Rasa Sejati | REVISI

Rasa Sejati | REVISI
12. Bentakan


__ADS_3

Naura pun akhirnya ikut duduk di kursi makan. Ia mengambilkan nasi dan menambahkan lauk pauknya. Lalu ia berikan pada sang suami.


Makan malam pun dimulai. Bahkan dipertengahan, hujan kembali terdengar deras. Sepertinya memang benar akan memasuki musim penghujan.


❖❖❖


Selesai makan malam, Acha langsung pergi ke kamarnya, ia duduk dipinggir ranjang sambil memainkan handphone.


Ia membuka aplikasi Instagram dan melihat ada sebuah notif pertemanan disana. Saat dibuka, ternyata itu adalah notif dari Nabila.


Nabilaazura_


Follback ya, Cha


Zevancaacha


Okee


Read


Selesai dengan notif instagram, Acha menaruh handphonenya diatas nakas, lalu berbaring di ranjang dengan selimut yang menghangatkan tubuhnya.


Udara dingin membuat matanya kembali mengantuk, padahal ia sudah tidur dari siang tadi.


Matanya terpejam, ia tidak bisa menahan rasa kantuknya lagi. Ia memiringkan badannya menghadap dinding sambil memeluk boneka beruang miliknya. Tak lama, ia sudah berada di alam mimpinya.


❖❖❖


Terlihat seorang gadis yang tengah tertidur sedang mengerjapkan mata sambil menggeliatkan tubuh kecilnya.


Acha merasa terganggu saat sinar matahari mulai menyinari kamarnya. Rasanya hari ini ia ingin bermalas-malasan, tetapi keinginan itu harus terhalang karena sekarang ia adalah siswi baru.


Ia mendudukkan diri lalu bersandar pada pinggiran kasur, ia menggaruk kepalanya sambil sedikit melamun. Setelah nyawanya terkumpul, ia bergegas menuju kamar mandi untuk membersihkan diri.


--


Acha telah rapi dengan seragam sekolahnya, ia hanya membutuhkan beberapa polesan bedak sebagai pelengkap.


Saat berada di depan kaca, ia dikagetkan oleh sesuatu yang menyebalkan.


"Ck, kok masih ada belek sih," geramnya sambil mengambil kotoran itu lalu dibuangnya ke sembarang tempat.


Ia mengambil bedak lalu mengoleskan tipis pada wajahnya, tak lupa juga memakai lipbalm tipis.


"Nah, kan pas," serunya sambil tersenyum.


Acha meraih tas yang berada di kasur lalu menentengnya. Ia keluar dari kamar dan menuju meja makan untuk sarapan.


Sesampainya di sana, ia mendapati Varrez yang tengah terduduk santai sambil menyantap roti tawar miliknya.


Varrez tak menghiraukan kehadiran Acha, ia tetap memakan roti sambil memainkan handphone. Sekedar untuk mengecek chat masuk saja.


Acha duduk di kursinya lalu mengambil dua potong roti tawar, ia mengoleskan selai cokelat disana, lalu melapisinya lagi dengan roti.


Acha melahap roti yang dibuatnya tadi dengan tenang. Ia melihat kursi Papanya yang kosong lalu menatap Naura. "Papa sudah berangkat kerja, Mah?"


"Iya, tadi Mama juga gak bikin sarapan, gasnya habis," jawab Naura.


Acha hanya mengangguk, ia kembali melahap rotinya sampai habis lalu mengalihkan pandangannya pada Varrez.


"Sudah belum bang?" tanya Acha.


"Sudah, ayo!" ajak Varrez.

__ADS_1


Mereka pun berpamitan untuk pergi ke sekolah.


Saat di perjalanan, Acha terus mengajak Varrez mengobrol sampai-sampai mobil mereka hampir saja menabrak pedangan kaki lima.


Dengan cepat Varrez menginjak rem mobil sebelum hal yang tidak diinginkan terjadi. Untung saja ia bergerak cepat, kalau terlambat sedikit pun, mungkin mereka akan di ceramahi habis-habisan oleh pedagang kaki lima itu.


Varrez menjadi kesal dengan Acha, mengapa adiknya itu selalu saja mengajaknya bicara. "Lo bisa gak jangan ngajak gue bicara terus, gue jadi gak fokus!" ucapnya dengan sedikit membentak.


"Lo mau kita mati hah?" lanjutnya yang masih mengeraskan suaranya.


Acha menggeleng cepat. Kenapa Varrez bisa membentaknya, padahal ia tahu kalau Acha tidak bisa di bentak.


"M-maaf," lirih Acha yang berusaha menahan tangisnya.


Varrez sempat kaget, kenapa ia sampai membentak adiknya. Varrez berniat untuk meminta maaf pada Acha, tapi gagal karena adiknya lebih dulu berucap.


"Buruan, Bang, nanti kita telat," ujar Acha pelan.


Varrez hanya menghela nafas pelan. "Iya," sahutnya.


Setelah kejadian itu Acha sama sekali tidak melontarkan kalimat. Bahkan saat sampai di sekolah pun ia langsung keluar dari mobil.


