Reader: Deirdre

Reader: Deirdre
Bab 24—Permintaan dari Ricard mandelson


__ADS_3

Teriakan semakin jelas terdengar seiring dia berlari menuju mereka berdua. Ricard mandelson kemudian membungkuk sedalam dalamnya dan mengatakan dia akan mengantar mereka berdua.


Ketiganya berjalan, suasana canggung mengelilingi mereka bahkan suara nyamuk bisa terdengar. Ricard mandelson mulai gugup seperti ada satu hal yang ingin dia katakan pada Arch, ibu jarinya mulai bergerak bergesekan di antara sela-sela jari. Mulutnya mulai terbuka sedikit dan tertutup kembali, gerakkan alis naik turun juga selalu terulang.


Melihat Ricard mandelson melakukan gerakan aneh Arch langsung menyuruh Anson pergi dengan mengatakan pada Anson untuk menemui Horios untuk menunggu di sana. Setelah Anson pergi Arch berbalik ke arah Ricard mandelson kemudian bertanya.


"Ada sesuatu yang kau butuhkan?"


"Arch—bukan, tuan muda Arch saya berterima kasih banyak pada anda. Ini mungkin tidak sopan dan tidak tau diri, tapi bisakah saya meminta satu bantuan dari anda?"


Ricard mandelson, sekali lagi membungkukkan badannya. Gerakkan itu benar-benar dia buat sebagai ganti atas permintaan yang dia bicarakan barusan.


"Bantuan apa? Merepotkan sekali, aku sedang sibuk sekarang."


Arch ingin segera pergi dari sana, dia juga perlu beberapa rencana kedepannya. Dia terlahir dengan peran yang besar di cerita ini, novel itu dia ambil secara tidak sengaja dan membacanya, itu semua murni karena keingintahuan dia tentang isi novel yang populer pada masanya.


Jika ditanya apakah menyukai novelnya? Maka jawaban Arch lumayan. Simpel saja, protagonis di cerita itu menilai orang lain sembarangan dan ambisi yang bukan main. Dengan membacanya saja sudah dapat di simpulkan bagaimana tindakan protagonis bila terjadi sesuatu pada rekannya. Justru karena itulah kelemahanmu jelas terlihatkan? Arch spontan bicara dalam hatinya.


"Maafkan saya telah merepotkan hari anda. Sebenarnya saya adalah seorang kakak yang ingin sekali menyelamatkan hidup adik saya."


Arch menatap dingin pada Ricard mandelson yang pada saat itu sangat berharap.


"Lalu?"


Perkataan singkat Arch membuat hati Ricard mandelson sedikit sakit. Walau wajar, tetap saja itu menyakitkan meminta bantuan pada orang yang nampak sekali enggan membantumu. Ricard mandelson menarik napas dalam-dalam sebelum akhirnya dia melanjutkan kembali.


"Orang tua saya berprofesi sebagai pedagang. Pada awalnya semua baik-baik saja sampai mereka terlilit hutang pada sekumpulan orang. Itulah mengapa saya bisa berada di tempat ini sekarang."


Dijual, hanya itulah yang bisa Arch simpulkan dari perkataan Ricard mandelson. Dia sudah dijual oleh orang tuanya untuk membayar hutang-hutang orang tuanya. Betapa malangnya dia.

__ADS_1


"Adikmu? Apakah dia akan bernasib sama dengamu?"


Seketika saja Ricard mandelson menampilkan raut resah tak terbendung. Arch mengerti, ternyata nasib adiknya akan lebih tragis dari kakaknya, namun tetap saja, Arch berpikir dalam pikiran dan hatinya untuk apa dia menyelamatkan orang yang tidak ada sangkut pautnya dengan cerita novel itu.


Dia juga harus mempertimbangkan keuntungan apa yang bisa didapatkan. Masalahnya adalah waktu, dia harus punya cukup banyak waktu sebelum akhirnya ujian keluarga di laksanakan. Apakah masih sempat? Belum lagi dia harus mengurus organisasi Shadow Stalker yang masih belum jelas.


"Yang saya takutkan begitu. Tuan muda Arch, bagaimanapun bayaran yang harus saya bayar, saya akan berusaha. Saya hanya ingin memastikan adik saya saja."


Sifat yang memaksa dari Ricard mandelson, pada akhirnya Arch menyetujui untuk membantunya. Agak mengesalkan mendengar ocehan dari tadi pikir Arch.


"Oke, iya. Iya."


"Saya senang atas bersedianya anda mau membantu, tuan muda Arch."


"Ha, aku akan membantu nanti. Sekarang bolehkah aku pergi kalau tidak ada yang ingin dibicarakan lagi"


"Iya, tuan muda Arch."


