
Setengah perjalanan telah di tempuh. Arch melihat ke arah Boston dan mereka secara mendadak berlari sekencang mungkin sampai memasuki hutan.
"Satu kemenangan untukku."
"Tuan Arch, lari anda begitu kencang sampai saya tidak bisa menyusul."
"Kau masih perlu banyak latihan, Boston!"
"Jadi ini hutan molos. terlihat biasa saja?"
Arch setuju, hutan molos tidak tampak seram sama sekali. Tidak ada keanehan di dalamnya, jika bukan karena Ayahnya mungkin Arch beranggapan elf tidak ada di hutan tersebut.
"Pertama ayo kita makan dulu, aku sudah lapar."
"Saya akan menyalakan api."
Boston membawa daging mentah di tas kecil miliknya, dia membakar sampai tercium bau harum dari daging itu. Mereka memakan daging untuk memuaskan rasa lapar di perut.
"Tunggu, siapa di sana! Cepat keluar!"
Arch melihat ke arah semak-semak di samping. Dia berdiri memeriksa semak-semak. Seseorang tergelak begitu saja.
"Tuan, sepertinya dia telah diserang."
"Mungkin!"
"Itu, Elf?"
Arch memeriksa telinga orang itu, telinga runcing yang tidak dimiliki manusia menandakan bahwa dia seorang elf. Sepertinya bukan elf biasa karena mahkota kecil di kepala menandakan dia anggota keluarga kaya atau semacamnya.
"Mari obati dulu dia!"
"Saya membawa salep obat, saya akan mengoleskan di area yang terluka."
Tidak lama setelah salep di oleskan elf tersadar. Luka parah kini mulai membaik dan Arch pikir obat buatannya cukup berhasil.
Obat salep dia temukan setelah pencampuran tamanan obat. Arch ingin hasil memuaskan dari salep obat buatan hingga dia terus melakukan percobaan panjang sampai salep berhasil dijual oleh keluarga Lord.
"Siapa kalian?"
Elf bangun perlahan, tubuh masih belum sepenuhnya membaik.
"Anu tuan elf, tadi tuan Arch menemukanmu tergelak di semak-semak jadi dia menolongmu."
Aku rasa percuma, elf tidak akan berterima kasih dan meninggalkan penolong mereka tanpa melihat kebelakang sekalipun. Mereka bangsa yang bangga dengan identitas mereka sebagai elf.
"Kalau begitu saya mengucapkan terima kasih telah menolong saya tadi."
Mereka berdua terdiam, tidak percaya perkataan terima kasih keluar dari mulut elf.
"Wah, elf sangat tidak ramah pada ras lain dan menunjukkan sifat permusuhan, tapi kamu berbeda, ya?"
__ADS_1
"Saya rasa itu benar, namun bersikap sombong pada orang yang telah menolong saya merupakan sifat tidak tau diri.
"Hebat, memang seharusnya begitu sifat elf."
Boston memuji elf itu. Arch merasa sesuatu aneh tidak bisa dijelaskan apa keanehan yang dirasakan.
"Siapa namamu?"
Boston bertanya dan mengajak bersalaman untuk lebih dekat.
"Cade."
Saat itu Arch langsung mengingat salah satu kalimat pada novel MCS (Main character story).
'Cade putra tertua dari ketua elf, seharusnya dia mewariskan posisi ketua, tapi setelah kelahiran dua adik kembar tidak identik membuat semua berubah. Cain sangat ahli dalam sihir api dan tumbuhan sehingga dia dicintai oleh roh peri kecil sedangkan Callie ahli dalam urusan politik dalam sekejap menyelesaikan semua masalah. Melihat potensi kedua adiknya Cade merasa gagal dan semua miliknya direnggut begitu saja, dia hanya memiliki sihir angin yang dianggap elemen paling lemah.
"Ah, Cade! Aku mengerti sekarang."
Arch mengusap kepala setelah mengingat kalimat dalam novel. Cade adalah seorang yang akan menjadikan saudaranya pahlawan karena ulah sendiri.
"Dilihat dari lukamu itu serangan binatang buas bukan?"
Arch yakin serangan parah dari binatang berlevel tinggi.
"Laba-laba raksasa menyerang wilayah kami jadi aku berniat membunuh monster itu."
