
Putera Daunde terus melangkah maju kehadapan.
Tidak mengambil masa yang lama putera Daunde dan putera Duyfande telah pun lulus.
Kini hanya tinggal Wenses dan beberapa orang lagi.
"Putera Wenses"panggil puteri Eleya.
Wenses melangkah maju ke hadapan.
"Putera Wenses dari kerajaan elemen api, apa kebolehan kau?"soal puteri Eleya.
"Saya boleh melakukan banyak perkara,seperti memasak, melayani yang mulia dan menemani yang mulia"sahut Wenses.
"Ini pemilihan selir bukan pemilihan pelayan"kata puteri Eleya.
"Maaf puteri Eleya, tapi memang hanya itu kebolehan saya"sahut Wenses.
"Apa tujuan kau mahu menjadi selir,bukankah kerajaan kita masih bermusuhan?"soal puteri Eleya.
"Saya.."
"Kau lulus"sampuk Ratu Rubefta yang secara tiba-tiba muncul.
"Bibi Rubefta..saya belum selesai memberi soalan"kata puteri Eleya.
"Kalau kau menghormati saya maka...luluskan dia"kata Ratu Rubefta berbisik di telinga puteri Eleya.
"Baiklah"sahut puteri Eleya dengan suara perlahan. Dia juga mahu meluluskan lelaki itu kerana hanya lelaki itu yang pernah dicintai oleh kakaknya. Biarlah kali ini dia mengambil resiko untuk melanggar arahan kakaknya untuk menolak peserta dari kerajaan elemen Air.
"Kau diluluskan"kata puteri Eleya.
"Terima kasih"kata Wenses.
"Ini kunci paviliun nombor empat, kau tinggal di sana"kata puteri Eleya lalu memberikan kunci itu kepada Wenses.
"Terima kasih, saya pergi dulu"kata Wenses lalu terus berlalu pergi membawa barang ya.
"Kau jangan takut nanti saya yang akan berbicara dengan El"kata Ratu Rubefta lalu pergi setelah membelai lembut kepala puteri Eleya.
"Sejak bila pemilihan selir ada hubungannya dengan kau Rubefta?"soal Ratu Elena.
Ratu Rubefta tersenyum kecil mendengar pertanyaan Ratu Elena.
"Kenapa El?, Kau takut berhadapan dengan dia?"soal Ratu Rubefta.
"Saya bukan takut tapi saya benci"sahut Ratu Elena.
"Kalau betul kau benci dia..abaikan saja sampai kau dah pilih Raja untuk kau"sahut Ratu Rubefta.
"Saya malas berdebat, terserah kau "
kata Ratu Elena lalu melanjutkan menghirup anggur di gelasnya.
"Sejak Bilta terluka hari itu...kau sangat suka minum anggur El, kau tak nak berhenti ke?"soal Ratu Rubefta.
"Saya lebih suka minum anggur daripada melayan orang yang tak tahu mana kawan mana lawan"sahut Ratu Elena.
"El..saya lakukan ini untuk mencerahkan perasaan kau yang sebenarnya pada Wenses. Kau tak katakan pun saya tahu kau sedang menderita"kata Ratu Rubefta.
"Bagus juga kau luluskan dia...kini tiba masanya saya membalas perbuatan dan penghinaan dia dulu pada saya"kata Ratu Elena.
"Hum..jangan melukai diri sendiri sudahlah,ne..kau kenal Ghailen?"soal Ratu Rubefta.
"Ghailen..bekas penasihat kerajaan elemen api?"soal Ratu Elena.
"Iya dia..tapi dia bukan penasihat kerajaan elemen api saja, dia juga merupakan saudara angkat Wenses. Kalau tak salah dia menderita kutukan bunga beracun"kata Ratu Rubefta.
"Jadi...apa hubungannya dengan saya?"soal Ratu Elena sambil mengerutkan kening.
"Saya dah selidiki,pemanahan malam itu Wenses tuju kan untuk kerajaan elemen api..tapi Ghailen dipaksa oleh Raja Aprien untuk mengawal anak panah agar menyerang pasukan El"kata Ratu Rubefta.
"Kalau betul dia nak bantu saya malam itu dari awal lagi dia akan ikut berperang dengan pasukan saya"sahut Ratu Elena tidak berpuas hati.
"Mungkin dia ada alasan sendiri"kata Ratu Rubefta.
"Apapun alasan nya sekarang saya dah taknak tahu sebab dia dah jadi musuh saya"bantah Ratu Elena.
"Dari kau lah El..jangan nanti kau menyesal kalau dah tahu alasan dia"kata Ratu Rubefta.
"Cincin perak pengubah takdir dah ada khabar ke?" Soal Ratu Elena.
Ratu Rubefta menelan liur yang terasa pahit.
"Belum lagi, sejak Raja Aprien mati..cincin tu juga ghaib entah kemana"sahut Ratu Rubefta.
