Reader: Deirdre

Reader: Deirdre
Bab 4—Rencanaku berhasil


__ADS_3

"Wajahmu terlihat aneh?" Arch mengambil makanan yang telah disediakan oleh Cade.


"Aku semakin selangkah lebih maju. Kau lihatkan ekspresi mereka sangat lucu?"


Padahal sihir yang kugunakan cuman sihir rendah. Serangan Si Cain atau apalah hanya mainan saja.


"Sekarang kita akan melakukan apa? Mereka tidak adil memperlakukan dua adikmu dengan sopan dan berharga sedangkan putra pertama diperlakukan sepele!"


Kerutan terlihat di sisi mata Cade. Arch tersenyum setelah berhasil memancing emosi Cade.


Ayolah, iri dan marah.


Malam telah tiba, Arch memutuskan untuk berkeliling sekitar wilayah Losmo. Sebaliknya Cain akan tidur karena lelah.


"Aku akan tidur, kalau kau butuh sesuatu panggil saja aku."


"Oke."


Arch berjalan. Sekitar sangat sepi tanpa seorang pun berasa di luar mungkin semua telah tertidur. Arch melihat seorang elf duduk di bawah pohon di tengah malam.


"Buhhhh."


Arch mengejutkan elf itu sampai dia terkaget.


"Manusia? Kenapa ada di sini?"


"Oh, kau Cain-kan? Tidak penting aku bisa berada di sini."


Cain menyerang Arch.


"Oooowowowowo.Tenanglah! Aku melihatmu murung apa kau sedang dalam masalah?"


"Pergilah manusia!"


"Tenang kubilang tenang! Mungkin aku bisa bantu?"


Cain bergetar menatap Arch. sesuatu seperti perintah langsung Cain rasakan saat Arch bicara.


"Sudah tenangkan?"


"Ya, Aku sedikit frustasi pada diriku."


Jadi sekarang ini dia seperti seseorang yang kalah oleh pemeran utama saja. Baguslah rasakan kekalahan. tunggu, jika sudah begini apa aku dorong sedikit saja lagi, ya?


"Kalah memang sudah biasa, tapi apa mereka merasakan usaha yang telah kita lakukan? pagi, siang, sore, malam lalu hari berganti begitu. latihan untuk menjadi kuat sampai tidak memiliki waktu beristirahat. percuma saja sih kita berusaha sekeras mungkin, sebab mereka yang terlahir dengan bakat dan jenius tetap akan menjadi sorotan."


"Maksudmu usahaku sia-sia saja?"


"Tidak, aku tidak bilang begitu. Yah, sayang saja aku iri pada mereka yang memiliki takdir lahir dengan sendok emas di mulut mereka."


Meski aku salah satunya fufufu.


"Aku juga sudah berusaha berlatih dan mengalahkan monster agar diperhatikan keluargaku."


"Yah, yah, lakukan saja mau mu, aku hanya mengatakan kau tidak akan bisa melawan seseorang yang memiliki takdir seperti itu. Seberapa keras pun mereka juga akan bertambah kuat."


Arch pergi meninggalkan Cain. berlatih dengan bakat, Cain sangat yakin dirinya sangatlah berbakat sampai akhirnya dia merasakan kekalahan pertama.


Besoknya Cade bersiap. Pakaian rapih membuat Arch bertanya.


"Ada sesuatu?"


"Sekarang pemilihan posisi ketua. Aku yakin akan terpilih."


"Semoga saja."

__ADS_1


Cade masih naif tentang pemilihan menjadi tetua. Hanya mengalahkan Cain sekali belum tentu dia akan terpilih lagipula pemilihan harus disetujui penduduk elf juga.


"Ah, jadi tugasku sebentar lagi akan selesai, ya?"


Ruang pertemuan dihadiri para elf terhormat dan keluarga khusus. Semua tak sabar mendengar kandidat yang cocok untuk menjadi tetua selanjutnya.


"Sudah saatnya posisiku sebagai tetua akan digantikan. Aku telah memilih seseorang yang cocok dan dia adalah putra keduaku Cain."


Semua saling menatap mengatakan setuju. Cain telah memperlihatkan dari segi kekuatan maupun pengetahuan, maka dari itu tidak ada keraguan di wajah para elf.


"Ayah aku tidak setuju! Aku putra tertua di keluarga ini. Akulah yang berhak atas posisi tetua!"


Paman Cade mengangkat suara.


"Cain telah menunjukkan kualitas dirinya, kemarin dia menyelesaikan masalah keamanan untuk penduduk. Aku justru merasa kaulah beban keluarga. Apa yang telah dilakukanmu selain menggertak hanya memenangkan pertandingan jangan kira kau akan terpilih, bodoh!"


Semua mencibir Cade. Tidak ada satupun dukungan mengarah padanya. Ibu Cade juga terdiam menatap sinis pada Cade.


"Kalian?"


Cade menekan kedua giginya, pergi dengan penuh perasaan kesal dan sedih. Cade mendobrak pintu, wajah kemarahan luar biasa terpapar sampai bisa saja berubah menjadi merah.


"Kenapa?"


"Sialan, mereka selalu saja begitu."


"Jadi kau tidak terpilih?"


"Paman mengatakan Cain memiliki kualitas yang baik."


"Kualitas? Hahahaha, apa-apaan. Buktikan saja bahwa yang kuatlah berhak mendapatkan posisi itu."


