
Malam tiba di penuhi suara hewan-hewan yang aktif di malam hari. Di sepanjang perjalanan Arch melajukan kuda secepat mungkin sembari mencari jalan pintas yang cepat.
Arch seharusnya tiba pada sore hari, namun siapa sangka mempersiapkan beberapa kebutuhan akan memakan banyak waktu, lagipula Arch adalah tipe orang yang akan benar-benar memilih mana benda yang berguna dan tidak.
Perjalan di malam hari lebih berbahaya, bukan hanya pencahayaan yang minim, tapi juga banyak bahaya lain yang siap kapan saja datang tanpa diduga. Oleh karena itu Arch memaki Artefak penghilang suara (Soundproof silencer), Percepatan gerakan (Move quickly), dan penghilang hawa kehadiran (Remove presence), berharap dengan memakai ketiganya dapat menghilangkan ngangguan dan mempersingkat waktu.
Akhirnya setelah perjalanan yang ditempuh, terlihat Anson menunggu dirinya di samping pintu masuk wilayah Holaust. Entah berapa lama dia berdiri membuat Arch merasa sedikit bersalah telah datang begitu lama.
Anson memberi salam pada Arch yang turun dari kuda. Anson membawa kuda Arch ke kandang kuda yang telah di jaga oleh anak buah Horios (pemilik lelang). Horios telah menebak bahwa Arch akan memerlukan tempat untuk kudanya, dilihat terkahir kali Arch menyembunyikan kuda.
Arch berjalan dengan terburu-buru. Dia sempat menoleh pada Anson yang berekspresi santai, Arch tau dari wajah Anson bahwa tidak ada yang perlu dikhawatirkan, namun tetap saja bagi Arch menyelesaikan urusan akan membuat hatinya tambah tenang.
"Apa semuanya telah berkumpul?"
"Iya, semua telah menunggu anda, tuan muda."
"Begitu, aku harus minta maaf pada mereka dulu. Oh, di mana Boston?"
"Berada di ruang yang sama. Juga, beberapa urusan telah di selesai. Anda tinggal memeriksa kembali dan menandatangani beberapa yang penting."
"Oke. Ah, setelah ini aku harus mentraktir kalian!"
Terima kasih semua, beberapa hal kecil telah diurus dan tidak akan memakan banyak waktuku sekarang.
Anson mendahului Arch untuk membuka pintu. Arch juga sudah biasa dengan hal ini karena Anson merupakan pelayan Arch. Boston juga sedang duduk di sana, tidak seperti Anson yang santai, Boston justru menampilkan wajah permusuhan pada Horios. Tentu saja, wajar bila seseorang bersikap seperti itu. Horios merupakan kriminal yang menjual anak-anak dan masih banyak lagi kejahatan yang dia lakukan.
"Sepertinya aku membuat kalian terlalu lama menunggu."
Horios melihat ke arah Arch.
"Pasti anda memiliki beberapa yang perlu di bawa, tidak perlu sungkan, tuan muda."
Arch duduk di samping Boston. Horios melampirkan beberapa berkas yang telah rapi di susun. Arch membaca dan mulai mengambil poin penting di dalamnya, daripada harus menghafal kalimat panjang, dia lebih memilih mengingat yang penting saja.
"Jadi semuanya telah selesai diurus?"
Arch meletakkan kembali ke meja. Pelayan datang meletakkan teh hangat di depan Arch dengan sopan.
__ADS_1
"Karena anda tiba lebih lama, jadi mengurus beberapa hal kecil bukan masalahkan? Lagipun pelayan anda sangat cekatan sekali."
"Aku senang mendengar pujianmu terhadap pelayanku. Mari sudahi basa-basi ini, Anson bertanya padaku sebelumnya tentang kendaraan untuk memindahkan anak-anak itukan? Aku akan memakai kereta kuda biasa yang di pakai para pedagang untuk mengangkut barang-barang."
"Oh, bagus kalau begitu. Jadi kapan anda akan memindahkan mereka, tempat saya bukan rumah tampung, loh!"
"Aku berencana memindahkan besok pagi."
"Sebelum itu, saya ingin bertanya pada anda tentang lokasi asramanya! Apakah sudah jadi?di mana anda membangunnya?"
Arch yang akan menjawab kemudian dihentikan oleh Horios yang kembali berbicara.