"Dan kau terluka?"
Mendengar pengakuan elf membuat sebuah ide muncul di pikiran Arch. Dia menawarkan untuk menolong Cade.
Kupikir monster berlevel tinggi ternyata bukan, dia sangat lemah padahal elemen angin bisa dengan mudah membunuh laba-laba raksasa. Eh, tunggu dulu bukankah ini kesempatanku!
"Kami akan membantumu kebetulan tugas kita sama jadi apa salahnya jika kita bekerja sama."
Arch berjabat tangan. mereka berdua setuju dengan kerja sama ini.
"Tuan, apa anda di tugaskan ke hutan untuk membunuh laba-laba?"
Boston bertanya sembari berbisik pada Arch.
"Lihat saja nanti, jangan merepotkan, ya!"
"Baik, tuan Arch."
Boston melakukan gerakkan hormat seakan hal tersebut adalah kebiasaan baginya.
Saat mereka selesai berbicara tepat laba-laba raksasa menghampiri kearah mereka.
"Hati-hati, laba-laba itu menyemburkan jaring racun yang dapat membuat kulitmu meleleh."
Peringatan dari Cade membuat Boston maju ke depan melindungi Arch. Dia bersiap mengeluarkan pedang dari sarung dengan posisi kuda-kuda sempurna.
__ADS_1
"Boston laba-laba itu memiliki kelemahan potong semua kakinya!"
Boston mengangguk, segera dia berlari pada laba-laba raksasa. Jaring dimuntahkan terus menerus sampai pohon dan hewan kecil di sekitar meleleh.
Boston bergerak lincah melewati satu persatu serangan dengan mudah, dia mengayunkan pedang secara horizontal hingga semua kaki terputus.
"Sekarang giliranmu, Cade!"
"Bagaimana aku menyerang dengan sihir angin?"
Arch mulai mengajari Cade bagaimana menggunakan elemen angin miliknya untuk menyerang. pertama fokus bayangkan satu titik kecil terang di dalam kegelapan lalu usahakan kumpulkan mana sebanyak mungkin pada titik itu dan bayangkan lagi benda tipis tajam.
"Lebih tipis, lebih tajam."
Arch berusaha membuat Cade fokus. Cade menggerakkan tangan di atas terbentuk sebuah mana tipis tetapi tajam seperti jarum.
Setelah berhasil Cade melemparkan pada laba-laba setelah Boston menjauh. Lemparan itu menembus jaring laba-laba raksasa hingga tepat mata mata dan meledak.
Laba-laba mati tak tersisa. Cade terkejut oleh serangannya sendiri, dia begitu bahagia mengetahui elemen angin bisa melakukan serangan hebat.
"Terima kasih, aku tidak menyangka terhadap seranganku."
"Tidak apa-apa, senang mendengarnya."
Cade membawa mayat laba-laba sebagai bukti sebelum dia pergi Cade berpamitan pada Arch dan Boston.
"Sayang sekali kalian tidak diizinkan masuk ke wilayah kami, lain kali mari kita berjumpa."
"Kata siapa, aku akan ikut denganmu. Boston pulang beritahu pada ayah bahwa aku telah menyelesaikan misi!"
"Saya mengerti tuan."
Boston tidak bertanya apapun lagi, dia telah diberitahu sebelumnya bahwa jika Arch menyuruh pulang mana Boston harus pulang.
"Bagaimana caramu masuk ke wilayah kami?"
Arch tersenyum, dia berubah wujud menjadi burung putih dan terbang ke pundak Cade.
"Wah, kau bisa berubah juga? Apa kau memiliki sihir perubah bentuk?"
"Rahasia."
Arch tidak bisa memberitahu pada Cade tentang sihir apa yang digunakan untuk mengubah wujud, walau sebenarnya itu bukanlah sebuah sihir.
"Apa tidak akan ada yang curiga?"
"Tenang saja, percaya padaku."
"Aku percaya."
Cade pergi membawa mayat laba-laba, dia disambut hangat oleh penduduk elf lain. mereka menyoraki Cade seperti pahlawan yang telah mengalahkan bencana.
__ADS_1
Jadi ini wilayah elf! mereka hampir mirip seperti manusia. Sementara ini aku akan mengawasi Cade.