Fadli.





To be continue...

__ADS_1


Hallo guys, aku balik lagi nih. Jangan lupa pencet tombol like nya ya, dan follow akun aku juga. Terimakasih..


__ADS_2