Reader: Deirdre

Reader: Deirdre
Bab 7—Mengelola dungeon


__ADS_3

"Aku akan bertanya padamu, kenapa monster di dungeon ini memiliki jumlah yang jauh lebih banyak dibandingkan biasanya?"


Ordo menjawab pertanyaan Arch. Dia mengeluarkan nada santai.


"Saya mengubah jumlah dari mana sekitar."


"Maksudmu memadatkan mana hingga terbentuk sebuah wujud baru?"


"Benar, saya tidak bisa keluar dari dungeon karena pintu ini. membuat jumlah lebih banyak adalah jalan keluar satu-satunya agar tidak ada yang menyerang dungeon."


Jawaban Ordo masuk akal. Kekuatan dia hanya sebatas sihir hitam, jika petualang memiliki sihir suci atau membawa saintess maka dungeon dapat ditaklukkan sangat mudah.


Pintu terbuka. Boston berlari kearah Arch, raut wajah sedih Boston membuat Arch merasa terbebani atas ekspresi Boston.


"Tuan muda, apa anda baik-baik saja, anda tidak terluka-kan?"


Boston memeriksa Arch yang keadaannya baik-baik saja. Anjanette berekspresi sama.


"Aku baik-baik saja."


Arch mulai merasa risih oleh tindakan Boston yang terlalu khawatiran padanya. Arch membersihkan baju yang kotor.


"Oh, iya tuan muda. Dia siapa?"


"Ah, dia bos monster."


Keduanya terkejut. Bos monster yang dikira menyeramkan ternyata seperti manusia pada umumnya. Tentu, mereka tidak tau kalung yang dipakai Ordo dapat mengubah bentuk hingga dia memiliki wujud seperti manusia.


"Jadi, apa kita akan membunuh dia?"


Anjanette ragu ingin menyerang Ordo. Wajah manusia layaknya penduduk biasa membuat Anjanette tak tega.


"Tidak, kita bisa memanfaatkan daripada harus membunuhnya."


"Tuan muda, setelah ini apa yang harus dilakukan terhadap dungeon?" Boston melihat sekitar.


"Hmm, aku akan menghubungi ayah. Aku akan mengambil alih dungeon secara penuh."


"Tindakan bijaksana, tuan muda hebat." Boston memuji.


Arch keluar bersama mereka bertiga. Cahaya matahari seharusnya membakar tubuh Undead, karena efek kalung cahaya bukan lagi masalah sekarang.


Keadaan desa sangat gaduh. Beberapa berkelahi sampai babak belur sedangkan yang lain berusaha memisahkan.


"Ribut sekali?"


Anjanette menghampiri sumber kegaduhan. Menghentikan dan memberikan penjelasan bahwa Monster telah dibunuh.


"Hentikan! Sampai kapan kalian akan terus bertengkar?"


Nada marah Anjanette berhasil menghentikan perkelahian. Pemimpin desa berterima kasih pada Anjanette dan Arch. Pemuda tadi yang berbicara menyebalkan mulai berbicara lagi.


"Enak, ya. Seseorang yang dikaruniai kekuatan sangat mudah sekali hidup mereka. Hanya mengayunkan pedang sudah bisa membunuh monster. Ah, pasti mereka selalu mudah menjalani hidup tidak sepertiku!"


Pembicaraan mengarah pada penghinaan bagi Anjanette. Arch berusaha memahami situasi sebelum ikut campur dalam masalah.


"Kalau begitu aku sangat bersyukur."

__ADS_1


Pemuda itu berkerut. Memancing emosi melalui perkataannya.


"Seorang wanita muda yang memiliki dua anak menjadi seorang petualang? Apa suaminya tidak bisa menafkahi atau dia justru sudah terlanjur melakukan itu, lalu harus menanggung biaya hidup mereka?"


"Apa? Kau bicara apa?"


Emosi menyulut Anjanette. Kepalan tangan berurat siap meninju pemuda itu. Arch maju, dia bukan membela Anjanette melainkan situasi bisa runyam bila Anjanette membunuh orang.


"Berarti dia hebat. Seorang wanita menjadi petualang sembari menjaga kedua anaknya? Luar biasakan? Daripada seorang pengecut kecil yang bersembunyi seperti maling hanya bisa banyak bicara sepertinya mulut dia harus di jahit."


Keheningan terjadi sesudah Arch bicara. Semua tau sifat keluarga Lord, rata-rata keluarga Lord mengabaikan kemanusiaan. Sadis, kejam, dan penyiksa. Gambaran itu bukan sekedar rumor melainkan nyata mereka rasakan.


"Cepat minta maaf sebelum lidahmu dipotong beneran." Orang disebelah pemuda itu berbisik.


Kepala desa gelisah atas ucapan Arch. Satu-satunya dalam pikiran pemimpin desa yaitu agar keselamatan desa baik-baik saja dan warga tidak terluka. Terjadilah kesalahan pahaman.


"Saya minta maaf, Tuan muda Arch."


Arch menyangka pemuda itu tetap akan meledek Anjanette. Respon berbeda pemuda itu seperti ketakutan.


