Reader: Deirdre

Reader: Deirdre
Bab 15—Sebuah tawaran


__ADS_3

Wajah Horios berubah menjadi rasa yang penuh penasaran. Dia tau bahwa Arch tidak mungkin datang ke wilayah Holaust yang mana tingkat kriminal tinggi dan gaya hidup yang buruk. Horios menempatkan lelangnya karena memang wilayah Holaust paling cocok untuk persembunyian ketika tentara kesatria suci melakukan penyelidikan tentang penjualan ilegal barang terlarang, perbudakan, dan jual beli hewan sihir yang dilindungi langsung oleh hukum kekaisaran.


Horios membayar ketua agar tutup mulut tentang operasi pasar gelap dan lelang di ruang bawah tanah. Tentu, bila ketua membocorkan tempatnya maka Horios akan memprovokasi penduduk bahwa ketua telah menerima perjanjian dan uangnya yang begitu besar tanpa persetujuan penduduk. Meski Horios sering menampilkan senyuman, faktanya senyuman hanya kedok untuk menutupi semua kejahatan yang dia lakukan di wilayah Holaust.


"Aku langsung ke intinya saja, siapa yang membeli bahan-bahan seperti ini darimu? Apa orang itu bernama Affilor?"


"Saya tidak bisa memberitahu nama pembeli pada orang lain karena sudah menjadi perjanjian kami, tapi saya akan memberitahu pada anda bahwa bukan nama itu yang memberi bahan-bahan ini."


Apa yang di katakan Horios benar, sebuah perjanjian antara pembeli dan penjual ada atas permintaan pembeli. Mereka pastinya takut terseret hal yang tidak diinginkan bila membeli sesuatu di pasar gelap yang pasti terlarang. Maka dari itu sihir (perjanjian) di lakukan, jika dilanggar maka taruhannya adalah nyawa.


Arch menulis bahan-bahan racun malam di kertas. Dia sedikit sulit menjelaskan bahan apa saja yang dibeli makanya menulis di kertas nama bahan lebih efisien menurut Arch. Sihir (perjanjian) semacam itu untuk Horios tidak akan berpengaruh apapun. Dia bisa mematahkan dengan mudah inti sihir perjanjian tanpa diketahui pembeli.


"Anson, simpan kertas ini! Sepertinya aku akan menyerah tentang pertanyaan tadi. Sekarang, apa yang kau lakukan pada anak-anak yang menjadi budak selain mengumpulkan bahan-bahan?"


Anak-anak yang dijual orang tuanya, anak yang sudah tak ada orang tua, dan anak-anak yang dibuang semua dikumpulkan di satu ruangan. Dirawat, diberi makan agar nutrisi mereka cukup dan stamina kuat supaya pekerjaan mereka bisa lebih cepat.


"Sulit menjual anak-anak pada bangsawan maupun pedagang. Dikarenakan tenaga mereka, juga kalau ketahuan memperkerjakan anak di bawah umur maka hukuman mati akan menanti. Palingan hanya satu atau dua yang terjual. Ho, apa anda akan melaporkan saya pada kesatria suci?"


"Buat apa? Aku justru ingin membeli mereka semua dengan harga berapa pun! Pasti banyak uang yang dikeluarkan saat merawat anak-anak yang malang itu."


"Benarkah? Berapa anak yang anda inginkan meski anda sendiri seorang anak-anak, sepertinya saya salah. Kupikir anda akan marah mengetahui anak-anak yang dijadikan pekerja atau dijual. Ternyata benar keluarga Lord memang bukan keluarga sembarangan."


Horios kagum pada tindakan Arch yang tetap tenang saat mengetahui penjualan manusia. Bila Horios menjadi Arch, dia pastinya akan melakukan tindakan untuk menghentikan kejahatan ini. Mengingat kejadian dulu yang pernah Horios alami pada saat seseorang menarik kerah bajunya. Satu hal yang masih dia ingat pada kejadian dulu yaitu sorot mata kemarahan yang penuh rasa kebencian membuat seluruh badan Horios bergidik.


Arch meminta Horios membawa beberapa anak untuk dilihat. Anson memutuskan untuk menemani pelayan yang diperintahkan Horios untuk menjemput anak-anak.


"Tuan muda, karena hanya kita berdua saja sekarang, jadi mari lanjutkan pembicaraan kearah yang lebih serius."

__ADS_1


"Kau sudah tau. Aku berencana membangun fasilitas khusus atau sebut saja asrama untuk pelatihan menjadi prajurit. Kebetulan anak-anak memiliki potensi lebih besar dibanding orang dewasa. Melatih mereka akan lebih baik sampai beranjak dewasa."


"Asrama? Saya mengerti, bukankah biaya yang dikeluarkan akan lebih besar bila melatih anak-anak?"


"Biaya? Aku sudah mempertimbangkan biayanya."


Horios menelan ludahnya sendiri, membangun sebuah asrama yang memiliki beberapa ruangan membutuhkan biaya tinggi juga resiko.


"Lalu fasilitas apa yang akan disediakan?"


"Semua fasilitas akan disediakan semaksimal mungkin. Tempat tidur, makanan, pakaian, juga ruang pembelajaran yang nyaman, dan pengajar yang bertalenta dalam mengajar akan disediakan. Bangunan akan cepat selesai, aku akan meminta penyihir ahli struktur bangunan untuk membantunya agar fondasi tiap tembok kokoh dan bersih dari kotoran."


