Reinkarnasi Dewa Angin

Reinkarnasi Dewa Angin
Chapter 125 - Pertarungan Xian 1


__ADS_3

Silakan Dibaca.


Malam hari yang begitu gelap. Namun, berbagai teriakan terdengar di Kediaman Xuan. Teriakan yang begitu menyakitkan tersebut berasal dari para penjaga yang kini dibantai satu persatu oleh dua sosok perempuan.


“Arh... Tolo—“ berbagai prajurit berteriak. Namun, belum sempat mereka menyelesaikan teriakannya, sebuah pedang berbentuk setengah bulan melesat dan menebas tepat leher prajurit tersebut.


Slash Slash Slash Slash Slash.


Pedang tidak berhenti dan terus memotong berbagai leher para prajurit yang masih berdiam diri linglung dengan kejadian di sekitarnya tersebut.


Pedang kemudian kembali, tetapi sebuah pedang bulang setengah melesat dan menebas berbagai tepat di tubuh para prajurit.


Xiao Mei, pemilik pedang bulan, terus mengontrol senjatanya tersebut dan menebas berbagai penjaga. Xian Nan sendiri, juga ikut membantai para penjaga tersebut.


Xian Nan mengeluarkan pedang pendek yang diberikan oleh tuannya. Dirinya sangat menyukai pedang tersebut, bukan hanya sama dengan cara tuannya. Namun, ia memang suka dengan hal yang mudah.


Slash Slash Slash Slash Slash.


Para penjaga tidak bisa bereaksi, mereka perlahan-lahan ditebas menjadi dua. Xian Nan sama sekali tidak ada jejak keraguan sama sekali. Baginya, membunuh orang adalah hal biasa.


Ayunan pedang yang indah, ditambah pedang bulan, membuat kedua perempuan tersebut benar-benar mirip seperti anak kecil yang tengah bermain dengan senang dalam taman.


Mereka berdua terus menari, tidak ada tanda kelelahan maupun berhenti. Para penjaga sendiri perlahan-lahan berkurang, penjaga tersisa benar-benar ketakutan.


Para penjaga tidak berdaya, mereka sekarang putus asa dan menerima nasib. Xian Nan dan Xiao Mei tidak peduli, mereka bukan orang baik yang akan kasihan dan melepaskan mereka begitu saja.


Para penjaga pasrah dan mulai di bantai, alhasil perlahan-lahan penjaga berkurang terus-menerus. Bahkan kecepatan Xian Nan dan Xiao Mei terus meningkat dan tidak ada tanda-tanda berhenti.


Slash Slash Slash Slash Slash.


Di saat penjaga perlahan-lahan terbantai, delapan sosok menggunakan pedang keluar dari kediaman Xuan. Mereka melebarkan matanya, ketika melihat apa yang teejadi di luar tersebut.


“Bajingan! Beraninya kau membunuh di tempat ini!” salah seorang dari delapan orang yang keluar, meraung dengan keras. Orang itu melesat dengan cepat menuju ke arah Xian Nan.


Dingg..


Orang itu melebarkan matanya ketika melihat siapa yang melawannya. Dirinya tahu, siapa yang berada di depannya tersebut.


Xian Nan sendiri menatap balik dengan dingin, niat membunuhnya keluar dan menyerbu orang tersebut.


Merasakan niat membunuh, orang yang menyerang Xian Nan melompat dan melakukan backflip ke belakang dengan cepat.


“Xian Nan, apa maksud semua ini!” Raung pria tersebut, ia benar-benar marah melihat seseorang yang dirinya kenal menyerang kediaman milik keluarga Xian.


Xian Nan hanya mendengus, kemudian pedang miliknya bersinar dengan terang. “Heh, Tetua pertama... Lama tidak berjumpa. Namun, waktunya mengucapkan perpisahan.”

__ADS_1


“Matilah!” Xian Nan dengan ringan mengangkat pedangnya dan menghilang dari tempat. Pria yang disebut Tetua Pertama melebarkan matanya, ia dengan cepat merasakan bahaya di kirinya.


Tanpa sadar, Tetua Pertama mengangkat tangannya dan pedang Xian Nan melintas dengan cepat dan tepat mengenai tangan Tetua Pertama.


Slashhh..


Tetua Pertama merasakan rasa sakit di tangannya, ia segera mundur beberapa meter dan merasakan bahaya kembali di kanannya. Namun, kali ini dirinya menghindar ke belakang.


Pedang melintas dan menebas udara di tempat Tetua Pertama berada sebelumnya. Xian Nan sedikit melirik dengan dingin, pedang yang menebas udara berbalik dan mengarah tepat ke arah bagian depan Tetua Pertama.


Tetua Pertama terkejut, ia dengan cepat menyilangkan tangannya. Namun, hanya satu tangan saja yang bergerak. Pedang Xian Nan menebas tangan kanan Tetua Pertama dengan cepat.


Slashhh.


Tangan kanan Tetua Pertama seketika terputus dan pedang Tetua Pertama terlempar ke atas. Tetua Pertama ingin meraih pedang tersebut. Namun, usahanya sia-sia ketika melihat Xian Nan menangkap pedangnya.


