
Like n coment nya tetap ya guyss
Tencuuu
"Bi, di luar ada siapa?" tanya Fadli.
"Itu, Den, ada temannya Non Acha," sahut Bi Jum sambil tersenyum ramah.
"Cowok apa cewek, Bi?" Kali ini bukan Fadli yang bertanya, melainkan Varrez.
"Cowok, Den, tinggi orangnya ganteng pula," jawab Bi Jum apa adanya.
"Cowok?" gumam Varrez.
"Eh, ya udah, Den, Bibi manggil Non Acha dulu ya," ujar Bi Jum, lalu ia pun melanjutkan langkahnya menuju kamar Acha.
Cowok? Arkhan nih pasti -Fadli.
"Rez, ada adik ipar noh," seru Fadli.
"Ngapain dia kesini?" jawab Varrez.
Fadli mendengus sebal. "Ya mana gue tau, ngapel paling," sahutnya.
"Eh yang adik iparnya ketua geng," gurau Rey yang diikuti tawaan dari Arga.
"Btw busway, lo kapan kasih restu ke mereka, Rez? gue tadi lihat mereka gandengan tuh," lanjut Rey yang dibalas anggukan oleh Fadli.
"Betul tuh, lo ngeliat juga, Rey?" tanya Fadli.
Rey mengangguk. "Iya pas gue habis dari ruangan BK tadi, gue gak sengaja lihat Acha gandengan sama Arkhan," jelasnya.
"Duh, mantap tuh, kok lo nggak manggil kita sih?" potong Arga.
"Tadi pas gue mau manggil kalian, keburu si Acha udah masuk duluan," jawab Rey.
Arga melentikkan jari telunjuknya di dagu. "Kira-kira mereka habis darimana ya?" tanyanya.
"Habis ketemuan kaya'nya," jawab Fadli santai.
"Kok lo bisa tau?" tanya Arga kepo.
"Ya terus habis darimana lagi coba?" sewot Fadli.
"Elah, santai uke!" balas Arga tak kalah sewot.
Varrez hanya menyimak pembicaraan ketiga temannya ini. Ia tidak akan memberi restu kepada Arkhan dengan semudah itu, apalagi saat ia tau kalau laki-laki itu ketua geng.
Varrez berdiri dari duduknya.
"Mau kemana lo?" tanya Rey.
"Nyamperin Arkhan," ketusnya dan langsung menghampiri Arkhan.
"Wah, seru nih," ujar Fadli dan langsung dibalas anggukan oleh Rey dan Arga.
Mereka bertiga pun langsung ikut menyusul Varrez keluar rumah.
...❖❖❖...
Acha POV.
Saat aku membuka pintu kamar, tiba-tiba sudah ada Bi Jum yang berdiri disana.
"Bi Jum ngapain?" tanyaku.
"Ini Non, diluar ada teman Non," ucap Bi Jum.
"Iya, Bi. Acha udah tau kok, ini Acha mau nyamperin dia," jawabku sambil tersenyum.
Bi Jum pun ikut tersenyum. "Ya udah, Non. Bibi mau ke halaman belakang dulu ya," pamit Bi Jum yang ku balasi dengan anggukan. Lalu ia pun segera beranjak dari tempatnya dan langsung menuju halaman belakang.
Aku pun berjalan ke luar rumah dengan santai, tak lupa dengan totebag berisikan jaket milik Arkhan yang sedang ku tenteng.
Setibanya di luar rumah, aku sempat terkejut saat melihat Bang Varrez dan kawannya sedang mengobrol dengan Arkhan. Tapi tunggu, kenapa wajah Bang Varrez tertekuk seperti itu?
End POV.
Flashback on.
"Ekhem." Varrez berdeham sambil melirik Arkhan sekilas.
Arkhan menolehkan pandangannya sekilas dan mendapati Varrez dan kawannya sedang menghampirinya.
"Eh ada si Arkhan," seru Fadli.
Arga menoyor kepala Fadli. "Diam aja deh lo anying," ketus Arga.
"Dih sewot."
Arkhan tak memperdulikan ocehan tidak jelas yang keluar dari mulut mereka.
"Lo nyari siapa?" tanya Varrez.
"Acha."
"Oh."
"Waduh, cuek banget, Bang." Tampak Fadli yang masih heboh saat melihat kedua orang di depannya ini.
__ADS_1
Fadli langsung menghampiri Arkhan. "Bro, gimana PDKTan nya tadi?" tanyanya yang langsung mendapati tatapan tajam dari Arkhan.
"Elahh, santai aja, gue kagak bocor kok," lanjutnya.
Arkhan tak menggubris sama sekali pertanyaan-pertanyaan itu.
Rey menghampiri Arkhan dan mengulurkan tangannya. "Rey."
"Arkhan," ucap Arkhan sambil membalas uluran tangan Rey dengan ramah.
