
Setelah semua selesai, Arch memutuskan untuk segera pergi mengurus permasalahan organisasi bodoh yang telah membuat masalah terhadap keluarganya. Horios tertawa kecil menatap Arch yang memasang tampang serius. Dia beberapa kali memerhatikan raut wajah Arch yang terkadang berkerut, kesal, dan pupil mata terlihat lelah.
"Tuan muda, bagaimana kalau anda menjumpai para anak-anak di kamarnya? Akan lebih baik untuk melihat keadaan mereka, itupun kalau anda memiliki banyak waktu luang!"
Sebenarnya Arch akan menolak, dia bisa melihat mereka lain kali nanti. Hanya saja karena satu anak yang menarik perhatian Arch, bukankah tidak masalah mengunjungi anak-anak lain, bisa saja masih banyak dari mereka yang menarik bagi Arch.
"Baiklah, aku hanya akan melihat mereka saja setelah itu aku harus pergi mengurus yang lain. Oh, setelah semua pekerjaanku selesai haruskah kita melanjutkan rencana untuk kedepannya?"
Horios terkesan, Arch yang masih terlihat sibuk masih bisa bicara rencana untuk kedepan membuat Horios memandang Arch sebagai sesuatu yang lebih dari kata menarik. Bukan hanya itu, anak itu (Arch) memiliki sedikit kemiripan dengan dirinya. Dari segi mana kemiripan itu? Horios hanya tersenyum dan tersenyum mengingat figur Arch yang sangat berkebalikan dengan penampilannya.
"Ricard mandelson, tolong antarkan tuan muda Arch ke tempat anak-anak, ya!"
Ricard mandelson menjawab "Iya."
Anson mengikuti Arch di belakang sedangkan Boston di beri perintah oleh Arch untuk pulang karena tidak ada yang bisa dia lakukan lagi. Ketiga orang itu berjalan lurus dengan Ricard mandelson di depan Arch dan Anson.
Pintu kamar terlihat sedikit terbuka, sepertinya anak-anak mengkhawatirkan Ricard mandelson yang keluar dari tadi. Mereka pasti beberapa kali mengintip keluar dari celah pintu yang terbuka. Ricard mandelson membuka pintu kamar, berhati-hati karena di belakangnya terdekat orang yang membeli mereka.
Berpikir bagaimana kalau salah satu dari mereka mengeluarkan kata atau berperilaku tidak sopan pada Arch, apakah akan ada hukuman? Tidak, Ricard mandelson tidak berpikir Arch akan menghukum orang begitu sajakan! Apalagi mereka masih anak-anak! Masalahnya, Arch juga masih anak-anak jadi ada kemungkinan dia akan mengabaikan itu.
"Semuanya, aku kembali!"
Keadaan kamar cukup terbilang biasa saja, tidak bagus atapun buruk. Dinding kayu yang polos tanpa ada sesuatu yang dipajang, tempat tidur bertingkat tiga yang di tutupi kain untuk menutupi kasur berwarna putih dan bantal. Begitu saja isi kamar sangat sederhana. Tidak ada lemari baju, karena mereka menyimpan baju di dalam kotak kayu yang tersimpan di bawah tempat tidur.
Seorang anak laki-laki gemetar mencoba bertanya pada Ricard mandelson walau wajahnya hampir akan menangis.
"Kak Ricard, apa kakak tidak apa-apa? Bagaimana? Apa berhasil? Atau gagal? Tidak, tidak apa-apa yang terpenting kakak kembali selamat kemari."
__ADS_1
Semua mengangguk setuju kalau lebih baik Ricard mandelson kembali dengan selamat. Arch mulai mencoba mengamati mereka, jumlahnya ada tiga puluh, tapi masih banyak lagi anak di kamar terpisah jadi Arch tidak bisa menghitung secara keseluruhan.
"Kak Ricard, siapa mereka?"
Ricard mandelson melihat ke belakang, lalu dia sadar telah melupakan Arch dan Anson yang berdiri diam. Ricard mandelson memperkenalkan pada mereka.
"Aku harap kalian bisa tenang! Dua orang inilah yang membeli kita. Yang jelas dia adalah bernama Arch yang telah membeli kita dari kak Horios. Untuk selanjutnya aku akan menjelaskan pada kalian nanti."
