
Arkhan menarik nafas panjang lalu menghembuskannya pelan. Memejamkan matanya kembali. Ia berniat untuk tidur, tapi pikirannya berlari kemana-mana.
"Ck, gadis itu tidak bisa pergi dari pikiran gue apa," ketus Arkhan.
Arkhan memaksa mata dan pikirannya untuk menurut, ia ingin istirahat. Arkhan pun mulai memejamkan matanya kembali dan tak butuh waktu lama ia sudah masuk dalam dunia mimpinya.
❖❖❖
Hari ini cuaca terlihat sedikit mendung, mungkin awan putih yang berubah menjadi gelap akan mengeluarkan cairan khas miliknya. Acha pun berniat untuk duduk di depan jendela kamarnya. Bergelut dengan pikirannya sendiri hanya karena seorang laki-laki yang bernama Arkhana Al-Malik.
Netra mata hitam pekat khas dari dirinya, tatapannya, senyuman manisnya, rahang tegasnya, terus saja terbayang dipikiran Acha.
Acha tersipu malu, pipinya mulai terasa panas, ia yakin kalau pipinya sekarang sudah berwarna merah seperti kepiting rebus.
Bayangan wajah Arkhan selalu saja menghantuinya. Apa benar ia menyukainya?
Rintik hujan mulai turun membasahi tanah bumi. Acha masih duduk di depan jendela kamarnya dengan bayangan laki-laki yang setia memenuhi pikirannya.
"Arkhana Al-Malik," gumam Acha.
Saat Acha sedang mengamati daun-daun yang basah karena tertimpa air hujan, tiba-tiba muncul sepintas ide yang membuatnya tersenyum simpul.
Acha bergegas mengambil handphonenya yang berada di atas nakas, lalu membaringkan tubuh di ranjang queen size miliknya.
Matanya tertuju pada aplikasi yang bernama 'instagram' lalu segera membuka aplikasi itu. Ia mengetikkan nama Arkhana Al-Malik, jarinya setia mengutak-atik akun yang mirip dengan nama laki-laki itu. Toh, siapa tau ketemu beberapa hal tentang dia gitu.
Awalnya memang sulit untuk menemukan akun milik Arkhan, tapi Acha bukanlah orang yang mudah putus asa. Ia tetap mencari akun milik laki-laki itu hingga akhirnya ia menemukannya!
Acha langsung membuka akun itu dan terlihat lah beberapa foto Arkhan. Mulai dari foto bersama geng motor nya, foto saat latihan basket, bahkan foto masa kecilnya pun ada disitu. Sangat menggemaskan.
"Ternyata dia juga pernah chubby," gumam Acha sambil sedikit terkekeh geli.
Acha terus melihat foto-foto itu, aura khas Arkhan sangat terlihat, bahkan disitu juga ada fotonya sambil smirk. Pantas saja pengikutnya banyak, orang dia kalau berfoto nggak santai.
Fotonya memang tidak banyak, hanya sekitar 20 foto yang tertera disana. Kalau ia bersama orang lain sekarang, mungkin ia akan disebut sebagai 'stalker'. Tapi ia tidak peduli dengan perkataan itu. Toh, ia juga memakai handphone sendiri.
Acha masih melihat foto-foto milik Arkhan. Tapi tunggu, ada satu foto yang asing di mata Acha. Foto Arkhan dengan seorang wanita, tapi di dalam foto ini tidak biasa, Arkhan terlihat sedang merangkul wanita itu. Wanita itu terlihat sudah berumur, hanya saja badannya yang memang terlihat mungil.
Apa wanita itu ibu nya Arkhan? -Acha
Hujan terdengar semakin deras, udara dingin pun mulai terasa. Jari-jarinya memang masih memainkan handphone, tapi tidak dengan matanya. Matanya sangat mengantuk. Tak lama kesadarannya pun mulai menghilang, bukan karena pingsan tapi karena ia ketiduran. Ya, ia ketiduran dengan handphone yang masih menyala.
❖❖❖
Varrez POV
Hari ini hujan deras, tugas fisika tadi juga sudah selesai. Aku sangat bosan, mau tidur juga malas.
