Rasa Sejati | REVISI

Rasa Sejati | REVISI
8. Memikirkan


__ADS_3

"Udah, sekarang kalian ganti baju sana, habis itu turun makan siang. Besok mama kasih uang mingguan ke kalian. Kamu juga Acha, jangan pakai uang abang kamu terus, kasihan dia," kata Naura yang sembari tadi mendengarkan percakapan anaknya.


"Iya mah," jawab Acha.


Varrez dan Acha pun kembali ke kamarnya masing-masing.


❖❖❖


"Aku pulang."


"Arkhan, udah pulang? ganti baju dulu gih habis itu makan."


"Bunda duluan aja, nanti Arkhan nyusul," ucap Arkhan yang masih menenteng tas nya.


"Ya sudah, bunda tunggu sama ayah di meja makan," jawab Friska, sang ibunda. Friska Yanda Al-Malik, wanita paruh baya yang masih memiliki paras cantik walaupun sudah berumur, badan mungil dengan rambut sedikit cokelat, dan juga memiliki warna mata cokelat muda. Sangat cantik.


"Iya bunda cantik, ini Arkhan naik dulu ya, sudah bau keringat nih," kata Arkhan sambil mengibaskan baju nya.


"Ya udah sana," titah Friska yang langsung menuju meja makan.


Arkhan POV


Saat aku melihat bunda yang sudah kembali ke meja makan, aku dengan segera pergi ke kamar untuk mengganti baju.


Sesampainya di kamar, aku langsung menghempaskan tubuh ke kasur. Hari ini rasanya sangat melelahkan.


Aku memejamkan mataku sejenak, memberi sedikit waktu untuk beristirahat. Tiba-tiba, aku teringat dengan seorang gadis. Ya, gadis yang bahkan aku tidak mengenalinya, gadis yang berada di kantin, aku tau kalau dia tadi terus menerus menatapku.


Aku memutar tubuhku menjadi tengkurap. Aku kembali mengingat wajahnya saat ia sedang makan. Menggemaskan.


Padahal aku tadi tidak sengaja meliriknya, tapi kenapa aku langsung sadar kalau ia menatapku.


Tapi, kenapa tadi ada laki-laki yang menatapku dengan serius, apa laki-laki itu pacarnya? -Arkhan


"Haishh, kenapa aku jadi memikirkan gadis itu," gumamku.


Aku menyadari kalau dibawah ada yang sedang menungguku. Aku langsung berdiri dan menuju ke arah lemari, mengambil celana pendek dan kaos hitam lalu segera masuk ke kamar mandi.


Dengan membasuh muka dan sedikit membasahi rambut, lalu mengganti seragamku yang sudah basah karena peluh.


Tak membutuh waktu lama, aku langsung menuju meja makan dan mendapati 2 orang yang sudah menunggu. Ya, orang itu adalah ayah dan bundaku.


End POV

__ADS_1


"Maaf, Arkhan lama, hehehe," ujar Arkhan dengan sedikit menggaruk tekuknya.


"Iya nggak apa kok," jawab Friska.


Arkhan langsung duduk di kursi makan, posisi nya berseberangan dengan Friska.


"Arkhan," panggil Danu, sang ayah. Danuarta Al-Malik, pria yang memiliki sikap tegas kepada orang luar dan lembut terhadap orang terdekat, sikap itu lah yang menurun pada anaknya, Gerald dan Arkhan. Pria yang memiliki badan tinggi dan tegap walaupun dengan umurnya yang mau menginjak 45 tahun, ia memiliki warna mata hitam pekat dan hidung mancung. Ia juga sangat disiplin akan waktu.


Arkhan menolehkan pandangannya. "Iya, yah?"


"Sekali-sekali ajak pacar kamu buat makan bareng disini," kata Danu.


Arkhan yang mendengar itu langsung mendengus pelan. "Yah, Arkhan masih mau fokus sama sekolah dulu," jawabnya.