Rey mengangguk lalu merubah pandangannya. "Woy gembrot, sini kenalan dulu," ujar Rey.
Arga pun menghampiri Rey sambil menatapnya tak sedap. "Gembrot-gembrot," gumamnya.
"Terus apa? langsing?" sewot Fadli.
Arkhan terkekeh kecil saat mendengar ledekan dari Fadli. Sedangkan Arga, ia menatap Fadli seakan-akan Fadli adalah mangsanya yang siap ia terkam.
"Woy, Varrez, sini elah jangan malu-malu," panggil Fadli.
"Malu, malu, malu ku tapi mau~" Arga terdengar menyanyikan potongan lagu itu dengan senang.
"Gembrot-gembrot otak bocah," sindir Rey.
"Bodoamat," ketus Arga.
Varrez menghampiri temannya itu, dan langsung duduk di sebelah Rey. Wajahnya pun masih tertekuk.
"Jangan tegang-tegang atuh, nanti bingung mau ngelemasinnya," ujar Fadli.
"Omes anying," sindir Rey.
"Emangnya lo polos?" tanya Fadli dengan mimik wajah tak berdosa.
"Adik lo mana? lama banget," tanya Arkhan tiba-tiba.
Varrez mengedikkan bahunya. "Entah, tadi udah dipanggil oleh Bi Jum kok," jawabnya asal.
Arkhan menaikkan satu alisnya, sepertinya ia harus sabar saat menghadapi teman-teman Varrez yang berisiknya minta ampun.
"Lo tadi habis darimana sama adik gue?" tanya Varrez dengan ekspresi dinginnya.
"Ketemuan," singkat Arkhan.
"Harus gandengan kaya' gitu?"
"Daripada dia hilang, mending gue gandeng."
Varrez memutar bola matanya malas. Jawaban macam apa itu.
"Biar gak ilang ya, Bang. Kenapa gak sekalian dirantai aja bang?" tanya Fadli sambil terkekeh geli.
"Waduh, ganas kali kau, Bang," heboh Fadli.
Sedangkan Arga dan Rey hanya geleng-geleng kepala.
Rey menatap Arga. "Lo sepemikiran sama gue gak?"
Arga mengangguk.
Astaghfirullah jangan traveling -Author dan para readers.
Flashback off.
"Bang Varrez," lirih Acha.
Varrez menoleh. "Iya?
"Acha mau ketemu sama teman Acha," Sahut Acha.
"Yaudah silahkan," balas Varrez yang masih setia duduk dengan temannya.
"Ish... Abang gak peka banget," dumal Acha sambil memberi Varrez kode untuk pergi.
"Kenapa lihatin Abang kaya' gitu?" tanya Varrez dengan mimik wajah polos.
"Udahlah, Rez, jangan ganggu mereka dulu," sambar Rey.
Arga mengangguk. "Iya, Rez. Kasih mereka waktu dulu."
Varrez mengangguk pelan. "Oke, ayo kita masuk."
"Kita masuk dulu ya, kalian ngobrol aja," ucap Rey sambil tersenyum manis.
Varrez dan temannya pun beranjak masuk ke dalam rumah.
Acha menolehkan pandangannya ke Arkhan. "Nih jaket lo," ujarnya sambil menyodorkan totebag ke Arkhan.
Arkhan menerima totebag itu dengan tenang.
"Jaketnya udah gue cuci, udah wangi," kata Acha sambil tersenyum.
Arkhan tertegun saat melihat senyuman milik Acha, lalu ia pun ikut tersenyum. "Iya, makasih," singkatnya.
"Sama-sama," sahut Acha manis.
"Yaudah, gue pulang dulu," pamit Arkhan.
"Eh, nggak masuk dulu minum teh?" tawar Acha.
"Nggak usah, gue pulang dulu ya." Arkhan menaiki motornya lalu menatap Acha ramah. "Bye." Ia pun melajui motornya keluar perkarangan rumah Acha.
__ADS_1
"Bye," sahut Acha, tak terasa senyuman manis itu kembali tampak.
Ternyata, dibalik sifat cueknya itu, Arkhan menyimpan sebuah senyuman yang menenangkan.
Acha pun kembali masuk ke dalam rumahnya dengan senyum yang masih merekah.
"Udah, Cha?" tanya Rey saat melihat Acha yang muncul dari pintu depan.
"Udah," jawab Acha dengan girang.
"Duh, ada apa tuh kok kaya' bahagia banget," goda Fadli.
"Bang Fadli kepo banget," sahut Acha.
Fadli melemparkan bantal kursi pada Acha. "Dasar bocah!"
Acha yang mendapat lemparan itu pun ngedumal tak jelas. "Dasar bang Fadli ngeselin!"
