Rasa Sejati | REVISI

Rasa Sejati | REVISI
23. Ketemu Calon Mertua?


__ADS_3


Arkhan hanya menunjukkan wajah dinginnya, tidak ada ekspresi yang keluar saat melihat teman-temannya ini sedang memanfaatkannya.


"Pokoknya jangan lupa sama tugas kalian tadi!" jelas Arkhan.


"Siap, Beh!"


...❖❖❖...


"Khan, kita mau kemana kok bukan ke arah rumah gue?" tanya Acha sambil melihat jalan yang bukan menuju rumahnya.


"Ke rumah gue dulu," jawab Arkhan sekilas.


"Ngapain?" tanya Acha lagi.


Diam. Tak ada sahutan.


Acha hanya mendengus sebal.


__


Arkhan memberhentikan motornya di pekarangan rumahnya.


"Ayo masuk!"


Acha hanya menurut dan mengikuti langkah Arkhan.


"Assalamu'alaikum, Bun. Arkhan pulang!"


"Wa'alaikumsalam!" sahut seorang wanita paruh baya dari dalam rumah.


Arkhan pun masuk ke dalam rumah yang diikuti oleh Acha. Acha masih fokus mengamati isi rumah ini, ada banyak foto keluarga yang terpajang disana, ia juga melihat foto Arkhan semasa kecil. Sangat menggemaskan.


"Arkhan, ini siapa?" tanya Friska. Sang ibunda.


Acha tersentak, ia hanya tersenyum kikuk. Sedangkan Arkhan hanya melirik gadis itu sekilas.


"Saya te-"


"Dia pacarnya Arkhan, Bun!" sergah Arkhan.


Acha melongo dengan jawaban Arkhan barusan. Begitu juga dengan Friska, ia tak kalah terkejutnya. Anak laki-laki yang sebelumnya tak pernah membawa seorang gadis ke rumah, kini dengan beraninya ia mengenalkan seorang gadis dengan embel-embel 'pacar'.


Arkhan yang melihat Bunda dan Acha terkejut pun langsung bertanya. "Kenapa?" tanya nya.


Acha dan Friska kompak menggeleng. Arkhan memutar bola matanya jengah.


Friska kembali menetralkan ekspresinya. "Nama kamu siapa sayang?" tanya Friska ramah.


"Acha, Tante."


Friska mengangguk pelan. "Acha, ayo masuk dulu!" titah Friska sambil meraih lengan Acha dan menariknya pelan.


"Kamu mau dibuatin apa?" tanya Friska lembut.


"E-eh nggak usah, Tante!" tolak Acha.


"Bunda," ucap Friska.


"Hah?" Acha mencoba memahami maksud wanita di depannya ini.


"Jangan manggil Tante, dong. Bunda!" ujar Friska.


Acha tersenyum kikuk. "I-iya, Bunda," sahut Acha sambil sedikit menunduk.


Friska hanya tersenyum manis saat melihat Acha yang malu-malu. "Beneran nggak mau apa-apa? Bunda tadi bikin cookies lho! Bunda ambilin ya?" tawar Bunda.


"Iya, Bun, ambilin aja. Arkhan lapar!" sahut Arkhan tiba-tiba.


Friska menolehkan pandangannya. "Dasar kamu ini ya, kan Bunda nawarin Acha bukan kamu!"


Arkhan hanya terkekeh pelan.

__ADS_1


Friska pun menuju dapur untuk mengambil cookies dan membuatkan dua cangkir teh.


"Gimana, Cha, enak nggak cookies buatan Bunda?" tanya Friska.


Acha hanya mengangguk. "Enak banget, Bun" jawab Acha sambil tersenyum manis.


"Acha," panggil Friska.


Acha menoleh. "Iya, Bun?"


"Kok kamu mau sih sama anak Bunda yang satu ini?" tanya Friska.


Acha yang mendengar pertanyaan itu hanya tersenyum, sedangkan Arkhan sudah mencebikkan bibirnya.


"Biasalah, kan Arkhan ganteng!" seru Arkhan.


"Bunda nggak nanya kamu!" Friska kembali menatap Acha seakan-akan menunggu jawaban dari pertanyaannya itu.


"Acha nggak tau alasannya, Bun," jawab Acha sedikit lirih.


Friska mengelus surai hitam milik Acha dengan lembut. "Kalau Arkhan nyakitin kamu, laporan ya sama Bunda, biar nanti dia di hukum," ujar Friska.


Acha hanya mengangguk kecil.


...❖❖❖...


"Bun, Arkhan punya berapa saudara?" tanya Acha.


Ya, sedari tadi Friska setia menemani Acha mengobrol bersama. Sedangkan Arkhan sudah duluan masuk kamar.


"Dua bersaudara, Arkhan bungsunya," sahut Friska.


Acha hanya ber-Oh ria. Ternyata, Arkhan juga anak bungsu.


