RESIDIVIS

RESIDIVIS
BAB 1


__ADS_3

"Kriiiiiing.!!!!!" suara jam weker yang dibeli kemarin, berdering memekakkan telinga. Matanya memelas enggan terbuka, tangan kanannya meraba-raba jam kecil yang ia letakkan di atas meja, samping tempat tidur. Jari lentiknya mematikan alarm yang sengaja ia pasang sebelum tidur, tadi malam.


Terasa baru saja satu jam Winda melelapkan mata, namun jam wekernya sudah berteriak nyaring menyuruh Winda bangun dari tidurnya.


Tiba-tiba kedua mata Winda terbelalak, namun tubuhnya masih terbaring di atas kasur. Winda memandang kembali jarum jam kecil yang diabaikan sebentar tadi. Pikirannya mengingat-ingat kegiatan yang harus ia lakukan hari ini.


"Astaga..!!!"


Bagaikan kerbau dicambuk penggembala, Winda membuang selimut yang sedari tadi malam memanjakan tidurnya, secepat kilat ia berlari menuju kamar mandi.


Hari ini adalah hari pertama Winda akan masuk bekerja. Baru saja kemarin ia diterima bekerja sebagai petugas sipir di sebuah Rumah tahanan (Rutan).


Terlihat gadis itu bersiap-siap dengan terburu-buru, hingga kaos kaki yang ia kenakan berlainan sebelah, untung saja kaos kakinya tidak terlihat oleh pandangan umum, ditutupi celana panjangnya. Gadis berusia 21 tahun itu tidak ingin terlambat, ia tidak ingin memberikan kesan yang kurang baik di hari pertama masuk bekerja.


Menurut Winda, bekerja sebagai petugas sipir bukanlah pilihan yang tepat, karena harus berbaur dengan para narapidana yang menurutnya adalah sampah masyarakat. Tapi tidak ada pilihan lain, dengan hanya berbekalkan ijazah SMA yang ia miliki, cukup sulit mencari pekerjaan. Diterima sebagai petugas sipir sudah suatu keberuntungan, daripada harus mengikuti jejak kedua orang tua, menjadi petani di desa. Bukannya memilih-milih pekerjaan, tapi Winda tidak berbakat dalam bidang pertanian.


Demi cita-citanya membantu meringankan beban kedua orang tua, Winda mengenepikan rasa muaknya pada narapidana.


Dari jauh Winda melihat anggota shift pagi sudah berada dalam barisan, apel pagi. Bibir pak kepala rutan (karutan), terlihat bergerak-gerak, menyampaikan sesuatu pada peserta upacara. Winda berlari kecil memasuki barisan paling belakang.


"Kamu..!!" sergah Karutan.


Winda tidak langsung menjawab, ia menoleh ke belakang terlebih dahulu, "saya, pak?"


"Iya, siapa lagi yang datang terlambat selain kamu.!"


"Siap salah!" jawab Winda.


"Push up 10 kali.!" perintah karutan, tegas.


Perasaan kesal dan juga malu bercampur menjadi satu, lebih-lebih lagi saat melihat beberapa orang anggota lain berbisik-bisik sesama sendiri mengejeknya, namun Winda melaksanakan juga perintah sang pimpinan.


Sungguh menjengkelkan. Bentakan dan suara melengking bernada tinggi menjadi sapaan sejak hari pertama training di rumah tahanan itu.

__ADS_1


"Pada kesempatan kali ini, saya akan mengajak para jajaran saya untuk bercermin, melihat siapa diri kita, hari ini."


Suara bapak kepala rutan menyampaikan pesan pada anggota peserta upacara pagi yang sememangnya menjadi rutin pagi petugas polsuspas. Tapi karena kesibukan tugas yang terkadang menumpuk membuat karutan tidak setiap hari dapat menghadiri upacara di tempat itu.


