
Keributan terjadi di depan gerbang desa Adof. Beberapa sibuk menyelamatkan keluarga ataupun diri mereka.
"Serangan tiba-tiba?"
Anjanette bingung dengan keadaan. Dia tau monster serigala menyerang pada malam hari, namun melihat satu monster yang tak jauh di gerbang desa Anjanette semakin bingung.
Monster serigala menampakkan taring, ekspresi agresif dan marah. Kuku tajam siap mencakar musuh di depan mereka.
"Boston, lihat di luar desa. Ada berapa monster itu!"
Arch menyuruh Boston keluar desa untuk memastikan berapa jumlah monster serigala.
"Baik, tuan muda."
Boston pergi. menyisakan Arch dan Anjanette di gerbang desa Adof. Beberapa pemuda dan pemimpin desa juga berkumpul menunggu Anjanette.
"Bagaimana ini, wahai petualang?"
Salah satu dari pemuda bertanya. Wajah dia sangat menyebalkan. Apa seorang perempuan bisa membunuh monster? kira seperti itu pikirannya.
"Aku akan membunuh monsternya, aku titipkan anak-anak dan tuan muda di sini."
Anjanette sudah bersiap memegang senjata yang berada di pinggangnya.
"Aku ikut. Lagipula ini juga tugasku." Arch memutuskan ikut.
"Baiklah, jika tuan muda ingin ikut, saya tidak masalah."
Mereka berdua menghampiri monster serigala. Anjanette mengeluarkan pedang dari sarung hitam. Mata pedang berkilau terkena cahaya matahari, tipis tetapi tajam.
Sekali tebasan membuat monster serigala mati, kecepatan Anjanette melebihi monster serigala. kaki lincah dan gerakkan yang cekatan membuat Arch kagum sedikit.
Belum berakhir sampai di situ, monster serigala mulai bermunculan setelah kawannya mati ditebas Anjanette. Mereka seperti tau karena memiliki indra penciuman tajam.
Anjanette membantai mereka semua. Gerakkan indah disetiap serangan membuat Arch sadar bahwa Anjanette mengunakan skill pedang bunga mekar. Skill indah sekali tebas yang hanya bisa dikuasai turun temurun oleh keluarga Anjanette.
Boston pun kembali memberitahukan pada Arch bahwa jumlah monster serigala yang sedang menuju kemari ada tiga puluh dan di dekat dungeon berjumlah lima puluh.
"Jumlah cukup besar!"
Setidaknya dungeon sedang hanya bisa menghasilkan tiga puluh monster awal saja, apa ada energi tambahan di dungeon itu? Aku harus menyelidiki ini secepatnya."
Arch menyuruh Boston membantu Anjanette. Sementara itu dia menuju kearah dungeon dengan melompati cabang pohon ke cabang pohon lainnya.
"Benar yang dikatakan Boston, jumlah mereka bukan main banyaknya."
Arch berdiam diri di cabang pohon menunggu Anjanette dan Boston kemari. Dia sudah memberitahukan pada Boston melalui alat percakapan jarak jauh berupa kalung.
Tidak lama Boston sampai mencari Arch. Anjanette juga langsung membantai mereka semua. Bercak darah di pakaian sudah menutupi warna asli pakaiannya.
"Tuan muda, anda di mana?"
Arch turun menghampiri Boston.
__ADS_1
"Aku di sini. Kita akan menyelidiki dungeon ini!"
Boston mengikuti perintah Arch.
"Anjanette, pulanglah! Kami akan masuk ke dalam dungeon."
Anjanette melihat pada Arch. Dia pun ingin ikut.
"Sudah menjadi tanggung jawab saya atas keselamatan anda. Saya akan ikut masuk ke dalam. Apa anda tidak keberatan?"
Arch tidak menolak, mereka bertiga mulai memasuki dungeon. gelap gurita tak ada cahaya. Anjanette menyalakan cahaya dari pedang sampai area sekitar terkena sinar.
