
"Jadi gimana?" tanya Rey langsung ke poin.
"Acha nge-stalkin ketua geng jaguar itu," jawab Varrez.
Rey, Arga, dan Fadli sontak menolehkan pandangannya ke arah Varrez.
"Arkhan?" tanya Rey.
Varrez hanya menjawabnya dengan manggut-manggut.
"Gimana ceritanya?" tanya Rey serius.
"Pas gue ke kamar Acha tadi, gue gak sengaja ngeliat handphone nya masih nyala. Pas gue cek, dia lagi ngeliatin foto-fotonya Arkhan," jawab Varrez santai.
"Gue gak masalah kalau emang Acha punya perasaan ke Arkhan, tapi gue harus memastikan lagi," lanjutnya.
"Permisi mas, ini es teh nya," ucap salah satu pelayan yang mengantarkan pesanan es teh tadi.
"Iya mas, terimakasih," kata Rey yang di balas senyuman oleh pelayan tadi, lalu pelayan itu pun pergi meninggalkan mereka untuk mengantarkan pesanan ke meja lain.
Saat pelayan itu sudah pergi, Rey kembali bertanya pada Varrez. "Lo yakin sama Arkhan?" tanyanya.
"Gue belum bisa mutusin saat ini," jawab Varrez.
Saat Rey ingin melontarkan pertanyaan lagi, tiba-tiba Bapak penjual datang dengan nampan di tangannya.
Bapak penjual itu meletakkan 4 mangkok mie ayam di atas meja yang ditempati oleh Varrez dan temannya.
"Ini mas, mie ayam nya, selamat di nikmati," ujarnya sembari memberikan senyuman.
"Iya Pak, terimakasih," sahut Rey kembali.
Bapak penjual itu mengangguk. "Sama-sama mas," sahutnya dan segera meninggalkan meja makan itu.
Rey menghela nafas pelan, saat ingin bertanya lagi tiba-tiba ia melihat kalau Fadli sedang menatapnya seperti ingin memberi kode untuk bicara. Rey hanya mengangguk pelan sambil melihat Fadli.
Fadli yang merasa diberi izin pun langsung angkat suara. "Gue udah kenal Arkhan lama. Dan gue yakin dia bisa jaga perasaan Acha," ucap Fadli tiba-tiba.
Varrez menatap Fadli. "Maksud lo?" tanya Varrez bingung. Sungguh, ia memang sangat bingung sekarang, kenapa adiknya bisa langsung memberi perasaan kepada seseorang secepat itu, apalagi orang itu ketua geng motor. Ia sangat tidak yakin.
Fadli membalas tatapan Varrez, tapi Varrez tak tau apa maksud dari tatapan itu.
"Gue cuma gak yakin sama salah satu keluarganya, gue harap mereka bisa secepatnya bersatu," sambung Fadli.
Suasana semakin canggung, Rey mencoba untuk menatap Arga supaya mengalihkan pembicaraan, Arga yang paham akan maksud Rey pun hanya manggut-manggut.
"Ini kapan makannya, gue udah lapar woy," kata Arga yang mencoba untuk mencairkan suasana.
Varrez menolehkan pandangannya ke arah Arga, lalu berkata, "ini anak satu gak bisa jauh dari makanan ya emang," cibir Varrez.
Arga terkekeh geli. "Makan sana, kan lo tadi ngidam," kata Arga sambil melahap semangkok mie di hadapannya.
__ADS_1
Mereka pun langsung menyantap makanan yang di pesan tadi sambil sesekali bercanda gurau.
Setelah selesai makan, mereka kembali mengobrol selagi menunggu hujan reda.
Arga menyeruput es teh nya. "Alhamdulillah, kenyang," ucapnya sambil mengelus-elus perut buncit miliknya.
Varrez pun terlihat senang saat keinginannya terkabul. Saking senangnya, ia sampai tidak melihat cuaca yang masih hujan. "Ayo pulang," ajaknya.
Rey melemparkan bungkusan kerupuk ke arah Varrez. "Buta lo? lihat diluar masih hujan, kalau lo mau hujan-hujanan ya pulang aja sendirian," cibir Rey yang malas dengan tingkah laku sahabatnya itu.
Varrez menangkap bungkusan kerupuk itu lalu dilempar kembali ke arah Rey. "Terus buat apa kita bawa mobil, kalau lo gak mau mobilnya kebasahan ya jangan keluar pas hujan, keluar aja pas ada salju sana!" cibir Varrez sambil berkacak pinggang. Sangat persis dengan ibu kos saat menagih bayaran.
