Rasa Sejati | REVISI

Rasa Sejati | REVISI
19. Care?


__ADS_3

Assalamu'alaikum temen-temen, rasa sejati balik lagi nih, jangan lupa vommentnya yaa...



"Berani banget lo nge-bully adik gue," gumam Varrez yang masih terdengar oleh Vhela dan kawannya.


Varrez melihat ketiga temannya. "Bawa mereka keruangan BK sekarang juga," titah Varrez.


Varrez berjalan duluan sambil mengepalkan tangannya.


Rey menuntun Vhela, sedangkan Arga dan Fadli menuntun kedua teman Vhela.


Mereka pun membawa Vhela keruangan BK, dan gosip tentang bullyan tadi langsung tersebar dengan cepat.


...❖❖❖...


Arkhan segera membawa Acha ke UKS. "Duduk!" titahnya.


Acha segera duduk di brankar yang ada disitu.


Arkhan pun ikut duduk disebelah Acha. Ia melihat ada bekas lebam di pipi kiri gadis itu, dan ia tau kalau itu bekas tamparan dari cewek m*rahan tadi, yaitu Vhela.


Acha semakin menundukkan kepalanya saat terus-terusan mendapati tatapan Arkhan yang tak dapat diartikan itu.


"Ceritain semuanya," singkat Arkhan.


"C-cerita apa?" jawab Acha pelan.


Arkhan menghela nafas pelan sambil memejamkan matanya. "Ceritain kejadian di kantin tadi," ulangnya.


"Emm.. t-tadi pas gue lagi makan sama Nabila tiba-tiba ada orang yang gebrak meja, ya gue kaget, gue aja nggak tau permasalahannya apa." Acha mulai menceritakan kejadian di kantin tadi.


"Sakit nggak?" tanya Arkhan.


"Hah?"


"Itu pipi sakit nggak?"


"Emm... enggak," jawab Acha, ia kembali menundukkan kepalanya.


Arkhan menarik dagu Acha pelan, ia menatap gadis itu dalam. "Jangan bohong," ucap Arkhan pelan.


"Beneran nggak sakit kok," jawab Acha.


Arkhan menekan luka lebam tadi dengan pelan.


"Shhh," ringis Acha.


"Kenapa? nggak sakit kan?" tanya Arkhan.


Acha mengerucutkan bibirnya. Sebenarnya luka bekas tamparan itu masih sedikit sakit, tetapi ia malu kalau harus bilang di depan Arkhan.


"Kenapa diam? katanya nggak sakit terus tadi kenapa nangis?" tanya Arkhan yang masih mencoba untuk menggoda Acha.


Acha semakin mengerucutkan bibirnya. Sudahlah, ia menyerah untuk berbohong.


"Iya sakit," jawab Acha kesal.


Arkhan terkekeh pelan, ia mengambil handphone yang berada di saku celananya. Terlihat ia mengetikkan sesuatu disana.


"Tunggu sebentar lagi," ucapnya sambil mengelus rambut Acha.


"Tunggu apa?" jawab Acha polos.


"Tunggu aja."


Tak lama Bobby datang dengan membawa baskom kecil yang berisi air dingin dan sebuah handuk kecil.


"Nih, Beh." Ia memberikan benda itu pada Arkhan.


"Hm, makasih, lo balik sono!" titah Arkhan.


"Iya-iya, pacar baru ya, Beh?" tanya Bobby sambil melirik Acha sekilas.


"Hm."


"Buset, ganteng doang ditanyain cuma jawab 'hm'," sindir Bobby.


Arkhan melirik tajam Bobby. Sedangkan Bobby yang mendapati lirikan itu pun segera pergi dari sana.


Arkhan menggelengkan kepalanya pelan. Ia mencelupkan handuk itu kedalam air dingin tadi, lalu mengompres luka lebam itu dengan pelan dan teliti.


"Shh, pelan-pelan," ringis Acha menahan sakit dipipinya.


Acha menatap mata Arkhan damai, terlihat sangat indah. Sebenarnya ia tadi terkejut dengan sikap Arkhan ke Vhela, tapi apa boleh buat. Toh semua juga sudah terjadi.

__ADS_1


Arkhan melepas kompresannya. "Masih sakit?" tanyanya.


Hening.


"Hey." Arkhan mengayunkan tangannya dihadapan Acha.


Acha tersadar. "E-eh, iya kenapa?" tanyanya terbata-bata.


"Nyaman banget natap gue kaya' gitu," sindir Arkhan.


"Ihh, apaan sih," gerutu Acha.


"Ini pipi masih sakit nggak?"


"Nggak kok, udah agak mendingan," jawab Acha apa adanya.


"Oke." Arkhan menyingkirkan bekas kompresan tadi. Ia menaiki ranjang UKS dan tiduran disana. Tangan kanannya ia jadikan tumpuan kepala, lalu ia memejamkan matanya.


"Loh, kok jadi dia yang tidur disitu sih!" batin Acha kesal.


"Kenapa?" tanya Arkhan tiba-tiba.


Acha tersontak kaget. "N-nggak!" ia berdiri, berniat untuk kembali ke kelasnya. Tetapi, tangannya ditahan oleh Arkhan.


"Kemana?"


"Balik ke kelas."


Arkhan melepaskan genggamannya. "Hati-hati."


Acha mengangguk, ia segera keluar dari sana dan kembali ke kelasnya.


Arkhan menyunggingkan senyuman tipis, sangat tipis.