Cahaya pedang membantu mereka menelusuri dungeon. Berbagai monster ditemukan mulai dari goblin, orc, sampai Minotaurus. Semua mati berkat tebasan dari Anjanette dan Boston.
Arch hanya menonton, tidak ada yang bisa dia lakukan kalau mereka berdua menyerang dengan cepat. beberapa lantai dilalui akhirnya usaha itu mencapai lantai terakhir.
"Pintu terlihat tua, ada beberapa lambang di pintu. Lambang apa itu?" Boston menggaruk kepala. Dia heran dengan simbol-simbol yang berada di pintu.
Arch mendekati dan melihat-lihat. Dia mulai mengingat simbol aneh itu.
Simbol inikan ada saat karakter utama memasuki pintu masuk dengeon. Berarti dungeon ini harusnya muncul beberapa tahun lagi, kenapa muncul sekarang dan kalau aku ingat lokasinya bukan desa Adof melainkan desa arce.
Arch ingat saat membaca novel "Main character story" sebuah teks berjajar di kepala Arch. Menyusun sebuah kalimat.
...Dia membuka pintu berkat bantuan elf di sebelahnya. simbol itu dideskripsikan sebagai huruf. Setelah dijabarkan sebuah tulisan kuno terbentuk 'Yang terkurung di kegelapan.' setelah mengucapkan kalimat, pintu terbuka lebar dengan sendirinya....
Arch mengerti, kini cerita mulai tidak sesuai dengan yang dia baca. Jantung Arch berdetak kencang, perasaan aneh dia rasakan saat menatap pintu.
Cahaya muncul terang membuat mereka semua menutup mata tak kuat menahan silau cahaya. Boston dan Anjanette terkejut Arch tidak ada lagi bersama mereka.
Arch terteleportasi ke dalam lantai terakhir. Arch menghubungi Boston bahwa dia berada di dalam. Boston panik, kepanikan berhasil ditenangkan Arch. Dia berjanji akan segera keluar dari lantai dan menyuruh Boston menunggu di luar sana.
Kenapa dia sendiri yang di teleportasikan? tidak, harusnya pintu terbuka bukan malah berteleportasi.
"Apa ini dungeon yang berbeda, ya?"
Saat berusaha mencerna semua kejadian, Arch merasakan aura monster di depan.
"Tunjukkan wujudmu!"
Mata Arch tidak berkedip dan awas terhadap sekitar. Angin berputar memunculkan bos monster. Seorang Undead muncul memegang tongkat di tangan.
"Hohoho, aku merasakan aura manusia. Hebat, kau bisa mencapai lantai terakhir."
Suara tawa menambah kesan mengerikan, tapi Arch tidak berekspresi apapun. Arch hanya berdiam, ternyata benar bos monster itu yang dilawan karakter utama.
"Kenapa hanya aku yang di teleportasikan?"
"Aku juga tidak tau wahai manusia. Aku terkurung di dungeon ini jadi bagaimana bisa aku menteleportasikanmu."
Semua perkataan Undead sangat mirip saat berhadapan dengan karakter utama. Undead menyerang Arch, serangan sihir hitam lenyap begitu saja.
Undead terus menyerang, serangan tidak berdampak apa-apa untuk Arch. Sihir hitam merupakan sihir terlarang, pengguna sihir ini harus mengorbankan nyawa orang lain agar mereka bertambah kuat.
__ADS_1
Arch sudah mempelajari sihir hitam, dia melakukan beberapa percobaan melalui metode aneh. Arch melakukan percobaan di perpustakaan bawah tanah khusus. Di mana dia melakukan pemanggilan iblis.
Iblis itu meminta sesuatu, Arch menolak karena dia memanggil Iblis untuk melakukan percobaan bukan permintaan. Terjadi perang antara keduanya hingga Arch menyegel kekuatan Iblis itu, setelah menyegel Arch melakukan beberapa percobaan pada tubuh Iblis. Membuka isi perut, menghidupkan kembali dengan sihir hitam, merapal, membentuk dan membuat ulang struktur sihir hitam hingga tidak memerlukan nyawa untuk membuat sihir hitam menjadi kuat. menjadikan Iblis itu sebagai kelinci percobaan artefak dan obat buatannya hingga memaksa mengajari Arch sihir hitam lebih dalam.
