
Hi para readers semua.. aku minta maaf ya kalau lama gak update. Sebenarnya tuh banyak ide-ide muncul, tapi akunya malas ngetik:(
Jadi nih aku bawain long part. Jangan lupa like dulu ya, dan komennya, vote author juga dong.. terimakasih.
Acha tersentak saat mendengar suara Arkhan. Yang benar saja, ia tertidur, sangat memalukan.
Acha melepaskan pelukannya. "Maaf," lirihnya.
"Santai," sahut Arkhan.
"Kalian ngapain?" Varrez tiba-tiba muncul dibalik pintu bersama ketiga temannya.
Arkhan dan Acha terkejut, mereka kepergok boncengan berdua, untung saja pelukan itu sudah terlepas. Tapi tunggu, apakah sebelumnya Varrez sempat melihat mereka?
Acha turun dari motor dan diikuti juga oleh Arkhan. Ia menundukkan kepala sambil memilin jari-jarinya.
Varrez masih menatap orang di depannya dengan tatapan tajam. Sedangkan Fadli hanya tersenyum tidak jelas.
Arkhan membalas tatapan itu sambil berucap, "dia tadi kejebak hujan, makanya gue antar pulang."
Varrez menaikkan satu alisnya. "Yang benar?" tanya Varrez sambil sesekali melirik Acha.
Acha mengangguk pelan. "I-iya, Bang," lirihnya.
"Masuk!" titah Varrez.
Acha pun hanya menurut, lalu ia segera melangkahkan kakinya menuju ke dalam rumah.
Saat dipastikan Acha sudah masuk, Varrez langsung menghampiri Arkhan.
"Lo gak nyentuh Acha kan?" tanya Varrez.
Rey dan Arga terkejut saat mendengar pertanyaan Varrez. Begitu pula dengan Arkhan, tapi ia tidak terlalu menunjukkan rasa keterkejutannya. Sedangkan Fadli? ia hanya terkekeh geli. Pertanyaan macam apa ini, sangat ambigu.
"Ngapain gue nyentuh dia, bukan selera gue!" jawab Arkhan yang tak kalah ketus.
Varrez memicingkan matanya. "Awas kalau lo sentuh sedikit pun," ketusnya. Lalu ia pun masuk ke dalam rumah sambil disusul oleh Rey dan Arga.
Fadli memang masih berada disitu. Ia menghampiri Arkhan sambil tersenyum. "Semangat bro, jangan nyerah!" ucapnya sambil memainkan alisnya.
Arkhan hanya menatap Fadli dengan dingin lalu menaikkan satu alisnya. "Maksud lo?" tanya nya.
Fadli terkekeh pelan sambil menepuk lengan Arkhan. "Arkhan, Arkhan, jangan bohongin perasaan lo sendiri," ujarnya.
Fadli pun menjauhi Arkhan dan berjalan ke arah rumah. Tapi saat di pertengahan, ia menghentikan langkahnya dan sedikit menolehkan kepala.
"Gue tau kok, gue bakal tetap dukung lo," ucap Fadli lalu kembali melanjutkan langkahnya yang terhenti.
Arkhan hanya mendengus kesal, ia pun naik ke motornya lalu melajukannya dengan kecepatan pelan.
--
"Rez, lo kenapa sih gak restuin mereka?" tanya Fadli.
"Mereka siapa?" Varrez kembali bertanya, ia pun masih setia menatap layar handphone miliknya.
Fadli mencebik. "Acha sama Arkhan," ucapnya.
Kini pandangan Varrez tertuju pada Fadli. "Emangnya kenapa?"
"Lo gak kasihan sama mereka? mereka tuh saling suka," ujar Fadli.
"Terus?"
Fadli semakin kesal dengan jawaban Varrez. "Lo sebagai Abang seharusnya ngizinin adik lo buat nyari pasangannya," kata Fadli.
"Malah gue sebagai Abang harus benar-benar tepat mastiin cowok terbaik buat adik gue," ketus Varrez.
Fadli terperangah. "Lo gak percaya sama Arkhan?"
Varrez mendengus sebal. "Bukan gue gak percaya, tapi lo lihat? dia ada nggak berjuang buat adik gue?" ungkap Varrez.
"Lo mau dia berjuang?" tanya Fadli sambil tersenyum.
Varrez mengangkat bahu, lalu ia kembali berfokus pada handphone nya.
Berjuang, iya gue harus bilangin ini ke Arkhan -Fadli.
❖❖❖
Acha sedang duduk di tepi ranjang sambil memegang jaket milik Arkhan yang ia kenakan tadi. Ia menghirup aroma manskulin yang masih menempel di jaket itu. Sangat menusuk indra penciuman, tetapi ia menyukainya.