"Kau benar. Aku berhak dan pantas bukan si keparat sombong."


Dia tidak akan melakukan tindakan ekstrim-kan? Duh aku khawatir rencanaku gagal gara-gara dia."


"Arch, bisakah kau membantuku?"


"Membantu apa?"


"Pinjamkan kekuatamu. Apapun bayarannya akan kulakukan!"


Dia jadi gila karena marah. bagus, rencanaku berjalan muluuuss.


"Oke, aku juga meminta darimu. Bayarannya adalah .... "


Tepat di malam hari Cade berjalan ke kamar Tetua dan istrinya. Dia menyerang mereka menggunakan sihir angin. Sihir telah diperkuat oleh Arch hingga dapat membunuh sekali serang.


"Kalian pantas mendapat hadiah dari ku."


Selanjutnya dia pergi ke kamar Cain. Saat menyerang Cain langsung terbangun. Terjadilah pertempuran antara dua saudara kembali.


"Apa-apan kau, Cade?"


"Kau keparat pantas untuk dibunuh. Setelah kau mati maka aku akan terpilih menjadi tetua."


"Sial, kalau memang ingin posisi tetua ambil saja!"


"Sejak kecil kalian terus merenggut perhatian orang-orang. Kupikir aku terlahir istimewa. Kenapa kalian harus lahir?"


"Ugh, dasar sinting."


Durasi sihir Cade semakin menipis, namun haus membunuhnya terus membesar. Matanya sudah seperti binatang buas yang berburu mangsa.


Cain terpaksa mengeluarkan artefak aneh. artefak di lempar ke lantai sampai pecah, perisai tak terlihat melindungi Cain.

__ADS_1


Waktu telah berlalu Sihir dari Arch telah habis. Kini serangan Cade bukan lagi masalah. Cain melemparkan bola api bersama menggunakan elemen tumbuhan mengikat erat Cade.


Membawa ke ruangan pertemuan. Tetua dan istrinya masih hidup, Cade membunuh duplikat mereka saja.


"Bagaimana mungkin?"


"Tidak menyangka anakku sendiri mau membunuhku. Untunglah Cain memberitahu kami dan seseorang membantu kami mengungkap kejahatamu ini, Nak."


"Seseorang?"


Dia muncul dari belakang kursi tetua. Melambaikan tangan pada Cade, saat Cade akan bicara suaranya sudah tidak ada. Arch merebut suara Cade.


Bayaran atas pinjaman kekuatan adalah suara. Begitu Durasi sihir habis maka suara Cade akan hilang untuk selamanya.


"mmmmmmm."


"Aku tidak mengerti kau bicara apa? Sekarang kami akan memberikan hukuman atas penyerangan ketua dan calon tetua. Kau dijatuhi hukuman mati. Aku sebagai pamanmu merasa malu."


Cade di seret keluar, mata memelototi Arch.


"Kami berterima kasih atas bantuanmu. Aku tidak menyangka Cain memiliki kenalan manusia."


"Hahaha, aku hanya membantu rekanku ini."


Elf tau diri juga, sekarang tugasku selesai. si bodoh itu kalau saja pintar sedikit dia pasti akan ku jadikan ketua, namun seseorang yang tidak ragu membunuh keluarganya sendiri maka dia juga tidak akan ragu membunuhku, bisa saja berkhianat. tidak ada jaminan dia akan setia nanti.


"Saya juga mengucapkan rasa terima kasih pada anda, telah memberikan artefak perlindungan ini padaku."


"Tidak usah sungkan."


Untung saja aku pernah bertemu dengannya jadi kuberitahu bahwa ada yang aneh pada kakaknya. Untung suara Cade sudahku ambil.


"Aku Cain putra dari tetua elf akan menuruti apapun perintah anda, aku akan menganggap anda sebagai master. Bantuan apapun akan kami lakukan."


Asik, tepuk nyamuk dapat dua. Kesialan dan keberuntungan berjalan bersamaan selalu.


"Aku terima bantuanmu nanti. Sekarang aku harus pulang."


"Boleh saya tanya anda siapa?"


Callie penasaran.


"Aku Arch anak dari keluarga Lord."


"Lord, keluarga bangsawan?"


"Kau benar."


"Sebenarnya ayahku memerintahkan untuk mengusir kalian, aku hanya tidak tega saja dan Cain adalah rekanku jadi aku membujuk ayahku untuk membiarkan kalian tinggal di hutan Molos.


Tetua merasa bersalah dia langsung membuat surat pernyataan bahwa mereka akan menjadi bawahan dari keluarga Lord.


"Kami sangat arogan. Tidak izin pada pemilik wilayah dan berbuat seenaknya, aku memberikan surat ini sebagai tanda bahwa kami tunduk terhadap keluarga Lord." Tetua menyerahkan surat bertanda tangan sihir.


Astaga aku terharu nih, surat pernyataan langsung, loh? Ayah juga sudah dibujuk olehku semalam meski kami sempat berdebat, tapi aku tetap memenangkan debatnya. Kasur nyaman aku datang.


Masalah hutan Molos selesai, Arch menyampaikan surat pada ayahnya. Dengan ini dia telah menyelesaikan masalah pertama.


"Beristirahatlah, besok masih ada tugas untukmu!"


"Ayah, aku baru sampai."


"Kakak-kakakmu sangat sibuk. Tugas mereka belum selesai."


Harusnya aku pulang agak lama.

__ADS_1


__ADS_2