
Dia duduk di atas pokok yang menghadap pada gerbang masuk gunung berapi berkembar itu.
Wenses sampai tertidur di atas pokok menunggu Ratu Elena muncul. Dia tidak tahu jika Well benar-benar mahu membantunya menemukan Ratu Elena ataupun hanya mempermainkanya.
Dia sedikit ragu kerana sudah hampir menjelang pagi Ratu Elena masih tidak terlihat.
Tiba-tiba gunung berapi berkembar itu bergetar kuat sehingga Wenses terpaksa turun dari atas pokok.
Dia berdiri sambil memandang ke arah gunung berapi berkembar.
Tidak berselang lama kelihatan dua orang sedang berjalan keluar dari dalam gunung.
Bibir Wenses sudah mengukir senyum bahagia.
Semakin terlihat sosok Ratu Elena keluar dari dalam gunung,semakin sirna senyuman di bibir Wenses.
Setelah Ratu Elena dan putera Daunde keluar dari dalam gunung Wenses terus datang ke arah mereka berdua.
"Apa khabar El?"soal Wenses.
Ratu Elena sangat terkejut melihat kedatangan Wenses. Dia tidak sangkah jika orang pertama yang akan bertemu denganya setelah keluar ialah Wenses.
"Wen buat apa disini?"soal Ratu Elena.
"Awalnya untuk bertemu dengan El..tapi nampaknya El tidak memgharapkan kedatangan saya"sahut Wenses sambil memandang ke arah putera Daunde.
Ratu Elena terdiam dengan perkataan Wenses.
"Kenalkan, saya putera Daunde"sapa putera Daunde dengan ramah walaupun dia perasan jika pandangan mata lelaki di depanya itu seperti mahu menelanya.
"El menghilang selama ini sebab apa?"soal Wenses.
Ratu Elena tidak menyahut. Jika boleh dia tidak mahu membohongi Wenses lagi, tapi ini bukan masanya untuk membongkar rahsia itu.
"Mari kembali dulu..nanti saya cerita kan"sahut Ratu Elena lalu memegang tangan Wenses.
"Rupanya memang benar.. El menghilang selama ini kerana lelaki ini"kata Wenses lalu menepis kasar tangan Ratu Elena dari memegang tangannya.
Ratu Elena terkejut.
"Jangan tuduh saya Wen"kata Ratu Elena.
"Saya datang setiap hari ke kerajaan El untuk bertemu dengan El, mereka kata El mengasingkan diri dan tidak mahu sesiapapun menemui El. Tapi ini apa El?, Kenapa lelaki ini boleh menemui El tapi saya tidak"kata Wenses.
"Dia tidak ada kaitan dengan masalah kita Wen"sahut Ratu Elena.
"Iya..memang benar,saya tidak ada kaitan dengan kalian berdua kerana itu hak El untuk memilih dan memiliki sesiapapun tapi El, saya mohon katakan sejujurnya El kemana selama ini sehingga saya tidak boleh berjumpa dengan El"kata Wenses.
Putera Daunde hanya diam mendengar perbualan mereka berdua.
"Saya tidak dapat memberitahu Wen sekarang"kata Ratu Elena.
"Baik El..saya faham, mulai hari ini pertunangan kita di masa kecil saya putuskan!"kata Wenses dengan suara yang keras.
Jantung Ratu Elena berdenyut laju.
"Kau tidak boleh memutuskan pertunangan kita Wen"sahut Ratu Elena.
"Kenapa tidak El?. Kau sudah menemui lelaki yang kau cinta, maka aku juga perlu mencari wanita yang mencintai aku agar aku tidak terlihat mengemis cinta dari kau"kata Wenses.
"Ini tidak seperti yang kau kira, saya dan Ratu Medina tidak memiliki hubungan apa-apa. Kami kebetulan bertemu di sini kerana.."
"Daunde"potong Ratu Elena.
Wenses melihat ke arah Ratu Elena yang tajam memandang putera Daunde.
"Kenapa El?. Kau takut lelaki ini akan mengatakan bahawa dia juga sudah menjadi bahan pemuas nafsu kau?"soal Wenses.
Ratu Elena mengenggam erat tangannya sehingga berdarah.
"Kau jangan hina Ratu Medina sesuka kau"kata putera Daunde yang tidak tahan mendengar Wenses menghina Ratu Elena.
"Nampaknya kalian memang saling mencintai,aku doakan kalian bahagia"kata Wenses lalu membalikan badan untuk pergi.
"Kau carilah perempuan yang mencintai kau Wen,semakin banyak perempuan yang kau temui maka semakin banyak nyawa yang aku cabut"kata Ratu Elena.
"Kau tidak ada hak mencampuri urusan aku Ratu Elena"kata Wenses dengan sinis.
Ratu Elena terkejut mendengar Wenses memanggil nama penuhnya.
Tiba-tiba gunung berapi meletus.
Ratu Elena membalikan badan melihat ke arah gunung berapi.
