
Acha dan Nabila pun melengos pergi dari sana, walaupun harus menerobos hujan tapi tak apa lah, yang penting sampai.
❖❖❖
Tak terasa bel pulang sudah berbunyi. Hujan yang tadi nya deras pun mulai mereda dan digantikan dengan gerimis. Sepertinya langit menyuruh orang-orang untuk pulang dan segera tidur.
Walaupun hanya gerimis, tapi air itu bisa membuat seragam murid disekolah ini menjadi basah.
Nabila sudah pulang walaupun harus nekat menerobos hujan, dan Acha sekarang sedang berada di perpustakaan sekolah.
Ia kali ini tidak pulang bersama Varrez. Walaupun tadi Varrez sudah bicara dengan Acha kalau ia akan menunggunya dan pulang bersama, tapi Acha tetap bersikukuh untuk pulang sendirian.
Dan pada akhirnya Varrez mengalah, dengan berat hati ia meninggalkan adiknya itu sendirian.
Acha pergi ke perpustakaan berniat untuk meminjam beberapa buku, ia mengambil beberapa buku dan membacanya.
Sudah setengah jam Acha berada di perpustakaan itu, ia merasa lelah dan ingin pulang. Saat keluar perpustakaan, hujan kembali deras.
Dengan terpaksa Acha menunggu di kursi yang berada di dekat perpustakaan. Kursi itu tidak cukup luas, tapi lumayan baginya untuk menunggu hujan mereda dengan duduk disitu.
Kenapa tidak di perpustakaan ia berteduh, karena saat ia keluar tadi, saat itu pula perpustakaan tutup. Bahkan pengawas perpustakaan itu saja sudah pulang menerobos hujan. Jadi ia tidak akan bisa berteduh di dalam sana, sekarang saja ia hanya sendiri di sekolahan yang seluas ini.
--
Sudah setengah jam ia menunggu, hujan juga mulai mereda dan udara dingin mulai terasa di pori-pori kulit Acha.
Acha merasa kedinginan, ia memeluk tubuhnya sendiri sambil menyandarkan kepalanya.
"Ck, mana gak bawa jaket pula," gumam nya.
Acha memejamkan matanya sebentar, rasanya ia ingin tidur saat udara sejuk menerpa kulitnya.
Hampir saja masuk di alam mimpi, ia tersadar kembali saat mendengar suara seorang laki-laki.
"Ngapain lo disini?" tanya laki-laki itu sambil mengangkat sebelah alisnya.
"Lo," kata Acha sambil mengingat-ingat kembali wajah laki-laki yang berada di depannya ini. Laki-laki ini sangat tidak asing bagi nya.
"Gue Arkhan." Ya, laki-laki itu adalah Arkhan, orang yang menahan tubuh Acha saat terjatuh tadi.
Arkhan sedikit kesal saat gadis di depannya ini tidak menjawab pertanyaannya. "Jawab pertanyaan gue, lo ngapain disini?" ulang nya.
"Gue nunggu hujan reda," jawab Acha.
"Kenapa gak nunggu di dalam?" ketus Arkhan.
Acha berdecak kesal. "Lo gak lihat kalau perpustakaan sudah di kunci?" tanya nya malas.
Arkhan melirik pintu perpustakaan yang memang sudah terkunci. Ia merubah pandangannya ke wajah Acha yang tampak pucat, ada rasa iba yang muncul di hatinya.
Arkhan membuka jaket denim miliknya lalu ia serahkan pada Acha. "Pakai," titah nya.
Acha melihat jaket itu. "Buat?" tanya nya.
Arkhan mendengus kesal. "Lo kedinginan, pakai," jawab nya.
__ADS_1
"Nggak mau," ketus Acha.
"Biar gue antar lo pulang," kata Arkhan.
Acha hanya menggeleng, ia masih memeluk tubuhnya sendiri. Arkhan yang melihat wajah Acha semakin pucat langsung memegang pergelangan tangan Acha.
"Jangan bantah," ketus Arkhan.
Arkhan menopang jaketnya di atas kepala Acha dan kepalanya, bertujuan supaya kepala mereka tidak terkena air hujan.
Dan tak sengaja manik mata mereka saling bertemu. Arkhan menatap mata Acha yang indah, begitupula sebaliknya. Jantung mereka saling berdegup kencang.
Acha yang tersadar pun langsung mengalihkan pandangannya. Badannya bergetar, entah karena efek udara sehingga membuat badannya menggigil, atau bahkan karena laki-laki yang berada di sampingnya ini.
Arkhan menyadarkan pikirannya saat merasakan tubuh gadis di sampingnya ini bergetar.
Arkhan kembali merubah pandangannya. "Ayo!" titah nya.
Mereka pun berjalan menuju parkiran sekolah, untung saja saat ini sekolah sudah sepi dan tidak ada yang melihat mereka berdua.