‘Apakah ini akhirnya!’ batin Tetua Pertama, ia benar-benar merasakan perasaan hidup dan mati untuk sekarang. Jantungnya berdetak dengan sangat cepat, keringat terus turun dengan deras.


Namun, di saat Xian Nan melesatkan pedang Tetua Pertama tepat ke arah kepala Tetua Pertama. Sosok pria menghalangi pedang tersebut.


Dinggg...


Xian Nan tetap menatap datar, ia tahu siapa pria tersebut. Dirinya memandang dengan dingin. “Tetua Kedua...”


Wush Wush Wush Wush Wush Wush.


“Mati!”


Dringgg.


Sosok Xiao Mei seketika muncul tepat di atas Xian Nan, ia menahan enam pedang melintas dengan pedang bulan miliknya.


Para tetua terkejut, tetapi yang membuat mereka terkejut ialah Xian Nan yang sedikit berkedip dan muncul tepat di depan Tetua kedua dengan kedua tangan terangkat ke atas sambil memegang pedang.


Xian Nan mendengus ringan, kemudian pedang miliknya melintas ke bawah dengan cara vertikal dan tepat mengenai tubuh bagian depan Tetua Kedua.


Jressss.


Darah segar keluar, garis dalam tercetak tepat di tubuh Tetua Kedua. Garis vertikal dari dada kiri lurus ke arah perut bagian kanan, membuat banyak Tetua terdiam.


Xian Nan tak peduli, ia kembali berkedip dan muncul di belakang Tetua Pertama dan menusuk tepat jantung Tetua Pertama tersebut.


Jlebbb...


Suara tusukan yang begitu kuat, membuat Tetua Pertama melebarkan matanya. Seteguk darah seketika keluar tanpa peringatan.

__ADS_1


“Ugh...” mata sayu dan nafas berangsur-angsur menjadi berat. Xian Nan dengan cepat mengeluarkan pedang miliknya, diikuti dengan dua suara jatuh di depannya.


Bughh..


Tetua Ketiga sampai Tetua Kedelapan melebarkan matanya, mereka melihat Tetua Pertama dan Tetua Kedua terbaring tak bernyawa di depan mereka.


“Tetua...” Tetua Ketiga tak menyangka, rekannya mati dengan tragis tepat di depannya. Tatapannya dari hancur, berubah menjadi amarah besar.


“Kamu.. Kamu..” Tetua Ketiga memandang Xian Nan sambil menunjuk ke arah perempuan tersebut. Namun, perempuan yang ditunjuk hanya menatap dengan dingin.


Xiao Mei yang sebelumnya menahan serangan yang mengarah Xian Nan, menaikkan sudut mulutnya.


Xian Nan menghilang dan muncul di dekat Xiao Mei kembali. Keenam Tetua memandang marah ke arah Xiao Mei dan Xian Nan. Tetua Ketiga dengan marah, meraung keras.


“Balaskan Dendam, Kedua Tetua!” teriakan amarah membuat sisa penjaga dan kelima Tetua lainnya menjadi marah. Mereka sekarang tidak peduli, hidup atau mati.


Dalam pikiran mereka sekarang hanya ada satu hal, yaitu membalaskan dendam kematian Tetua.


Xian Nan dan Xiao Mei menghadapi gelombang amarah yang begitu besar. Mereka tidak gugup ataupun khawatir. Ekspresi mereka tetap biasa, datar dan dingin.


“Apakah waktunya menggunakan Roh Elemen?” Xiao Mei bertanya dengan ringan.


Xian Nan mengangguk, keduanya ingin mencoba kembali kekuatan Roh Elemen baru mereka sekarang.


Xian Nan mengembalikan pedangnya ke dalam sarung, kemudian ia memejamkan matanya sebentar. Ketika, ia membuka matanya kembali, pupil matanya berubah menjadi putih cerah.


Tubuhnya dalam sekejap di selimuti oleh petir dan pakaian miliknya seketika berubah menjadi biru dengan lambang Phoenix di punggung pakaiannya.


Phoenix yang diselimuti oleh petir, itu adalah Roh Elemen baru milik Xian Nan.


Xiao Mei sendiri tersenyum, kemudian mengaktifkan Roh Elemennya. Dirinya tidak menyimpan kedua senjata miliknya, melainkan merentangkan tangannya ke arah samping.


Pedang dan tubuh Xiao Mei dalam sekejap diselimuti oleh aura hitam keunguan yang sangat pekat.


Aura perlahan-lahan menyusut dan menampilkan Xiao Mei dengan pedang miliknya yang bergabung dengan kedua tangannya.


Kaki delapan dengan pakaian hitam dan punggung sebuah lambang laba-laba berwarna hitam. Rumput yang berada di sekitarnya seketika layu dan perlahan-lahan mulai mati.


Para penjaga dan Tetua terkejut dengan perubahan tersebut. Namun, Xian Nan dan Xiao Mei tak peduli dengan tatapan kejut dari musuh di depannya tersebut.


“Baiklah, mari kita mulai kembali...”


[To be Continued.]


Silakan Like, Comment, Share, Vote, dan tip koinnya.

__ADS_1


Jangan lupa klik tombol Favorit agar tidak ketinggalan update terbaru.


Thank you Minna-san.


__ADS_2