Reinkarnasi Dewa Angin

Reinkarnasi Dewa Angin
Chapter 126 - Pertarungan Xian 2


__ADS_3

Silakan Dibaca.


Xian Nan menatap ke arah para tetua dan para prajurit Xian. Dia mengangkat pedangnya dan melesat dengan cepat menuju ke arah para prajurit.


Tidak ada yang bisa merespons kecepatan Xian Nan tersebut, tiga tetua yaitu tetua ketiga, tetua keempat, dan tetua kelima menatap ke arah Xian Nan dan salah satu dari ketiga tetua berkata dengan dalam.


“Biar kami bertiga yang mengatasinya.”


Ketiga tetua seketika menghilang, menyisakan tetua keenam, tetua ketujuh, dan tetua kedelapan yang sekarang menatap ke arah Xiao Mei dengan tajam.


Xiao Mei sendiri melihat bahwa ada beberapa prajurit yang masih berada di belakang tiga tetua yang berada di depannya. Xiao Mei paham bahwa prajurit sudah memisahkan diri menjadi dua bagian.


“Jadi, kalian yang akan menjadi lawanku?”


“Namun, sebelum kita mulai... Aku peringatkan untuk menggunakan seluruh kekuatan kalian.”


Xiao Mei dengan cepat merentangkan tangan kanannya ke atas, kemudian berbagai jaring putih melesat keluar dan dalam sekejap Menutup seluruh Kediaman Xian tersebut.


“Domain Jaring.”


Para tetua dan prajurit terkejut, mereka meningkatkan kewaspadaan dan menjadi lebih serius dari sebelumnya.


Aura Qi besar seketika keluar dari tubuh para tetua dan para prajurit. Meskipun, sebelumnya sudah keluar, tetapi tidak sebesar sekarang.


Xiao Mei tidak terlalu peduli, ia hanya menatap ke arah para tetua dan para prajurit dengan seringai mengerikan.


Detik berikutnya, berbagai prajurit melesat menuju ke arah Xiao Mei. Mereka bergerak sangat cepat, bahkan hanya terlihat siluet saja.


Namun, dalam pandangan Xiao Mei, para prajurit melesat seperti orang berlari lambat. Detik berikutnya, Xiao Mei menghilang dan tiba di tengah prajurit pertama.


Seluruh prajurit yang menyerang Xiao Mei, seketika berhenti. Mereka tidak menyangka orang yang ingin mereka serang telah berada tepat di tengah-tengah mereka.


Xiao Mei mengangkat dua tangannya, aura hitam keunguan melapisi tangan pedang miliknya. Xiao Mei mengayunkan tangannya dengan keras ke arah para prajurit sebelah kanan.


Wushh.


Seluruh tempat tersebut menjadi hitam dan putih. Detik berikutnya, prajurit yang terkena serangan Xiao Mei terbelah menjadi dua dan mengeluarkan cairan kental berwarna ungu.


Cairan tersebut perlahan-lahan menelan prajurit yang terbelah, kemudian ada asap yang keluar selepas prajurit tertelan.


Tetua keenam yang melihat adegan tersebut, melebarkan matanya. “Racun korosif.”


Para prajurit yang melihat serangan tersebut, menelan ludah mereka. Dalam hati mereka sekarang ketakutan mulai menjalar dan memenuhi hati mereka.


Namun, sebelum mereka melarikan diri dan menyerang. Xiao Mei berkedip sebentar dan menghilang dari tempat.


“Ke mana perempuan tadi...”


“Dia menghilang...”


Waspada, panik, fokus...

__ADS_1


Semua tertanam dalam benak para prajurit yang menyerang Xiao Mei sebelumnya. Ketiga tetua juga meningkatkan hal tersebut. Mereka menatap sekeliling dan tidak menemukan Xiao Mei sama sekali.


Namun, ada satu sisi yang belum mereka lihat. Tetua ketujuh merasakan firasat buruk dalam sekejap. Dirinya dengan cepat berteriak keras.


“Semuanya, menghindar! Musuh berada di atas!”


Para prajurit terkejut, jantung mereka berdebar-debar lebih hebat ketika melihat ke atas. Mata mereka melebar ketika melihat langit yang gelap menjadi lebih gelap.


“Nikmati hadiah dariku, prajurit.”


“Hujan Racun.”


Deg...


Para prajurit yang terkena tetesan cairan berwarna hitam keunguan, dalam sekejap merasakan rasa panas dan sakit berlebihan.


“Arhhh...”


“Panas...”


“Tolong aku...”


Berbagai teriakan rasa sakit terdengar di halaman tersebut. Ketiga tetua yang melihat hal itu, benar-benar horor. Mereka gemetar ketakutan dalam sekejap.


Namun, ketiganya menggertakkan giginya dan mundur menjauh dari tempat terjadinya tetesan hujan racun tersebut.


