Rasa Sejati | REVISI

Rasa Sejati | REVISI
13. Insiden


__ADS_3


Saat tengah berjalan, tiba-tiba kaki Acha tersandung dan membuat tubuhnya menjadi gontai. Dan pada akhirnya.


Brukk


Varrez dan temannya kaget saat melihat Acha terjatuh. Nabila pun begitu, ia tidak sempat menarik Acha karena memang posisinya yang sedikit jauh.


"Acha!" teriak Varrez yang menggema sehingga membuat seluruh orang yang berada di kantin ikut menoleh.


Varrez segera berlari menuju Acha, begitu juga dengan ketiga temannya yang ikut berlari.


Flashback on.


"Ayo ke kantin," ajak Arkhan pada Rio. Temannya satu geng, tepatnya wakilnya.


Rio adalah salah satu orang yang dekat dengan Arkhan. Daniel Rionsa nama lengkapnya. Mereka sudah berteman sejak duduk di bangku SMP. Rio juga sudah kenal dengan kedua orang tua Arkhan. Rio merupakan anak yang dewasa, walaupun dia sering disebut 'fuckboy' ? Entahlah, kenapa dia bisa disebut seperti itu, padahal bukan dia yang mendekati perempuan, malah sebaliknya. Rio memiliki postur tubuh yang cukup bagus, dan wajah tampan. Maklum saja kalau banyak yang mendekatinya. Dia juga anak yang bertanggung jawab, maka dari itu Arkhan mempercayainya dan mengangkatnya sebagai wakil geng nya.


"Ayo!" sahutnya.


Mereka pun berjalan keluar kelas, belum saja sampai di tangga, Rio langsung berhenti, Arkhan yang bingung hanya mengernyitkan dahi.


"Kenapa berhenti?" tanya Arkhan.


Rio memukul dahinya pelan. "Kita lupa sama Bobby, lo sih buru-buru," ucapnya.


Arkhan juga baru sadar kalau tidak ada temannya yang satu itu, lalu ia pun berdecak kesal. "Ya sudah ayo balik lagi," kata Arkhan.


Arkhan dan Rio pun kembali masuk ke kelas. Dan benar saja, Bobby masih memejamkan matanya sambil melipat tangan diatas meja.


"Kebo banget ini bocah," geram Rio.


"Bangunin sono," ucap Arkhan dengan nada dingin.


Rio menyatukan ibu jari dengan jari telunjuknya. Ia pun menggerakkan lengan Bobby dengan sedikit kencang.


"Woy kebakaran!" teriaknya.


Bobby terperanjat saat mendengar teriakan Rio. "Kebakaran! lari woy ada kebakaran!" hebohnya.


Oh iya kenalkan, namanya Bobby Aleo Novanda. Ia hanya menjadi anggota di geng, tapi dari semua anggota hanya dia yang dekat dengan Arkhan. Bobby memiliki kulit gelap dengan rambut yang sedikit keriting. Ia juga memiliki badan yang bagus dan rahang tegas. Disini hanya dua orang saja yang Arkhan kenalkan, karena memang hanya mereka yang dekat dengannya.


Rio terbahak-bahak saat melihat Bobby yang kaget. Bahkan ujung matanya pun mengeluarkan air mata.


"Sumpah, lo kocak banget kalau kaya' gitu," ucap Rio sambil mengatur nafasnya.


"Woe elah, gue lagi enak-enak tidur, monyet!" ketus Bobby.


"Damai bro damai," kata Rio sambil menaikkan kedua jarinya ke atas.


"Ngapain sih pakai acara kaget-kagetan segala," kata Bobby sambil menaikkan satu alisnya.


"Kita tadi mau ke kantin, eh lo nya malah kelupaan, ya kita samperin lagi lah," jelas Rio.


Arkhan hanya diam menyimak percakapan kedua temannya. "Terus ini kapan pergi nya," ketus Arkhan.


"Iya sabar, Beh. Kan lo lihat sendiri Bobby yang lemot," ujar Rio.


Bobby menoyor kepala Rio. "Mengumpat dalam hati," ucapnya sambil sedikit melotot.


Arkhan mendengus kesal. "Sudah gue bilang, jangan panggil gue babeh lagi, gue bukan babeh kalian," ketusnya malas.


"Ya sudah, ayo ke kantin. Gue lapar, pingin makan kalian!" lanjutnya sambil berjalan keluar kelas.

__ADS_1


"Widih, ganas si boss," kata Bobby sambil sedikit tertawa.


Mereka pun berjalan menuju kantin, tak lupa juga menghampiri tiga temannya yang lain.


Bahkan saat di jalan, mereka mendapat sapaan dari beberapa siswi. Arkhan dan Bobby tidak menanggapinya, berbeda dengan Rio, ia hanya membalas sapaan itu dengan senyuman tipis.


Arkhan POV.


Sedikit lagi kami sampai di kantin. Saat di perjalanan, Aku mendapatkan sapaan dari beberapa siswi sekolah ini, tapi aku tak menggubris nya.


Saat ingin masuk ke kantin, aku melihat seorang gadis yang tersandung dan tubuhnya yang gontai. Sepertinya ia akan terjatuh. Dan entah kenapa, rasanya aku ingin menggapai tubuh itu supaya tidak terjatuh.


Aku segera menghampiri gadis itu dan menangkap tangannya. Niatnya untuk menahan tubuhnya, tapi sialnya aku menjadi lunglai dan terjatuh bersama gadis itu.


Aku memejamkan mata saat tubuhku terhuyung ke belakang, dengan tangan yang memeluk tubuh gadis itu.


