Reader: Deirdre

Reader: Deirdre
Bab 5—Dungeon desa Adof


__ADS_3

"Bagaimana menurutmu?"


Seseorang muncul dalam sekejap saat Branch bertanya. memasuki jendela tepat berada di belakang Branch.


"Saya pikir tuan muda yang paling muda memiliki pikiran yang cukup optimis!"


"Kenapa kau menjawab ragu-ragu? Kami berdebat tentang masalah elf ini. Dia bisa meyakinkan saat berbicara."


"Memanfaatkan, menurut saya keputusan yang tepat. Dengan adanya tambahan pasukan dari elf, wilayah kita akan semakin kuat. Saya juga yakin elf tidak akan berkhianat karena mereka selalu memegang teguh janji."


"Memanfaatkan atau membunuh? Anak-anakku punya jalan mereka masing-masing. Sebagai seorang ayah, aku hanya bisa mengawasi mereka agar tidak dimanfaatkan oleh tikus-tikus lain. Bukan begitu Dua?"


Dua, nama pengawal pribadi Branch atau lebih tepatnya pria yang sedang berdiri sekarang. Dua yakin daripada dimanfaatkan malah tuan muda dan nona muda justru akan tau lebih dulu. Mereka seperti serigala berbulu domba.


Berbaur dan menunjukkan sifat ramah tamah, sambil menjalankan rencana tidak terduga. Jadi siapa yang akan melakukan tindakan bodoh seperti itu, sama saja mengantarkan nyawa mereka.


"Sekarang masih banyak tugas yang harus aku selesaikan, kau sebaiknya kembali ke tugasmu juga!"


"Baik, tuan."


Arch sekarang merasa ada sesuatu lain lagi. Tugas seperti apa kali ini? Pikirannya terus bertanya. Sampai tidak bisa tidur hingga begadang seharian tanpa sadar.


"Selamat pagi, Nak."


"Pagi, Ayah."


Branch melihat kantong mata Arch, dia menaikan alis sedikit ke atas.


"Kau tidak tidur padahal aku akan memberikanmu tugas."


"Maafkan aku, mata ini sama sekali tidak bisa menutup."


"Tidur di perjalanan nanti! Sebuah dungeon muncul secara mendadak di sebuah desa kecil bernama Adof. Akibatnya sejumlah monster serigala menyerang desa secara membabi buta. Aku sudah mengirim seorang petualang, namun tidak ada kepastian bahwa dia akan bisa menangani sendiri, jadi pergilah periksa dungeon dan selidiki kenapa bisa muncul. Bisa saja dungeon itu buatan Raja iblis atau semacamnya."


"Raja iblis? Aku mengerti, Ayah."


Iblis merupakan salah satu ras beratribut gelap. Permusuhan iblis lebih besar terhadap ras lain dibandingkan elf. Mereka membangun sebuah peradaban di dunia bawah, Lalu yang memimpin para iblis disebut Raja iblis.


Raja iblis bisa dari keturunan maupun bukan, tergantung dari siapa yang kuat maka akan pantas mendapatkan gelar Raja iblis. Mereka juga memiliki jendral untuk bertugas melindungi sang raja iblis.


"Tuan muda, tunggu!"


Boston mengendong tas di belakang. Berlari mengejar Arch di tempat kereta kuda berada.


"Kenapa bawa tas?"


Arch cukup kaget melihat tas Boston, penuh sekali sampai melihatnya saja sudah sesak.


"Persiapan, tuan muda. Ini untuk persiapan mungkin saja kita memerlukan salah satu benda di dalam tas ini."


"Ugh, seterahmu saja, cepat naik sebentar lagi kereta kuda akan berjalan!"


Kereta kuda berjalan pergi ke desa Adof membutuhkan waktu dua jam, Jadi Arch bisa tidur selama di perjalanan. Dia tertidur pulas setelah merasakan angin berhembus sejuk menerpa wajahnya.


Sebentar lagi mereka akan memasuki wilayah desa Adof, ada beberapa orang menjaga perbatasan. Sepuluh, mereka berpakaian sederhana, memegang pisau di saku celana dan beberapa barang tergeletak di tanah.


"Hei, Kalian berhenti! Serahkan barang bawaanmu!"

__ADS_1


Seseorang mengacungkan pisau, mengancam kusir di depan. Mereka adalah bandit.


"Kenapa berhenti?


Boston turun dari kereta dan melihat sekumpulan orang-orang.


"Kereta kalian cukup bagus pasti kalian membawa barang yang bagus?"


Wajah Boston tertunduk diam.


"Buahahaha, kenapa kau? Takut, ya?"


Para bandit menertawakan Boston, menganggap Boston ketakutan sampai badannya bergetar. Mereka salah, bukan ketakutan yang dirasakan Boston saat ini, tapi kemarahan karena telah mengganggu perjalanan mereka. Boston juga khawatir Arch terbangun, dia tadi melihat wajah Arch begitu lelah.


"Beraninya, kubunuh kalian."


Boston menarik pedang dengan memancarkan aura kesatria membuat bandit-bandit terkejut.


"Dia, kesatria!"


Salah satu menanggapi.


"Gawat! Kita harus lari!"


Sudah terlambat untuk lari, Boston telah mengayunkan pedang sampai semua kepala bandit terpenggal memunculkan darah mengalir deras. Pedang Boston juga terciprat darah para bandit.


Kusir kereta hanya bisa melongo ketakutan melihat kekuatan Boston, jika dia berada diantara kumpulan bandit mungkin saat ini kepalanya juga tergeletak di tanah.