"Oh, apa kita akan pergi dari tempat ini?"
Anak perempuan di sebelah anak laki-laki tadi bertanya. Bukan hanya dia, pertanyaan lain juga berdatangan dari anak-anak itu hingga keadaan menjadi bising. Arch mulai mengkerutkan alis mendengar kebisingan dari berbagai suara.
Prok, Prok, Prok.
Bunyi tepuk tangan keluar dari tangan Arch yang berhasil mengheningkan keadaan. Anak-anak lain mengarahkan pandangan mereka pada Arch. Ini kesempatan Arch untuk berbicara.
Salah satu berkata "Ha" helaan napas bingung dan dia menjawab.
"Keadaan kami? Bila bertanya begitu aku juga bingung."
Ricard mandelson mengangguk mendukung jawaban dari anak tadi. Keadaan mereka memang membingungkan untuk dikatakan, Arch yang merasa sudah tidak ada hal penting lagi berpamitan pada anak-anak.
"Aku akan kembali nanti. Kalau ada yang ingin kalian tanyakan, silahkan tanya pada dia! Horios juga anak datang menjelaskan pada kalian, dengarkan dan ingat apa yang dia sampaikan nanti!"
Anak-anak ingin berkata untuk jangan pergi dulu, tapi mereka terlalu takut untuk mengucapkan itu pada Arch. Anak-anak tau Arch pasti anak dari keluarga yang tidak biasa, melihat seseorang pria tua bersikap penuh hormat pada Arch itu sudah dapat membenarkan dugaan mereka. Juga Arch menyebut nama yang lebih tua dari dia tanpa menggunakan akhiran kehormatan sudah sangat jelas menunjukkan status dia.
Anson berjalan di samping Arch karena perintah Arch. Mereka berdua memulai percakapan.
__ADS_1
"Anson, setelah ini ikutlah denganku ke tempat lain!"
"Sesuai kemauan anda, tuan muda. Saya akan mengikuti anda kemana pun yang anda inginkan."
"Yah, bisakah kau katakan padaku tentang diriku! Apa kau tidak merasa aneh dengan sikapku atau sesuatu yang serupa?"
Anson melihat ke arah Arch, dia memegang kumis merapikan seperti sedang menyisir satu arah. Anson berhenti melangkah dan berkata.
"Seaneh apapun anda dan tidak peduli siapapun anda. Tuan muda tetaplah tuan muda yang saya hormati dan sebagai pelayan anda saya merasa senang bisa berada di sisi anda. Tindakan apapun yang anda lakukan saya tetap akan mendukung anda, tuan muda Arch."
"Begituka, ya. Kalau begitu kalau suatu hari nanti aku terbunuh apa yang akan kau lakukan?"
Arch berhenti di depan Anson, mata Anson bergetar. Pupil matanya melebar seakan ekspresi ini pertama kali Anson perlihatkan. Tangannya mengepal beserta mulut yang sedikit bergetar dan alis yang berkerut. Anson terdiam sesaat serasa tidak percaya pada apa yang baru saja dia dengar.
"Jangan katakan hal itu, tuan muda Arch. Saya bisa sedih kalau orang yang saya layani sepanjang hidup saya mati sebelum saya."
Selang beberapa saat Arch tersenyum pada Anson.
"Tenang saja, itu tidak akan terjadi. Percaya padaku."
"Percaya? Apa saya bisa percaya, tuan muda?"
"Hidup itu hanya satu kali karena kita hanya diberi satu nyawakan? Jadi aku akan menjaga nyawaku."
"Benar, saya mohon jagalah diri anda dari bahaya. Sampai anda menemukan akhir yang indah dari hidup anda, tuan muda."
"Akhir yang indah? Hahaha... Hanya ada satu akhir yang menunggu makhluk hidup yaitu kematian, namun bagaimana caramu mati itulah yang menjadi akhir berbeda dari ceritamu nanti. Kalau aku mencapai akhir yang indah maka—ah, lupakan saja."
__ADS_1
Anson penasaran pada perkataan terakhir yang ingin Arch sampaikan. Sampai Ricard mandelson berteriak memanggil Arch.