
Anson berusaha menjauhkan para tengkorak hidup itu. Sudah ditentukan usahanya sia-sia saja, seberusaha apapun tetap tengkorak akan terus muncul dari balik tanah.
Anson yang menyadari tidak akan ada akhir jika menghabiskan para tengkorak memutuskan untuk fokus pada orang-orang saja.
Dia kembali bergerak ke sisi orang-orang, membunuh mereka. Lalu Arch berjalan menuju ke dalam mansion, begitu santai.
Ini dapat di pastikan bahwa tengkorak tidak bisa memasuki mansion, jadi mereka hanya sebagai penjaga luar saja.
Anson berjalan mengikuti Arch, dia sudah tidak perduli lagi pada pakaiannya yang berbau amis.
Kedaan dalam mansion sangat klasik, lampu-lampu sihir berjejer di antar anak tangga.
Patung-patung berbentuk iblis yang mengibarkan sayap dengan seluruh bagian berwarna putih dan bagian bawah berwarna emas kehitaman.
Batu-batu berwarna merah menempel diantara tembok, karpet merah panjang yang menutupi lantai.
Lantai bersih, jadi karpet diletakkan hanya sebagai pemantas saja.
"Wah, kukira akan seperti rumah hantu."
Arch berjalan ke arah lain, terdapat cermin bundar aneh di dinding. Anson mendorong cermin hingga pintu terbuka, lorong lagi.
Arch mulai menulusuri lorong sampai terdapat di ruangan kosong.
Saat Anson tidak melihat ke arah Arch, tiba-tiba saja seseorang berpakaian hitam yang menutupi setengah wajahnya dengan kain menangkap Arch dari belakang.
"Jangan bergerak! Kalau tidak anak ini akan celaka!"
Anson berdiam di belakang. Orang-orang muncul dari tempat persembunyian mereka, Arch menyerahkan dirinya bersama Anson.
Selama di perjalanan yang entah akan ke mana, dia melihat berbagai perlengkapan.
Ada juga bayi hewan yang mengeluarkan suara-suara tangis. Arch menyerahkan diri untuk bertemu dengan pemimpin organisasi ini.
Anson yang paham rencana Arch mulai mengikuti alur dari rencana itu.
Keduanya terpisah, Anson di bawa ke penjara sedangkan Arch langsung di hadapkan oleh seorang pria yang lengannya memiliki banyak luka.
"Apa dia yang membuatmu sampai ketakutan?"
Saat bersamaan pria itu menoleh ternyata Banks berada di belakang.
Postur tubuh yang condong serta kaki gemetar, seakan dia trauma bertemu Arch.
"Cih, dasar pengecut!"
Pria itu kesal.
Seorang penyihir yang ketakutan begitu membuat dia merasa malu. Apalagi ketakutan itu berasal dari anak di hadapannya.
"Ya, melihat penampilanmu seperti—"
"Berisik paman!"
Arch mengucapkan dengan santai. Di tambah nada yang meremehkan membuat pria tadi marah.
"Apa! Kau bilang apa bocah?"
"Apa kau tuli! Aku bilang berisik!"
"Berani sekali bocah ingusan ini!"
__ADS_1
"Tu... tunggu tuan Bates! Apa anda akan membunuh dia? Akankah ini baik-baik saja?"
Banks menarik baju Bates. Dia mencoba untuk menenangkan amarah Bates, jika Arch di bunuh apakah keluarganya tidak marah? Banks berusaha mungkin menenangkan Bates.
Saat mata Banks tidak sengaja menoleh ke arah Arch, dia melihat senyuman jahat dari Arch sampai tubuhnya terdiam kaku.
Anak ini berbahaya melebihi monster! Banks ingin sekali lari dari sana. Kakinya tetap diam seakan kakinya menempel.
"Mari akhiri ini. Yo, paman apa kamu mengetahui orang yang bernama Latreb?"
"Apa-apaan kau bocah!"
"Ah, aku bertanya baik-baik. Yah, mau bagimana lagi terpaksa aku gunakan cara lain, Anson apa kau sudah selesai?"
Seseorang muncul dari balik bayangan gelap. Bates terkejut, dia melihat sebuah pemandangan mengerikan dengan mata kepalanya sendiri.
Semua orang yang berada di sana telah dihabisi Anson, cairan merah mengalir sampai tembok-tembok terlihat penuh noda.
"A... Apa?"
Bates tersenyum pahit, ternyata pelayan itu sangat berbahaya.
Anson berjalan ke depan Arch, pertarungan antara keduanya tidak akan terelakan lagi. Banks hanya bisa melihat begitu juga Arch.
Melihat kesempatan itu, Banks bergerak melarikan diri, namun Arch dengan cepat menyadari dan memanggil dia.
"Yang satunya seperti tidak akan ikut bertarung? Oh, bukankah kita pernah bertemu!"
Sudah terlambat bagi Banks, karena keadaan sudah tak mendukung akhirnya Banks berlutut setelah Anson dan Bates bertarung.
"Maafkan saya! Saya mohon ampuni nyawa saya. Saya janji akan melakukan apapun untuk anda."
"Oh, iya?"
Arch menepuk tangan.
"Oke, jadi kau mau melakukan apapun, ya? Kalau begitu minum obat ini, tenang saja ini hanya obat tidur karena aku akan membawamu ke gudangku."
