
Silakan Dibaca.
Lin Hua terpana dengan kecepatan lawan, akan tetapi dirinya segera melakukan putaran ke belakang menghindari dua tebasan yang dilakukan oleh lawannya.
Tebasan Sabit dan Rantai lewat, mata mereka menyala dan berikutnya kaki menginjak tanah lebih keras. Dorongan kecepatan untuk datang di dekat Lin Hua mulai muncul.
Lin Hua yang mendarat terkejut dengan kecepatan Rantai dan Sabit. Dia tidak menyangka lawannya benar-benar memaksa dirinya untuk menggunakan roh elemen.
“Apakah tidak ada pilihan lain!”
Kilasan cahaya dingin melintas di mata Lin Hua, dia benar-benar terpojok. Namun, berikutnya dia terpaksa mengaktifkan roh elemen miliknya. Jika dia tidak segera mengaktifkannya, kemungkinan menang ialah nol persen.
Lin Hua mengangkat tangan kanannya, kemudian bunga beku keluar dari telapak tangannya. Tanah yang berada di bawah kakinya seketika berubah menjadi es dan meluncur ke depan membentuk dinding es yang tebal.
Dentang!
Dua senjata tajam melayang tepat di es tersebut. Keduanya tertancap dan sulit untuk dilepas. Sabit dan Rantai berusaha melepaskannya, akan tetapi perasaan bahaya seketika menyelimuti diri mereka masing-masing.
Keduanya melepas senjata tajam, kemudian menggunakan pijakan ringan dan mundur ke belakang beberapa meter. Selepas itu, ledakan keras terjadi di tempat mereka sebelumnya berada.
“Perempuan ini benar-benar masih menyembunyikan kekuatannya. Sabit, mari gunakan roh elemen kita!” Rantai berkata dengan nada serius.
Kali ini, dirinya tidak bisa meremehkan Lin Hua kembali. Roh elemen lawan benar-benar merepotkan, bahkan lebih merepotkan dibandingkan membunuh lawan sebelumnya.
Rantai dengan cepat mengeluarkan roh elemennya, berbagai tanaman hijau mulai tumbuh naik ke atas. Di antara tanaman tersebut, terdapat tanaman yang paling mencolok.
Rumput Merah, tanaman yang mengandung api yang besar. Kekuatan apinya setara dengan elemen api merah. Hal ini sungguh sebuah kejutan, melihat adanya seseorang menggunakan roh elemen rumput merah.
Lin Hua yang melihat Rantai mengaktifkan roh elemen rumput merah, seketika mengerutkan keningnya. Dia tahu bahwa lawannya tidak mudah, akan tetapi dirinya tidak menyangka lawannya akan sampai ke level seperti ini.
“Rumput merah, pengguna roh elemen ini seharusnya sudah musnah beberapa ratus tahun yang lalu...”
__ADS_1
Lin Hua menjadi serius, adapun untuk Sabit. Dirinya tahu bahwa orang itu akan lebih tinggi dibandingkan Rantai.
Tatapan Lin Hua beralih ke arah Sabit, dia terkejut ketika melihat Sabit yang berubah menjadi besar dan lebih kuat dibandingkan sebelumnya. Tubuhnya terdapat bulu merah, diikuti tatapannya yang serakah, membuat Lin Hua menjadi gelap.
‘Persetan dengan ini, mengapa orang ini menjadi Serigala Darah. Roh elemen kutukan kuno mengapa bisa memiliki keturunan kembali?’ Lin Hua benar-benar terkejut, akan tetapi dirinya segera sadar kembali.
Jejak keterkejutannya seketika menghilang, digantikan wajah serius dan dingin. Adapun Sabit dan Rantai, keduanya sama sekali tidak takut dengan tatapan membunuh Lin Hua.
Mereka menyeringai tertarik dengan perempuan yang keras kepala. Apalagi, sekarang sosok yang tidak mau mengalah tepat di depan mereka.
Sabit dan Rantai menyeringai dan mulai bergerak dengan ganas. Rumput merah dengan cepat menyerang ke arah dinding es di depan Lin Hua.
Kecepatan rumput merah sangatlah cepat, dalam sekejap rumput merah menembus dinding es, kemudian menghancurkannya tanpa tersisa.
Lin Hua yang melihat hal itu, benar-benar sedikit terkejut. Namun, di permukaan dia sama sekali tidak takut. Pedang miliknya terangkat dan tanah membeku kemudian berbagai es lancip naik ke atas menyerbu ke arah rumput merah.
Rantai tidak peduli, dia mengerahkan beberapa rumput merah menahan es lancip tersebut. Kemudian, Sabit melesat dengan cepat dan tiba di samping Lin Hua.