Arga merebut bungkusan itu. "Mubazir, mending buat gue," ucapnya sambil membuka bungkusan itu lalu melahap isinya.
"Indonesia mana ada salju," balas Rey.
"Ada di Papua, makanya sering-sering lihat berita, jangan lihat BF terus!" sewot Varrez yang langsung mendapatkan pelototan tajam dari Rey.
Fadli terlihat sedang menopang dagu diatas meja sambil mengamati tingkah laku orang di depannya. "Astaghfirullah, kalian ini berdosa banget," ucapnya lembut.
Arga, Rey, dan Varrez kompak menjawab Fadli sambil menggebrak meja. "Diam lo uke!"
Fadli terlonjak kaget saat ketiga temannya menggebrak meja dengan bersamaan, lalu ia mengelus dadanya. "Astaghfirullah dedek terkejut," ujarnya sambil memperlihatkan wajah melas.
"Tolong kantong plastik, mau gumoh gue," cibir Rey.
Seperti itulah tingkah laku empat sekawan, yang satu doyan makan, yang satunya lagi udah kaya' uke. Yang dua kemana? mereka hanya bisa beristighfar sambil tersenyum melas.
"Udah reda nih hujan, ayo pulang!" ajak Rey sambil melihat keluar.
"Bentar, gue chat Acha dulu," jawab Varrez.
"Mau ngapain?" tanya Rey penasaran.
"K.E.P.O!" ketus Varrez. Rey hanya mencebik kesal dengan jawaban Varrez.
Varrez merogoh saku celananya untuk mengambil benda pipih itu, lalu ia segera menghubungi adiknya untuk menanyakan sesuatu.
Varrezalvarrez.
Lo mau mie ayam gak?
Selang beberapa menit, handphone Varrez bergetar yang menandakan ada pesan baru masuk.
Achacantik.
Ya mau lah!
Varrezalvarrez.
Oke
__ADS_1
Read
Varrez mengangkat satu tangannya keatas. "Pak, bungkus satu ya," pesannya yang dibalasi anggukan oleh bapak penjual.
Tak menunggu lama, pesanannya tadi pun sudah selesai. Varrez segera menuju kasir untuk membayar, selesai membayar mereka pun menuju ke parkiran.
Kini mereka sudah berada di dalam mobil. Terlihat Rey yang sedang melajukan kendaraan dengan kecepatan rata-rata.
❖❖❖
"Thanks bro, mampir gak?" tanya Varrez saat mereka tiba dirumah.
"Ngga, titip salam aja sama mama papa lo," kata Rey.
"Rez, titip salam buat Acha," ujar Fadli sambil tersenyum sumringah.
"Iya udah, kami pulang dulu," pamit Rey yang langsung menancap gas.
Varrez masuk kedalam rumah, ia tak langsung masuk ke kamarnya, melainkan pergi ke kamar Acha.
Tokk tokk tokk
Terdengar seseorang dibalik pintu yang sedang berjalan, lalu membuka knop pintu.
Terlihat Acha yang memberikan tatapan sinis pada Varrez sambil berkacak pinggang.
Varrez menyodorkan kantong yang berisikan mie ayam kepada Acha. "Nih."
Acha merebut kantong itu dari tangan Varrez. "Makasih!" ketusnya.
"Buset, galak amat, udah di beliin juga," cibir Varrez.
Acha terlihat kesal dengan orang yang berada dihadapannya sekarang. "Biarin!"
"Ada tamu ya lo?" Varrez sudah biasa menanyakan hal itu dengan Acha, walaupun ia tau kalau itu adalah privasinya perempuan.
"Iya!" singkat Acha lalu kembali masuk kekamar sambil membanting pintu.
Brakkk
"Astaghfirullah... rasanya ingin gue bejek-bejek tuh bocah, untung adik gue," gumam Varrez yang ternyata masih bisa didengar oleh Acha. Sungguh hebat.
"BILANG APA TADI?!" teriak Acha dari dalam kamar.
"Ngga bilang apa-apa kok tuan putri," balas Varrez yang langsung melesat dari sana.
•
•
Hiiiiiiiiiiiiiiii
__ADS_1
Makasih buat readers aku yang masih bertahan smpe sini, jangan lupa like nya dan vote author ya. Maaf kalau aku lama update soalnya aku lagi PTS, xixixi...