"Cuci gak ya?"
"Jaketnya gak terlalu kotor sih, tapi masa gak dicuci, orang bekas di pakai tadi kok," ucapnya bermonolog sendiri.
Saat Acha hendak berdiri dan menuju kamar mandi, tiba-tiba ada seseorang yang mengetuk pintu kamarnya.
Tok tok tok
"Non Acha," panggil Bi Jum.
Acha menghela nafas lega saat mengetahui yang mengetuk pintu itu ternyata Bi Jum. Ia sempat mengira kalau yang datang tadi adalah Abangnya.
"Iya Bi, sebentar." Acha pun memutar knop pintu.
"Kenapa, Bi?" tanya Acha.
"Ini Non, Bibi bawain susu. Non Acha minum ya biar perutnya hangat," ucap Bi Jum sambil menyodorkan segelas susu hangat.
Acha tersenyum lalu meraih gelas yang di berikan oleh Bi Jum. "Terimakasih ya, Bi."
"Sama-sama, Non. Ya sudah, Bibi kembali ke dapur dulu," ucap Bi Jum.
"Iya, Bi."
"Eh tapi sebentar, Non. Itu ada jaket, mau Bibi cuciin sekalian gak?" tanya Bi Jum.
"Nggak usah, Bi. Biar Acha cuci sendiri aja."
"Oh ya sudah, Bibi balik dulu ya, Non." Bi Jum pun keluar dari kamar Acha lalu menuju dapur.
Acha pun menutup kembali pintu kamarnya lalu segera menuju kamar mandi. Ia pun membawa jaket itu, sekalian mencucinya.
__ADS_1
--
Selesai mandi dan mencuci jaket milik Arkhan, Acha segera turun dan menuju halaman belakang untuk menjemur jaket itu.
"Cuci-cuci sendiri, jemur baju sendiri, gosok-gosok sendiri, semua sendiri..."
"Ngenes banget gue, kapan pangeran berkuda datang, hiks," ujar Acha bermonolog.
Setelah menjemur jaket itu, Acha berniat kembali ke kamarnya. Tapi saat di pertengahan, tiba-tiba tangannya di tarik oleh seseorang dan membawanya kembali ke halaman belakang.
"Ish, bang Fadli apaan sih tarik-tarik tangan Acha segala. Sakit tau," celoteh Acha sambil mengerucutkan bibirnya 5 cm.
"Hih.. lambemu-lambemu," ketus Fadli.
"Hah? kok Bang Fadli ngomong lambemu-lambemu gitu sih. Kan Bang Fadli dari Jepang, emangnya disana ada bahasa kaya' gitu ya?" tanya Acha dengan polosnya.
Fadli melototkan matanya sambil berkacak pinggang, bisa-bisanya adik dari sahabatnya itu sepolos ini.
"Jawab Bang, kok Abang diam saja sih!" Acha pun ikut berkacak pinggang.
"Sudah-sudah, gue mau nanya serius sana lo." Kali ini Fadli mulai menetralkan pandangannya.
"Nanya apa?"
"Lo suka sama Arkhan?" tanya Fadli.
Acha tiba-tiba menjadi kikuk saat mendengar pertanyaan itu, ia bingung sekaligus takut. Ia bingung dengan perasaannya sendiri, sebenarnya ia suka dengan Arkhan atau tidak. Dan ia juga takut kalau Varrez tidak akan merestui hubungan mereka.
"Kenapa diam?" tanya Fadli. "Jangan-jangan benar, lo suka sama dia?" lanjutnya.
Acha masih terdiam. Bagaimana ini, ia harus menjawab apa, jujur atau tidak.
Seakan paham akan keadaan Acha, Fadli menghela nafas pelan. "Lo jujur saja sama gue, gue disini mau bantu kalian kok," ujar Fadli.
"Bantu?" Akhirnya Acha pun mengeluarkan suara.
"Iya bantu, jadi lebih baik lo jujur, Cha."
"Eum sebenarnya... eum..." Acha tampak gugup dengan jawabannya sendiri.
"Apa?"
"I-iya, Acha suka," ungkapnya.
Fadli menepuk tangan sehingga membuat Acha terkejut. "Benar kan!" hebohnya.
"Oke Cha, lo tenang saja, gue bakalan gercep kok." Setelah mengatakan itu, Fadli langsung kembali ke ruang depan.
"Hishh, Bang Fadli nih awas saja kalau sampai dia heboh nanti," gumam Acha. Ia pun kembali ke kamarnya.