"Sudah cari ke di setiap anak-anak Raja Aprien?"soal Ratu Elena.
"Sudah..cuma ada satu anak Raja Aprien yang belum kami berhasil temui"sahut Ratu Rubefta.
"Siapa?"soal Ratu Elena.
__ADS_1
"Puteri Apizra"
"Puteri Apizra?, Perempuan yang ala-ala macam lelaki tu?"
Ratu Rubefta mengangguk.
"Sudahlah, nanti saya cari dengan korang. Saat ini yang terpenting hanyalah cincin itu, jika satu saat atuk kembali..saya takut saya juga bukan tandinganya"kata Ratu Elena.
Retda sedang berjalan menuju ke arah mereka berdua.
"El"panggil Retda.
"Hum, kenapa?"soal Ratu Elena.
"Sudah tiba masanya menyapa para selir"sahut Retda.
"Harus ke?"soal Ratu Elena.
"Takut lah tu"ejek Ratu Rubefta.
"Hey,saya ne dewi ya..saya tak pernah kenal perkataan takut tu"sahut Ratu Elena sambil berdiri.
"Korang berdua temankan saya"kata Ratu Elena.
Mereka bertiga pun menuju ke aula perkumpulan selir Ratu.
"Selamat datang yang mulia"sambut para selir setelah Ratu Elena memasuki aula.
"Duduklah"kata Ratu Elena sambil melirik sekejap ke arah Wenses.
Ratu Elena duduk di tempat yang disediakan untuknya.
"Selamat datang ke kerajaan dua elemen, semoga kalian bersenang-senang disini"ucap Ratu Elena.
"Satu kehormatan boleh menjadi selir yang mulia"kata putera Duyfande.
Ratu Elena tersenyum kecil.
"Benarkah?"soal Ratu Elena.
"Benar yang mulia, hamba sangat senang jika dapat melayani yang mulia"sahut putera Duyfande.
Putera Tandy melihat wajah Wenses yang sedih.
"Retda bacakan peraturan untuk para selir Ratu"kata Ratu Elena.
"Baik El"sahut Retda lalu terus maju ke hadapan para selir.
"Mohon bertanya yang mulia"kata putera Tandy sambil berdiri.
"Lanjutkan"kata Ratu Elena.
"Apakah kami para selir juga boleh bergaul?"soal putera Tandy.
"Kalian dibenarkan bergaul tapi harus mematuhi peraturan..jika tidak, maka kalian akan dihantar kembali ke kerajaan kalian tanpa sedikitpun ganti rugi"kata Ratu Elena.
"Apakah kami diperbolehkan ke kerajaan masing-masing untuk melihat keluarga?"soal putera Heland, putera dari suku helang.
"Boleh asalkan kalian melayani saya dengan baik"sahut Ratu Elena.
"Satu lagi...mulai sekarang nama kalian akan diganti. Retda berikan mereka nama"kata Ratu Elena.
"Dengarkan baik-baik dan ingat lah kerana nama ini kalian guna kan selama menjadi selir yang mulia.
Untuk putera dari kerajaan elemen tanah, kau akan dipanggil sebagai ketua selir. Putera dari suku duyung, selir tertua. Putera dari suku helang,selir manik. Putera dari suku Ruba, selir indah. Putera dari kerajaan daun,selir bunga dan putera dari kerajaan elemen Air, selir karma. Itu saja."kata Retda.
Para selir saling berpandangan mengapa nama Wenses berbeza dengan mereka. Bahkan nama itu sangat lah buruk dan menjijikkan bagi mereka.
Ratu Elena tersenyum sinis.
"Apa ada yang mahu mengganti nama?"soal Ratu Elena.
"Kami tidak berani yang mulia"sahut mereka berlima.
Wenses tertunduk menahan malu. Dia faham jika Ratu Elena benci padanya tapi dia tidak berharap namanya di dalam kerajaan dua elemen itu akan dipanggil seperti itu.
"Kalian boleh bersurai"arah Ratu Elena.
Mereka semua pun pergi.
(Di luar aula perkumpulan selir)
"Hei selir karma"panggil putera Heland pada Wenses.
Wenses membalikan badan melihat ke arah putera Heland.
"Ada apa selir manik?"soal Wenses selambah.
"Bukankah kau dah buang yang mulia?, kenapa sekarang kau malah mahu menjadi selir yang mulia?"soal putera Heland.
Putera Tandy melangkah ke hadapan putera Heland.
__ADS_1
"Apa masalah selir manik sebenarnya?"soal putera Tandy.
"Maaf ketua selir, sebenarnya saya cuma mahu bertanya kepada selir karma, benarkah jika selir karma yang membuang yang mulia atau sebaliknya"sahut putera Heland.
"Saya tidak membuang yang mulia, saya yang dibuang"sahut Wenses.