"Pak, kita lanjutkan perjalanan sekarang!"


"Baik."


"Ada apa, Boston? Kenapa kau mengelap pedangmu?"


"Tidak ada apa-apa, Tuan muda. Tadi hanya sekumpulan hewan menyerang saja jadi saya membunuh mereka."


"Begitu, ngomong-ngomong kita sudah sampai. Terlihat penduduk desa berkumpul. Apa kerena kereta ini mencolok, ya?"


"Bisa jadi, Tuan muda."


Arch tau Boston bukan membunuh hewan melainkan manusia, tercium bau darah sangat berbeda, lagi pula tadi dia mendengar keributan suara dari beberapa orang.


Arch turun dari kereta, di sambut oleh seorang kakek tua. dilihat lagi kakek itu adalah pemimpin desa Adof.


"Selamat datang, Nak. Desa kami memang kecil, kuharap kamu nyaman berada di sini."


"Di mana petualang?"


Arch tidak melihat seorang petualangan yang diutus ayahnya sama sekali. Dia mencari melirik ke sana ke mari.


"Oh, dia ada di dalam gubuk, Nak. Mari biarku antar ke petualang itu."


Arch dan Boston mengikuti pemimpin desa. Memasuki gubuk, benar saja petualang berada di dalam.


"Dia sedang menjaga anaknya. Aku akan meninggalkan kalian di sini dan membawa makanan."


Pemimpin meninggal gubuk untuk mengambil makanan. Tersisa Arch, Boston, dan petualang. Menyadari ada orang masuk, petualang langsung berdiri menghampiri.

__ADS_1


"Oh, Salam kenal."


Petualang menundukkan badan memberi hormat. Dia tau Arch akan kemari.


"Jadi kau sudah tau aku? Salam kenal juga. Eh, siapa mereka berdua?"


"Tuan muda, perkenalkan mereka anak-anaku. Audia dan Audrey, anak-anak ayo sapa dia."


Kedua wanita kecil yang satu memakai ikat kepala seperti bando berwarna merah dan satunya tidak memakai apa-apa berambut pendek. Mata hijau, wajah lembut, dan rambut coklat menambah kesan manis pada kedua anak ini.


Audrey adik dari Audia. dia berambut pendek, lebih riang dan pemberani dari Audia kakaknya. Dia maju memperkenalkan diri.


"Namaku Audrey. Salam kenal, siapa namamu?"


"Arch. Panggil saja Arch, jangan menyebut kata tambahan sebab kita seumuran. aku ingin tau saja rasanya di panggil nama oleh anak kecil."


Petualang adalah ibu dari dua kedua anak itu, dia juga bingung pada Arch.


"Anu, Tuan muda. Berapa umur anda?"


"Kalau tidak menyatukan umur pertamaku sih, sekarang seharusnya delapan tahun."


"Seumuran Audrey. Bicara anda seperti orang tua saja di umur segitu."


Arch tersentak, dia memang sudah bukan lagi anak-anak. Delapan tahun bila ditambahkan tujuh belas adalah dua puluh lima berarti dia sudah melewati fase remaja dan beranjak dewasa.


"Aku ingin dengar tentang dungeon yang muncul di desa ini. Bagaimana keadaan luar dungeon?"


Arch mulai mengalihkan pembicaraan. mereka semua duduk berbincang tentang dungeon di area hutan kecil dekat desa.


Dungeon terlihat biasa saja, tidak ada kejanggalan apapun. Setelah menceritakan keseluruhan, Arch tau sekarang dungeon memunculkan monster serigala tingkat C.


"Aku belum tau namamu. Akan lebih mudah bila tau bukan?"


"Saya lupa memperkenalkan nama. Anjanette, panggil saja begitu."


"Aku mendengar dari ibu bahwa Anjanette memiliki julukan pedang monster?"


Anjanette malu, mengingat nama julukan sendiri membuat dia tertawa kecil.


"Jangan sebutkan nama julukan memalukan itu, Tuan muda. Perut saya rasanya akan sakit menertawakan julukan sendiri."


wanita ini kenapa? Julukan sendiri malah ditertawakan? memang sih julukannya agak berlebihan. pedang dan monster siapa sih yang menjulukinya?


"Akses dungeon hanya pintu masuk seperti gua-kan? kalau begitu dungeon bertipe sedang memiliki ciri yang disebutkan tadi. Serigala sangat cepat, memiliki cakar tajam kecepatan menghindar mereka juga tidak bisa dihiraukan dan paling merepotkan mereka selalu bergerombol." Arch mengurutkan ciri monster serigala.


"Saya bisa saja memasuki dungeon, hanya saja kekhawatiran terhadap kedua putri kecilku membuat saya membatalkannya. Takut saja serigala akan menyerang desa saat saya memasuki dungeon."


Serigala bisa bersembunyi diluar saat Anjanette memasuki dungeon, bisa-bisa kepulangannya menjadi tragedi menyakitkan untuk dilihat.


"Apa warga didesa ini membantumu?"


"Mereka takut."


Arch semakin tau, pantas saja desa kecil ini mudah hancur, warga desa bahkan tidak membantu mengalahkan serigala.


Pemikiran mereka memang tidak salah, bisa saja terluka atau mati saat melawan, mau bagaimanapun mereka hanya manusia tanpa kemampuan menyerang.

__ADS_1


"Oke, mari melihat dungeon sekarang!"


seorang warga masuk ke dalam gubuk. Melaporkan pada Arch dan lainnya bahwa serigala menyerang desa.


__ADS_2