
Pembicaraan kembali berlanjut, udara disekitar terasa sejuk ketika Arch menatap keluar jendela tepat di mana meja kerja Affilor Ruth Wolfson. Perubahan terjadi begitu saja, jelas sekali dia sangat bingung dengan ekspresi yang ditampilkan Arch.
Apakah dia sedang memikirkan sesuatu? Kenapa anak kecil bisa setenang ini? Semua pertanyaan ingin sekali Affilor Ruth Wolfson tanyakan, namun berusaha menahan adalah pilihan yang ada. Pasti ada rasa ketidaknyamanannya saat sebuah pertanyaan di lontarkan tanpa berpikir panjang dulu.
"Ada serangga yang mati di jendela!"
Arch menatap pada jendela begitu juga Affilor Ruth Wolfson yang menatap langsung jendela itu. Seekor serangga yang mati terkena sinar matahari membuat Affilor Ruth Wolfson menyadari akhir kata Arch.
"Akhir-akhir ini serangga selalu saja pergi dan masuk. Identitasnya tidak begitu jelas, dia hanya mengatakan pada saya bahwa itu cukup di buat saja."
"Begitulah. Yah, kenyataan mengungkap indentitas sama saja membuat jebakan tikus untuk dirinya sendiri. Akan sangat menyusahkan mencari jarum di tumpukan jerami."
"Seperti yang anda katakan. Saya paham yang anda maksud."
Arch melirik ke pintu keluar. Gerakan mata yang berulang-ulang memastikan kepekaan Affilor Ruth Wolfson. Dia langsung pergi menuju pintu setelah menyadari gerak-gerik tubuh Arch.
"Saya permisi sebentar."
Affilor Ruth Wolfson bangun membungkuk, kemudian pergi memeriksa keluar pintu. Benar saja seorang penyihir mengintip mereka berdua. Melihat hal itu, Affilor Ruth Wolfson langsung menyuruh penyihir masuk menemui Arch. Nada yang dikeluarkan begitu mengancam hingga penyihir terpaksa mematuhi Affilor Ruth Wolfson.
__ADS_1
"Maafkan saya, kejadian ini dipastikan tidak akan terulang lagi."
Affilor Ruth Wolfson menyesali betapa cerobohnya dia. tidak— mau bagaimanapun hawa kehadiran penyihir itu sangat tipis hingga dapat mengelabuhi dirinya. Dia penasaran bagaimana Arch merasakan hawa kehadiran penyihir itu atau Arch memang sudah menyadari sebelumnya.
"Hoya, sudah kuduga serangga tidak pernah tau tempat mereka. Katakan padaku sebelum kesabaran ini berubah menjadi tindakan yang akan kau sesali!"
Arch mengerutkan alis dan dahi. Suasana menjadi mengerikan bagi penyihir itu. Dari beberapa kata yang dikeluarkan Arch seperti mengandung sihir yang dapat membuat jantung terasa akan meledak. Dia langsung bicara pada Arch.
"Aku, bukan, saya hanya diperintahkan oleh seseorang untuk mendengar apa yang sedang kalian bicarakan."
Penyihir memegang lehernya, perasaan panas menjalar dari leher ke seluruh tubuh saat Arch menatap tanpa berkedip sekalipun. Kekuatan yang terpancar sulit di tebak, apa kekuatan itu dari mana atau core? Kekuatan baru diketahui setelah penyihir menggunakan sihir pendeteksi aura.
"Seorang penyihir mempunyai prinsip yang diterapkan pada diri mereka. Melihat orang di depanku ini bertingkah seperti seorang pengecut, apa kamu pantas mengaku sebagai penyihir? Ha, aku sudah lelah ke sana kemari hanya untuk menyelidiki satu tugas dari ibuku dan sekarang masalahnya malah semakin merambat kemana saja."
Arch bangun mendekati penyihir itu, seolah marabahaya menghampiri penyihir semakin dekat. Arch mencengkram bahu penyihir, cengkraman dari tangan kecil begitu menyakitkan seakan humerus (tulang lengan bagian atas) patah. Suara "Khaa" keluar dari mulut penyihir yang tak dapat menahan rasa sakitnya.