"Saya ingin mengutarakan pendapat saja. Bagaimana kalau asrama di bangun di tempat ini. Bukankah tidak ada bangsawan yang mengklaim tempat ini?"
"Oh, maksudmu?"
Horios melanjutkan kembali.
"Sepertinya anda belum membangun asramakan? Anak-anak pasti sementara waktu akan di titipkan di panti asuhan? Apa saya benar?"
"Iya, seperti dugaanmu."
"Daripada membangun di tempat anda, akankah kita tidak mencoba untuk mendapatkan dua keuntungan, tuan muda?"
Arch mengangkat cangkir teh dengan anggun dan menjawab.
"Dengan membangun di tempat ini, jadi kau ingin membuat dirimu aman dan asrama sebagai pengalihan."
Horios bersemangat meloncat sedikit tubuhnya.
"Tepat sekali, tapi sepertinya—"
Horios yang tidak melanjutkan ucapannya membuat Arch bertanya.
"Jangan ragu lanjutkan saja! Apa yang akan kau bicarakan?"
"Saya ingin membuat nama anda terkenal sebagai pahlawan di sini dan saya sebagai perwakilan tentunya. Saya ingin memberi mereka pengarahan tentang gaya hidup dan ilmu penting lainnya. Membuat pertanian akan lebih menguntungkan juga, jadi kita punya persedian sendiri. Tentu saja, biaya yang akan dikeluarkan bukan sedikit. Hehehe, anda pasti tahu harus apakan, tuan muda!"
__ADS_1
Orang ini benar-benar pelit. Padahal dia juga memiliki banyak uang, tapi betul juga yang dikatakannya.
"Baiklah, Horios. Aku akan memberimu beberapa uang untuk kebutuhan rencanamu. Jangan mengecewakan, ya!"
"Percayakan pada saya, tuan muda."
Boston menoleh pada Arch, raut wajah tidak menyenangkan masih terpampang di wajahnya.
"Maafkan atas kelancangan saya ini. Apa anda yakin orang ini dapat dipercaya?"
Arch yang menyeruput teh, tersenyum setelah meletakkan teh kembali ke meja.
"Aku lebih menyukai orang-orang seperti dia."
Boston tidak mengerti apa yang dikatakan Arch dan dia menggaruk kepala karena bingung. Bagaimana seorang seperti pria itu dapat dipercaya? Hanya satu jawabannya! Arch, sangat tau bagaimana orang-orang seperti ini berpikir, terkadang orang seperti dia lebih menarik untuk diperhatikan.
Di tengah keheningan, suara ribut terjadi di luar dan seorang anak laki-laki yang lebih dewasa dari Arch masuk ke ruangan. Keseriusan di wajah dia, bahu yang kuat seperti telah menanggung beban, cara berjalan yang berani seakan tidak ada yang membuat dia takut.
"Apa kami akan dijual lagi? Kepada siapa?"
Pertanyaan dengan nada tegas, membuat Horios menjawab.
"Ah, aku akan bilang padamu nanti. Sekarang bisakah kamu kembali, nak!"
"Setidaknya, aku ingin membicarakan sesuatu dengan pembeli itu. Sekali saja, walau sebentar izinkan aku bertemu dengannya!"
Sifat keras kepala anak itu membuat Arch tidak bisa menahan untuk tidak tertawa. Arch tertawa sampai semua mengalihkan pandangan ke arahnya.
"Hahahaha, jadi kau ingin bicara dengan pembeli itu, ya? Memang apa yang perlu dibicarakan?"
Anak itu melihat pada Arch.
"Kenapa anak kecil ada di sini? Aku tidak mengenalmu yang pastinya kau anak paman itu. Aku hanya ingin bicara tentang hak kami saja. Kami ingin setidaknya beberapa kebebasan seperti yang kak Horios berikan."
"Kebebasan? Burung yang sudah dijual menginginkan kebebasan?"
"Kami bukan burung! Kami manusia yang berhak meminta hak atas kebebasan meski dalam arti sempit."
__ADS_1
"Kalau begitu, tolong jelaskan padaku, dong! Kebebasan seperti apa yang kalian inginkan"
Arch menyeringai setelah mendengar kata kebebasan. Ini seperti bentuk penghinaan yang jelas, tapi anak itu tidak sekalipun terpancing emosi.