
Acha melirik Varrez dengan tatapan penuh tanya. Sedangkan yang ditatap pun hanya bisa diam.
"Dia kelas berapa?" tanya Acha dengan tatapan yang masih tertuju pada Varrez.
"X IPS 3." singkatnya.
Kini pandangan Acha tertuju pada laki-laki yang berada di seberangnya. Ia mengamati setiap inchi dari wajah laki-laki itu.
Mungkin, gadis lain akan menilainya sebagai 'sexy boy', tapi tidak dengan Acha. Ia gemas dengan wajahnya, sesekali ia melihat kalau laki-laki itu tersenyum. Sungguh senyum yang manis.
Varrez POV
Aku melihat Acha yang sembari tadi terus menatap laki-laki yang bernama Arkhan itu.
Apa mungkin dia memilki rasa dengannya?
Itu tidak mungkin, bagaimana bisa gadis culun sepertinya bisa terikat perasaan. Dan aku yakin, itu hanyalah cinta monyet.
Aku menyeruput es jeruk sambil sesekali melirik Acha dan Arkhan. Arkhan terlihat santai dengan temannya, tapi tidak dengan Acha. Ia terlihat seperti... sedang mengamati sesuatu!
Aku tidak bisa lagi mendiamkannya, dan kali ini aku harus menegurnya.
"Ekhem,"
End POV
Acha tersentak saat mendengar Varrez yang berdeham. Ia takut kalau kakaknya itu akan curiga dengannya.
Acha langsung melanjutkan makannya yang sempat tertunda sambil sesekali melirik Arkhan.
10 menit berlalu, bel pelajaran pun sudah mulai terdengar. Varrez dan 3 temannya langsung menuju ke kelas masing-masing, biasanya ia akan menemani adiknya untuk masuk ke kelas, tapi kali ini Acha menolak dengan alasan ingin bersama teman baru nya, yaitu Nabila.
❖❖❖
Mata pelajaran ke 7 berlalu, kini mereka sedang menunggu guru fisika yang akan mengajar. Dari pelajaran ke 5 Varrez terlihat tidak bisa fokus.
"Rez, dari tadi gue liatin lo ngelamun mulu, mikirin apa?" tanya Rey.
Arga menatap Varrez sambil menepuk pundaknya. "Bro, kita sahabat, lo jangan sungkan kalau mau cerita, kami siap dengarin semuanya."
Varrez terlihat sedang memikirkan sesuatu. Ia ingin cerita dengan temannya, tapi ia masih bingung.
Ini ada apa sih, kok gue bingung gini -Varrez
Daripada memikirkannya sendiri, Varrez lebih memilih untuk cerita dengan temannya.
"Gue ngerasa kalau disini ada--" Belum sempat mengakhiri kalimatnya, tiba-tiba ketua kelas masuk dan mengumumkan sesuatu.
Terlihat ketua kelas yang memberi kode dengan sedikit menepukkan tangannya. "Ssttt, dengarin dulu!" ucapnya dengan sedikit memekik.
"Bu Rosita ada acara mendadak, dan harus pulang sekarang juga. Jadi hari ini kita cuma di kasih tugas, ngumpulnya minggu depan sekalian ulhar bab 4," lanjutnya yang langsung mendapat sorakan dari anak-anak.
"Yess jamkos dong,"
"Bolos boloss!"
"Mabar kuy!"
"Kok ulhar? tapi gak apa lah, yang penting sekarang jamkos, wohoho,"
Rey terlihat biasa saja dengan pengumuman itu, berbanding balik dengan Arga. Ia sangat heboh.
Kini ketua kelas sedang menuliskan soal di papan tulis. Berbeda dengan murid lainnya yang sekarang sudah menatap layar handphone, bahkan ada yang keluar dan menuju ke kantin.
Kali ini Varrez menyempatkan waktu untuk berbicara 8 mata dengan temannya.
__ADS_1
"Ayo!" ajak Varrez yang dibalas anggukan oleh kedua temannya.
"Susulin Fadli dulu," ucap Rey.
Kini mereka terlihat tengah berjalan menuju kelas Fadli. Jaraknya tidak terlalu jauh, hanya dengan menuruni beberapa anak tangga dan melewati beberapa kelas langsung sudah sampai.
Beruntung sekali kelas Fadli sedang jamkos juga, jadi dengan mudah mereka memasuki kelasnya.
"Lo jamkos?" tanya Rey langsung ke inti.
"Iya, gurunya kagak masuk," jawab Fadli.
"Ikut kami dulu." Kali ini Varrez yang berucap. Fadli hanya mengangguk dan mengikuti langkah temannya.
------
Sekarang mereka tengah berada di gudang belakang, tepatnya basecamp khusus yang biasa mereka datangi.
"Ada apa?" tanya Fadli yang sudah duduk duluan.
"Gw curiga ada sesuatu disini," ujar Varrez dengan wajah serius.
Fadli menatap Varrez. "Sesuatu? sesuatu apaan?"
"Arkhan?" tanya Rey sambil melihat Varrez.