"Bercerminlah..! Bercermin dan pandanglah diri kita, mengenakan seragam berlambangkan pohon beringin, berteraskan pengayoman. Bagaimana kita bisa mengayomi para warga binaan di rutan ini jika kita belum mampu membina diri kita sendiri, maka dari itu, marilah mulai membina diri kita terlebih dahulu supaya dapat membina para warga binaan. Ingatlah, kita berada di tempat ini, mengemban tugas dari negara, diamanahkan oleh masyarakat, inilah lembaga permasyarakatan. Marilah kita menjalankan tugas, menjaga amanah dari negara dengan disiplin yang tinggi, agar visi dan misi kita tercapai."


Kata-kata amanat singkat dari karutan bagaikan tamparan keras di pipi Winda. Terlambat pada hari pertama bertugas bukanlah sesuatu yang pantas di acungkan jempol.


Suara keras inspektur upacara membubarkan barisan, menyadarkan Winda dari lamunan muhasabah dirinya.


"Semua petugas bagian Keamanan dan Tata Tertib (Kamtib), diminta ke ruang karutan.!" teriak pak Robi, ketua tim Kamtib.


Winda segera memasang langkah, buru-buru menuju ruang bapak kepala rutan. Gadis itu tidak ingin terlambat untuk kedua kali di hari yang sama.


                                                ~~~


 Beberapa orang anggota tim yang bertugas di bagian Keamanan dan Tata Tertib sudah terlihat duduk menunggu di ruangan karutan, sementara karutan sudah menunggu di ruang itu. Winda mengambil tempat duduk di kursi paling ujung, berdekatan pintu masuk.


Karutan menghentikan bicaranya, lelaki umur 40 han itu memandang wajah-wajah petugas Kamtib yang kini berada di ruang kerjanya, sebelum melanjutkan bicara.


"Yusri Hidayat. Lelaki berumur 29 tahun, kelahiran Nusa Tenggara Barat. Dia adalah pengkriminal kelas berat yang sangat cerdik dan licik. Dulu dia sering melakukan tindak kriminal di pulau Lombok ini. 10 tahun yang lalu pernah menjadi penghuni lapas Mataram dan juga pernah berstatus tahanan di rutan kita ini. Cukup lama lelaki ini menghilang dikabarkan tewas dalam aksi perampokan, tapi nyatanya lelaki ini masih hidup dan tak lama lagi akan menjalani sisa hukumannya di rutan kita ini.


Saya menghimbau terutama pada tim Kamtib agar memperketat penjagaan selama Yusri Hidayat berada di sini, nanti. Karena dia mempunyai pengaruh besar di kalangan para peng kriminal," ujar karutan.


Pikiran Winda membayangkan sosok sangar lelaki yang tengah dibicarakan oleh karutan. Bentuk badan tinggi besar, berkulit hitam dan seluruh badan dipenuhi coretan tato. Menurut Winda, di kehidupan bebas bisa saja Yusri Hidayat mempunyai pengaruh besar dalam dunia premanisme, tapi jangan coba-coba membawa kebiasaan buruk di kehidupan bebas hingga ke dalam rutan.


"Kenapa harus menjalani sisa pidana di rutan ini, kenapa kantor wilayah (kanwil) tidak menempatkan orang ini di lapas Mataram saja? Sekarang ini rutan kita sedang mengalami over capacity," tanya Pak Robi. Selaku ketua petugas kamtib, ia merasa akan direpotkan dengan kehadiran Yusri Hidayat.


Terukir sebuah senyum sinis di bibir karutan, mendengar pertanyaan bawahannya itu, "pak Robi, saya sarankan besok pagi kamu pergi ke kanwil dan ajukan pertanyaanmu di sana. Kalau kita berbicara tentang over capacity, saat ini semua rutan maupun lapas di Indonesia mengalami over capacity, jadi jangan gunakan over capacity sebagai alasan menutupi rasa takutmu. Narapidanapun manusia juga, perlakukanlah narapidana selayaknya manusia maka mereka akan bersikap hormat terhadap kita."


                                            ~~~


Kapasitas normal rumah tahanan Praya Lombok Tengah hanya 97 orang warga binaan saja, tapi saat ini rumah tahanan bertaraf klas 2B itu mengalami kelebihan kapasitas, dua kali lipat dari kapasitas normal. Over capacity di rutan itu tidak pernah menjadi penghalang para petugas polsuspas untuk terus membina para narapidana dan tahanan yang biasa disebut warga binaan pemasyarakatan (WBP).