Sampai Iblis menjadi depresi karena tak tahan atas kelakuan Arch yang semakin gila setiap harinya dalam melakukan percobaan. Iblis sempat memohon pada Arch, saat itulah Iblis dilepaskan. Wajah senang terpancar. Arch menyuruh Iblis untuk tidak memberitahu siapapun tentang kejadian ini.
"Apa? Kenapa sihirku tidak bisa melukaimu?" Undead merasa kaget.
"Sihir hitam ini berbeda dengan yang kupelajari? Unsur dari energi dungeon lalu pencampuran mana hitam sangat menarik."
Barrier kuat telah dibentuk oleh Arch. Undead merasakan barrier itu sangat tebal, jaring-jaring mana tersusun rapih tak memiliki celah. Walau sudah dihancurkan masih ada Barrier terpasang.
"Barrier ganda? Seberapa banyak yang dia buat?"
Undead terus memaksa sihir hitam sampai benturan terjadi. Arch menghilangkan Barriernya. Dia menggunakan sihir hitam bertipe kecil pada Undead. Undead Menghiraukan serangan kecil.
Dia tidak memasang pelindung apapun hingga serangan kecil itu berhasil melukai jantung Undead. rasa sakit begitu luar biasa membuat Undead terbaring.
"Apa-apaan sihir ini! Sakit sekali."
Meringis kesakitan, Arch maju menyerang sekali lagi. Kali ini serangan lebih besar dari tadi sampai Undead berhasil dikalahkan.
"Sihir Undead ini sedikit sakit, sih."
Arch membersihkan tangannya. Undead merasa kagum pada Arch. Undead juga merasakan aura kegelapan terpancar jelas hingga dia membungkuk.
"Wahai sang kegelapan, saya tidak tau anda adalah yang terpilih. Tolong hukum saya atas tindakan tadi."
Sifat Undead berubah seketika.
"Hei, kenapa kau berubah tiba-tiba? Apa itu sang kegelapan?"
Undead menjelaskan bahwa Arch memiliki aura gelap kuat. Sihir hitam yang Arch pakai merupakan sihir yang tidak bisa digunakan sembarangan.
"Lalu apa itu yang terpilih?"
"Sang pemimpin dari kejahatan, memimpin dari balik bayangan."
Arch memang seorang yang terlahir di tubuh seorang penjahat oleh sebab itu dia memiliki aura gelap. Arch menutup aura meski terkadang aura bocor sebab terlalu pekat.
"Jadi kenapa kau membungkuk? Bangun!"
"Saya akan menjadi bawahan anda. Menuruti perintah apapun yang tuan inginkan."
"Bagaimana seorang Undead bisa patuh?"
"Saya berjanji atas nama saya sendiri. Ordo Olios."
Sebelum terjebak menjadi Undead, dia hanya seorang petualang yang memusnahkan monster bersama anggota party. Setelah sampai di dungeon ini Ordo dikhianati oleh partynya sendiri. Mendorong dia ke tepi jurang. Ordo seorang petualang yang selalu menyelesaikan Quest dengan baik. Mereka iri pada Ordo hingga melakukan rencana penghianatan. Arch tau cerita Ordo karena sebelum di bunuh oleh karakter utama, Ordo di ceritakan terlebih dulu masa lalunya.
"Pakailah kalung ini! jika Bonston dan Anjanette melihat bentukmu seperti itu mereka akan menyerangmu nanti."
Kalung pengubah bentuk, mengubah bentuk pengguna menjadi wajah orang lain. Kalung ini dipakai untuk melalukan penyamaran. Ordo memakai seketika tubuh tengkorak yang ditutupi sedikit kulit berubah menjadi seorang pria muda berambut coklat.
__ADS_1