
Setelah semua itu, tiba-tiba saja area sekitar berguncang. Arch merasa ruangan ini akan runtuh, dia segera keluar bersama Anson.
Ketika melirik ke sekitar, Arch menemukan beberapa berkas dan segera mengambil berkas tersebut.
Dia merasa sedikit senang setidaknya tidak keluar dengan tangan kosong.
Ternyata mansion pun ikut bergetar, mereka berdua segera berlari. Anson melihat ke belakang saat menyadari Arch tertinggal jauh di belakang.
Dia berbalik pergi ke arah Arch yang terdiam melihat satu patung aneh.
"Tuan muda, kita harus keluar dari sini!"
Arch mengambil patung itu, dia pun mengikuti Anson di belakang, lambat—keadaan sudah kacau, lampu gantung pun mulai jatuh, benda-benda juga ikut berjatuhan sedangkan Arch berlari namun lebih lambat dibandingkan Anson.
Anson mulai cemas pada Arch hingga dia berhenti dan mengangkat Arch, di jepit diantara ketiak dengan satu tangan membawa Arch.
Arch seketika terkejut, betapa malunya dia saat Anson membawa dia seperti itu, tetapi daripada membuang tenaga untuk lari keadaan ini lebih baik.
Anson berlari menghindari pecahan benda, Arch menyemangati dengan wajah tanpa ekspresi.
"Semangat, jangan biarkan aku terluka, ya!"
"Ugh, tuan muda, anda ini selalu saja."
Setelah usaha itu, Anson berhasil keluar bersama Arch. Keadaan sangat kacau, mansion runtuh seakan ada sesuatu yang merobohkan.
Tanah tandus di sekitar mulai kembali normal, semua sihir telah hilang, Arch tidak merasakan lagi sesuatu yang aneh.
"Ayo, pulang. Aku sudah mendapatkan sesuatu."
"Baik, tuan muda."
Mereka pulang dengan cara yang sama saat mereka pergi. Setelah perjalanan yang panjang itu Arch memutuskan untuk beristirahat di kamarnya satu hari sebelum dia memeriksa berkas yang di bawa.
Sehari itu pun berlalu, terasa sangat cepat untuk Arch. Selama satu hari dia hanya di kamar berbaring seharian, karena telah mendapatkan izin jadi tidak ada yang mengganggu waktu istirahatnya.
"Cepat banget, kenapa waktu terasa lambat saat aku sedang dalam masalah?"
__ADS_1
Arch bangun dari tempat tidur, bersiap diri. Hari ini dia mengenakan pakaian yang di pilih Anson.
Arch tidak terlalu mengerti tentang gaya berpakai seorang bangsawan jadi dia menyerahkan tugas itu pada Anson.
Celana pendek sepanjang lutut, baju lengan pendek yang sisinya berwarna keemasan. Celana dan baju berwarna hitam di tambah hiasan batu pertama yang ditempatkan pas pada tempatnya membuat baju itu cocok di pakai Arch.
Kaos kaki berwarna putih, lalu sepatu berwarna cokelat menambahkan kesan yang cocok.
Arch lega menyerahkan urusan pakaian pada Anson karena Arch merasa semua yang dia kenakan terasa cocok pada dirinya.
"Sekarang akan memeriksa berkas ini!"
Arch duduk di tempat kerjanya di mana masih di ruangan yang sama. Dia mulai membalik kertas saat selesai membaca satu halaman dan terus seperti itu.
"Aku paham, dapat di simpulkan mereka ini adalah sekelompok penyihir yang melakukan tindakan ilegal."
"Apakah mereka penyihir tanpa identitas?"
"Sepertinya begitu, menjual jasalah yang paling sering di lakukan. Mereka akan membantu dan meminta bayaran atas pekerjaan mereka."
"Ada, banyak sekali terutama para bangsawan. Lalu aku rasa saat kita pergi ke sana mungkin saja para penyihir lainnya mengetahui dan segera pergi ke tempat lain."
"Itulah sebabnya kebanyakan petarung saja?"
"Yoshi, pintar. Para penyihir telah tau sejak awal dan meninggalkan organisasi itu. Tidak ada untung bagi mereka untuk tetap di sana dan aku menyadari bahwa organisasi ini hanyalah boneka yang di kendalikan oleh orang lain. Jadi akan lebih masuk akal."