"Sampai hati kau Wen"kata Ratu Elena.
__ADS_1
"Aku tidak peduli lagi..jika kau tidak menajdi milik aku maka kau juga tidak boleh menjadi milik siapapun"sahut Wenses lalu bergegas pergi.
"Kita berpisah di sini putera Daunde, sampaikan pesanan aku pada puteri Daifalie jika namaku sudah disebut"kata Ratu Elena lalu dia juga pergi.
Walaupun putera Daunde masih bingung dia juga terus pergi meninggalkan gunung itu untuk kembali ke kerajaan daun.
Ratu Elena berjalan laju masuk ke dalam aula utama Istana. Disana para sahabatnya sudah berkumpul menunggu kepulanganya.
"Bagaimana dengan pembentukan jiwa kau?"soal Ratu Rubefta terus kepada Ratu Elena.
"Dimana Bilta?"soal Ratu Elena tanpa menjawab pertanyaan Ratu Rubefta.
"Dia ada di ruang belajar"sahut Retda.
Ratu Elena terus bergegas ke ruang belajar para puteri.
Sesampainya mereka di sana keadaan ruang belajar itu sudah berantakan.
Di atas lantai terlihat puteri Eleya dan puteri Bilta terbaring tidak sadarkan diri.
"Bawa mereka ke paviliun saya"arah Ratu Elena lalu terus terbang pergi entah kemana.
Setelah agak lama mereka menunggu akhirnya mereka melihat kelibatan Ratu Elena berjalan ke arah mereka.
"Bagaimana keadaan para puteri?"soal Ratu Elena.
"Mereka berdua terkena racun jarum tujuh warna"sahut puteri Angelia dengan suara perlahan.
Ratu Elena terkejut.
"Kalian sudah memeriksa mereka dengan benar?"soal Ratu Elena.
"Iya El, itu memang racun jarum tujuh warna"sahut Ratu Rubefta.
"Sial!"jerit Ratu Elena.
Dia tidak menyangkah musuh sangat cepat bertindak. Setelah menyadari jika ada yang salah dengan gunung berapi berkembar mereka terus bertindak mengambil cincin perak pengubah takdir.
"Kau pergi kemana tadi El?"soal Retda.
"Saya mengejar orang yang mengambil cincin perak pengubah takdir"sahut Ratu Elena.
"Bukankah cincin itu ada pada Bilta?"soal puteri Angelia.
"Bilta tidak menggunakan nya. Dan saya tidak merasakan aura cincin itu di dalam kerajaan lagi"sahut Ratu Elena.
"Kalian berlima bantu saya untuk ke kerajaan elemen Air untuk bertanya kepada Adref, mungkin dia ada penawarnya. Saya akan tetap mencari cincin itu sampai jumpa kerana hanya itu penghalang agar datuk saya tidak bangkit lagi"kata Ratu Elena.
"Bukankah masih ada nama El sebagai penghalang?"soal Ratu Rubefta.
"Ada seseorang yang menyebut nama saya"sahut Ratu Elena.
Mereka berlima terngagah, jika orang itu diketahui oleh Ratu Elena maka orang itu akan mati.
"Berpencar sekarang"arah Ratu Elena.
Mereka berlima pun berpencar melakukan misi masing-masing.
Setelah mereka berlima sampai di kerajaan elemen Air, mereka terus meminta Raja Wendra memanggil Adref.
"Ada apa yang mulia memanggil hamba?"soal Adref.
"Ratu Rubefta ingin menemui kau"kata Raja Wendra.
"Kau Adref?"soal Ratu Rubefta.
"Iya hamba yang bernama Adref"sahut Adref.
"Aku tidak akan membuang waktu lagi, kau tahu penawar racun jarum tujuh warna?"soal Ratu Rubefta.
"Hamba tahu yang mulia tapi hamba tidak mempunyai bahan obat untuk membuatnya"sahut Adref.
"Beritahu aku bahan apa yang kau perlukan,nanti kami sediakan"sahut Ratu Rubefta.
"Ini bahan-bahan itu yang mulia"kata Adref lalu memberikan selembar kertas kepada Ratu Rubefta.
Ratu Rubefta membaca bahan-bahan obat yang tertulis hingga sampai pada bahan terakhir.
"Darah dewi api?"soal Ratu Rubefta.
"Benar yang mulia, itu bahan yang paling penting kerana dapat membakar segala jenis racun"sahut Adref.
"Apa tidak boleh diganti lagi?"soal puteri Daifalie.
"Tidak yang mulia puteri Daifalie"sahut Adref.
__ADS_1
"Baiklah...jika kami sudah siap mengumpulkan bahan, kami akan meminta kau untuk membuatnya"kata Ratu Rubefta.
"Dengan senang hati yang mulia"sahut Adref.
"Kami minta diri dulu Raja Wendra"kata Ratu Rubefta lalu memberikan tanda hormat sebelum mereka berlima pergi.