Sabit menyeringai, kemudian mengayunkan cakarnya dengan kuat ke arah lengan Lin Hua. Dia ingin menyiksa perempuan tersebut terlebih dahulu, sebelum menikmatinya nantinya.
Lin Hua melakukan putaran ringan dan mendarat dengan stabil, akan tetapi tangan kanannya benar-benar mati rasa akibat benturan tersebut.
“Sial!” Lin Hua mengumpat dengan penuh kebencian. Dia segera mengangkat pedangnya, akan tetapi gerakannya dalam sekejap membeku. Hal ini membuat Lin Hua melebarkan matanya terkejut, dengan apa yang terjadi pada tubuhnya.
“Hehehehe!” tawa rendah Rantai terdengar di telinga Lin Hua. Hal ini membuat Lin Hua, tanpa sadar menatap ke bawah. Di mana sekarang kakinya tengah dililit oleh rumput merah yang memiliki duri kecil.
“Racun pelumpuh!” Lin Hua benar-benar ceroboh, akan tetapi dia tidak panik sama sekali. Matanya terpejam dan udara di sekitar dalam sekejap menurun drastis.
Merasakan perubahan suhu, Sabit menyusutkan matanya. Dia paling sensitif dengan aliran udara. Bagaimanapun juga, bulu ditubuhnya bukanlah sebuah pajangan semata. Melainkan, mampu merasakan perubahan udara dan perlindungan akan sesuatu.
“Rantai, hati-hati. Perempuan ini sepertinya masih menyimpan kartu trufnya!” Sabit berkata dengan nada serius. Hal ini membuat Rantai mengangguk karena dia merasakan bahwa dirinya kehilangan kendali akan rumput merah yang berada di dekat Lin Hua.
__ADS_1
Udara semakin menurun, kemudian permukaan tanah berubah menjadi es dalam sekejap.
“Domain Es!”
Lin Hua membuka matanya lebar dan pupil matanya berubah menjadi ungu, Sabit dan Rantai merasakan kengerian dari mata tersebut. Keduanya segera melompat ke belakang, menghindari es yang perlahan-lahan merambat ke arah wilayah mereka berdiri tersebut.
Lin Hua sendiri tidak akan membiarkan keduanya menghindar, bagaimanapun juga selepas menggunakan kekuatan domain. Dirinya akan melemah dan butuh pemulihan dalam beberapa hari ke depan.
Sabit dan Rantai tentu memahami kondisi Lin Hua. Keduanya paham bahwa kekuatan domain adalah kekuatan terakhir yang dapat dikeluarkan oleh Lin Hua tersebut. Hal ini membuat mereka menyeringai dan mulai menahan kekuatan Lin Hua.
“Dinding rumput merah!”
Rantai mulai membentuk dinding yang sangat tebal di depannya, menahan domain es milik Lin Hua tersebut. Kemudian, Sabit mulai menyeringai dan mengayunkan cakarnya ke arah belakang dinding rumput merah.
Tanah di belakang dinding rumput merah seketika terbelah menjadi dua. Tebasan cakar tersebut sangatlah dalam, hal ini bertujuan untuk memperlambat pergerakan domain es.
Lin Hua mengatupkan giginya, melihat strategi lawan. Dia merasakan bahwa kekuatannya tidak dapat bertahan lama, kemungkinan besar selepas memasuki jurang yang dibuat oleh Sabit, dirinya pasti akan tumbang.
Hal ini membuat Lin Hua sedikit putus asa. Baru saja dirinya ingin meningkatkan kekuatan namun bertemu dengan lawan yang tangguh dan licik. Lin Hua menghela nafas panjang, kemudian dia mengeluarkan air matanya sedikit.
“Fan’er, maafkan kakak karena tidak bisa menepati janji!” lirih Lin Hua begitu dalam.
Udara yang semakin menurun membuat suasana di sekitar menjadi sunyi, langkah kaki yang pelan terdengar di telinga perempuan tersebut. Langkah kaki yang berasal dari langit membuat dirinya tanpa sadar memandang ke atas.
Terlihat sosok laki-laki melangkah turun dengan senyum lembut terpatri di wajahnya. Kulit seputih salju, pakaian hanfu hitam menambah kesan kegelapan laki-laki tersebut.
Iris mata merah gelap membuat para perempuan tersihir, bagaikan melihat sosok pangeran kegelapan yang tengah melintas di malam hari.
Rambut panjang hitam berkibar diterpa oleh angin, pandangan laki-laki terarah ke perempuan. Kerinduan yang dalam terasa di dalam hatinya, dia ingin berteriak namun suaranya tidak mengizinkannya.
Laki-laki itu hanya bisa bersuara lembut namun sangat dalam.
__ADS_1
“Kita bertemu kembali, Kakak Hua!”
To be Continued.