Varrez merasa sangat bersalah, ia bingung harus berbuat apa sekarang. "Gue tadi kenapa coba, argh!" geramnya sambil sedikit menjambak rambutnya sendiri.


Setelah dirasa cukup tenang, Varrez keluar dari mobil lalu segera menuju kelasnya. Ia berjalan dengan sedikit lesu.


❖❖❖


Rey, Arga dan Fadli sedang berjalan menuju kelas. Saat di pertengahan jalan, mereka bertemu Acha dengan posisi sedikit menunduk.


"Hai, Cha!" sapa Rey sambil menghampiri Acha.


Arga dan Fadli mengikuti langkah Rey. Mereka juga melihat kondisi Acha yang murung.


"Hai neng!" sapa Fadli sambil tersenyum.


"Tumben sendiri, biasanya sama Varrez," kata Arga sambil menenteng tasnya.


"Bang, Acha mau ke kelas dulu," ujarnya pelan. Ia langsung berlalu menuju kelasnya, sebenarnya ia sedikit syok dengan kejadian tadi.


Mereka bertiga mengernyitkan dahi sambil melihat langkah Acha yang mulai menjauh.


"Acha kenapa?" tanya Rey pada kedua temannya yang hanya menggelengkan kepala.


"Ayo lihat Varrez," ajak Rey. Mereka pun langsung berlari menuju kelas.


--


Saat berada di kelas, mereka mendapatkan Varrez yang tengah terduduk lesu di bangkunya.


"Rez," panggil Rey.


"Hm?" Varrez hanya berdeham, ia tetap meluruskan pandangannya kedepan.


"Lo sama Acha kenapa? berantem?" tanya Rey sambil duduk disebelah Varrez.


"Gue tadi gak sengaja ngebentak Acha," jawab Varrez sambil menghela nafas pelan.


Rey sedikit kaget, begitu juga dengan Arga dan Fadli.


"Gimana bisa?" tanya Fadli penasaran.


"Pas dijalan tadi..." Varrez mulai menceritakan kejadian tadi pagi. Arga dan Fadli mendengarkannya dengan baik, begitu juga dengan Rey yang mencoba memahami situasi.

__ADS_1


"... gitu ceritanya." Varrez menghela nafas pelan, ia bingung harus gimana.


Rey mencoba untuk menenangkan sahabatnya. "Sudah, nanti lo jelasin baik-baik ke Acha," sarannya.


"Iya, betul kata Rey," sahut Fadli.


"Iya, nanti kita temanin lo buat jelasin ke Acha, jangan murung gini," ujar Arga.


Mereka bertiga berusaha untuk menghibur sahabatnya itu. Dan tak terasa pula bel pelajaran berbunyi.


❖❖❖


Kringg kringg


Bel istirahat berbunyi. Sejak pelajaran ke tiga, hujan kembali turun, bahkan langit yang semula terang menjadi gelap.


Acha dan Nabila pun sudah berada di kantin, mereka memesan bakso dan teh hangat untuk mengisi perut.


Saat sedang berbincang, Acha dan Nabila melihat Varrez yang berjalan kearah mereka.


--


Varrez dan teman-temannya menghampiri dua gadis yang tengah duduk sambil menyantap makanan.


Mereka gabung di tempat dua gadis itu. Varrez berniat untuk meminta maaf, ia tahu kalau kejadian tadi salah.


"Cha, biar abang yang bayar makanannya," ujar Varrez lembut.


Acha menatap wajah Varrez. "Nggak bang, Acha bayar sendiri aja, lagian nanti uang Abang habis," tolak nya.


"Nggak kok, tadi pagi Mama sudah kasih Abang uang," sahut Varrez. Ia tahu kalau adiknya ini menolak karena masih marah. Bukan marah, tepatnya kaget karena bentakan yang diberikannya tadi.


"Bil, gue sudah selesai makannya," ucap Acha mengalihkan pembicaraan.


Nabila sedikit terkejut. "E-eh iya, Cha, gue juga sudah kok," jawab Nabila asal.


"Ya sudah, ayo kita ke kelas," ajak Acha.


Nabila semakin dibuat gelagapan. "A-ayo," jawabnya.


Varrez menatap Nabila. Entahlah, apa arti dari tatapan ini, yang pasti Nabila sedikit takut.


Duh, mati gue mati -Nabila


"Ya sudah, hati-hati," jawab Varrez sambil merubah pandangannya.


Nabila menghela nafas lega. Kenapa jadi dia yang gugup, padahal Acha yang sedang bermasalah dengan Varrez.


Acha dan Nabila pun berjalan keluar dari kantin, keadaan kantin tidak terlalu ramai jadi dapat dengan mudah mereka bebas dari sana.


Saat tengah berjalan, tiba-tiba kaki Acha tersandung dan membuat tubuhnya menjadi gontai. Dan pada akhirnya.


Brukk





Yo yo yo triple update nih..


Jangan lupa like dan komennya.

__ADS_1


Vote author juga ya, dan follow instagram author @ssyaurelyyy


Makasihh


__ADS_2