Saat sudah sampai di parkiran, Arkhan langsung mengenakan jaket miliknya di tubuh Acha.
"Pakai," ujar nya.
Acha hanya mengangguk pelan, kali ini ia tidak bisa menolak lagi.
Arkhan menaiki motornya dan disusul oleh Acha yang juga ikut naik.
"Pegangan!" kata Arkhan sambil sedikit melirik Acha.
Acha manggut-manggut dan memegang seragam Arkhan dengan perasaan gugup.
Tanpa di sadari, ada seseorang yang menyaksikan mereka berdua sejak berada di perpustakaan tadi.
❖❖❖
Flashback on.
Fadli POV.
"Woy, handphone gue ketinggalan di sekolah," ucapku gegabah.
Arga menoyor kepalaku. "Terus gimana?" tanya nya.
Aku berdesis pelan, pukulan yang ia berikan cukup sakit untukku. "Nggak usah, kalian duluan saja, nanti gue nyusul. Lihat noh, kasihan Varrez sudah lesu gitu," balasku.
Ya, sejak pulang sekolah tadi kami mampir basecamp, dan sekarang kami akan mengantarkan Varrez pulang. Karena sejak kumpul tadi, Varrez terlihat murung.
"Woy, kalian ngapain berhenti?" tanya Rey sambil melangkahkan kakinya ke arahku.
"Ini handphone nya Fadli ketinggalan di sekolah, dia mau ngambil, katanya kita disuruh duluan," jelas Arga.
"Oh, ya sudah. Ga, lo bawa motor gue," titah Rey. Arga pun mengangguk lalu mengambil kunci motor milik Rey.
Arga pun mengendarai motor Rey. Sedangkan yang punya motor kali ini mengendarai mobil bersama Varrez.
Saat melihat temanku sudah pergi, aku pun langsung mengendarai motorku ke sekolah. Jaraknya tidak terlalu jauh, tapi jalanan licin sehingga membuatku mengurangi kecepatan.
__ADS_1
--
Sesampainya di sekolah, aku langsung menuju kelas dan membuka knop pintunya. Lalu aku berjalan ke arah meja belajar ku. Aku membungkuk untung meraih handphone yang berada di laci meja.
Untung saja pintu kelas belum di kunci, jadi bisa dengan mudah aku mengambil handphonenya.
Aku kembali keluar kelas, tak lupa menutup pintunya kembali. Aku berjalan santai melewati koridor sekolah.
Saat dipertengahan jalan, aku melihat Acha yang sedang kedinginan. Sedang apa gadis itu sendirian di sekolah seluas ini.
Aku berniat menghampiri Acha untuk mengantarkannya pulang. Belum saja sampai, langkahku langsung terhenti saat aku melihat ada seorang laki-laki yang menghampiri Acha.
"Arkhan? dia ngapain?" gumam ku.
Aku mengurungkan niat untuk menghampiri Acha, lalu aku memilih memantau mereka dari kejauhan.
Aku menyaksikan semuanya dengan jelas. Mulai dari Arkhan yang melindungi Acha dari air hujan, adegan tatap menatapnya, bahkan saat berada di atas motor. Yang tidak aku ketahui hanyalah pembicaraan mereka.
Aku sempat mengukir senyum saat melihat mereka saling menatap, rasanya begitu berbeda. Aku juga melihat wajah Acha yang pucat, sepertinya dia tadi terjebak hujan.
Supaya tidak curiga, aku memberi jarak waktu dengan mereka. Saat dirasa mereka sudah cukup jauh, aku langsung menaiki motor dan melajuinya dengan pelan.
**End POV.
Flashback off**.
❖❖❖
Saat di perjalanan, Arkhan merasakan dengkuran halus dari Acha. Yang benar saja, gadis itu tertidur di punggungnya.
Arkhan mengambil tangan Acha lalu ia pegang erat-erat. Menjaganya supaya tetap nyaman.
Arkhan mengantarkan Acha sampai di depan rumah. Ia melihat ada dua motor di sana, mungkin motor teman Varrez, Abangnya Acha.
Arkhan mengelus pelan tangan Acha. "Hey, bangun," panggil nya pelan.
Acha yang merasakan ada sentuhan pun terbangun, ia mengerjapkan matanya perlahan. "Hmm," gumamnya.
"Bangun, sudah sampai," ucap Arkhan.
Acha tersentak saat mendengar suara Arkhan. Yang benar saja, ia tertidur, sangat memalukan.
Acha melepaskan pelukannya. "Maaf," lirihnya.
"Santai," sahut Arkhan.
"Kalian ngapain?"
•
•
•
Yuhuuuuu
like, coment, and vote nya jangan lupa
__ADS_1
follow juga instagram author @ssyaurelyyy
makasihh