Reader: Deirdre

Reader: Deirdre
Bab 22—Aku ingin menemui si pembeli


__ADS_3

Tidak ada jawaban dari yang lain membuat Horios berdiri dan mengeluarkan suara.


"Kamu tidak bisa menemui dia! Sudah menjadi peraturan untuk seorang budak tak boleh memaksa menemui pembelinya—"


Saat Horios menjelaskan panjang lebar, Arch melambaikan tangan seakan menyuruh Horios untuk diam dan kembali duduk tenang.


"Tidak apa-apa, Horios. Wajar bila dia begitu, terkadang menjelaskan tidak akan ada gunanya."


Horios membungkuk, dia kembali duduk seperti biasanya. Melihat Horios yang menurut pada anak kecil merupakan pemandangan yang aneh.


"Kak Horios? Bila itu mau kakak, maka maafkan aku atas tindakan egois tadi yang memaksa."


Dia seperti orang dewasa yang sedang mengkhawatirkan anak-anaknya. Sifat tenang dan peka terhadap situasi saat ini membuat Arch berpikir nilai dari anak itu.


"Coba katakan saja kepadaku, apa yang ingin kau sampaikan pada pembeli itu! Siapa tau aku kenal padanya dan bisa meminta dia untuk menemuimu!"


Mendengar perkataan Arch, seperti sebuah harapan muncul kembali di wajahnya. Dia berjalan mendekati Arch dan berhenti di samping Arch yang sedang duduk.


"Tolong sampaikan, tidak—bagaimana aku memulai ini?"


Dia ragu-ragu dalam berbicara, terhenti untuk menyusun kalimat yang lebih sederhana agar Arch mengerti.


"Waktuku bukan hanya untuk menunggu bicara, jadi mulailah!"


Arch menyuruh dia untuk berbicara segera, dalam ucapan Arch terdapat perintah yang menyuruh membuat dia tersentak sesaat.


"Ah, begini. Saat ini walau secara luar kami sehat, tapi beberapa anak sedang dalam kondisi yang cukup lemah meskipun mereka diberi makan."


Arch mengangguk, ini masuk akal saat dia menyebutkan itu. Hanya karena diberi makan bukan berarti kesehatan tidak menjadi masalah.


"Aku sangat berterima kasih pada kak Horios yang mau menampung kami."

__ADS_1


Arch sontak saja bicara.


" Meskipun kalian adalah barang dagangan?"


Mendengar Arch, dia tersenyum pahit dengan menundukkan wajah tidak bisa membantah perkataan Arch tadi.


"Benar, kami diberi tempat tinggal dan makanan yang memenuhi perut kami, jadi pasti harus ada harga yang dibayar. Kenyataan kak Horios bagi kami adalah pahlawan yang telah memungut kami yang tidak berguna ini."


Arch diam, beberapa kali dia berkedip sampai mengulang gerakkan ini. Helaan napas membuat orang-orang di sekitar Arch memerhatikan dia. Meski begitu, tidak ada suara yang dikeluarkan orang-orang karena rasa bingung.


"Singkat saja! Jangan berbelit-belit! Mulailah dari memperkenalkan namamu dan apa yang ingin kau sampaikan!"


"Aku sudah berlaku tidak sopan pada kalian jadi mohon Terima permintaan maaf ini." Dia membungkuk badannya berusaha agar bisa menebus rasa tidak sopan tadi. "Namaku Ricard mandelson. Aku ingin anak-anak diperlakukan baik dengan memberikan makan dan tidak bekerja berat."


"Ho, saya paham. Tadi dia mengatakan ingin menemui pembeli itukan? Nah, sekarang dia ada di hadapanmu." Anson bicara begitu saja sambil menganggukkan kepala.


Boston juga mengerti apa yang dikatakan Ricard mandelson. Anak laki-laki berbaju lusuh yang berani mengungkapkan keinginannya, tapi bukan keinginan pribadi membuat Boston menaruh rasa bangga pada dia. Sebaliknya Anson tidak menaruh rasa apa-apa karena dia hanya akan bangga atau semacamnya pada Arch —tuan muda saja.


"Jadi anda pembelinya? Saya akan berterima kasih kalau anda—"


Perkataan Ricard mandelson terpotong oleh Anson yang menjawab "Bukan dia!" Ricard mandelson terkejut dan melihat kearah Anson. Menyadari itu, Anson langsung membuang napas panjang-panjang lalu mengulangi perkataan tadi.


