
Arch pun mengatakan pada informan, dia akan pulang setelah menyelesaikan sedikit urusan di desa. Informan menganggukkan kepala lalu pergi.
"Boston, panggil pemimpin desa kesini!"
"Baik tuan muda." Boston pergi mencari pemimpin desa yang sedang bersama warga.
Pemimpin desa langsung menghampiri Arch begitu Boston memberitahu. Pemimpin desa melakukan salam terlebih dahulu, dia harus bersikap hormat pada bangsawan meski umurnya lebih tua dibandingkan Arch, tapi Arch merasa terganggu akan sifat itu jadi dia menyuruh pemimpin desa untuk tak melakukan hal seperti membungkukkan badan setiap mereka berjumpa.
"Apa anda memanggil saya, Tuan muda?"
"Aku akan menyerahkan tanggung jawab dungeon padamu. Aku tidak bisa berlama-lama di sini, kuharap pemimpin desa bisa melakukan tanggung jawab dengan baik."
pemimpin desa merasa tegang, memberikan tanggung jawab dalam mengelola dungeon merupakan tugas yang berat.
"Tenang saja, prajurit dan ksatria akan mematuhimu. Aku juga akan mengirimkan orang yang menyamar sebagai penduduk. Kalau terjadi sesuatu laporkan saja pada dia. Orang itu akan langsung berbicara padamu setelah dia sampai di desa."
"Tuan muda, saya akan berusaha mengemban tanggung jawab ini."
"Bagus, sekarang aku akan langsung pulang."
Boston membereskan barang bawaannya. Kereta kuda juga telah datang menjemput Arch. Para warga berkumpul melambaikan tangan sebagai tanda perpisahan. Warga senang dapat bekerja menghasilkan uang lebih besar dari biasanya.
Perjalan masih jauh. Arch memasang artefak di dekat jendela kereta kuda yang mengeluarkan aroma harum menyegarkan. Artefak pengharum dibuat dari bunga lavender. Bentuk bulat dilapisi lem perekat dapat menempel kuat juga dapat dipakai beberapa kali.
Arch menahan rasa kantuk saat berada di kereta kuda. Sudah menjadi kebiasaan baginya dulu selalu tidur di kendaraan apapun sebelum berinkernasi. Perjalanan yang harusnya dinikmati berlalu begitu saja dikarenakan tidur lelapnya.
__ADS_1
Di setengah perjalanan sekelompok orang memakai baju berwarna hitam layaknya seperti ninja, menutupi mulut mereka mungkin agar tidak dikenali. Salah satunya mengarahkan pedang pada kusir, mengancam akan membunuh mereka jika yang dibelakang bersembunyi.
Yang dimaksud sekumpulan orang ini adalah Arch. Mereka pikir Arch bersembunyi, Boston merasa geram pada orang-orang di sana karena rasa baru saja ketika berangkat mereka dijegal bandit sekarang malah orang berpakaian serba hitam muncul.
Boston turun dari kereta. Ekspresi serius belum pernah dia tunjukkan malah ditunjukkan pada orang pakaian hitam.
"Ada apa dengan kalian? Apa kami berbuat salah? Menyingkirlah sekarang juga, rasa kesalku sudah melewati batas." Boston memberi peringatan sembari menarik pedang dari sarungnya.
Penyerangan terjadi, setidaknya jika mereka kesatria maka kekuatannya akan berada ditingkat 6 tetap saja kalau jumlahnya ada enam orang atau lebih maka tidak bisa dianggap remeh. Tidak ada jejak maupun hawa kehadiran dari kelompok aneh itu. Arch mulai menunjukkan kecurigaan pada salah satu orang yang dia kenal.
Serangan dari mereka begitu kompak, seperti selalu berlatih bersama-sama. Arah serangan dilontarkan berbeda tiap orang, Boston membagi fokus di depan, belakang, dan sisi kiri kanan. Ayunan pedang berhasil melukai satu orang dibagian bahu kiri. Arch melihat pertarungan, orang-orang membantunya membuktikan pemimpin kelompok adalah orang itu.
Boston melihat kearah Arch. Sebuah tanda diberikan menyuruh Boston untuk menyerang orang yang terluka di bahunya saja. tanpa lama lagi Boston menggunakan aura kesatria berlari menerjang hingga sebuah luka di dapatkan orang itu kembali di kaki kanan.
Boston juga menancapkan pedang dari satu ke lainnya sampai orang itu saja yang tersisa. Bercak darah menetes di wajah Boston, orang itu berteriak jijik dia memanggil orang yang mengawasi. Mereka kabur menggunakan skill percepatan.