Waktu terasa begitu cepat. Punggungku menghantam lantai kantin, dan sialnya lagi, lantai itu kotor karena bekas pijakan kaki orang-orang yang lewat. Sepertinya habis ini aku akan mengumpati gadis itu habis-habisan.


Aku membuka mataku, dan saat itu juga aku mendengar teriakan dari orang-orang. Aku menatap wajah gadis itu, ia terlihat masih memejamkan matanya.


Kali ini waktu terasa terhenti. Niatku untuk mengumpatinya sudah hilang. Aku menatap lekat wajah itu, wajah yang selalu terbayang di pikiranku. Aku merasakan jantungku yang berdegup lebih cepat. Astaga, apa ini, kenapa aku menjadi gugup.


End POV.


Flashback off.


Acha tahu kalau dirinya terjatuh, tapi kenapa ia tidak merasakan sakit. Ia membuka matanya pelan, dan mendapatkan laki-laki di bawahnya.


"Astaga!" pekik Acha. Ia langsung berdiri dan mendapati Varrez yang menghampirinya.


"Dek, lo nggak apa-apa kan?" tanya Varrez sambil memutar tubuh Acha untuk mengeceknya.


Acha hanya mengangguk, tatapannya tertuju pada laki-laki yang dibantu temannya untuk berdiri.


"Acha nggak apa-apa, Bang!" kata Acha dengan nada sedikit kesal.


Varrez berhenti memutar tubuh Acha. "Iya maaf, kan gue khawatir," ucap Varrez.


Nabila menghampiri Acha. "Lo gak kenapa-kenapa, Cha?" tanya Nabila. Acha hanya mengangguk.


Fadli, Arga dan Rey juga bertanya dengan Acha. "Acha, lo gak apa-apa?" tanya mereka bersamaan.


Acha mendengus. "Iya Acha gak kenapa-kenapa, bawel ih kalian," ketusnya.


Fadli mengalihkan pandangannya ke arah Arkhan. Ia mengernyitkan dahinya.


"Arkhan?" gumam Fadli.


"Beh, lo gak apa-apa?" tanya Rio sambil memegang tangan Arkhan.


Arkhan berdecak kesal. "Ck, sudah gue bilang jangan panggil babeh!" ketusnya.


"Sorry, lupa," ucap Rio.


"Bro, baju lo kotor," kata Bobby.


Arkhan melirik sedikit baju nya. "Biarin saja," sahutnya.


Rio dan Bobby mengernyitkan dahi heran. Mereka bingung, kenapa Arkhan tidak marah, padahal kalau ada orang yang membuatnya kesal, ia langsung mengumpati orang itu.


Varrez menolehkan pandangannya ke Arkhan. "Makasih sudah ngelindungin Adik gue," ucapnya.


"Iya, sama-sama."

__ADS_1


Varrez mengulurkan tangannya. "Varrez."


Arkhan menaikkan satu alisnya lalu membalas salaman itu. "Arkhan," ucapnya.


Varrez menarik kembali tangannya sambil sedikit manggut-manggut.


Arkhan melirik Acha sekilas. "Nama lo siapa?" tanya Arkhan.


"A-acha," jawab Acha dengan sedikit terbata-bata.


Arkhan kembali mengulurkan tangannya, tapi kali ini bukan dihadapan Varrez, melainkan Acha.


"Arkhan," ucap Arkhan yang masih melihati Acha.


"Salam kenal," lanjut Arkhan.


Acha membalas uluran tangan Arkhan dengan gugup. "E-eh iya salam kenal juga," sahut Acha.


Arkhan mengukir senyum yang sangat tipis, ia tahu kalau gadis di depannya ini merasa gugup. Bahkan ia baru tahu kalau nama gadis itu adalah, Acha?


Sedangkan di posisi lain, Rio dan Bobby terheran-heran saat melihat tingkah Arkhan. Sangat aneh, tidak seperti Arkhan yang biasanya. Arkhan yang selalu memaki saat ada orang yang mengganggunya.


Bobby menyenggol lengan Rio sambil sedikit melirik nya. Rio pun begitu, ia menatap Bobby sambil menggeleng pelan.


Arkhan melirik sekilas tangannya yang masih digenggam oleh Acha. Acha tersentak dan langsung menarik kembali tangannya.


Saat tangannya terlepas, Arkhan kembali melirik Bobby dan Rio yang berada di belakangnya. Tak lupa anggota lainnya juga.


"Cabut," ucap Arkhan dengan nada dingin.


Mereka pun meninggalkan orang-orang itu tanpa melirik nya. Mereka langsung duduk di bangku kantin yang biasa di dudukin.


Acha melihat kepergian Arkhan dan rombongannya. Ia melirik Varrez sekilas. "Acha mau ke kelas," ucapnya.


Varrez menahan tangan Acha. "Cha, gue minta maaf," melasnya.


Acha menghela nafas pelan. "Iya, nggak apa kok Bang, kan tadi emang salah Acha," sahut Acha.


Varrez semakin merasa bersalah dengan ucapan Acha tadi. "Abang tadi gak bermaksud bentak kamu, Cha," lirih Varrez.


Acha mengelus tangan Varrez. "Iya, Acha paham," ucapnya. "Sudah ya, Bang. Acha mau ke kelas," pamit Acha.


Varrez mengelus pucuk kepala Acha sambil tersenyum simpul. "Iya sudah, hati-hati," balasnya.


Acha dan Nabila pun melengos pergi dari sana, walaupun harus menerobos hujan tapi tak apa lah, yang penting sampai.





**Wokwok, updateeeee


like nya dan follow instagram author @ssyaurelyyy


↓Visual nih visual↓


Daniel Rionsa**



Bobby Aleo Novanda

__ADS_1



__ADS_2