
Seorang pelayanan telah menunggu Arch di depan ruangan Emilia (Ibu Arch) dimana ruangan tersebut jugalah yang menjadi tempat keseharian dia melakukan kegiatan sehari-hari.
Arch diperkenankan untuk masuk. Rasanya begitu gugup padahal dia hanya perlu memberikan laporan saja.
Emilia telah menunggu dengan santai dan terdapat dua cangkir teh di meja. Wajah karisma dari seorang wanita begitu berbeda membuat Arch merasa ibunya sangat serius sekarang.
Pelayan di samping Emilia langsung menuangkan teh setelah gerakkan melambai dari Emilia. Blyhte, begitu panggilan yang sering diucapkan Emilia sebagai bukti nama pelayan itu.
Sama halnya dengan Emilia, sang pelayanan menunjukkan ekspresi datar yang seperti robot saja.
"Bagaimana keadaanmu, ibu yakin waktu tidak perlu terbuang banyak-kan"
Dilihat dari teh yang sudah tidak lagi berasap dan ketika Arch menyentuh sedikit, suhu teh sama sekali tak panas.
Teh pasti telah disiapkan lebih lama sampai sekarang tidak diganti. Apa itu sengaja? Dengan membiarkan teh tidak diganti biasanya orang itu menunjukkan bahwa dia telah lama menunggu.
Hanya tugas ringan saja kenapa lama sekali itulah yang dipikirkan Emilia pada Arch.
Arch mengatur nafas senormal mungkin. Yah, walau tetap saja dia ingin sekali untuk cepat pergi dari ruangan itu.
Lebih baik menghadap pada ayahnya ketimbang ibunya. Emilia memiliki wajah cantik terawat sebab bagi seorang bangsawan penampilan harus sangat diperhatikan, karena setidaknya jika kepintaran tidak mendukung maka bisa digantikan dengan penampilan yang sedap di pandang.
Rambut hitam panjang melewati bahu, mata kuning bagaikan batu safir kuning, warna bibir yang alami tapi juga indah.
Bahkan ibu Arch pernah dipanggil sebagai malaikat di tempat gelap, karena betapa menawannya dia hingga banyak pria yang menyukai.
Setelah menikah dengan Branch yang ketampanannya juga dapat memicu terjadinya konflik, yang mana para wanita bangsawan bahkan putri dari kerajaan tetangga sekalipun berlomba-lomba menarik perhatian agar Branch tertarik, namun harapan mereka pupus begitu saja saat Branch sudah dijodohkan oleh keluarga Fardopelis yang telah menjalin hubungan dari generasi-generasi sebelumnya melalui hubungan politik dan sekaligus leluhur pertama dari dua keluarga melakukan semacam simbiosis mutualisme.
Emilia telah dilatih untuk manjadi istri yang harus bisa merangkul beban walau sebagian saja. Hal kecil dan persentase pendapatan, Emilia yang mengatur.
Tepat usia enam tahun, Emilia menerima segala pelajaran apalagi tentang etika. Tidak mungkin-kan kau makan dengan tangan dihadapan para tamu yang tentu saja memiliki penilaian tinggi tentang etika.
Bahkan untuk memegang gelas pun ada etikanya.
Gelas akan terisi penuh bila terus diisi, namun bagaimana dengan pengetahuan? Pengetahuan tidak akan ada batasnya.
__ADS_1
Gelas yang terisi juga akan kosong kembali apabila airnya dipindahkan atau dikosongkan itu berarti tidak meninggalkan bekas apapun, berbeda dengan pengetahuan yang telah di pelajari atau diterima. Tidak ada yang sia-sia tentang itu.
Pengetahuan memiliki awal, tetapi tidak ada kata akhir bagi pengetahuan. Sedalam apapun seseorang belajar justru bukan akhir yang dia jumpai melainkan terbukanya sudut pandang baru dan pengetahuan bisa menjadi kunci kehidupan. Etika juga termasuk pengetahuan, pengetahuan moral.
"Ada sedikit halangan."
Arch melampirkan kertas yang sudah penuh dengan tulisan mengenai racun malam. Emilia membaca dan setelah ditelaah, Emilia berkata "Cih." walau suara itu sangat kecil, tapi terdengar jelas.
"Organisasi! Ah, memiliki musuh itu sungguh tak nyaman."
Perkataan dengan nada lembut itu sungguh membuat Arch ingin berkata "Aku malah kasihan pada mereka" Walau pada akhirnya tidak dikatakan. Suasana kembali canggung diantara ibu dan anak itu.
"Jadi langkah apa yang telah diambil?"
"Ya, ibu. Aku akan membereskan organisasi ini, tapi bolehkah mereka diserahkan padaku. Beberapa eksperimen akan aku lakukan dan itu memerlukan tikus uji coba sebagai percobaan. Aku tidak ingin memakai Cerberus buatan yang hasilnya tidak sesuai harapan."