Setelah sampai di kerajaan mereka melihat Ratu Elena sudah ada di dalam paviliunya.
"El, bagaimana dengan cincin perak pengubah takdir?"soal puteri Duyana.
"Untuk beberapa waktu biarkan mereka memiliki cincin itu, setelah penyatuan elemen saya sempurna sepenuhnya saya akan menghancurkan kerajaan yang mencuri cincin itu"sahut Ratu Elena.
"Apa El sudah berjaya menyatukan dua elemen?"soal Ratu Rubefta.
Ratu Elena mengangguk.
"Bagaimana dengan ubat penawar?"soal Ratu Elena.
"Kami mendapat bahan penawarnya tapi, hanya darah dewi api yang mustahil kita dapat kan"sahut puteri Angelia.
"Buat apa risau,saya sudah menembusi penghalang dewi...sekarang saya sudah menajdi dewi dua elemen"kata Ratu Elena.
Mereka yang tadinya lemah tidak berdaya terus kembali bersemangat.
"Hanya satu masalah sekarang, kita tidak tahu diaman cincin perak pengubah takdir"keluh puteri Duyana.
"Tadi saya bertanya pada roh guru tentang cincin perak pengubah takdir. Guru berkata cincin itu tidak akan dapat dihancurkan jika mereka tidak tahu cara untuk melepaskan semua roh yang ada dalam cincin. Mungkin disebabkan itu, dulu guru meminta saya untuk mengubah takdir orang-orang yang terlalu menderita"kata Ratu Elena.
"Jadi untuk beberapa waktu ini cincin itu akan selamat, yang penting kita cepat bertindak untuk mencari dan menyempurnakan penyatuan elemen El"sahut Ratu Rubefta.
"Benar"kata Ratu Elena.
"Bagaimana dengan ubat penawar?"soal puteri Daifalie.
"Saya akan meracik ubat itu malam ini"sahut Ratu Elena.
"Baiklah kami kumpulkan bahan-bahan dulu"kata puteri Duyana lalu mereka berlima pergi mempersiapkan bahan yang diperlukan.
Ratu Elena duduk di singasana.
Fikiranya masih kacau dengan kejadian di gunung tadi.
Malam itu setelah Ratu Elena siap meracik ubat penawar dia terus meminta Retda untuk memberikan ubat itu kepada puteri Eleya dan puteri Bilta.
Sedangkan dia ke kerajaan elemen Air untuk menemui Wenses.
Ratu Elena secara senyap-sanyap menerobos ke dalam kerajaan elemen Air, tanpa disangkah dia mendengar perbualan Raja Wendra dan Ratu Welia.
"Kenapa Wen secara tiba-tiba menerima tawaran Raja Aprien untuk menikah dengan puteri Dea?"tanya Ratu Welia kepada suaminya.
"Mungkin dia sudah lelah menunggu Ratu Medina"sahut Raja Wendra.
Ratu Elena menggepalkan tangan.
"Hari itu dimana kita dikeluarkan dari alam roh, saya melihat Ratu Medina sepertinya buta"kata Ratu Welia.
"Buta?"soal Raja Wendra.
"Iya, dia bertanya kepada para sahabatnya bagaimana dengan kita tapi seharusnya jika dia tidak buta dia dapat melihat bahawa kita berjaya dibawanya keluar dari alam roh"sahut Ratu Welia.
"Kenapa sekarang baru kau katakan tentang ini?"soal Raja Wendra.
"Saya rasa itu tidaklah penting, tapi rasanya hal itualh penyebab mengapa Ratu Medina tidak mahu bertemu dengan anak kita"sahut Ratu Welia.
"Sekarang semua sudah terlambat, kita tidak boleh memberitahu Wen tentang ini kerana dia sudah menerima tawaran Raja Aprien untuk menikah dengan puterinya, jika Wen tahu dia mungkin akan memutuskan pertunangan dan kerajaan elemen api akan murka"kata Raja Wendra.
Ratu Elena yang mendengar tentang pertunangan Wenses terus pergi ke paviliun Wenses.
Ratu Elena menerobos masuk ke dalam bilik Wenses.
Dia melihat Wenses sedang melihat ke luar jendela dengan wajah yang tampak sedih.
"Wen"panggil Ratu Elena.
Wenses membalikan badan melihat ke arah Ratu Elena.
"Kau buat apa disini?"soal Wenses dengan suara yang dingin.
"Saya..rindu dengan Wen"sahut Ratu Elena.
Wenses tertawa kecil dengan perasaan kecewa yang memenuhi dadanya.
"Kau mengatakan bahawa kau rindu dengan aku?"soal Wenses.
"Wen,saya boleh jelaskan tentang kehilangan saya"kata Ratu Elena sambil melangkah mendekati Wenses.
__ADS_1
"Katakan, aku juga ingin tahu alasan kau menghilang"sahut Wenses.
"Saya pergi mencari inti lava untuk menyembuhkan kutukan"sahut Ratu Elena berbohong.