"Untuk apa dia melakukan itu?"
"Aku tidak tau, aku tidak mau menyimpulkan dulu sebelum semua terlihat jelas."
Untuk sesaat Arch diam dan membalikkan halaman sebelumnya, dia menyadari sesuatu ketika membaca halaman tadi.
"Jadi begitu, aku baru saja menyadari. Hahahaha betapa konyolnya ini. Kurang ajar, berani sekali dia. Awas saja kau!"
Kata-kata yang dilontarkan bersama emosi yang hampir membuat Arch tenggelam seketika langsung lenyap saat Anson bertanya.
"Ada apa, tuan muda? Apa anda menemukan sesuatu?"
__ADS_1
Saat mereka berdua sedang berbicara, terdengar suara ketukan pintu. Anson pergi membukakan pintu, seorang pelayan masuk, membungkuk memberi salam.
"Salam hormat dari saya, tuan muda. Maaf, mungkin mengganggu waktu anda. Tuan muda, anda di tunggu di ruangan oleh Tuan."
"Ayah? Baiklah, sampaikan pada dia aku akan datang."
"Baik, Tuan muda Arch. Saya undur diri untuk menyampaikan pada tuan."
Pelayan itu pergi, seluruh pelayan di latih tentang tata krama agar mereka tidak memalukan ketika tamu berkunjung. Tentu, walau masih ada beberapa yang tidak terlalu mengikuti tata krama, para pelayan berusaha sedemikian mungkin membiasakan diri mereka dengan lingkungan.
"Ada apa lagi ini?"
Arch memegang kepalanya, dia berharap tidak mendapatkan tugas yang waktu penyelesaiannya lama. Atau tugas yang ada kaitannya dengan novel.
"Ah, padahal masih ada satu permintaan dari seseorang, Anson! Bisakah kau menyuruh seseorang untuk menyelidiki seorang pedagang?"
"Apa anda ingin membeli sesuatu?"
"Tidak, aku ingin kau mencari pedagang yang memiliki hutang atau selidiki para pedagang di wilayah ini yang memiliki hutang pada orang-orang aneh!"
"Saya akan laksanakan, tuan muda."
Di wilayah Lord ada yang namanya serikat perdagangan, tempat itu bukan hanya menjadi titik utama para pedagang karena di sana juga kau bisa meminjam uang dengan bunga yang sedikit, tetapi karena harus memalui proses yang lama belum lagi anda harus melampirkan surat identitas.
Uang pun akan bisa di pinjamkan dalam jangka waktu yang tidak ditentukan. Itulah mengapa sebagian besar para pedagang ada yang lebih memilih meminjam uang pada pasar gelap, atau sejenisnya diakibatkan keadaan yang mendesak.
Keadaan mendesak, berpikir tentang keadaan pasti keluarga Ricard mandelson mengalami kebangkrutan atau penipuan hingga terpaksa meminjam pada orang-orang yang di ceritakan Ricard mandelson.
Arch merapikan kembali berkas dan membersihkan meja, dia membuka pintu dan pergi ke ruangan ayahnya berada. Arch tidak akan memberitahukan hal ini untuk sementara waktu pada ayahnya. Dia akan menyimpan dulu sebelum bisa menangkap pelaku yang membuat berniat mencelakai ibunya.
Dia telah sampai di depan ruangan ayahnya, dia menarik napas perlahan lalu dihembuskan. Beberapa kali Arch melakukan itu agar dirinya bisa tenang. Arch membuka pintu dan memberi salam pada ayahnya.
"Salam ayah, ada perlu apa denganku?"
Branch menoleh pada pelayan di samping. Pelayan itu mengerti, dia langsung menuangkan teh di dua cangkir yang tersedia di meja. Arch duduk di depan Branch, teh yang di sajikan beraroma wangi. Setelah menghirup aroma teh seakan beban pikiran hilang seketika.
"Tadi kau bertanyakan? Aku memanggilmu ke sini untuk membahas tentang ujian keluarga yang akan di laksanakan tiga hari lagi."
__ADS_1