
Beberapa persiapan telah selesai. Segala jenis senjata yang di letakkan disekitar dungeon telah dipersiapkan. Senjata buatan Arch dibuat khusus agar tidak hancur walau daya serangan lebih kecil dari senjata biasanya.
Terbuat dari logam yang ditempa oleh beberapa prajurit, setelah diberi sihir pengeras agar senjata tidak mudah patah. Arch menulis sendiri mantra sihir hingga menyalurkan mana pada senjata.
"Tuan muda, apa kita akan menarik uang saat mereka memasuki dungeon?"
"Aku telah meletakkan kasir di depan pintu masuk dungeon. Persiapan lain juga telah selesai jadi kita tinggal menunggu saja."
"Kalau begitu saya akan urus di sebelah sana." Boston pergi membantu warga membawa barang jualan mereka.
Semalam Arch berdiskusi bersama pemimpin desa. Arch akan menjadikan dungeon sebagai tempat di mana para petualang datang. Pemimpin desa sempat bertanya apa warga akan terluka sebab petualang cendrung bersikap kasar pada warga biasa.
Arch menjamin keamanan para warga desa Adof. Sejumlah prajurit dan kesatria akan menjaga di bagian keamanan bila petualang membuat onar makan merekalah yang akan menangani. Pemimpin lega kalau warganya diberi jaminan keselamatan.
Hanya karena dilindungi prajurit, warga juga tidak bisa berbuat seenaknya pada petualang. Arch memberitahu bahwa jika saja ada salah satu warga yang memancing keributan atau membuat masalah maka prajurit akan langsung memenggal leher warga itu di tempat.
"Aku harap semua berjalan lancar." Arch mengambil peta dungeon yang telah digambar untuk diberikan pada para petualang yang akan memasuki dungeon nanti agar tidak tersesat.
Akhir dari kerja keras telah terbayarkan. semua sudah siap, beberapa warga menjejerkan dagangan. Ada juga yang bekerja di bagian dungeon seperti penjaga kasir, pengurus senjata, dan ramuan. Arch mendirikan sebuah tempat beristirahat seperti tempat makan dan minum.
Beberapa petualang telah mendengar kabar di dungeon desa Adof. Mereka langsung bergegas pergi menuju desa, betapa terkejutnya melihat suasana desa sangat ramai bagaikan pasar. Mereka juga bertanya-tanya mengapa ada yang menjaga pintu masuk dungeon.
Setiap anggota party petualang harus membayar sepuluh koin perak. Biaya masuk sudah tergolong murah karena bisa membagi harga pada setiap petualang. Ramuan laku keras, daripada terluka atau mati di dungeon lebih baik mereka mengeluarkan uang lebih banyak untuk keselamatan diri. Meski tau dungeon berbahaya para petualang acuh tak acuh, mereka lebih menikmati tantangan seperti ini.
Harga ramuan dijual lima puluh koin perak. Lumayan mahal namun masih banyak yang membeli. Bagi mereka uang bukanlah masalah. Hadiah dilantai terakhir lebih menarik perhatian meski belum ada yang sampai. Kebanyakan anggota party kehabisan uang atau sudah kelelahan melawan monster.
Anjanette menghampiri Arch di ruangan kerja. Sebuah bangunan baru yang telah di buat oleh penyihir bangunan. Membuat bangunan menggunakan jasa penyihir sangatlah mahal. Kebanyakan para bangsawan kelas tinggi, sedang, atau pengusaha yang bisa menggunakan jasa mereka. Bagi Arch harganya seperti uang saku bulanan walau lebih banyak uang saku yang dia terima dari ayah dan ibunya.
__ADS_1
"Saya berterima kasih pada pemimpin desa telah merawat Audia dan Audrey."
"Sama-sama, Nona."
Anjanette melihat Arch. Dia bersama kedua anaknya berpamitan.
"Senang bisa berjumpa dengan anda, Tuan muda. Keadaan sekarang lebih terasa sibuk, maaf saya tidak bisa membantu karena akan pergi menyusul suami saya yang sedang bertugas di wilayah Arthproda."
"Arthproda? Senang juga bisa bekerja sama. Lain kali mari bertemu!" Arch menjabat tangan Anjanette.
