
Brakkk
"Astaghfirullah... rasanya ingin gue bejek-bejek tuh bocah, untung adik gue," gumam Varrez yang ternyata masih bisa didengar oleh Acha. Sungguh hebat.
"BILANG APA TADI?!" teriak Acha dari dalam kamar.
"Nggak bilang apa-apa kok tuan putri," balas Varrez yang langsung melesat dari sana.
❖❖❖
Acha POV
Aku mengambil handphone yang tergeletak diatas ranjang, lalu menuju dapur untuk menyiapkan mie ayam yang dibelikan oleh bang Varrez tadi.
Keluar dari kamar lalu menuruni satu persatu anak tangga. Setibanya di dapur, aku langsung mengambil satu mangkuk berukuran sedang, lalu menuangkan mie ayam disitu.
Aku membawa mangkuk itu ke ruang tengah dengan perlahan, walaupun tidak terlalu panas, tapi ini bisa membuat jari menjadi merah.
Aku meletakkan mangkuk itu ke meja, lalu berlari lagi menuju dapur untuk mengambil minum.
"Pas," ucapku sambil tersenyum sumringah.
Aku tidak duduk di sofa, melainkan duduk di karpet. Ya, duduk bersilah di karpet dengan tangan bertumpu pada meja. Aku mengambil remot TV lalu menekan tombol 'power'.
"Gak ada film bagus ih," ucapku kesal sambil terus melihat setiap channel TV yang sama sekali tidak menarik.
"Fiuh... nonton ini aja deh." dengan terpaksa, aku pun menonton sinetron 'azab'.
Aku menyantap makananku sambil menonton sinetron sejuta umat itu.
"Bejek-bejek aja tuh kualat lo ******," heboh ku saat melihat adegan sinetron itu.
Saat sedang seru menonton, aku mendengar langkah kaki seseorang yang tengah menuruni anak tangga. Ku rubah pandangan ku kesana, dan ternyata bang Varrez lah yang muncul.
"Ngapain lo?" tanyanya sambil mengarahkan langkah kaki ke arahku.
"Makan lah," ketus ku.
Laki-laki yang bernotabe Abang itu langsung mendudukkan dirinya di sofa yang berada seberangan denganku.
"Tumben lo nonton film gituan, biasanya ngoceh-ngoceh kalau ada yang lihat tuh film," cibirnya sambil bersedekap dada.
"Dih, biarin lah suka-suka Acha," sewot ku.
Aku menyuapkan sesendok mie, lalu kembali berucap, "cocok tuh buat lo, azab seorang kakak yang tidak mengajak adiknya pergi," lanjut ku yang bermaksud menyindirnya.
Ia terlihat kesal, lalu ia pun melayangkan bantal sofa tepat ke arah kepalaku.
"ABANG! nanti tumpah mie nya!" seru ku sambil melemparkan kembali bantal itu ke arahnya.
Ia menangkap bantal itu lalu di peluknya. "Lo tidur tadi, ya gak tega lah gue banguninnya," ungkapnya.
"Emang abang tadi masuk kamar Acha?" tanyaku penasaran.
Dia membalasnya dengan manggut-manggut.
Aku sedikit terkejut dengan jawabannya, tapi dengan sebisa mungkin aku hilangkan rasa terkejut itu. Lalu aku hanya mencebik. "Heleh, bilang aja gak mau ajak-ajak."
__ADS_1
"Serah lo!" ketus nya.
"Au ah, ribet ngomong sama Abang," ucap ku sambil memutar bola mata jengah. Aku menghabiskan makanan itu lalu segera menuju dapur untuk mencuci mangkuk tadi.
Bang Varrez pun sudah tidak terlihat disana, mungkin dia pergi ke kamarnya. Selesai mencuci piring, aku langsung pergi ke kamar.
End POV
Sesampainya di kamar, Acha langsung menghempaskan tubuhnya diatas ranjang. Sebenarnya ia masih kepikiran dengan jawaban Abangnya tadi.
"Bang Varrez tadi buka handphone gue gak ya," lirihnya yang bermonolog sendiri.
"Duh kalau Bang Varrez tadi beneran buka, pasti ketahuan, lagian kenapa sih gue tadi pakai ketiduran segala," ucapnya yang merutuki kebodohannya sendiri.
"Ini jam berapa sih?" Ia mengubah pandangannya ke arah jam yang berada diatas nakas. Terlihat jam yang menunjukkan angka 4.
"Tidur lagi aja lah," ucapnya. Acha pun memeluk guling kesayangannya lalu meraih selimut dengan kakinya, ia tutupi dirinya dengan selimut tebal itu sambil memejamkan matanya. Tak berselang lama, ia pun sudah masuk ke alam mimpi.
❖❖❖
"Bi Jum," panggil Naura.
Yang merasa terpanggil pun langsung menolehkan pandangan. "Iya, Nyah?" sahutnya ramah.
"Bibi mau masak apa?" tanya Naura sambil melihat bahan masakan yang sudah dipotong.
"Ini, Nyah, mau masak ayam goreng sama sop telur puyuh," jawab Bi Jum sambil tersenyum.
"Duh, enak nih pasti dingin-dingin makan sop hangat," seru Naura.