Aku mengguling-gulingkan tubuhku di atas ranjang, sambil sedikit mengacak-acak rambut. Miris.
"Bosann..." keluh ku. Aku membalikkan badan supaya menghadap langit-langit kamar.
"Enaknya ngapain ya?" tanya ku pada diri sendiri.
Aku menatap langit-langit kamar sambil memikirkan hujan-hujan gini enaknya ngapain.
Memejamkan mata sebentar untuk merilekskan pikiran. Tak lama, aku langsung membuka mata.
Tiba-tiba ada ide yang muncul di otakku. "Makan mie ayam enak nih," ucap ku sambil tersenyum sumringah.
"Tapi makan sama siapa ya, apa pesan go-food aja?" pikir ku.
"Eh tapi jangan deh, kasian bapak go-food nya nanti kehujanan," lanjut ku sambil kembali memikirkan seseorang untuk di ajak keluar.
"Acha!" Sontak, aku pun bangun dan langsung melesat ke kamar Acha. Adikku.
Aku keluar dari kamar dan menaikki anak tangga satu persatu. Tak membutuhkan waktu lama aku pun sudah sampai di depan kamar Acha.
Tok tok tok
"Dek... ikut abang beli mie ayam, dong," ajak ku.
__ADS_1
Tak ada balasan. Aku kembali berucap, "dek... buka dong, lo gak tidur kan?" tanya ku sambil mengetuk kembali pintu kamarnya.
Lagi-lagi tak ada jawaban. Aku membuka pintu itu yang ternyata tidak di kunci lalu masuk menghampirinya.
"Acha," panggil ku sambil mendekati gadis itu.
"Yeuhh molor orangnya," ucap ku sambil memutar bola mata jengah.
Aku berniat untuk membangunkan Acha. Tapi,ada sesuatu yang membuatku menjadi merubah pandangan.
Aku melihat handphone Acha yang tergeletak di sampingnya. Handphonenya masih menyala, tapi tunggu!
Aku mengambil handphone itu lalu melihat isi yang tertera disana.
Aku sedikit terkejut saat melihat foto laki-laki disitu. "Foto siapa?" gumam ku.
Aku kembali melihat-lihat foto itu, lalu pandanganku terhenti difoto sebuah geng. Aku langsung mengira geng itu adalah geng yang tadi pagi dibahas oleh temannya Acha. Ya, perkiraan ku benar. Geng itu adalah geng jaguar!
Aku sangat ingat wajah laki-laki yang ditatap Acha tadi.
"Acha ngapain nge-stalkin cowok itu?" tanyaku terheran.
Gak mungkin kalau cuma nge-stalk biasa. -Varrez
Aku mengurungkan niat untuk membangunkan Acha. Ku kembalikan handphone itu ke tempat asalnya, lalu segera melengos pergi dari kamar bernuansa peach itu.
Aku menuruni anak tangga lalu menuju ruang tengah. Ku dudukkan diri di sofa putih yang berada disitu sambil memikirkan kejadian tadi.
Hujan masih deras, aku berniat menelfon Rey untuk mengajaknya makan mie ayam. Keinginanku belum terpuaskan.
Ku ambil handphone di saku celana, mengaktifkannya lalu mencari nama Rey disana. Setelah mendapati nama itu, aku langsung memencet tombolnya.
Tutt tutt
Panggilan terhubung.
"Hallo, Rey, lo dimana?" tanyaku saat sambungan terhubung.
"Lah ngapain itu tiga curut disana?"
"Tadi mampir ke rumah gue, eh kejebak hujan, ujung-ujungnya disini dulu."
"Bukannya mereka bareng lo? naik mobil kan tadi?"
"Eh iya, kan ada mobil ye, ya udah nanti gue anterin mereka dulu."
"Ehh jangan dulu."
"Kenapa, Rez?"
"Kalian kesini aja ya jemput gue, ada yang mau gue bahas."
"Oke, gue samperin anak-anak dulu."
"Ok gue tunggu."