"Jangan, membuang waktuku saja. Cepat bersihkan darah di wajahmu, aku ingin cepat sampai ke rumah."
Boston mengelap menggunakan kain, mayat dibersihkan dengan dikubur menggunakan skill milik Boston. Setelah semua selesai, perjalan berlanjut kembali. Insiden tadi sangat membosankan bagi Arch, kekuatan kelompok berpakaian serba hitam hanya setingkat begitu. Arch bersabar lebih lama sebab mereka sedikit menghibur perjalan Arch.
Depan gerbang terlihat, beberapa penjaga membuka gerbang. Arch menuruni kereta kuda, sambutan hangat dari beberapa pelayan dan orang yang dekat dirasakan Arch. Tidak buruk menurut Arch mendapatkan sedikit apresiasi dari sebuah usaha kecil.
"Selamat datang kembali, Tuan muda." Orang-orang di sana memberikan salam dan ucapan.
"Senang melihat kalian sehat." Arch membalas ucapan mereka.
__ADS_1
"Nyonya menyuruh anda berpakaian rapih malam nanti." Pelayan pribadi Arch seorang laki-laki tua memberikan minuman pada Arch.
"Di mana wanita tua itu sekarang?"
"Tolong jangan mengatakan nyonya wanita tua, Tuan muda. Anda bisa terkena masalah kalau Nyonya mendengarnya."
"Anson, kau taukan aku memang sering dihukum walau dikamar saja. Ugh, dia selalu datang begitu saja lalu melihatku seperti mencari kesalahan. Kalau kamarku berantakan di memarahiku menyuruh memasuki kandang binatang buas, kamarku ada serangga satu aku diceburkan ke sungai yang dipenuhi buaya untung saja mereka berhasil dijinakkan. Dia memang iblis kejam." Arch mengeluh banyak sampai Anson pelayannya bosan mendengarkan.
Ibu Arch dapat membuat ruang di mana ruangan dapat sesuai dengan apa yang dia inginkan misal saja dia ingin ruangan dimana sungai dipenuhi bunga maka ruangan akan terbentuk seperti keinginannya.
Skill ini bernama ruangan imajinasi. Ibu Arch dapat memerangkap orang menggunakan ruangan imajinasi, mengendalikan seisi ruangan yang dapat berdampak pada fisik. Rasa sakit dan rasa apapun dapat dirasakan. Apapun yang di imajinasi ibu Arch akan dapat dibuat di ruangan ini.
"Anda ingin makan dulu atau langsung beristirahat, Tuan muda?" Anson mengikuti Arch dari belakang.
"Aku akan beristirahat dulu saja. Lagipula butuh sedikit waktu luang sangat aku inginkan." Arch terbaring di kasurnya.
"Selamat beristirahat, Tuan muda. Saya akan menunggu di luar, panggil saja jika anda membutuhkan sesuatu." Anson keluar menutup pintu.
Anson memiliki rambut putih beruban, mata kuning gelap, kumis putih tipis, gestur muka kaku. Bukan pelayan biasa melainkan mantan kesatria. Dia berhenti menjadi kesatria akibat bosan, dirinya ingin melayani seseorang seumur hidup agar memiliki tujuan dalam hidup. Melayani berarti sama saja menjaga walau berbeda. Anson senang melayani Arch.
Saat pertama Arch lahir, Anson merasa hal berbeda di dalam batinnya. Sebuah dorongan bisikan terus berdengung di kuping untuk menjaga anak itu. Anson melamar menjadi pelayan pribadi saat Arch berusia sembilan bulan. memerhatikan tumbuh kembang Arch di dalam kamar. Anson merasa Arch sangat tenang meski kegelapan menyelimuti ruangan seakan kondisi gelap sudah biasa bagi Arch.
Sedih, risau, tenang di rasakan Anson. Melihat Arch membaca, membantu mengobati luka Arch meskipun Arch hanya diam saat terluka. Terkadang Anson membantu membuat Artefak.
Ekspresi Arch awalnya sama saja dengan Anson. Kaku, wajar seorang anak kecil terkurung di kamar tanpa keluar sedikitpun dari pintu kamar, tetapi melihat ibu Arch masuk setelah Arch berusia dua tahun, Anson merasakan Arch lebih banyak memasang ekspresi di wajah. Terkadang senang, takut, sedih, ataupun kesal. Mau bagaimanapun ternyata seorang ibu bisa membuat anaknya berubah cepat.
__ADS_1
Anson telah berjanji pada dirinya untuk menjaga Arch sekalipun nyawanya dalam bahaya hal utama adalah keselamatan Arch.