❖❖❖
Sesampai di kamar, Acha langsung merebahkan dirinya di kasur.
"Bang Fadli kepo banget sih," gerutunya.
"Tapi kenapa gue tadi jawab iya? emangnya gue beneran suka ya sama Arkhan?"
"Bentar-bentar, kok gue jadi deg-degan gini sih, dih aneh banget," omelnya.
Acha memandang langit-langit kamarnya sambil tersenyum. "Sumpah, ini gue kenapa kaya' orgil sih senyum-senyum sendiri," omelnya.
Acha meraih handphone nya lalu membuka aplikasi instagram. Ternyata ia melihat foto terbaru milik Arkhan.
"Eh dia update." Acha memencet foto itu lalu membaca captionnya. Foto berlatar sunset dengan caption 'dua jiwa satu perasaan'. Apa ini, kenapa ada sesuatu yang berdesir di hatinya.
Acha mematikan handphonenya lalu kembali ia letakkan di atas nakas. Ia memeluk boneka beruangnya sambil mengelus pelan bulu-bulu dari boneka itu.
"Masa' gue beneran suka sama dia, kok gue ngerasa caption itu buat gue ya," monolognya.
Acha menepuk jidatnya pelan. "Jangan geer deh," ketusnya.
Acha pun memejamkan matanya dengan tangan yang masih setia memeluk boneka itu. Tak perlu waktu lama, ia pun telah sampai di alam mimpinya.
❖❖❖
Pagi telah tiba, Acha kini sudah berada di kelasnya, sekarang ia sudah mendapatkan teman baru. Varrez dan lainnya pun entah kemana perginya, karena sejak sampai tadi, Acha langsung pergi ke kelas.
"Cha, gue mau nanya dong," ucap Nabila.
"Ya tanya aja lah," sahut Acha sambil membuka wadah bekalnya.
Nabila merubah ekspresinya dengan tatapan serius. "Lo suka ya sama Arkhan?"
Uhukk uhukk
Acha yang sedang memakan roti itupun langsung tersedak saat mendengar pertanyaan Nabila.
"E-eh minum dulu Cha," ujar Nabila sambil menyodorkan botol minum ke arah Acha.
Acha segera meraih botol itu dan meneguk isinya. Ia pun menetralkan kembali ekspresinya.
"Udah, Cha?" tanya Nabila.
"Aduh maaf ya sudah bikin lo jadi keselek gini." Nabila merasa bersalah saat melihat wajah sahabat barunya ini sampai merah karena keselek roti yang ia makan.
Acha mengangguk. "Udah gak apa," sahut Acha.
Nabila menghela nafas pelan. "Fiuh... untung gak kenapa-kenapa." Nabila kembali menatap Acha.
"Jadi gimana?"
Acha gelagapan saat kembali ditanyai. "Hah, apanya yang gimana?" tanyanya yang berpura-pura lupa.
"Ck, emangnya keselek bisa bikin amnesia ya?" tanya Nabila gemas. Acha hanya tersenyum kaku sambil menggaruk lehernya.
"Jadi, lo beneran suka sama Arkhan?" tanya Nabila. Kali ini ia bertanya dengan sedikit berbisik.
"E-eung... gimana ya, gue aja bingung sama perasaan gue sendiri," ungkap Acha.
"Bingung kenapa?"
"Lo lihat gak postingan Arkhan semalam?" tanya Acha.
"Gimana?"
__ADS_1
Acha segera menutup mulutnya. Gawat, dia keceplosan!
"Hayo jujur, lo stalkingin Arkhan ya?" goda Nabila sambil mencolek pundak Acha.
"Apaan sih, enggak!" elaknya.
"Udah jangan malu atuh." Nabila masih menggoda Acha dengan senyuman khasnya itu.
"Ck, iya-iya gue stalkingin dia," ucap Acha yang mulai jengah.
"Ehem-ehem yang udah berani ngestalk," ucap Nabila sambil tertawa puas.
"Dih, sewot!"
"Uluh uluh ngambek." Nabila kembali mencolek dagu Acha.
"Ya udah gak usah tanya-tanya lagi!" ketus Acha.
"Eh iya-iya." Nabila menghentikan tawanya. "Terus kenapa sama postingannya?" lanjutnya bertanya.
"Gue ngerasa aja sama captionnya."
"Yang dua jiwa satu perasaan itu?" Acha mengangguk.
"Gue juga bingung sih, tumben banget Arkhan pakai caption kaya' gitu." Kini Nabila merubah pandangannya kedepan sambil menjentikkan jarinya di dagu.