"Katakan padaku! Seekor serigala dari kumpulan domba! Aku ini masih lebih baik dalam mengampuni dari pada kakakku yang sekarang sedang berada di menara. Andai dia tau ada tamu tak diundang datang ke kawasannya bagaimana reaksinya, ya?"
"Saya meminta maaf, saya hanya menjalankan perintah saja. Tolong, jangan memberitahu padanya. Saya akan melakukan apapun." Penyihir bertekuk lutut di hadapan Arch meminta ampun pada Arch.
__ADS_1
Di lihat dari gerak-gerik penyihir itu, sepertinya dia tau setiap orang dari menara master sehingga dalam menyusup pun selalu berjalan lancar. Kemungkinan saat ini, lebih tepatnya kalau penyihir tidak tau tentang Arch, mungkin dia hanya tau sebagian kecil indentitas Arch.
"Oh, aku mengerti sekarang. Pasti si pemesan mengutusmu untuk terus mengawasi Affilor Ruth Wolfson. Tidak, dia pasti sejak awal sudah mengincarnya. Tentu saja, kalau aku jadi dia yang kulakukan pun sama. Hanya saja langkah yang diambil banyak kekeliruan."
"Apa saya bisa memastikan, tuan Arch?" Affilor Ruth Wolfson berusaha mencerna apa yang dikatakan Arch.
Penyihir itu, kemudian mengatakan dari kelompok mana dirinya berasal. Di akhir kalimat dia menyebutkan nama Latreb. Ya, nama yang sama dengan apa yang diucapkan oleh Horios. Kemudian Arch menarik jubah penyihir, terlihat gambar di saku kantong kiri. Semakin dilihat, Arch menyadari gambar itu tidak pernah dia lihat.
Banks, si penyihir tadi bilang kalau dia berasal dari organisasi Shadow Stalker. Organisasi yang berjalan di balik bayangan dengan meneliti dark magic (sihir hitam) tingkat lanjut. Secara pasti mereka tertarik pada hal-hal yang memiliki unsur hitam. Arch terus bertanya lebih jauh pada Banks si penyihir pengintip tadi.
Setelah Banks memberitahu semua hal yang dia tau tentang organisasi Shadow Stalker, Arch mengambil secarik kertas dan menulis hal-hal penting yang perlu disampaikan pada ibunya nanti. Pena bulu yang dicelupkan ke tinta mulai bergerak membentuk huruf-huruf menjadi kalimat yang tersusun rapi.
Yosh, akhirnya tugasku selesai. Aku tinggal menyerahkan saja informasi ini pada ibu. Biar dia yang menyelidiki lebih detail tentang siapa pelaku dibalik insiden racun malam. Toh, itu juga masalahnya bukan masalahku. Aku yakin ibu bisa secepatnya menemukan pelaku. Tapi aku penasaran untuk apa dia menyebarkan racun malam? Yah, apapun itu yang pasti orang itu hanya mengundang kematiannya sendiri."
"A, anu apa anda akan membiarkan saya pergi?" Banks ragu-ragu.
"Tentu saja, silahkan! Ah, katakan satu hal pada dia! Orang yang bernama Affilor Ruth Wolfson ada dalam perlindunganku. Jangan berani menyentuhnya!"
"Baik, saya akan mengatakan nanti." Banks buru-buru pergi berjalan dengan kaki setengah gemetar. Setelah berada di luar ruangan rasanya tekanan tadi menghilang begitu saja.
__ADS_1
"Apa apaan tadi? Aku seperti akan remuk saja jika berlama-lama di ruangan itu! Anak itu bukankah putra termuda?" Banks pergi, pikiran yang penuh pertanyaan terus berlanjut sampai keluar menara.
Affilor Ruth Wolfson meminta maaf atas keteledoran karena telah membuat racun malam. Dia tidak tau ternyata buatannya dipakai untuk melakukan pembunuhan. Arch bukan menyalahkan dia, Arch hanya merasa Affilor Ruth Wolfson belum mengenal sifat lain dari manusia.