Ricard mandelson semakin heran, kalau bukan mereka berdua lalu siapa? Hanya ada satu orang yang belum dia pastikan, tapi apakah mungkin seorang anak mampu mengeluarkan uang banyak? Tidak—Ricard mandelson pikir bisa saja selama dia bangsawan atau pedagang kaya raya. Hanya saja, bagaimana cara anak itu —Arch mendapatkan izin pembelian?


Anak yang memiliki wajah polos dan imut yang duduk menampilkan sedikit senyuman dengan cangkir teh di tangannya yang membeli anak-anak disini? Bagaimana mungkin? Isi kepala Ricard mandelson semakin rumit ketika pertanyaan mulai bermunculan. Dia kemudian berusaha melupakan semua pertanyaan dibenaknya dan langsung menatap pada Arch.


Arch yang menghabiskan teh, menaruh kembali teh dengan gerakkan anggun dia bangun menghampiri Ricard mandelson. Seakan memberitahu perbedaan diantara keduanya, Arch membusungkan dadanya agar postur tubuh terlihat baik.


"Benar, aku si pembeli itu."


Rasa pusing menghampiri Ricard mandelson yang kemudian mulai mual dan turun ke lambung. Ini bukan karena penyakit tapi saking terkejutnya dia saat Arch berbicara dengan nada dingin membuat Ricard mandelson menyadari posisi diantara dia dan anak di depannya—Arch.

__ADS_1


Walau dia tidak tau umur Arch, jelas sekali dari fisik Arch jauh lebih muda dibandingkan dia. Bahkan mungkin saja Arch belum menjalani upacara kedewasaan pikir Ricard mandelson.


"Bagaimana mungkin? Apa itu benar, kak Horios?"


Horios mengangguk, setelah memastikan pada Horios yang tidak mungkin berbohong pada dia, Ricard mandelson bertanya.


"Apa anda membeli atas nama orang lain? Bolehkah saya tau siapa anda?"


Perubahan dalam ucapan dengan mengganti kata kamu menjadi anda jelas sekali bahwa dia berusaha berbicara dengan sopan untuk memastikan terlebih dahulu siapa Arch.


"Aku? Bukankah sudah jelas kalau aku Arch! Aku hanya mendengar kalian dari seseorang jadi aku membeli kalian. Lagipula aku membutuhkan kalian. Yah, seperti menjadikan kalian pasukan yang terlatih, ehem—begitu, apa kau mengerti?"


"Pasukan? Apa kami akan disiksa?"


"Aduh, bukan begitu. Kalian akan ditempatkan di asrama, itu semacam rumah yang memiliki kamar banyak. Kebutuhan kalian akan dipenuhi seperti makanan, pakaian, juga tempat tidur perorang. Asrama akan dipisah menjadi dua untuk laki-laki dan perempuan."


"Apa ada harga yang perlu dibayar? Menyebut berbagai kebutuhan kami akan dipenuhi membuat saya sedikit meragukan anda!"


"Berlatihlah dengan sungguh-sungguh. Dedikasikan hidupmu untuk menjadi pasukan yang akan berjuang bersamaku, tentu saja kamu bisa menolak jika tidak mau. Begini, kalian hanya memiliki dua pilihan, pertama menolak dan tetaplah hidup sebagai pengecut yang hanya bisa lari."


Ricard mandelson sangat serius mendengar Arch bicara. Sampai-sampai matanya hampir tidak berkedip.


"Kedua, berjuang bersamaku. Menjadi seseorang yang mati dengan bangga dimedan tempur. Yang akan dikenang sebagai pejuang!"


Hati Ricard mandelson secara berkala mulai panas. Jantungnya berdetak kencang seperti ada sesuatu yang menyambar tubuhnya. Perasaan aneh menyelimuti dia, pilihan kedua tidaklah buruk. Menjadi prajurit dan bertempur untuk tuan mereka, Ricard mandelson menjawab.


"Aku ingin menjadi bagian dari pasukan anda. Berjuang bersama rekan-rekanku dan membawa kemenangan bagi tuanku."


Tidak ada kebohongan satupun di dalam perkataan Ricard mandelson. Melihat rupa Arch memang sempat ada keraguan di hatinya, namun keraguan itu menghilang saat Arch berkata dengan yakin.


Arch puas pada jawaban Ricard mandelson. Kedua anak itu tersenyum, Arch juga menepuk pundak Ricard mandelson sebagai pengakuan telah diterima menjadi pasukan Arch. Anson yang melihat suasana itu ikut senang meski wajah tidak berekspresi apapun, tapi jauh didalam hatinya Anson sangat gembira.

__ADS_1


__ADS_2