"A.... apa?"


Mulut Horios terbuka lebar mendengar Arch akan memakai jasa penyihir untuk membangun bangunannya. Entah seberapa besar biaya yang akan dikeluarkan belum lagi fasilitas jangka panjang? Semua sudah diperhitungkan Arch. Horios melebarkan senyuman saat Arch selesai bicara.


"Kurang? Oh, penanggung jawab asrama?" tebak Horios.


"Betul, asrama akan dirancang seperti akademi pada umumnya. Yang aku khawatir kalau penanggung asrama yang kutunjuk justru mengelola secara sewenang-wenang. Menjadikan gelar pekerjaannya itu sebagai alat untuk menundukkan para pengajar. hal itu akan sangat merugikan."


"Kalau begitu cari saja yang menurut anda pantas. Tidak perlu terburu-buru yang terpenting anda harus mencari pekerja yang akan merawat dan memasak untuk anak-anak."


"Aku baru sadar. Terlalu fokus pada masalah ini malah melupakan tujuan awal datang."


Anson membawa empat orang anak dengan pelayan tadi. Keadaan anak-anak itu sungguh bugar, menyapa Arch meski raut wajah mereka terlihat sedih.


"Anson bisakah kita bicara di luar sebentar?" Arch mengajak Anson pergi sebentar.

__ADS_1


Arch berencana menyerahkan tugas tentang asrama pada Anson. Biar Anson yang akan mengurus dokumen pembelian dan dokumen izin pembangunan. Arch menjelaskan setiap rinci hingga Anson paham mengenai apa yang ditugaskan Arch.


"Saya akan berusaha untuk menjalankan tugas yang anda berikan dengan baik. Apa tuan muda akan baik-baik saja pergi sendiri?"


"Jangan khawatir."


Arch kembali masuk. Horios sudah menunggu apa yang akan dikatakan Arch dari tadi. Tanpa sadar dia melakukan kebiasaannya menggenggam jari jempol.


"Aku ingin menawarkan kerja sama denganmu!"


"Kerja sama seperti apa?" Wajah Horios penuh rasa penasaran saat ini.


"Aku akan meminjamkan namaku pada acara lelang dan pasar gelapmu. Sebagai timbal baliknya kau perlu berada di pihakku. Jika aku memerlukan sesuatu darimu bisakah kau menyediakan? Lalu sebutkan ciri-ciri orang yang membeli bahan-bahan tadi darimu!"


"Nama dari salah satu anggota keluarga Lord? Hebat, mimpi apa saya semalam sehingga mendapatkan tawaran yang begitu indah ini? Ah, sepertinya perasaanku saat ini sangat bergejolak. Luar biasa, apa anda tau resikonya? Bagaimana kalau saya melakukan sebuah kejahatan yang lebih serius lagi menggunakan nama anda? Apa anda tidak takut akan hukum yang akan menjerat?"


"Kami memiliki hak istimewa tentang hukum. Bahkan bila kau mengakui kalau kau orang suruhanku siapa yang akan menghukummu nanti?"


"Itulah hebatnya status. Seberapa kuat dan kaya seseorang tetap saja dia harus tetap tunduk di hadapan orang yang memiliki kekuasaan yang lebih tinggi. Saya akan menerima tawaran anda. Hahaha.... dasar anak yang aneh. Aku akan mengatakannya, orang yang membeli bahan-bahan bernama Latreb. Dia memakai baju serba hitam."


Meminjamkan berarti mengizinkan orang lain untuk menyebut namamu atas apa yang dia lakukan. peminjam nama apalagi dari orang yang memiliki gelar tinggi adalah keuntungan yang besar. Orang-orang akan menjauh dari masalah yang sudah berkaitan dengan ini. jika kalau nama sudah disebut maka siapapun yang menentang akan berurusan dengan orang yang disebutkan namanya.


Keluarga Arch, memiliki posisi tertinggi bersama tiga keluarga lainnya. Posisi mereka bukanlah sesuatu yang dianggap sebelah mata oleh orang-orang. Bahkan bangsawan tingkat tinggi atau orang yang memiliki sebuah gelar spesial tidak bisa mengundang mereka dengan hanya mengirim perwakilan. Merekalah yang harus datang langsung ke kediaman empat keluarga.


Terkadang dari empat keluarga, belum pernah semuanya datang. Terutama keluarga Lord yang jarang datang ke acara yang diadakan. Suasana akan canggung, terakhir kali Emilia datang ke acara minum teh. Dia malah dikerumuni lady lain, sehingga Emilia mengangkat pedang pendek dari balik gaun yang dia sembunyikan. Semua menjauh secara langsung, Emilia terus memegangi pedang di tangan kiri serta tangan kanan mengangkat cangkir teh. Perasaan setelah semua menjauh terasa lebih nyaman.


Semua telah selesai. Arch kembali mengambil kudanya yang sudah dia sembunyikan. Arch pergi kembali ke wilayah Lord. Menuju ke tempat tinggal Affilor berada. Horios mengatakan yang membeli bahan-bahan adalah Latreb. Arch merasa ada yang janggal pada namanya.

__ADS_1


__ADS_2