Ratu Elena yang berdiri agak jauh dengan mereka mendengar perbualan mereka.
"Dulu...aku sempat iri dengan selir karma sebab dah jadi tunangan yang mulia, tapi sekarang nampaknya dia tak lebih dari seorang lelaki yang tak berguna"kata putera Daunde.
"Ada lagi cacian yang kalian nak berikan ke?, Kalau ada silakan"sahut Wenses.
Ratu Elena memandang Ratu Rubefta di sebelahnya.
Ratu Rubefta menganggukan kepala.
"Berani sekali kalian beradu mulut di dalam istana"kata putera Rubendy adik tiri Ratu Rubefta.
"Ini bukan beradu mulut selir indah, ini namanya memberi kesadaran pada orang yang tidak tahu malu"kata putera Duyfande.
Wenses kini baru faham mengapa orang-orang itu dulu baik padanya, itu disebabkan dia masih tunangan Ratu Elena. Tapi sekarang dia dijadikan bahan ejekan.
"Apa kalian tidak malu menganggap diri kalian selir Ratu, kalian seperti hamba yang haus untuk menghina orang"kata putera Rubendy.
Putera Tandy tersenyum kecil.
Ketiga putera yang menghina Wenses tadi terus terdiam.
"Apa yang kalian lakukan disini?"soal Ratu Elena sambil berjalan ke arah mereka berenam.
Mereka terus memberikan hormat kepada Ratu Elena.
"Kami cuma berbual sebentar yang mulia"sahut putera Daunde. Dia tidak boleh mencari masalah selama menjadi selir Ratu Elena, jika tidak pasti ayahnya akan menarik gelarnya sebagai putera.
"Sudahlah,kalian semua pergi"arah Ratu Elena.
"Baik yang mulia"sahut mereka berenam lalu terus bersurai.
"Kenapa tak lanjut melihat putera Wenses dihina?"soal Ratu Rubefta.
"Kalau hanya Wenses yang bergaduh tidak apa..ini mereka semua sudah terlibat termasuk adik kau"sahut Ratu Elena.
"Alasan..cakap saja jika kau masih mahu melindungi Wenses"ejek Ratu Rubefta.
Ratu Elena melirik Ratu Rubefta dengan pandang mata yang tajam.
"Kerajaan suku Ruba dah tak perlukan Ratu ke?"soal Ratu Elena dengan erti dia mahu Ratu Rubefta pergi.
"Baiklah saya pergi dulu, kau jagalah para selir kau baik-baik"kata Ratu Rubefta lalu terus terbang tanpa menunggu Ratu Elena yang akan menendangnya.
Retda yang berdiri di samping Ratu Elena hanya tersenyum kecil.
"Apa senyum-senyum?"soal Ratu Elena kepada Retda.
"Takde, saya pergi dulu"kata Retda lalu melangkah dengan senyuman lebar di bibir.
"Haih..saya rasa Humrey pun bagus juga kalau jadi selir"perli Ratu Elena kepada Retda.
Retda berhenti melangkah.
"Jika yang mulia berkenan hamba siap mengalah"kata Retda sambil tersenyum lebar. Dia tidak perlu risau kerana perkataan Ratu Elena itu pasti tidak ada isi kerana itu akan melanggar peraturan persahabatan mereka.
"Dah lah jangan senyum-senyum lagi, bantu saya hantarkan titah ke kerajaan elemen Air"kata Ratu Elena lalu menyerahkan sebuah gulungan kertas pada Retda.
"Baik El.. saya pergi dulu"kata Retda lalu dia melebarkan sayap energi dan terus melayang terbang.
"Kita lihat sampai mana kau bertahan Wen"kata Ratu Elena sendirian.
(Malam harinya)
Para selir ada yang gemuruh ada yang menanti dengan kedatangan Ratu Elena di paviliun mereka masing-masing.
Ratu Elena berjalan ke arah paviliun peribadi putera Duyfande. Dia membuka pintu lalu melangkah masuk.
"Selamat malam yang mulia"sapa putera Duyfande sambil memberikan tanda hormat.
"Berdiri"kata Ratu Elena.
Putera Duyfande pun terus berdiri.
"Kenapa kau datang?, Apa Duyana yang menyuruh kau?"soal Ratu Elena sambil duduk di kerusi.
"Mohon maaf yang mulia, hamba datang kerana atas kerelaan hamba sendiri. Jujur saja hamba sudah lama menyukai yang mulia"sahut putera Duyfande.
"Menyukai tidak sama dengan mencintai Duyfande"kata Ratu Elena.
Putera Duyfande terdiam sejenak.
"Hamba memang mencintai yang mulia dari dulu lagi, cuma hamba tahu diri..hamba tahu yang mulia dewi tidak akan melirik orang seperti hamba"sahut putera Duyfande.
Ratu Elena berdiri lalu memegang lembut wajah putera Duyfande.
__ADS_1