
"Hei...kalian jangan bersedih,setelah jiwaku dibentuk kembali maka ini semua akan hilang juga dengan sendirinya"kata Ratu Elena sambil mengerakkan tangan mencari tangan mereka untuk dipegang.
Mereka berempat memegang tangan Ratu Elena dengan cepat.
"Kau sangat menderita El,kami harap kau akan pulih secepatnya"kata Ratu Rubefta.
"Kalian temani saya malam ini, esok malam saya akan pergi"kata Ratu Elena.
"Baik El, kami semua akan temani El disini"sahut puteri Duyana.
Ratu Elena mengukir senyum kecil di bibirnya.
"Saya mahu berehat..ketika matahari muncul esok tolong bangunkan saya..sebab kalau tunggu saya bangun sendiri mungkin saya kan bangun petang besok sebab tak boleh nampak cahaya"kata Ratu Elena.
Mereka menangis sambil mengiyakan perkataan Ratu Elena.
(Keesokkan harinya, di sebelah petang)
Mereka berenam duduk di dalam paviliun Ratu Elena sambil bersembang gembira.
Walaupun mereka menutupi perasaan sedih tetap saja di dalam hati mereka masih sakit melihat keadaan Ratu Elena.
Tiba-tiba ada seorang pengawal datang ke paviliun peribadi Ratu Elena.
"Lapor yang mulia, putera Wenses mohon menghadap"kata pengawal itu.
Mereka berenam terkejut.
"Hei Retda bukankah kau kata akan halang dia datang?"soal Ratu Rubefta.
"Saya sudah memberi arahan kepada pengawal agar tidak membiarkan dia masuk"sahut Retda sambil berdiri dan berjalan ke arah pengawal tadi.
"Kenapa biarkan dia masuk?"soal Retda.
"Putera Wenses berkata jika dia tidak dibenarkan masuk maka dia akan memaksa dan menyerang kerajaan"sahut pengawal itu.
Baru saja Retda mahu menyahut tiba-tiba suara Ratu Elena terdengar.
"Benar kan dia masuk"arah Ratu Elena.
Mereka berlima terngagah.
"Baik yang mulia"sahut pengawal itu lalu pergi.
"El, maksud El apa?"soal puteri Daifalie.
"Jika dia tidak dibiarkan masuk maka dia akan semakin memaksa, lebih baik kita cari cara lain agar dia tidak mahu menemui saya lagi, Buka pembalut mata saya sekarang."kata Ratu Elena.
Ratu Rubefta melepaskan pembalut mata Ratu Elena.
Mereka berenam berusaha berfikir keras untuk membantu Ratu Elena.
Wenses yang berada gembira kerana akan bertemu dengan Ratu Elena mempercepatkan langkah kakinya untuk ke paviliun peribadi Ratu Elena.
Baru saja Wenses mahu masuk tiba-tiba dia terdengar suara tawa Ratu Elena.
"Lelaki macam dia hanya layak menjadi teman di ranjang saya"kata Ratu Elena.
"Saya tidak sangkah rupanya Wenses hanya mainan buat El"sahut puteri Daifalie.
Wenses yang berada di depan pintu mengigit bibirnya sehingga berdarah untuk menahan perasaan sakit di hatinya.
"Buat apa saya memandang lelaki tidak berguna seperti dia,saya akan menajdi Ratu mendominasi semua lelaki di dunia"sahut Ratu Elena sambil ketawa kuat.
"Kenapa El tolong dia merebut kerajaan elemen Air jika memang benar dia hanya mainan kau?"soal Ratu Rubefta.
"Kau tak tahu Rubefta, semakin dia rasa bahawa saya menyayangi dia maka semakin dia akan membuat saya puas di atas ranjang"sahut Ratu Elena.
"Saya cukup rasa simpati dengan Wenses yang tidak dapat hidup tanpa kau nantinya"kata puteri Duyana.
"Sudahlah..cukup dengan nama lelaki itu, lebih baik kita cerita kan lelaki El yang lain lagi"kata puteri Angelia.
"Kau nak tanya apa?, Cara aku menggoda mereka di atas ranjang atau cara kami bermain di atas ranjang?"soal Ratu Elena. Di dalam hatinya dia juga tidak sanggup mengatakan hal itu tapi dia terpaksa.
Wenses menendang pintu paviliun dengan kuat.
Mata mereka berlima tertuju ke arah Wenses hanya mata Ratu Elena yang melihat ke arah Ratu Rubefta.
"Kau bahagia ke El jadikan aku bahan tertawaan?"soal Wenses.
Ratu Elena ketawa kecil.
"Lelaki macam kau memang layak ditertawakan. Kau tidak hidup tanpa bergantung pada ku"kata Ratu Elena sambil mengenggam tangan Ratu Rubefta di bawah meja agar mendapatkan kekuatan mengatakan itu kepada Wenses.
"El pandang aku, katakan apa yang kau katakan tadi"kata Wenses dengan suara bergetar.