Rasa ketakutan yang mendominasi membuat Banks tidak bisa lagi berpikir jernih, dia langsung mengambil botol yang Arch pegang dan meminum hingga habis.
Setelah itu efeknya langsung bekerja, seketika rasa kantuk luar biasa dirasakan sampai dia tersungkur.
Arch menjadikan tubuh Banks sebagai tempat duduk.
Bates mulai beradu tinju dengan Anson, dia merasa sakit saat berbenturan dengan tangan Anson. Tangan Anson seperti armor besi, bahkan tangan Bates sampai memar.
Dia langsung mengeluarkan pedang di pinggangnya, mengayunkan untuk mencari titik lemah dari Anson.
Anson yang bertarung menggunakan tangan kosong membuat Bates heran.
Padahal ada pedang di sampingnya juga walau pedang itu tidak terlalu menguntungkan untuk bertarung melawan pedang Bates, tapi setidaknya dapat mengurangi luka di bandingkan dengan tangan kosong.
Semua tebasan berhasil dihindari lalu yang terakhir di tangkap.
Tangan Anson mulai berdarah oleh tajamnya pedang, Bates mulai bingung orang seperti apa yang sedang di lawan.
Ini terlalu aneh, Anson masih dengan wajah tenang menghadapi Bates.
Darah semakin mengalir berjatuhan sedikit demi sedikit, karena darah membuat tangan Anson licin dan dia mengelap menggunakan kain di kantong kirinya.
Bates mulai mencari titik lain untuk diserang, pondasi tubuh Anson bagaikan baja yang sulit di cari celah kelemahannya.
__ADS_1
Bates membuat kuda-kuda, badannya condong ke depan. Ayunan pedang mulai bergerak, kali ini Bates mengincar lutut Anson dengan gerakkan tipuan.
Anson dapat membaca gerakkan Bates sehingga dia menendang pedang yang terayun tepat sebelum mencapai kaki kiri dia.
Bates tidak bisa mempertahankan genggaman akibat kuatnya tendangan Anson membuat pedang terpental jauh dari dirinya.
Anson mulai maju memojokkan Bates yang sudah tidak memegang senjata.
Tendangan kembali di luncurkan dan berhasil mengenai wajah Bates sampai dia terlihat seperti tersengat kumpulan lebah.
Bates terjatuh, penglihatannya sempat kabur karena kuatnya tendangan itu sampai kepalanya juga ikut pusing.
Bates bangkit dengan cepat, walau keadaan dia terlihat buruk itu malah menjadi sebuah pemandangan bagi Arch untuk melihat seberapa kuat dan apa keahlian orang itu.
Bates mulai melafalkan mantra.
"Wahai elemen api, tolong bantu saya membakar musuh di depan!"
Bila di sebut mantra, itu lebih terdengar seperti memerintah.
Elemen di dunia ini secara keseluruhan ada tujuh, lima elemen utama dan dua elemen fundamental. Semua elemen memiliki roh sebaliknya roh yang mewakili elemen di sebut roh elemental.
Jika manusia memiliki pemimpin maka roh juga memilikinya.
Hanya saja belum ada kejelasan tentang pemimpin para roh bahkan roh saja tidak mau berbicara tentang pemimpin mereka.
Para roh elemental akan mati, tapi mereka akan terlahir kembali ke awal mereka tercipta selama pemimpin roh elemental masih hidup.
Jelas sekali itu tertulis di novel sampai Arch beberapa kali membaca tentang pemimpin roh elemen.
Maka akan percuma bila menyiksa roh elemental untuk buka mulut tentang pemimpin roh elemental, itu hanya membuang waktu saja.
Api mulai muncul di bawah kaki Anson. Anson melompat jauh menghindari area yang terkena api.
Waktu sudah terbuang cukup lama, Arch sudah bosan dan tau cara serang dari orang itu.
Arch mengangguk pada Anson untuk memberitahu agar segera membunuh pria itu.
Anson kembali menyerang sembari menghindari serangan api, tangannya terkena sedikit dari api itu, meski begitu rasa sakit terkena api sangat sakit.
Sampai pukulan tangan Anson melemah. Menyadari dirinya tidak bisa melayangkan pukulan sekali, Anson memutuskan melayangkan pukulan ganda.
Dia terus menghantam wajah Bates sampai kedua pipi bengkak parah.
Daya pukulnya memang melemah, tapi Anson terus melakukan tinju bertubi-tubi tanpa henti, karena itu Bates sulit membuat pergerakan.
Terakhir Anson mengumpulkan tenaga di kaki untuk menendang Bates hingga tersungkur.
Bates telah dikalahkan. Dia sudah tak mampu berdiri dan seluruh bagian wajah benar-benar memar parah. Arch bangun memuji Anson.
"Bagus, Anson."
Anson merasa senang mendapatkan pujian dari Arch. Dia membusungkan dadanya, merapihkan kumis seperti biasa.
Sebuah suara keluar dari mulut Bates. Suara serak itu berusaha memberitahu sesuatu.
"Ini hanyalah awal, lihat saja sampai mana kau bisa bertahan."
Hingga suara itu menghilang bersamaan dengan nyawanya.
Arch mulai melihat-lihat sekitar, sangat di sayangkan semua mati jadi bahan eksperimen telah rusak.
__ADS_1
Dia tidak bisa memakai mayat untuk diuji karena mayat tidak bereaksi.
Dia ingin sekali mengubah mayat-mayat ini menjadi zombie. Niat itu tersingkirkan untuk sesaat.