Varrez melirik Rey sekilas. "Kenapa lo bisa tau?"
"Pas kita di kantin, gue udah ngerasa ada sesuatu," ungkap Rey yang membuat Fadli dan Arga bingung.
"Kaya'nya Acha nyimpan perasaan sama ketua geng itu," lanjut Rey.
Fadli mengernyitkan dahinya. "Ketua geng? geng mana?" tanya Fadli.
"Jaguar," singkat Varrez.
"Yang Arkhan itu? dia adik kelas gue pas SMP," ungkap Fadli yang langsung membuat Varrez terkejut.
"Kenapa nggak bilang?" tanya Varrez sambil merubah pandangannya ke arah Fadli. Ia baru sadar kalau Fadli juga alumni SMP 2.
"Malas," singkatnya.
Varrez hanya mendengus kesal. "Gue minta kalian awasi yang namanya Arkhan itu. Jangan sakitin dia, tapi cari tau kebenarannya," titah Varrez yang langsung di angguki oleh ketiga temannya.
Mereka sedikit berbincang-bincang, hawa yang sebelumnya tegang kini sudah mulai tenang.
Tak terasa bel pulang sudah berbunyi, mereka kembali ke kelas untuk mengambil tas lalu segera menuju parkiran.
Varrez mengira kalau Acha sudah menunggunya. Dan benar! terlihat seorang gadis yang berdiri di samping mobil sambil bersedekap dada. Ia tau kalau adiknya akan mengomel, tapi ia sama sekali tidak menggubrisnya.
"Bang Varrez lama banget sih!" pekik Acha.
"Maaf, tadi abang ada urusan bentar," jawab Varrez.
"Jangan galak-galak atuh neng," ujar Arga. Ya, mereka masih berada disitu.
"Diam!" ketus Acha.
"Lagi ada tamu neng?" canda Arga yang langsung mendapatkan pelototan dari Acha.
"Hadehh udah-udah, ayo kita pulang!" ajak Rey yang langsung di angguki oleh Fadli.
"Rez, kita pulang duluan," pamit Rey yang dibalas anggukan oleh Varrez.
"Jangan lupa yang tadi," ucap Varrez mengingatkan.
__ADS_1
"Siap!" jawab Rey.
Rey, Fadli, dan Arga pun segera masuk ke mobil, hari ini mereka memang berangkat bersama karena setelah pulang sekolah mereka ingin nongkrong sebentar.
"Ayo bang pulang!" ajak Acha.
"Ayoo,"
Varrez dan Acha pun kembali ke rumah. Di perjalanan, Acha terus saja mengoceh, Varrez yang mendengarnya hanya bisa bersabar.
-----
Dengan waktu 25 menit akhirnya mereka sampai rumah. Biasanya perjalanannya hanya 10 atau 15 menit saja, tapi tadi Acha mengajak Varrez untuk makan ice cream.
"Assalamu'alaikum," salam Acha dan Varrez saat masuk ke rumah.
"Waalaikumsalam," jawab oma dan Naura.
Varrez langsung menghempaskan tubuhnya ke sofa, sedangkan Acha langsung berlari menuju dapur untuk meletakkan ice cream yang ia beli tadi.
"Acha kamu ngapain?" tanya oma dengan suara sedikit tinggi supaya terdengar oleh Acha.
Acha kembali dari dapur. "Naruh ice cream, oma," jawab Acha sambil membuka bungkus ice cream, "oma mau?" tawarnya.
Sang oma hanya menggeleng lalu melihat Varrez. "Kamu kenapa, Rez? kok lesu banget," tanya oma.
"Oma lihat? uang Varrez di pakai Acha buat ngeborong ice cream," geram Varrez.
"Ya nggak apa dong, sekali-sekali baik sama adiknya," jawab oma.
"Oma... tapi uang Varrez habis, dari kemarin Acha minta traktiran. Nih lihat, tinggal seribu ini pun koin," rengek Varrez memelas.
"Dih, kan abang juga setuju buat nraktir Acha," sahut Acha sambil memakan ice creamnya.
"Kalau lo gak bujuk-bujuk gue juga ogah," ketus Varrez.
"Dih salah sendiri," jawab Acha santai.
"Ya Allah sabarkan hambamu ini," ucap Varrez.
"Udah, sekarang kalian ganti baju sana, habis itu turun makan siang. Besok mama kasih uang mingguan ke kalian. Kamu juga Acha, jangan pakai uang abang kamu terus, kasihan dia," kata Naura yang sembari tadi mendengarkan percakapan anaknya.
"Iya mah," jawab Acha.
Varrez dan Acha pun kembali ke kamarnya masing-masing.
•
•
•
•
•
**Hi guyss aku update lagii, jangan lupa like nya ya..
--
Varrez: thor, bantuin gue dong
Author: maaf Varrez sayang, author berpihak ke bebeb Arkhan dulu, xixixi
Arkhan: pinter, sama gue aja
__ADS_1
Author: siapp 86!
Varrez: author kgk ada akhlak ya gini😒**