"Aku jijik melihat wajah kau Wenses, pergilah aku sudah bayar kau sebab tidur bersama aku dengan cara merebut kembali kerajaan kau"sahut Ratu Elena.
"Kau tunggu El..aku akan umumkan hubungan kita pada semua orang agar kau hanya menjadi milik aku seorang. Setelah kau menjadi milik aku maka aku akan buat kau membayar semua penghinaan hari ini"kata Wenses lalu terus pergi.
Ratu Elena menekan dadanya.
Mereka berlima memandang ke arah Ratu Elena yang sedang membalut matanya kembali.
__ADS_1
"El..kau tak apa-apa ke?"soal Ratu Rubefta.
Ratu Elena menggelangakan kepala.
"Saya mahu menyendiri, nanti beritahu saya kalau sudah tiba masanya pergi"kata Ratu Elena.
"Baik El, mari saya hantar El di tempat tidur"sahut Retda.
Lalu Retda pun menghantar Ratu Elena ke tempat tidur dan menyelimutinya. Setelah itu,mereka semua pun pergi.
Setelah Wenses sampai di dalam istana kerajaan elemen Air dia terus menghadap kepada ayahnya.
"Ananda menghadap ayahanda"kata Wenses sambil berlutut memberi hormat.
"Berdirilah Wen, ada apa menghadap ayah?"soal Raja Wendra.
"Saya mohon agar ayah mengirimkan rombongan untuk meminang El besok"kata Wenses.
Raja Wendra dan Ratu Welia saling berpandangan.
"Ratu Medina dah tahu ke soal ini?"soal Ratu Welia.
"Sebelum ayah dan ibu kembali kami sudah berjanji untuk berkahwin"sahut Wenses.
"Baiklah, ayah sendiri yang akan pergi besok. Apa Wen akan pergi dengan ayah?"soal Raja Wendra.
"Saya akan pergi bersama ayah"sahut Wenses.
Dia hanya bertaruh jika pinangan itu diterima maka dia sudah memenuhi janji ya kepada Ratu Elena yang dulu, tapi jika pinangan itu ditolak maka dia akan memaksa Ratu Elena untuk menerimanya.
"Wen pergilah berehat, nanti ayah meminta kepada Adref untuk menyediakan hadia untuk El"kata Raja Wendra.
Wenses pun mengundur diri untuk pergi ke kamarnya.
Setelah sampai di kamarnya Wenses terus pergi ke kamar mandi untuk membersihkan diri.
Wenses mengenggam erat tangannya sambil memukul tempat mandian yang sedang dia berendam kerana mengingat perkataan Ratu Elena.
Dia membenci perkataan yang keluar dari mulut wanita itu tapi hatinya tetap masih sangat mencintai wanita itu. Satu-satunya cara untuk dia mencari kebenaran atas perkataan Ratu Elena ialah dengan cara berkahwin dengannya.
"El..jangan salahkan aku"kata Wenses sambil tersenyum sinis.
Sudah lama Ratu Elena berbaring di atas tempat tidur tapi dia tetap tidak boleh tidur mungkin disebabkan dia menjadi buta dan tidak tahu bagaimana caranya untuk membuat dirinya selesa.
"Kau belum tidur El?"suara seseorang bertanya kepada Ratu Elena.
Ratu Elena terus bangun dari baringnya kerana mengenal suara itu.
"Apa yang kau lakukan disini Wen?"soal Ratu Elena tanpa melihat ke arah Wenses kerana dia tidak tahu keberadaan Wenses dimana.
"Jangan mendekat!"jerit Ratu Elena.
Langkah kaki Wenses terus terhenti. Dia tidak menyangkah ada saatnya mendengar wanita yang sangat dicintainya itu menjerit berbicara dengannya.
"Kenapa El?, Bukankah baru beberapa malam tidak bersama ?, Takkan El dah malu dengan saya?"ejek Wenses.
"Kau berani mendekati saya maka saya akan memanggil pengawal untuk menangkap kau"kata Ratu Elena.
Wenses tidak memperdulikan perkataan Ratu Elena dia malah semakin dekat dengan Ratu Elena.
"Peng.."
Jerit Ratu Elena tetapi mulutnya ditutup oleh Wenses menggunakan tangan.
"Jangan menjerit El, bukankah El suka tidur dengan lelaki?. Malam ini giliran saya untuk meminta El melayani saya"kata Wenses lalu mengecup bibir Ratu Elena.
Ratu Elena menolak badan Wenses agar menjauhinya tetapi Wenses memegang pipi Ratu Elena dengan kuat.
Tangan Ratu Elena yang tadinya masih berusaha menolak badan Wenses tiba-tiba menjadi lemah.
Wenses melepaskan tautan bibir mereka. Dia melihat Ratu Elena yang telah menutup mata.
"Kau kenapa El?"soal Wenses.
Dia tiba-tiba sedar jika tubuh Ratu Elena menjadi kaku dan dingin.
"Lakukan apa yang kau mahu Wen"kata Ratu Elena dengan suara yang lemah.
"El kau kenapa?"soal Wenses dengan risau.