Arch langsung pergi keluar, dia disambut oleh Horios dan Anson. Horios memberi salam perpisahan pada Arch, Anson menaiki kuda dengan Arch, mereka pergi menjauh dari wilayah Holaust. Arch mulai merasa ada sesuatu yang dia lupakan, tetapi dia tidak bisa ingat, karena itu dia menyerah memikirkannya.


Setelah Arch pergi, Horios kembali masuk. Suara bising datang dari dalam berlari keluar sampai membuat telinga Horios terganggu. Affilor Ruth Wolfson, benar orang itu baru saja menampakkan dirinya setelah mengunjungi pelelangan. Dia keasikan melihat-lihat acara lelang sampai melupakan Arch yang akan datang.


Affilor Ruth Wolfson tersungkur sedih. Dirinya merasa bersalah dan tidak berguna karena telah lupa waktu. Tidak ada yang membicarakan dirinya, itu cukup menyedihkan bahkan yang mengantarkannya saja sampai tidak menyebut dirinya. Namun bagaimana dengan Horios? Tentu saja, Horios ingat. Dia tidak mengatakan agar Arch kembali lebih cepat untuk menemui Affilor Ruth Wolfson dulu.


Bukankah itu curang? Horios hanya tertawa. Dia tau bahwa orang seperti Arch bisa melupakan sesuatu yang penting membuat Horios menggelengkan kepala.


Arch sudah hampir sampai di markas organisasi Shadow Stalker, dia dapat mengetahui dari artefak petunjuk. Artefak berbentuk kecil bulat yang dilempar Arch sebelum si penyihir pergi. Artefak akan memberikan petunjuk arah ke mana orang itu pergi dengan benang mana tipis bercahaya yang hanya bisa dilihat Arch saja.


Semua menjadi mudah berkat artefak petunjuk arah. Lebih tepatnya, itu hanya rumah biasa dengan kandang kuda di samping rumah. Arch turun dari kuda, suara tapak kuda telah dihilangkan sementara oleh sihir Anson. Arch melihat ke arah Anson mengisyaratkan untuk berjalan perlahan. Terdapat dua penjaga, tapi apakah benar hanya ada dua orang saja? Tidak, Arch tidak sebodoh itu terjebak dalam umpan mereka.

__ADS_1


"Anson, sepertinya semua akan lebih rumit sekarang."


"Saya yakin anda akan dapat melalui apapun, tuan muda."


"Ugh, terima kasih. Lihat itu! Apa kau yakin hanya ada dua orang?"


Anson melihat sekeliling, alisnya berkerut setelah berhasil melihat orang-orang yang bersembunyi di tempat lain.


"Ada sekitar delapan orang dan jumlah keseluruhan adalah sepuluh."


"Oh, hebat! Apa kau dapat menyelesaikan mereka semua?"


"Serahkan saja pada saya, tuan muda."


"Oke."


Anson pergi menyerang dua penjaga, kecepatan serangannya membuat dia sangat berbeda dengan penampilannya. Sisanya yang bersembunyi keluar bersamaan saat melihat rekan mereka di serang. Anson mulai dikelilingi delapan orang, masing-masing dari mereka membawa dagger.


Senjata yang cocok untuk pertarungan jarak dekat, tebasan yang ringan dan ditambah gerakkan cepat mereka persis seperti orang-orang yang menyerang Arch. Anson mulai memerhatikan semua anggota tubuhnya terutama bagian belakang yang bisa kapan saja di serang.


Setelah pertarungan berlangsung, pemenangnya sudah ditentukan yaitu Anson. Baju dan wajah yang berlumur darah, bau amis dari orang-orang yang terkapar tewas membuat Anson berdecak kesal.


Dia jadi tidak terlihat rapi lagi di depan tuannya. Anson sangat memerhatikan penampilannya, tadinya dia akan membunuh mereka dengan hati-hati agar darah tidak terciprat ke mana-mana. Lalu, tuannya masihlah anak-anak, pemandangan seperti ini sangat tidak cocok di tonton.


Bisa saja itu berdampak pada mental tuannya. Walau begitu, tetap saja Arch melihat tenang kejadian itu membuat Anson menghela nafas lega. Anson berpikir apakah karena tuannya lahir dikeluarga Lord atau apakah akan berbeda bila lahir di keluarga lain? Anson merasa harus lebih berusaha lagi memahami pemikiran dan kemauan tuannya.


"Maafkan saya, penampilan ini sungguh buruk untuk anda lihat, tuan muda."


"Apa yang kau katakan? Justru penampilanmu sekarang sungguh menakjubkan."

__ADS_1


"Terima kasih atas pujian anda. Saya akan mengingat ini dalam-dalam."


__ADS_2