"Arch nanti ayo bermain bersama kami?" Audrey tersenyum pada Arch. Walau Audia diam tapi mimik wajahnya mengatakan hal sama dengan Audrey.
"Iya, Ayo bermain sesuatu nanti!" Arch membalas senyuman Audrey lewat senyuman kecil.
Setelah bercakap cukup lama, Anjanette pergi bersama anak-anaknya. menaiki kereta sederhana yang disediakan Arch meski mereka menolak. Arch tetap bersikeras memaksa agar perjalan sampai lebih cepat.
"Ada apa ini?" Arch menghampiri kesatria pemimpin prajurit.
"Tuan muda Arch, salam dari saya. Pria ini mengganggu salah satu petualang perempuan di sana. Kami sudah berusaha memperingatinya agar bersikap sopan. Dia malah menghina prajurit kami hingga saya memutuskan untuk membunuh sebagai bukti kalau warga desa juga harus memiliki etika mereka." Huria kesatria tingkat tujuh. Seorang wakil ketua pasukan harimau putih.
"Maafkan kami, Tuan muda." Pemimpin desa gemetar hingga membungkukkan tubuh tuanya.
"Bukan kau yang harusnya minta maaf pemimpin desa. Bagaimanapun kesalahan ada di pria itu. Singkirkan mayatnya!" Arch juga meminta maaf pada perempuan yang telah di ganggu. Nyatanya pria sebelumnya yang menghina Anjanette ternyata mengganggu para pengunjung dan perempuan itu.
"Saya akan melupakan kejadian ini kalau kau mau membayar lebih tinggi." Perempuan itu menunjukkan senyum puas pada Arch.
Begitu, perempuan ini menjadikan sebagai keuntungan. Kita lihat sampai mana kau bisa memegang uang ini.
__ADS_1
Arch menyuruh Boston pergi. Mereka berusaha berdiskusi secara pribadi, Arch memberikan uang pada perempuan seperti yang di minta.
Harga 5.000 koin emas. satu koin emas berjumlah dua puluh koin perak. Arch tak ragu memberikan uang sebesar itu. Perempuan itu bersama anggotanya pergi keluar desa, satu hal yang mereka lupakan. Membawa uang nominal besar sama saja membawa kematian sendiri. Beberapa bandit mengepung anggota perempuan itu. Mereka kalah jumlah hingga akhirnya mati sia-sia.
"Hahahaha, kita mendapatkan uang ini. Mari kita berpesta." Salah satu bandit yang memiliki kemampuan untuk merasakan uang memegang kantong berisi uang.
Saat mereka hendak pergi, justru beberapa prajurit mengepung. Jumlah keduanya sama dan terjadilah adu senjata di sana. Prajurit telah dilatih secara khusus untuk mengenal serangan dari beberapa senjata. Tubuh mereka dibiasakan sampai mencapai titik menghindar tanpa disadari. Metode berlatih refleks tubuh oleh keluarga Lord.
"Tuan muda apa anda yakin bandit menuju kemari?" Huria merasa ragu.
"Lihat saja nanti."
Suara barang jatuh terdengar. Arch menuju arah suara, benar saja prajurit berhasil menangkap bandit.
"Bandit? Jadi benar yang tuan muda katakan." Huria memeriksa para bandit.
Arch mendekati salah satu bandit. Dia merampas kantong berisi uang yang dibawa perempuan tadi. Arch sudah tahu bandit sedang menunggu diluar desa. Melihat apa yang terjadi oleh rekan mereka yang mati di tangan Boston sebelumnya pasti aksi balas dendam akan dilakukan. Arch memprediksi bandit bersembunyi di jalur utama sebab jalur samping telah dijaga ketat.
Bandit akan menyerang siapa saja selama jalur itu dilewati. apalagi bandit didepannya memiliki skill aneh membuat Arch ingin melakukan eksperimen padanya.
"Pisahkan yang satu ini. Jebloskan ke penjara bawah tanah!" Arch mendapatkan kembali uangnya.
"Baik, tuan muda." Prajurit membawa para bandit.
Seseorang menyampaikan pesan pada Arch. Seorang informan mengatakan sesuatu.
"Tuan muda yang paling muda. Anda di suruh oleh tuan besar untuk pulang, ujian keluarga sebentar lagi dilaksanakan. diharapkan anda untuk pulang segera sebelum ujian dimulai."
__ADS_1