Sambungan terputus.
Aku menghela nafas pelan. Memejamkan mata sebentar sambil menunggu Rey datang. Hujan pun masih terdengar deras.
15 menit menunggu, aku mendengar ketukan dari pintu depan. Aku pun berjalan ke arah pintu untuk membukanya.
**End POV
Tokk tokk tokk**
Terlihat Varrez yang berjalan menuju pintu depan.
"Tunggu bentar," jawab Varrez sedikit menaikkan suaranya supaya bisa terdengar. Varrez pun membuka pintu dan mendapati tiga sejoli yang sudah berdiri di depan pintu.
"Ayo masuk!" ajak Varrez. Mereka pun masuk dengan Varrez yang menutup pintu kembali.
__ADS_1
"Ada apa, Rez?" tanya Rey.
"Temanin gue makan mie ayam," jawab Varrez dengan santai.
"Cuma makan gitu doang minta di temanin, gokil lo, Rez." ketus Arga yang tidak terima.
"Gue traktir," singkat Varrez.
Arga melentikkan jarinya diatas dagu. "Hm.. oke ayo," jawabnya.
"Masih hujan, emangnya ada yang buka?" tanya Rey sambil menatap Varrez.
Arga menoyor kepala Rey. "Ada lah," ketusnya.
Fadli yang melihat kejadian itu hanya berdiam diri sambil bermalas-malasan di sofa. Bagaimana tidak, tidur siangnya terganggu saat Rey membangunnya tadi. Padahal ia masih mengantuk, tapi tetap saja dipaksa.
"Lo tadi bilang mau bahas sesuatu, bahas apa?" tanya Rey.
"Kita beli mie ayam dulu, nanti gue bahas disana," jawab Varrez.
"Oke," singkat Rey.
Varrez masuk ke kamarnya untuk mengambil dompet lalu kembali ke ruang tengah.
"Ayo!" ajak Varrez yang dibalas anggukan oleh ketiga temannya.
Mereka pun masuk kedalam mobil yang kali ini di setir oleh Rey. Tidak apa-apa lah kalau harus menerobos hujan deras demi mie ayam.
Varrez terlihat sedang memperhatikan sekitar jalanan dengan serius.
"Rez, lo ngidam?" tanya Rey tiba-tiba.
Arga dan Fadli langsung menatap Varrez dengan tatapan yang tak bisa diartikan.
"Hamil pala lo peang," ketus Varrez.
"Ya habisan lo gelisah banget nyari mie ayam nya, udah kaya' emak-emak lagi ngidam," jawab Rey yang langsung mendapati pelototan tajam dari Varrez. Rey hanya bergidik.
"Gue lagi pingin makan mie ayam, tadi mau ngajak Acha, eh tuh anak malah molor," ketus Varrez. Rey yang mendengar itu hanya mencebik.
"Tuh tempatnya, untung masih buka," kata Rey sambil membelokkan mobilnya ke tempat penjual mie ayam.
Mereka pun segera turun dari mobil lalu menghampiri penjual mie ayam.
"Pak, mie ayam nya empat," pesan Varrez.
"Oke mas, minum nya apa?" tanya bapak penjual.
Varrez menolehkan pandangan ke arah temannya. "Mau minum apa?" tanya nya.
"Es teh aja," jawab Arga.
"Oke," singkat Varrez lalu kembali melihat bapak penjual. "Es teh aja pak, empat," pesannya lagi yang dibalas acungan jempol oleh bapak penjual.
Setelah memesan makanan, mereka pun langsung menuju tempat duduk yang berada di nomor 3.
"Jadi gimana?" tanya Rey langsung ke poin.
"Acha nge-stalkin ketua geng jaguar itu," jawab Varrez.
Rey, Arga, dan Fadli sontak menolehkan pandangannya ke arah Varrez.
•
•
•
**Hai hai semua, aku update lagi. Jangan lupa tinggalin like nya dan vote aku ya.
Oh iya, follow instagram aku dong, uname nya 'ssyaurelyyy'
__ADS_1
Oke, makasih buat semuanya**...