__ADS_1


Pengetahuan agama adalah modul utama pembinaan para warga binaan di rutan klas 2B Praya Lombok Tengah, membuat rutan itu terlihat bagaikan pondok pesantren.


Winda mengikuti langkah Liana mengawasi warga binaan wanita, menjalani kegiatan ajar-mengajar membaca Al-qur'an di ruang aula rutan. Ruang aula besar itu menjadi tempat para warga binaan menjalani berbagai kegiatan.


Liana adalah polsuspas wanita, senior Winda. Ibu dari dua orang anak itulah yang selalu membimbing Winda sejak hari pertama Winda menjejakkan kaki, training bekerja di rutan itu.


Liana dan Winda berdiri tegak, memantau pergerakan para warga binaan, tepat di depan pintu besar ruang aula. Tatap mata Winda memerhati beberapa orang warga binaan yang sedang berbisisk-bisik, entah apa yang mereka bincangkan. Winda mulai curiga ketika para gerombolan warga binaan yang sudah berstatus narapidana itu mulai bergerak mendekati seorang warga binaan yang masih berstatus tahanan.


Walaupun Winda dan Liana hanya bertugas mengawasi warga binaan khusus wanita, tapi para warga binaan lelaki dan wanita menjalani kegiatan di aula yang sama, membuat Winda tanpa sengaja memerhati gerak-gerik mencurigakan beberapa orang napi lelaki.


"Mbak, coba liat. Orang-orang itu mau ngapain?" bisik Winda di telinga Liana.


Liana memfokuskan pandangan ke arah gerombolan narapidana yang dimaksud Wida, "astaga, cepat pergi ke depan, panggil semua petugas jaga.!!" perintah Liana.


perkelahian antara seorang tahanan dengan beberapa orang narapidana membuat suasana kegiatan rutin harian warga binaan yang tadinya tenang, berubah ricuh. Terlihat jelas seorang warga binaan yang masih berstatus tahan di keroyok oleh beberapa orang warga binaan yang sudah berstatus narapidana. Untung saja para petugas polsuspas yang sememangnya sudah sering menghadapi situasi seperti itu, segera menengahi perselisihan antara kedua belah pihak.


Sejak kecil Winda sering melihat adegan brutal pukul-memukul hanya di layar kaca televisi, tapi hari ini ia menyaksikan secara langsung di depan mata. Gadis itu menatap seorang tahanan yang segera dibawa ke ruang penjagaan, kepala orang itu berlumuran darah. Winda beralih memandang Liana, sepintas. Wanita paruh baya itu terlihat tenang, sebaliknya perasaan gerun mulai menyapa, mengurangi rasa percaya diri seorang Winda Rusila.


"Perkara biasa. Di sini kejadian kayak gini udah biasa," tutur Liana, menenangkan hati Winda yang terlihat tegang.


                                           *****


                        PENJARA BENTONG MALAYSIA


Jam besar yang tergantung di tengah-tengah dinding blok sudah menunjukan pukul 12:00, menandakan pergantian hari. Jika dilihat sepintas, penjara Bentong terlihat sepi, tapi sebenarnya penjara yang diprioritaskan untuk warga asing itu menampung sebanyak 3.600 penghuni, dari berbagai macam negara.


Dalam sunyinya malam, Yos bangkit dari tempat tidurnya, sedari tadi lelaki berbadan tegap itu memejamkan mata, namun tidak dapat terlelap. Lelaki itu duduk di depan pintu besi, memeluk lutut. Tatap matanya tak lepas dari selembar kertas, surat resmi dari kementrian hukum.


"Kenapa harus aku," gumam Yos.


Hanya satu pertanyaan yang ketika ini bermain dalam pikiran Yos, dalam sekian banyaknya narapidana yang berasal dari Indonesia, mengapa harus dirinya yang terpilih dalam program transfer narapidana itu, mengapa tidak orang lain saja?


Sungguh lelaki itu merasa enggan menjalani sisa hukuman di negara sendiri, namun ia terpaksa harus patuh pada aturan yang sudah ditetapkan.

__ADS_1


__ADS_2