Reinkarnasi Dewa Angin

Reinkarnasi Dewa Angin
Chapter 239 - Lan Yansho Terkejut


__ADS_3

Silakan Dibaca.


Lan Yansho memandang ke arah langit, angin yang berembus sedang membuat rambutnya sedikit berkibar. Tatapannya tertuju ke arah laki-laki yang tengah melayang di udara tengah menggendong seorang perempuan yang sangat cantik.


“Anak ini, mengapa pulang selalu membawa perempuan baru?” Lan Yansho bertanya-tanya dalam hatinya, entah mengapa dia penasaran dari mana laki-laki itu mendapatkan perempuan cantik setiap keluar dari tempat laki-laki itu singgah.


Xiao Fan yang sudah dekat dengan kediaman Lan, memandang ke arah halaman. Hal pertama yang menarik perhatiannya ialah sosok pria yang tengah berdiri sambil menatapnya dengan penuh perhatian layaknya sosok orang tua.


Xiao Fan mendarat di halaman, tepat di depan pria tersebut. Memandang ke arah pria itu, Xiao Fan dengan cepat meminta bantuan. “Paman Lan, tolong sampaikan pelayan untuk menyiapkan satu kamar. Aku harus menyembuhkan dirinya, jika tidak vitalitasnya akan berkurang terus-menerus.”


Lan Yansho segera tersadar, menatap ke arah perempuan di tangan Xiao Fan. Lan Yansho segera mengangguk dan dirinya segera memerintahkan pasukan dalam bayangan mencari pelayan untuk membersihkan salah satu ruangan di kediaman.


“Fan’er, siapa perempuan yang kamu bawa itu?” tanya Lan Yansho memandang ke arah Xiao Fan.


Mendengar pertanyaan tersebut. Xiao Fan memandang ke arah ayah Lan Ling, berikutnya dia menjelaskan siapa perempuan tersebut. Penjelasan Xiao Fan sangatlah singkat, dia tidak ingin menceritakan secara detail. Bagaimanapun juga, ada privasi yang harus dirinya jaga.


“Dia adalah junior dari ibuku. Beliau telah merawatku saat aku berada di Akademi dulu.” Xiao Fan menjawab sambil memandang ke arah langit mengenang kembali masa-masa ketika masih bersama dengan Lin Hua dulu.


Lan Yansho percaya dengan ucapan Xiao Fan. Dirinya tidak terlalu menganggap serius perempuan tersebut, hanya untuk memastikan apakah perempuan itu ialah musuh atau teman.


Namun, saat melihat wajah perempuan itu sekali lagi. Lan Yansho mengingat sesuatu dan matanya seketika menyusut, sebuah kenangan saat dalam perjalanan menuju kembali ke kediaman, seketika melintas di pikirannya.


Lan Yansho mengingat siapa perempuan tersebut, akan tetapi sebelum dirinya bicara kembali. Pelayan yang ditugaskan sebelumnya telah tiba dan segera melaporkan bahwa kamar sudah dibersihkan dan dapat digunakan segera.

__ADS_1


“Aku pergi dulu, Paman Lan.” Xiao Fan memandang ke arah pelayan. “Tolong pimpin jalannya, pelayan!”


“Baik, Tuan Muda!” Pelayan menjawab sambil membungkuk sedikit, kemudian segera memimpin Xiao Fan menuju ke arah kamar yang sudah disiapkan olehnya. Keduanya kini pergi meninggalkan Lan Yansho yang masih menatap lekat ke arah Lin Hua.


Berikutnya, sebelum Lan Yansho pergi. Sosok bayangan muncul di belakangnya dan berkata, “Kepala Keluarga, sepertinya Tuan Muda tengah berhadapan dengan dua pembunuh berantai yang sangat terkenal.”


“Kedua pembunuh itu ialah, kode nama Rantai dan Sabit.” Bayangan tersebut melaporkan dengan rinci dan dia mengeluarkan kepala kedua pembunuh berantai tersebut tepat di depan Lan Yansho.


Melihat dua kepala yang tidak asing, Lan Yansho melebarkan matanya kembali. Sabit dan Rantai, nama kedua pembunuh itu sangatlah terkenal. Pembunuh berantai yang selalu memperko*sa perempuan, kemudian perlahan-lahan menyiksanya.


Adapun lainnya, dua pembunuh itu pernah membunuh satu desa hanya untuk seluruh perempuan yang terdapat di desa tersebut. Awalnya Lan Yansho sangat marah ketika mendengar hal tersebut, dia memerintahkan berbagai pasukan untuk menangkap dua orang tersebut.