Bi Jum yang mendengarkan itu hanya tersenyum simpul. "Iya, Nyah, ini juga kaya'nya udah mau masuk musim hujan," kata Bi Jum, ia pun melanjutkan memotong wortel dan kentang.
"Tadi Bibi lihat, non Acha masih tidur, Nyah," jawab Bi Jum sopan.
"Dasar ya anak itu, mentang-mentang dingin jadi tidur terus," geram Naura.
Bi Jum hanya terkekeh. "Namanya anak gadis, Nyah."
Naura pun ikut tertawa geli. "Hahaha, iya ya Bi, gak nyangka udah gadis aja, perasaan baru kemarin masuk SD," ucap Naura.
Bi Jum hanya mengangguk, ia memasukkan potongan wortel dan kentang itu ke dalam panci.
"Ya udah, saya mau bangunin Acha dulu," kata Naura yang dibalasi bungkukan oleh Bi Jum.
Naura berjalan menuju kamar Acha. Sesampai di depan pintu kamar, ia langsung mengetuk pintu itu.
Tok tok tok
"Acha, ayo bangun sayang," ujarnya lembut. Tapi nihil, tak ada jawaban yang terdengar. Akhirnya ia berniat untuk membuka pintunya, untung saja pintu itu tidak dikunci.
Ia melihat gadis kecilnya itu yang sedang meringkuk dibawah selimut tebal. Apa ini, terlihat seperti balita saja. Sangat menggemaskan.
Naura pun melangkahkan kaki pelan kearah Acha, lalu ia duduk disebelah gadisnya yang masih pulas tidur.
Naura membelai rambut Acha pelan sambil berkata, "sayang, bangun udah sore," ujarnya lembut.
Acha menggeliat kecil sambil memeluk boneka beruang miliknya, ia sangat suka dengan bulu-bulu dari boneka itu.
Naura yang melihat tingkah anak gadisnya itu hanya tersenyum. "Acha sayang, ayo bangun dulu gih, mandi habis itu makan," ucapnya yang masih membelai pelan rambut Acha.
__ADS_1
"Eungh, iya," sahut Acha dengan suara khas bangun tidur itu.
"Ayo bangun dong anak Mama paling cantik," kata Naura sambil terkekeh geli.
Acha pun merubah posisinya dengan duduk. Ia mengucek pelan matanya sambil menguap. "Masih ngantuk, Mah," ucapnya serak.
"Iya nanti tidur lagi, tapi mandi dulu ya," kata Naura yang dibalasi anggukan kecil dari Acha.
"Ya udah, Mama turun dulu mau bantu Bi Jum masak," lanjutnya. Lalu ia pun meninggalkan anaknya dan menuju arah dapur.
Acha terlihat sedang mengumpulkan nyawa, ia merentangkan tangannya keatas sambil sedikit menggeliat.
Saat nyawanya telah terkumpul kembali, ia pun dengan segera menuju kamar mandi untuk membersihkan diri.
--
Cuacanya sangat dingin, kali ini Acha menggunakan piyama tidur bergambar minions. Ia berdiri didepan cermin sambil memoles wajahnya dengan sedikit bedak.
Dirasa cukup, ia langsung saja turun, kalau kata Naura tadi turun untuk makan malam. Tapi entahlah.
Saat sedang menuruni anak tangga, ia sudah dihadiahi dengan bau harum khas sayur sehingga membuatnya semakin lapar.
Acha melihat sang Mama sedang meletakkan mangkuk sayur di meja makan. "Hmm bau apa nih," seru Acha sambil menghampiri Naura.
"Nih, ayo makan dulu mumpung masih hangat sop nya," ajak Naura. "Sebentar Mama ambil ayamnya dulu," lanjutnya. Ia pun beranjak kembali ke dapur.
Acha pun segera duduk di kursi makan. Tak berselang lama, Varrez dan Zian pun ikut muncul, lalu duduk di kursinya masing-masing.
Acha menunggu Ibunya sambil mengayunkan kedua kakinya. Sangat persis dengan anak kecil.
Naura pun terlihat sedang membawa piring yang berisikan beberapa ayam goreng hangat. Acha yang melihat itu langsung terpekik.
"Yeayy, ayam goyeng!" serunya dengan sengaja menirukan suara anak kecil.
"Heh bocah, jangan sok imut!" ketus Varrez.
Acha melirik tajam Varrez. "Biarin, suka-suka Acha!" geramnya.
Naura tersenyum simpul saat melihat tingkah laku kedua anaknya itu. "Udah, nih ayamnya," kata Naura sambil meletakkan piring itu ke atas meja.
"Bi Jum, ayo makan," ajak Naura pada asisten yang biasa membantunya itu.
"Iya, Nyah," sahut Bi Jum.
Naura pun akhirnya ikut duduk di kursi makan. Ia mengambilkan nasi dan menambahkan lauk pauknya. Lalu ia berikan pada sang suami.
Makan malam pun dimulai. Bahkan dipertengahan, hujan kembali terdengar deras. Sepertinya memang benar akan memasuki musim penghujan.
•
•
•
Update lagi, sorry banget chap nya kurang seru, ntar deh diseruin.
/senyum manis.
Jangan lupa like nya ya, vote author juga. Terimakasihhh
__ADS_1