Mereka menghindari seluruh tetesan racun dan berhasil keluar dari area hujan racun tersebut. Tetua kedelapan yang melihat para prajurit berteriak kesakitan, ia mengepalkan tangannya dengan erat.


“Tetua Kedelapan, jangan gegabah!” Teriak Tetua Ketujuh, tetapi sia-sia... Karena Tetua kedelapan sudah memasuki area hujan racun kembali dan bergegas menuju ke arah Xiao Mei dengan cepat.


Xiao Mei menatap ke arah Tetua Kedelapan yang berlari putus asa ke arahnya. Xiao Mei memandang dengan tatapan dingin. Kemudian, berkedip menghilang dari tempatnya.


Tetua keenam dan Tetua ketujuh ingin mengejar Tetua kedelapan. Namun, ketika melihat Xiao Mei yang menghilang. Mereka hanya menatap kosong dengan apa yang terjadi di depan matanya kemudian.


Jlebbb...


Sebuah tangan setengah pedang berbentuk setengah lingkaran menembus tubuh Tetua Kedelapan dari depan ke belakang.


Tetua kedelapan melebarkan matanya, ia merasakan tubuhnya dingin karena terpaan angin. Kemudian, ia perlahan-lahan melihat ke belakang.


Terlihat sebuah jantung yang berdetak berada tepat di tangan yang terbalut dengan pedang setengah bulan. Tetua kedelapan akhirnya paham dan pandangannya menjadi kabur.


“Jadi, akhirnya aku mati...” ungkapan kata terakhir Tetua kedelapan tepat saat Xiao Mei menarik kembali tangannya dari tubuh tetua kedelapan tersebut.


Jantung yang berdetak di tangan Xiao Mei, perlahan-lahan diremas dan hancur tepat ketika suara tubuh jatuh dari ketinggian.


Jress.... Bughh...


Tetua keenam dan Tetua ketujuh menatap mayat Tetua kedelapan dengan tatapan kosong. Mereka terduduk lemas, tak berdaya di tanah.


Xiao Mei tak peduli, ia menatap ke arah prajurit yang sudah mati keseluruhannya, kemudian ia menatap ke arah kedua tetua yang tidak memiliki kehidupan di matanya.

__ADS_1


“Guncangan yang benar-benar kuat...”


Xiao Mei berkedip kembali, ia menghilang dan muncul tepat di belakang keduanya. Kedua tangannya terangkat, ia ingin mengakhiri hidup kedua tetua tersebut.


“Apakah ada kata-kata terakhir, dua tetua lemah?”


Kedua tetua melebarkan matanya, mereka benar-benar tak berdaya sekarang dan tahu apa yang membuat mereka seperti sekarang.


Lemah...


Hanya kata tersebut yang berada di benak mereka, satu penyesalan yang mendalam di hati mereka berdua sekarang.


Kedua tetua menggelengkan kepalanya dan dalam sekejap dua pedang menusuk tepat jantung kedua tetua tersebut.


“Ugh...” Seteguk darah keluar dari mulut mereka, perlahan-lahan mereka mengingat kembali kenangan bersama seluruh tetua dan kesalahan mereka sendiri.


Tetua keenam dan Tetua ketujuh perlahan-lahan menutup matanya, keduanya mati dengan satu penyesalan di benaknya.


Xiao Mei sendiri menatap dingin, kemudian kembali ke bentuknya semula dan menghilangkan domain jaring miliknya.


Selepas itu, ia menatap ke arah tempat Xian Nan berada. Sudut mulutnya naik ketika melihat saudarinya tersebut, tengah bermain-main... Lebih tepatnya menari di antara para prajurit Xian tersebut.


“Aku akan menunggunya, sebelum memasuki Mansion utama Xian.”


***


Xian Nan bermain-main dengan para prajurit, ia juga sedikit melirik ke arah tempat Xiao Mei berada. Sudut mulutnya terangkat ketika melihat semua prajurit dan tetua di bunuh.


Tetua ketiga, tetua keempat, tetua kelima menatap arah yang ditatap Xian Nan tersebut. Mereka penasaran apa yang membuat Xian Nan tersenyum.


Namun, ketika mereka melihat arah yang dituju Xian Nan. Mereka melebarkan matanya dan gemetar, Aura Qi seketika meletus dengan hebat, amarah yang tak terbendung keluar.


“Bajingan!”


Tetua ketiga melesat menuju ke tempat Xiao Mei berada. Namun, di tengah jalan, ia merasakan bahaya dari arah kiri miliknya.


Dengan refleks yang cepat, tetua ketiga menghindar dengan cara backflip ke belakang.


“Siapa yang menghalangiku!”


Terlihat Xian Nan berdiri di depan tetua ketiga, ia hanya menatap datar ke arah tetua ketiga tersebut.


“Aku...”


[To be Continued.]


Silakan Like, Comment, Share, Vote, dan tip koinnya.


Jangan lupa klik tombol Favorit agar tidak ketinggalan update terbaru.


Thank you Minna-san.

__ADS_1


__ADS_2