Namun, yang tidak dirinya sangka. Keduanya sekarang tengah terbunuh oleh Xiao Fan. Lan Yansho sedikit terkejut, akan tetapi ketika mengingat perempuan yang dibawa oleh Xiao Fan, dirinya akhirnya paham.


“Kepala Keluarga, perempuan yang dibawa oleh Tuan Muda, ialah sosok yang menyelamatkan kita dari sergapan musuh dulu. Kemudian, sebagai imbalan jasa tersebut. Perempuan itu meminta untuk diizinkan memasuki Makam Kuno misterius.”


Lan Yansho seketika mengingat dengan jelas hal itu. Apa yang dikatakan bayangannya benar adanya. Dirinya berjanji kepada seseorang bahwa dia akan mengizinkan orang tersebut masuk ke dalam Makam Kuno misterius.


“Bagus, terima kasih Bayangan. Kembalilah terlebih dahulu.” Lan Yansho memerintahkan dengan cepat, kali ini dia mengingat jelas kejadian tersebut. Kemudian, mengulangi kejadian sekarang. Lan Yansho akhirnya paham bahwa perempuan itu bertujuan menuju ke kediaman Lan, akan tetapi disergap oleh dua pembunuh berantai itu.


Lan Yansho tidak memikirkan kembali perempuan itu, kali ini dirinya berjalan menuju ke kamarnya. Suasana hatinya senang karena kedatangan perempuan tersebut. Dengan tambahan kekuatan, perasaan aman nantinya semakin bertambah.


Lin Hua tidak tahu pemikiran Lan Yansho. Hal ini karena sekarang dirinya berada di sebuah ruangan yang luas dengan beberapa furnitur di ruangan tersebut. Lin Hua tidak bisa menggerakkan tubuhnya karena dirinya dapat merasakan bahwa tubuhnya lemas tidak berdaya.

__ADS_1


“Oh, kamu sudah bangun ternyata.”


Lin Hua yang mendengar suara tersebut, seketika menatap ke arah pintu. Dia sama sekali tidak mengenal laki-laki yang tengah berjalan ke arahnya sambil membawa bubur tersebut. Namun, perasaan aman dari laki-laki tersebut membuatnya sedikit linglung karena perasaan itu sangat mirip dan akrab baginya.


“Aku berada di mana? Juga, kamu siapa?” tanya Lin Hua, dia masih ingat bahwa dirinya tengah disergap oleh pembunuh berantai. Kemudian, dirinya kalah dan pingsan di tempat. Namun, saat dirinya bangun. Dia mendapati dirinya berada di tempat yang asing.


Xiao Fan yang diberikan pertanyaan tersebut segera diam. Kemudian, dia tersenyum tipis dan menjawab, “kamu berada di kediaman Lan, sementara untuk namaku ... Apakah kamu benar-benar sudah melupakan diriku?”


Xiao Fan tidak segera memberitahu namanya, melainkan mengajukan pertanyaan balik. Hal ini membuat Lin Hua cemberut dan memutar matanya. Xiao Fan terkekeh melihat tingkah Lin Hua tersebut, kemudian dia duduk di dekatnya.


“Apakah kamu bisa makan sendiri?” tanya Xiao Fan, akan tetapi Lin Hua menggelengkan kepalanya dengan lemah. Xiao Fan mengangguk dalam-dalam dan meletakkan mangkuk bubur di atas lemari kecil. Berikutnya membantu Lin Hua untuk bersandar di sandaran ranjang.


“Akan kubantu, buka mulutmu!” Xiao Fan memerintahkan Lin Hua dengan lembut dan Lin Hua mengikutinya tanpa sadar.


Selepas menelan bubur, Lin Hua akhirnya sadar bahwa dirinya telah disuapi. Dia juga terkejut mengapa dia bisa menurut untuk membuka mulutnya. Namun, melihat kembali ke arah laki-laki yang menolongnya, dia akhirnya menyadari bahwa laki-laki itu sangat tampan.


Lin Hua memandang lekat ke arah laki-laki tersebut sampai akhirnya jatuh di cincin yang terletak di jari laki-laki itu. Dia melebarkan matanya, ketika melihat sebuah cincin dengan pola yang khusus.


“Xiao Fan...” Lin Hua menyebutkan nama tersebut tanpa sadar. Namun, laki-laki di sebelahnya menjawab panggilan tersebut.


“Ya?”


“Eh...”

__ADS_1


To be Continued.


__ADS_2