...❖❖❖...


Varrez dan rombongannya menghampiri Acha.


Varrez duduk dibangku sebelah Acha, ia mengamati wajah adiknya dengan teliti. "Keadaan lo gimana?"


"Baik."


Varrez mengerutkan dahinya. "Serius?"


Acha mengangguk.


Arga menunjuk pipi Acha. "Ini nih, ada lebam," hebohnya.


"Iya, tapi udah nggak apa-apa kok," cetus Acha.


"Ayo ke UKS, kompres dulu lebamnya!" ajak Varrez.


Acha menggeleng. "Ihh nggak mau, tadi udah di kompres kok!" tolak Acha.


Varrez kembali mengerutkan dahinya. "Emangnya siapa yang ngompresin?" tanyanya penasaran.


"A-"


"Arkhan pasti," semprot Fadli.


"Bener?" tanya Varrez.


Acha mengangguk.


"Achaaaa," rengek Nabila.


Acha menolehkan pandangannya. "Kenapa?"


"Maaf ya tadi gue nggak bisa ngelindungin lo," sesal Nabila sambil menunduk, menahan tangis.


Perasaan Acha mencelos, ia segera memeluk sahabat barunya itu. "Ssttt.. iya udah nggak apa kok," jawab Acha.


"Tapi lo tadi ditampar, pasti sakit," lirih Nabila.


"Kan udah di kompres, jadi udah sembuh," sahut Acha.


Nabila diam.


"Udah ya, nggak apa kok, lagian gue tadi ngerti kalau lo ditahan gitu sama temennya." Acha mengelus pundak Nabila, berniat untuk menenangkan.


Nabila mengangguk pelan.


Sedangkan Rey, ia hanya mengamati dua gadis yang berada di depannya itu. Rey tersenyum kecil.


"Oh iya, lo tenang aja, si Vhela sama temannya udah di skors kok," ucap Varrez santai

__ADS_1


"Apa, di skors?!" heboh Acha.


Rey mengangguki pertanyaan Acha. "1 minggu," sahutnya.


Acha menatap Varrez. "Kok gitu sih?"


"Ya biarin lah, lagian ini juga belum sebanding sama perlakuan dia ke lo kaya' tadi, untung-untung dia nggak di keluarin dari sekolah ini," ujar Varrez.


"Ya tapi kan-"


"Udah nggak usah melawan."


Acha terdiam, kasihan sekali kakak kelasnya itu.


Saat mereka sedang mengobrol, tiba-tiba ada seorang siswa yang menghampiri Acha.


"Cha, lo nggak kenapa-kenapa kan?"


Acha mengalihkan pandangannya ke siswa itu. "Kak Kevin?"


"Jawab pertanyaan gue."


"E-eh iya kok kak, Acha nggak kenapa-kenapa," sahut Acha.


"Ck, dasar si Vhela, nyari gara-gara terus!" geram Kevin.


Kevin kembali tersenyum, lalu ia menyodorkan sebungkus roti dan susu kotak pada Acha. "Nih."


"Eh?"


"Ambil aja, buat lo," ucap Kevin tulus.


Acha menerima pemberian dari Kevin. "Makasih," ucapnya tersenyum.


Kevin ikut tersenyum. "Sama-sama."


Varrez melihat Kevin, ia menyipitkan matanya. "Bentar dah, lo kawannya Andra kan, anak osis?" tanya Varrez.


Kevin mengangguk, ia menjulurkan tangannya ke arah Varrez. "Kevin, XI IPA 1."


Varrez membalas juluran tangan Kevin. "Varrez, abangnya Acha."


Kevin mengangguk, ia menatap ketiga teman Varrez. Ia menjulurkan tangannya kembali.


"Kevin."


"Rey."


"Arga."


"Fadli."


Kevin mengangguk. "Ya udah, gue kesini cuma mau nanyain hal tadi sama ngasih roti buat Acha. Kalau gitu, gue balik ke kelas dulu ya, bye," pamit Kevin. Ia pun kembali ke kelasnya.


"Lo kenal sama dia darimana?" tanya Varrez pada Acha.


"Pas MPLS kemarin, dia ngawas kelas Acha bareng Kak Andra," jawab Acha.


"Dia tadi pagi juga mintain username ig nya Acha," sambar Nabila.


Fadli menjentikkan jarinya di dagu. "Jangan-jangan dia suka lagi sama lo, Cha?!"


"Nah itu, gue ngiranya juga kalau dia itu suka sama Acha!" sahut Nabila heboh.


"Apaan sih kalian, sotoy banget!" jawab Acha jengah.


"Tapi bisa jadi juga kalau dia naksir lo, pas waktu itu gue juga pernah ngelihat dia natapin lo terus," kata Varrez tiba-tiba.


"Au ah, mending Abang balik gih ke kelas!"


"Lah, ngusir nih ceritanya?!" tanya Varrez.


"Ya daripada kalian bahas nggak jelas gitu!" cetus Acha.


"Ya udah, gue ke kelas dulu, lagian bentar lagi bel mau bunyi. Lo hati-hati, kalau ada apa-apa langsung kabarin gue."


Acha mengacungkan jempolnya.


Varrez dan rombongannya pun kembali ke kelasnya masing-masing.




__ADS_1


Menurut kalian gimana nih tentang perasaan Kevin ke Acha? ada yang satu pemikiran nggak yaa... hayooo


Btw, maaf ya klo ada typo, jangan lupa like dan komen owkiee


__ADS_2