Acha kembali melemparkan bantal itu ke arah Fadli, dan tepatnya bantal itu jatuh pas di wajah mulus Fadli. "Tepat sasaran, kaburrr!" teriak Acha yang langsung berlari masuk ke kamarnya.
"Heh Acha, awas lo ya!" teriak Fadli tak kalah melengking.
...❖❖❖...
Senyuman manis itu terus terbayang dipikirkanku. Haish, kenapa senyuman itu terlihat sangat manis. Senyuman yang terbentuk dari bibir mungil itu, rasanya aku ingin melahapnya sekarang juga.
Aku menggelengkan kepala cepat. "Astaghfirullah, sadar Arkhan sadar..."
Apaan coba gue mikirin cewek itu. -Arkhan.
"Tapi kalau dipikir-pikir, senyuman dia emang manis sih," batinku sambil tersenyum kecil.
Jangan aja gue dikira gila sama orang-orang karena mesam-mesem sendiri di jalan kaya' gini, amit-amit dah. -Arkhan.
--
Saat masuk di perkarangan rumah, aku segera memarkirkan motorku di garasi.
Aku memasuki rumah dengan wajah yang cerah, tidak seperti biasanya yang selalu datar.
"Arkhan, kok kamu kaya' lagi bahagia gitu, biasanya datar terus tuh muka, habis kencan sama pacar kamu ya?" Aku melihat seorang wanita paruh baya yang duduk di sofa sambil membaca artikel, ah ternyata itu bunda.
"Bunda sotoy deh." Aku menghampiri bunda lalu duduk di sampingnya.
"Hm..Bunda yakin nih, pasti kamu habis ketemuan sama cewek kan?" tanya Bunda sambil tersenyum jahil.
"Apa sih, Bun, nggak kok. Arkhan gak habis ketemu siapa-siapa," elakku.
"Yang bener nih..." ucap Bunda menggodaku.
"Iyaaa."
"Hm... Bun, Arkhan mau nanya dong." Aku menoleh menatap Bunda serius.
"Tanya aja," sahut Bunda yang masih setia membaca Artikelnya.
Aku sedikit menarik nafas sebelum melontarkan pertanyaan canggung itu. "Bunda pengin mantu yang kaya' apa?"
Tiba-tiba Bunda langsung menatapku dengan tampang serius. "Kok kamu tiba-tiba nanya kaya' gitu? kamu mau nikah?"
"Y-ya nggak gitu, Bun, kan Arkhan masih mau nyari dulu yang pas," jawabku.
"Udah ada sih calonnya," batinku.
Bunda mengalihkan pandangannya. "Kalau Bunda sih terserah kamu aja, yang penting dia bisa jagain kamu sama anak kamu nanti," jawab Bunda santai.
Aku tersenyum tipis saat mendengar jawaban dari Bunda. "Oohhh."
Bunda kembali menatapku sambil memicingkan matanya. "Kamu mau nikah?"
"Ya nggak sekarang, Bun. Lagian kan Arkhan masih sekolah, masih mau kerja cari uang, anak orang juga mau dikasih makan." Aku menyandarkan kepala di bahu Bunda.
Bunda mengelus kepalaku pelan. "Iya anak Bunda ganteng, tumben kamu bener?"
Aku merengut. "Berarti selama ini Arkhan selalu salah? mentang-mentang cewek selalu benar, Arkhan jadi kena imbasnya," ocehku.
Bunda terkekeh geli saat mendengar jawabanku.
"Yaudah deh, Bun. Arkhan mau ke kamar dulu." Aku berdiri, mencium pipi Bunda lalu menuju kamarku.
--
Aku menghempaskan tubuhku dikasur yang empuk itu. "Hah... kok gue jadi mikirin Acha terus ya." Aku tersenyum sambil terus membayangkan wajah manis gadis itu.
Buat kalian yang bertanya-tanya kenapa sikapku berubah-ubah, kadang cuek kadang manja. Ya karena aku memang seperti itu, aku akan menjadi pribadi yang manis saat berada di dekat orang-orang yang aku sayang, dan menjadi cuek ke orang-orang yang tidak terlalu dekat denganku, apalagi dengan orang-orang yang mendekatiku hanya untuk cari perhatian. Ah, aku sangat membenci itu.
Aku terus membayangkan wajah lucu milik Acha, hingga akhirnya aku pun tertidur.
•
•
•
•
**Assalamu'alaikum temen-temen, udah lama banget nih aku nggak up cerita. Kaya'nya aku terbiasa nulis malem deh, soalnya pas mau nulis siang kaya' ada yang kurang gitu feelnya.
Hehehe, jangan lupa vote cerita aku ya, dan aku mau bilang makasih banget buat kalian yang setia nungguin cerita aku dari awal. Aku cinta kalian para readers** Rasa sejati 💜💜💜
Do'ain cerita aku selalu lancar tanpa halangan ya guys...
__ADS_1