"Aku lelah, kami akan beristirahat sebentar. Jangan ada yang menggangu!"


Arch menghubungi ayahnya untuk berbicara tentang dungeon.


Jadi kau menginginkan dungeon itu?


"Iya, Ayah."


Aku bisa memberikan dungeon padamu. Kau akan membuat apa pada dungeon?


"Mengelola menjadi lebih berguna."


"Baik."


Bagaimanapun dungeon bisa berguna bila tau kegunaannya. Arch kembali ke tempat Boston, Anjanette, dan Ordo.


"Mari kita mulai. Pertama aku sudah tau mau dibuat apa dungeon itu."


"Dungeon biasanya akan diledakkan setelah ditaklukkan. Anda akan melakukan apa?" Anjanette tau karena dia pernah melihat dungeon diledakkan.


"Akhir-akhir ini aku dengar para petualang sangat mengincar tempat di mana ada hadiah yang lumayan. Menjadikan dungeon sebagai tempat pelatihan sekaligus wisata bukankah menyenangkan?"


"Wisata?" Ordo memiringkan kepala.


"Lalu apa anda akan menempatkan hadiah di akhir lantai?" Anjanette menebak.


"Betul, Setelah berjuang kita hadiahkan mereka. Menempatkan beberapa monster di setiap lantai, memasang jebakan, dan menempatkan bos di akhir lantai."


"Bagaimana menempatkan monster? Mereka semua telah dibunuh." Anjanette bertanya.


"Aku punya artefak pembuat hologram monster. Bentuk monster sangat nyata dan bisa melukai secara fisik juga."


"Apa ada benda seperti itu?"


"Tentu ada. Bos lantai terakhir akan dijaga oleh Ordo. Apa kau keberatan?"


"Tidak, perintahkan saja saya."

__ADS_1


"Ini seperti simulasi dungeon?"


"Anjanette, kau benar. Simulasi dungeon akan dibuat. Kita akan menjadikan penduduk ini sebagai pegawai. Mereka juga akan setuju bila mendapatkan uang."


"Ternyata anda bisa memikirkan hal ini diusia anak-anak."


"Aku dari keluarga bangsawan. Wajar saja mempunyai pemikiran begini."


Tetap saja bagi Anjanette, Arch sangat dewasa. Sampai merencanakan dungeon menjadi sebuah mata pencaharian siapa yang akan memikirkan rencana aneh ini.


"Selesai, Sekarang aku ingin melihat dungeon dan memasang jebakan."


"Bukannya memasang jebakan sangatlah berbahaya bagaimana jika mereka terluka."


"Hm, memang itu yang aku inginkan."


Mereka pergi ke dalam dungeon kembali. Arch memasang jebakan, alat-alat aneh terletak di setiap sudut dungeon.


"Tinggal menambah sedikit penerang. Boston pasang di sana!"


Boston memasang alat penerang dari sihir di depan dinding dungeon. Arch juga meletakan kotak kaca, menempelkan di dinding hingga erat.


"Apa ini, Tuan muda?" Anjanette merasa asing pada benda milik Arch.


"Oh, ini kotak berisi ramuan. Petualang akan melalui jalur ini. Mereka akan melihat petunjuk pengguna kotak. Memasukan koin ke dalam lubang yang telah disediakan lalu sebuah ramuan keluar di bawah kotak."


Kotak di rancang seperti kotak minuman. Arch menyusun ulang menggunakan sihir, memperkecil ukuran agar lebih mudah dibawa. Arch menyimpan di kantong tas penyimpanan dimensi.


"Woah, benda aneh." Anjanette memandang kotak.


"Tuan Arch, saya harus apa bila petualang datang ke lantai terakhir."


"Kerahkan saja semua kemampuanmu, aku juga akan memasang kotak di sana. Mereka akan membeli ramuan bila di rasa ramuan dibeli banyak maka pura-pura kalah."


"Kalau begitu saya akan memasang di lantai terakhir."


"Eh, makhluk apa ini?"


Arch melihat, dia melompat ke belakang setelah tau makhluk apa itu.


"Kakinya banyak. Warna coklat. Ke... kecoak! Kenapa di dunia lain ada kecoak? Mereka bergerak."


"Tuan Arch, kecoak memang banyak di sekitar dungeon. Mereka berkeliling di tembok-tembok."


"Ugh, terbang. Kecoaknya terbang. Ordo cepat singkirkan dia!"


"Sebentar tuan Arch."


Ordo menepuk menggunakan tangan bagaikan menepuk nyamuk.


"Hei, gunakan kayu atau apalah. Kecoak penuh bakteri. Kau malah menepuk menggunakan tangan menjijikan tau."


"Maafkan saya."


"Pokoknya jangan ada yang namanya kecoak di dungeon ini. Basmi mereka semua!"


Anjanette tertawa melihat Arch ketakutan. Arch sangat lucu bagi Anjanette yang mengingatkan kedua putrinya.

__ADS_1


"Sial, apa kecoak juga berinkernasi ke dunia lain?" Wajah Arch nampak pucat.


__ADS_2