"Orang sering balapan gitu kok mau fokus sekolah," ketus Danu.


"Kan sekarang udah nggak pernah, yah," ungkap Arkhan jujur. Terakhir ia balapan itu pertengahan kelas 9, setelahnya ia memang tidak pernah balapan lagi.


"Beneran udah nggak pernah?" tanya Danu mengintropesksi.


"Iya, yah... berani sumpah," jawab Arkhan sambil menaikkan kedua jarinya membentuk V.


"Terus, pacar kamu mana?"


Kalau di mata orang lain, Arkhan itu playboy karena sebenarnya banyak gadis yang suka dengannya. Kalau mau, ia hanya tinggal memilih gadis itu dan menjadikannya pacar, tapi sampai sekarang ia tidak melakukan hal itu dengan alasan belum ada yang cocok dengan tipe idealnya.


Memang tidak ada yang tau seperti apa tipe ideal Arkhan, bahkan sahabat terdekatnya pun tak tau. Sebab, Arkhan terkenal cuek dan dingin dengan orang-orang, makanya gak ada yang berani untuk menebak tipe idealnya.


"Kenapa nggak pacarnya bang Gerald aja sih, yah. Kan udah tau sekarang Arkhan mau fokus ke pelajaran," jawab Arkhan dengan ekspresi malas.


"Abang kamu kan jauh, pasti susah juga kalau mengajaknya kemari," sahut Danu santai.


"Tau ah, yah," ketus Arkhan.


"Kalian ini kapan selesainya, bunda sudah lapar nih," kata Friska sambil sedikit cemberut.


"Haha, tuh kan yah, bunda jadi ngambek sama kita," lawak Arkhan.


"Kalau tuan putri sudah marah, bakalan bahaya nih, Ar," ujar Danu sambil mencolek dagu Friska.


Friska yang mendapat perlakuan seperti itu langsung mencubit pinggang Danu.


"Awww sakit sayang," ucap Danu sambil mengelus bekas cubitan dari istrinya itu, padahal tidak terasa sakit, ia hanya bercanda untuk menggoda istrinya.

__ADS_1


"Rasain!" ketus Friska.


Arkhan yang melihat itu hanya terkekeh geli melihat tingkah laku kedua orang tuanya.


"Seperti masih muda saja kalian ini, padahal umur ayah sama bunda ini sudah mau masuk kepala 4, eh malah ayah udah mau masuk 45 tahun kan," cibir Arkhan.


"Ayah kamu ini masih muda," jawab Danu.


"Padahal main bola sama Arkhan saja udah encok," gumam Arkhan.


"Pendengaran ayah masih bagus ya, Arkhan!" sahut Danu sambil melirik ke arah Arkhan.


Arkhan hanya terkekeh pelan sambil menunduk malu.


"Sudah, kapan makannya ini!" ketus Friska lagi.


Mereka pun memulai makan siang bersama, sesekali bercanda dan menggoda. Tak terasa makan siang pun selesai.


"Arkhan mau ke kamar dulu," pamit Arkhan lalu segera menuju kamarnya.


---


Sesampainya di kamar, Arkhan langsung merebahkan dirinya kembali di ranjang king size miliknya.


Arkhan menarik nafas panjang lalu menghembuskannya pelan. Memejamkan matanya kembali. Ia berniat untuk tidur, tapi pikirannya berlari kemana-mana.


"Ck, gadis itu tidak bisa pergi dari pikiran gue apa," ketus Arkhan.


Arkhan memaksa mata dan pikirannya untuk menurut, ia ingin istirahat. Arkhan pun mulai memejamkan matanya kembali dan tak butuh waktu lama ia sudah masuk dalam dunia mimpinya.






Update lagii yuhuuu


Jangan lupa like nya, vote author juga ya, xixixi


Makasih banyakk...

__ADS_1


__ADS_2