"Bun, Arkhan orangnya gimana sih kalau di rumah?" tanya Acha mengganti topik.


"Arkhan orangnya santai aja kok, tapi dia sering manja sama Bunda, sering godain Bunda juga," jawab Friska.


Acha tersenyum geli. "Yang benar, Bun?" tanya nya tak menyangka.


"Tapi kok Arkhan kalau di sekolah cuek banget sih, Bun. Kadang Acha suka kesal sendiri!" seru Acha.


"Iya, Arkhan sifatnya emang gitu, dingin diluar lembut didalam," jawab Friska sambil menatap Acha. "Bunda masih nggak nyangka Arkhan berani bawa cewek ke rumah," sambungnya.


"Emang sebelumnya Arkhan nggak pernah bawa cewek, Bun?" tanya Acha sedikit memastikan.


Friska menggeleng. "Asal kamu tau, Arkhan itu anak baik loh, dia nggak kaya' remaja-remaja diluar sana yang masih labil mainin perasaan cewek!" jelas Friska sambil tersenyum.


Acha sedikit tertegun saat mendengar penjelasan Friska.


__


"Arkhan," panggil Acha.


"Apa?"


"Mau pulang!" rengek Acha manja.


Arkhan melirik gadis itu sekilas. "Sekarang?"


Acha pun mengangguk-angguk.


Arkhan tersenyum tipis. "Yaudah, gue ambil kunci motor dulu."


__


"Bun, Arkhan nganterin Acha pulang dulu ya!"


"Lho, mau pulang sekarang?" tanya Friska menghampiri mereka berdua.


"Iya, Bun, nanti keburu sore," jawab Acha ramah.


"Ya udah, Arkhan hati-hati bawa motornya, jangan kebut-kebutan!" sergah Friska.

__ADS_1


"Iya, Bun.." jawab Arkhan malas.


Acha dan Arkhan menyalami tangan Friska.


"Acha pulang dulu ya, Bun. Assalamu'alaikum." Acha melambaikan tangannya lalu menaiki motor Arkhan.


...❖❖❖...


"Bil, lo tau nggak?"


"Nggak."


"Ish, dengerin dulu!" seru Acha.


Nabila tersenyum lebar. "Ya maaf, emang ada apa?"


"Kemarin gue ketemu sama Bundanya Arkhan!" ucap Acha.


Nabila sontak membulatkan matanya. "Lo serius?!"


Acha menganggukkan kepalanya.


"Terus-terus gimana?" Nabila bertanya dengan nada kepo.


"Hmm, orangnya baik sih, ramah juga!" sahut Acha.


"Tapi permasalahannya bukan itu," sambung Acha.


"Terus apa?" tanya Nabila semakin penasaran.


"Ternyata, Arkhan itu anak bungsu. Dan lo tau? kata Bundanya Arkhan, gue itu cewek pertama yang dia kenalin ke Bundanya!" heboh Acha.


Nabila semakin membulatkan matanya tak menyangka. "Kaya'nya Arkhan emang serius sama lo," ujarnya.


Deg.


Acha merasakan pipinya memanas. Apa benar Arkhan serius dengannya.


...❖❖❖...


Hari terus berlalu. Hubungan Arkhan dan Acha berjalan seperti biasanya. Murid-murid yang lainnya pun sudah tau kalau mereka berdua berpacaran. Bahkan, mereka berdua pun sudah saling memperkenalkan keluarganya.


"Acha, mau suap!" rengek Arkhan seperti bayi yang meminta disuapin es krim.


Ya, kini Arkhan tengah berada di ruang tamu rumah Acha. Seperti biasa, ia akan selalu mampir kesana.


"Ish, Arkhan udah gede kok minta disuapin sih!" seru Acha.


Arkhan mengerucutkan bibirnya sebal, sudah berapa kali ia minta disuapin tapi selalu ditolak.


Acha melirik Arkhan sekilas. "Ngapain manyun-manyun gitu?" godanya.


"Aku mau disuapin sama kamu!" rengek Arkhan kembali.


Oh ya, sekarang mereka saling panggil dengan kata Aku-Kamu.


Acha menghela nafas pasrah. "Ya udah, sini aku suapin." Acha mengambil mangkuk es krim lalu menyuapkan satu sendok kearah Arkhan.


Arkhan menerima suapan itu dengan gembira.


"Dasar bayi gede!"


"Biarin!" ketus Arkhan. Ia menyandarkan kepalanya di bahu Acha.


Saat sedang asyik menyuapi Arkhan. Tiba-tiba Varrez lewat dan melihat mereka dengan tatapan geli. "Dasar bucin! GELAY!" ucap Varrez.


"Apa lo!" ketus Arkhan sambil melirik tajam Varrez.




__ADS_1



..."Ternyata enak juga ya bisa bikin es batu cair." - Zevancca Monica. ...


__ADS_2