"Kenapa? Cerberus lebih unggul. Dari segi daya tahan tubuh mereka lebih unggul dibandingkan rata-rata manusia, meskipun cuman buatan (palsu)."
"Itulah letak masalahnya. Tidak seru memakai bahan kuat. Sesekali aku ingin melihat efek dari memakai bahan rapuh."
"Terima kasih, ibu. Telah menyetujui permintaan anakmu" Arch bangun lalu membungkuk untuk pamit keluar dari ruangan. Emilia yang melihat Arch seperti sibuk dengan urusan lain bertanya.
"Istirahatlah! Mau kemana lagi, Arch?"
"Aku harus mengurus masalahku dengan cepat. Menunda lebih lama tidak akan menghasilkan keuntungan yang lebih."
Arch keluar dari kamar. Setelah dipastikan dia telah jauh dari ruangan Emilia, kaki Arch perlahan menekuk hingga jatuh. Arch mengusap dahinya, tekanan di ruangan sangat berat untuk dia berlama-lama di sana.
Masih tersisa beberapa waktu sampai dia berangkat. Arch memutuskan untuk pergi ke kebun bunga di belakang halaman. Arch duduk di kursi, beberapa pelayan menghampiri Arch.
"Apa tuan muda memerlukan sesuatu?" pelayanan bertanya sembari membungkukkan badan.
"Bawakan saja pancake stroberi saus coklat. Oh jangan lupa bawa jus stroberi juga, ya!"
"Baik, tuan muda. Saya akan segera kembali."
__ADS_1
Arch menunggu, wajahnya langsung berkerut melihat seorang menghampiri kearahnya. Penampilan itu tidak lain adalah orang yang sangat ingin Arch tak mau jumpai. Bertal, menggunakan kemeja putih, juga dia tanpa permisi duduk di depan Arch. Para pelayan terheran-heran dan ada beberapa dari mereka yang membuat ekspresi terkejut. Bersamaan, makanan yang diminta Arch telah datang, lalu di letakkan di meja.
Aroma pancake stroberi yang dibaluri saus coklat membuat Arch ingin sekali memakannya segera. Belum lagi jus stroberi terlihat segar yang dicampur es batu. Es batu didapat dari Galen. Arch mengambil sendok dan mulai memakan pancake itu, satu sendok membuat mulut Arch terasa nyaman atas rasa yang paling dia sukai.
Dia jadi teringat saat seseorang memberikannya pancake stroberi, pertama dia pikir "Apa dia kira aku ini anak-anak, ya?" Ternyata rasa itu justru menjadi rasa yang paling dia favoritkan. Dan hingga dia menjadi Arch, rasa stroberi menjadi nomer satu yang paling disukai.
"Hahaha, aku kaget. Kamu bisa membuat ekspresi senang saat memakan pancake. Bukankah biasanya rasa stroberi hanya disukai para Lady saja. Oh, maafkan aku tentang itu."
"Kalau kau berbicara di belakangku, berarti kau cukup menghargai keberadaanku untuk tidak bertingkah di depanku."
"Untuk apa aku berbicara di belakangmu? Aku hanya ingin kau mendengar apa yang dikatakan olehku. Pastinya hidupmu sungguh beruntung, lahir di keluarga bangsawan. Usaha atau apalah harus dilakukan oleh orang sepertiku ini. Ah, rasanya bertukar nasib aku ingin sekali."
"Bertal, apa kau lupa siapa yang berada di hadapanmu? Kau pasti tidak bodohkan?"
Bertal sempat terbelalak sebentar, lalu dia tersenyum dan meletakkan tangan di pipinya.
"Oh, tentu saja. Apa ya? Ah, tuan muda. Begitu, aku di suruh untuk memanggilmu tuan muda. Yah, aku akan memanggil seperti itu nanti. Cih, aku masih ada urusan."
Bertal pergi tanpa mengucapkan salam atau membungkukkan badan. Perlakuan dia membuat Arch menggenggam gelas sampai pecah.
CRAKKKKK
Para pelayan sontak saja mundur sedikit menjauh. Arch baru sadar bahwa dia sedang dilihat oleh para pelayan. Arch pun meminta maaf karena telah membuat mereka takut.
"Tidak, tidak apa-apa, tuan muda. Kami akan membersihkannya, apa anda terluka?" Salah satu pelayan bertanya.
"Ini hanya luka kecil. Aku akan mengobati nanti. Kalau begitu, bibi. Mohon maaf telah merepotkanmu."
"Ya, tuan muda. Saya harap anda segera mengobati luka yang berada di tangan anda!"
Arch pergi dari sana. Para pelayan membersihkan pecahan gelas hingga mengelap sampai bersih.
Sedangkan Arch menggigit ibu jarinya.
Jus stroberiku, karena kesal membuatku memecahkan gelas yang berisi jus stroberi kesukaanku. Aku harus menahan lebih lama rasa kesal ini. Awas kau, sialan.
__ADS_1