"Ya makanya itu. Secara Arkhan kan anak motor nih, ya pasti dia jarang posting pakai kata-kata kaya' gitu," ungkap Acha.
"Tapi bisa juga sih, semua orang pasti bakalan luluh dalam waktunya sendiri," ujar Nabila yang membuat Acha berpikir.
Arkhan luluh? -Acha.
❖❖❖
Gelak tawa dari beberapa gerombolan siswa terdengar dari penjuru kantin. Ya, geng Jaguar yang sedang berkumpul di kantin itu sedang menertawakan boss nya.
"Arkhan, lo kesambet apa woy sampai pakai caption kaya' gitu," ucap Rio. "Dua jiwa satu perasaan," lanjutnya sambil diiringi tawanya yang keras.
"Babeh kita bucin!" heboh Bobby.
"Bisa bucin juga lo Beh?" tanya Adam, salah satu anggota geng Jaguar.
Arkhan hanya mendengus sebal saat mendengar ocehan anggotanya itu. Kenapa bisa ia memilih anggota yang sangat kepo dan bawel.
"Diem deh kalian semua, gue lagi malas!" ketus Arkhan.
"Stop-stop! Babeh ngambek nih!" teriak Rio.
Arkhan melempar bungkusan kuaci ke arah Rio. Rasanya ia ingin mematahkan leher anak itu sekarang juga.
"Aduh ampun Beh!" seru Rio sambil memohon pada Arkhan.
Arkhan ingin beranjak menghampiri Rio tapi ia batalkan dan kembali duduk. "Fiuh... sabar Ar, sabar," ucapnya sambil mengelus dada.
Arkhan sangat malas melihat temannya yang kepo tingkat akut ini. Ia pun mengedarkan pandangannya, dan betapa terkejutnya ia saat melihat dua perempuan yang baru memasuki area kantin.
Ia setia menatap salah satu gadis itu, tak terasa sebuah senyuman tipis terukir di bibirnya.
"Woy Beh! ngeliatin apa lo?" tanya Bobby sambil menepuk pundak Arkhan sehingga membuatnya sedikit terkejut.
Arkhan menatap Bobby dengan tatapan tajamnya. Bobby yang mendapatkan tatapan itu pun segera menaikkan kedua jarinya. "Hehe, damai," ucapnya.
Arkhan kembali melirik gadis yang tengah bercanda gurau bersama temannya itu lalu mengambil benda pipih di saku celananya. Ia segera mencari akun milik gadis itu lalu mengirimnya sebuah pesan.
❖❖❖
Kini Acha tengah duduk santai di kursi kantin sambil sesekali bercanda dengan Nabila. Sepertinya sekarang Nabila adalah temannya untuk pergi ke kantin.
"Cha, mau pesan apa?" tanya Nabila.
"Gue pingin bakso nih," ucap Acha.
"Oke gue pesanin dulu ya." Nabila pun beranjak dari tempatnya lalu segera memesan makanan.
Tak butuh waktu lama, Nabila pun kembali. "Sip, tunggu dulu bentar lagi sampai," ujarnya.
Mereka berdua pun melanjutkan candaannya sampai tak terasa seorang penjual telah mengantarkan pesanan mereka.
Dua mangkok bakso itu pun sudah berada di hadapan mereka. Saat hendak melahap makanannya, tiba-tiba handphone Acha berbunyi.
Tingg
Acha meraih handphonenya lalu membuka notif pesan itu. Seketika ia melebarkan matanya, alangkah terkejutnya ia mendapatkan pesan dari laki-laki itu.
Ia mengerutkan dahinya, bagaimana bisa Arkhan mengirimnya pesan. Ya, laki-laki itu adalah Arkhan.
Arkhanaalmlk.
| Jaket gue kapan di balikinnya?
Achacha.
| Iya, ini nanti dibalikin.
Arkhanaalmlk.
| Habis ini ketemuan di taman belakang.
Achacha.
| Oke.
Read.
Nabila melihat ke arah Acha yang tengah asyik memainkan ponselnya. "Ada apa, Cha?" tanyanya sambil menyuapkan satu sendo bakso ke mulutnya.
Acha hanya menggeleng lalu kembali menaruh handphonenya. Ia pun melanjutkan makannya yang sempat tertunda tadi.
•
•
•
**Hoamm, ngantuk tapi enak juga ya. Ide langsung muncul pas nulis jam segini, hshshs. Maaf ya karena aku udah hiat sebulanan. Jangan lupa like nya dan vote author teruss-!
__ADS_1
Terimakasih, gomawoo♡♡♡
OH IYA, MAAF KALAU ADA TYPONYA, HSHSHS**