"Aku sudah tidak kuat Wen...aku lelah,aku tidak ada tenaga lagi untuk melawan kau"sahut Ratu Elena.
"El....maafkan saya"kata Wenses lalu melepaskan pegaganya.
"Pergi Wen..saya tidak mahu melihat dan mendengar suara kau"kata Ratu Elena.
Wenses terdiam seketika.
"Apa yang kau sembunyikan dari saya El?"soal Wenses.
"Tidak ada yang perlu saya sembunyikan lagi Wen,semua sudah Wen dengar dan ketahui"sahut Ratu Elena.
"Jadi benar El tidak mencintai saya?"soal Wenses.
__ADS_1
Ratu Elena tidak menyahut.
"El"panggil Wenses.
Tiba-tiba tubuh Ratu Elena rebah di atas tempat tidur.
Wenses memandang wajah Ratu Elena yang nampak tenang menutup mata.
"Saya akan kembali besok El, jika El tidak menerima lamaran saya maka itu adalah jawaban hubungan kita"kata Wenses lalu pergi.
Tidak berselang terlalu lama setelah Wenses pergi Retda pun datang.
Dia masih dapat merasakan aura kehadiran Wenses di dalam kamar itu.
Retda berjalan ke arah Ratu Elena.
"El, sudah tiba masanya"kata Retda sambil menyentuh bahu Ratu Elena.
Retda hairan kerana bahu Ratu Elena terasa dingin.
"El"panggil Retda sambil menarik bahu Ratu Elena agar dia dapat melihat wajah Ratu Elena.
Betapa Retda terkejut melihat wajah pucat Ratu Elena. Dia memeriksa denyutan jantung Ratu Elena.
Tangan Retda bergetar kerana dia tidak dapat merasakan denyutan jantung Ratu Elena.
"El bangun"kata Retda sambil mengoncang tubuh Ratu Elena tetapi tidak ada reaksi.
Retda memapah Ratu Elena lalu terus dibawanya pergi ke gunung berapi.
Setelah sampai dia terus merendamkan tubuh Ratu Elena di dalam lava.
"El saya mohon bangunlah"kata Retda.
Ratu Elena masih sama dia tidak ada reaksi sedikit pun.
Retda meraung menagis.
"Kau siapa?"soal suara seseorang.
Retda berdiri lalu melihat orang itu.
"Kau siapa?"soal Retda kembali.
"Saya putera Daunde,dari kerajaan daun"kata lelaki itu.
"Kau saudara Daifalie?"soal Retda lagi.
Lelaki itu menganggukan kepala.
"Saya Retda, sahabat darah Daifalie"sahut Retda.
"Retda?..penasihat kecil Ratu Medina?"soal putera Daunde.
"Iya benar"sahut Retda.
"Dan...dia siapa?"soal putera Daunde sambil menunjuk ke arah Ratu Elena yang sedang duduk membelakaginya.
"Dia.. El, Ratu Medina"sahut Retda.
Mata putera Daunde membulat lalu dia bergegas melihat wajah Ratu Elena.
"Kenapa dengan dia?"soal putera Daunde.
"Jiwa El hancur..jadi dia kena berendam ke dalam lava tempat dimana dewi api mengorbankan diri, untuk membentuk jiwanya kembali"sahut Retda.
"Tapi..sepertinya dia sudah meninggal"kata putera Daunde.
"Dia tidak akan meninggal!"marah Retda.
Putera Daunde terkejut seketika mendengar jeritan Retda.
"Sebenarnya memang dia belum meninggal,nasib baik kutukan penghancur jiwa belum sepenuhnya menghisap jiwanya. Jika berendam agak lama maka dia akan boleh hidup kembali"sahut putera Daunde.
"Kau buat apa di sini?"soal Retda.
"Saya sama seperti Ratu Medina, datang untuk membentuk jiwa"sahut putera Daunde.
"Kau fikir aku bodoh ke?"soal Retda sinis.
Putera Daunde agak lama terdiam.
"Baiklah..alasan saya datang kesini untuk menyempurnakan racun kekuatan saya kerana ini tempat Raja neraka terdahulu mati"sahut putera Daunde.
"Lebih baik kau pergi"kata Retda.
"Kenapa?"soal putera Daunde.
"Hanya El yang boleh berada disini, sebentar lagi pintu gunung akan terkunci lebih baik kau pergi sebelum aku bunuh kau"kata Retda.
"Hey..apa salahnya jika saya disini bersama dengan Ratu Medina?"soal putera Daunde tidak puas hati.
"Sebab aku tak percayakan kau, apalagi sekarang El masih tidak sadarkan diri"sahut Retda.
__ADS_1
"Untuk pengetahuan kau,aku adalah lelaki yang bermartabat. Aku tidak akan menyentuh wanita yang tidak ingin aku sentuh"kata putera Daunde.
"Kalau kau berani maka jangan salahkan aku akan memberitahukan kepada Daifalie bahawa sahabat darah nya dilecehkan oleh saudaranya. Aku jamin setelah itu kau akan mendapat balasan."kata Retda.